
...Aku tak pernah membedakan antara orang tua dan mertua. Keduanya sama-sama sudah kuanggap sebagai orang tuaku sendiri dan tak ada yang kubedakan....
...~Almeera Azzelia Shanum...
...🌴🌴🌴...
Setelah selesai makan malam. Acara selanjutnya dilanjutkan dengan mengobrol bersama di ruang keluarga. Semua orang terlihat begitu antusias. Bahkan tak terlihat jika mereka hanya sebatas sahabat. Baik Almeera, Reno, Adeeva, Bara dan keluarga Meera semua terlihat seperti keluarga besar.
Papa Darren dan Mama Tari tak pernah membeda-bedakan sahabat Almeera. Dua orang itu sejak dulu sama-sama menganggap Adeeva maupun Zelia seperti putrinya juga.
"Mas. Bagaimana kabar Ummi dan Abi?" tanya Almeera pada Bara.
Bara yang ditanya seperti itu hanya bisa menghela nafas pelan. Sebenarnya selama ini dia menutupi sesuatu dari istrinya. Hal ini juga atas permintaan umminya sendiri.
"Mas jawab!" seru Almeera dengan pelan.
Semua orang sedang saling berbincang. Maka dari itu tak ada yang peduli dengan pembicaraan Almeera dan Bara.Â
"Sebenarnya Abi dan Ummi ada di Singapura," ujae Bara yang mengejutkan Almeera.
"Singapura?" ulangnya dengan tak percaya. "Ngapain?"Â
"Abi memiliki penyakit jantung, Sayang. Dia dirawat disana oleh dokter pribadinya," ujar Bara yang semakin membuat Almeera melebarkan matanya.
"Kenapa tak ada yang memberitahukan padaku tentang ini?" serunya sedikit berteriak karena terkejut dan membuat tatapan semua orang tertuju pada keduanya.Â
"Ada apa, Nak? Kenapa kamu berteriak?" tanya Papa Darren penasaran.
"Apa Papa tau, jika mertuaku ada di Singapura?" tanya Almeera dengan mata menatap sosok papanya lekat.
Terlihat raut wajah Papa Darren begitu tegang. Bahkan dia melirik sosok menantunya yang duduk di samping Bara dan membuat Almeera bisa menebak jawaban apa yang ada dalam pikiran papanya itu.Â
"Jadi Papa sudah tau?"Â
"Sayang!"Â
Almeera menggeleng. Wanita itu segera beranjak berdiri dan berjalan cepat meninggalkan semua orang. Ibu hamil itu mungkin merasa dibohongi akan kesehatan mertuanya.
"Jadi kamu belum cerita ke Almeera?" tanya Mama Tari dengan pelan mengusap bahu menantunya.
"Belum, Ma," sahut Bara dengan lesu. "Mama tau sendiri, 'kan? Sepulang dari Malang dan Yogya. Kita juga membantu persiapan pernikahan Reno dan Adeeva."
"Mangkanya Bara sampai lupa memberitahunya," lanjutnya dengan menunduk.
Papa Darren hanya mampu menghela nafas berat. Namun, dia tak menyalahkan menantunya. Bagaimanapun niat baik besannya hanya tak mau Almeera ikut kepikiran dan khawatir.
Selama ini Ummi Mira memang menutupi penyakit Abi Hafiz karena permintaan suaminya. Dia tak mau membuat menantu dan kedua cucunya menjadi sedih.Â
"Kejarlah istrimu. Dia sedang hamil sekarang. Berikan pengertian baik-baik agar Almeera bisa mengerti," ujar Papa Darren dengan bijak.
"Iya, Pa."Â
Akhirnya Bara pamit pergi meninggalkan semua orang. Dia juga pamit pada Bia dan Abraham yang asyik menonton televisi. Bagaimanapun dua anaknya itu pasti mendengar teriakan mamanya.
Bara tak mau jika putra dan putrinya berpikiran buruk kepadanya dan berpikir bahwa dia lah yang membuat mamanya marah-marah.Â
Dengan pelan, Bara memasuki kamarnya. Samar-samar dia bisa mendengar suara tangisan dari arah balkon yang membuat Bara semakin merasa bersalah.
Akhirnya ayah dari calon empat orang anak itu mengambil selimut dari dalam lemari. Lalu dia membawanya menuju balkon kamar. Disana, Bara bisa melihat istrinya duduk di bawah dengan menatap ke depan.Â
Bahunya bergetar yang menandakan bahwa istrinya sedang menangis hebat. Jujur di dasar hati Bara terdalam, ada perasaan bangga dan sangat terharu pada sosok istrinya. Â
Bara bisa melihat kasih sayang yang tulus untuk orang tuanya dari istrinya ini.Â
Almeera tak menjawab dan tak berbalik. Perempuan itu hanya terlihat menghapus air matanya sambil tetap menghadap ke taman bawah.
Bara menghela nafas pelan. Dia tak mau mundur lagi. Dia tak mau Almeera berpikiran buruk tentangnya. Ia ingin menyelesaikan semua ini malam ini agar kedua anak dalam perut istrinya tak merasa disakiti juga.Â
"Sebenernya aku sendiri, tahu penyakit Abi baru beberapa minggu ini," ujar Bara memulai.Â
Dia memilih bercerita di belakang istrinya walau Almeera tak menatapnya.
"Aku tahu itu, setelah kepulangan kita dari Yogyakarta," ujarnya dengan jujur. "Saat itu aku yang ingin mengunjungi rumah orang tuaku, melihat ambulans terparkir rapi di halaman. Aku tak turun saat melihat dari dalam ada seseorang yang ditandu. Namun, ketika melihat ummi bisa berjalan, aku menjadi terkejut jika yang ada di tandu itu adalah abi."Â
Suara Bara mulai serak. Tatapan pria itu menatap ke langit malam dengan perasaan sedih.
Dia benar-benar ada di ambang kebingungan saat ini. Di satu sisi ia ingin berada di samping abinya. Namun, di sisi yang lain ada anak dan istrinya yang juga membutuhkannya.Â
Apalagi permintaan Ummi Mira yang memintanya jangan katakan pada menantu dan cucunya serta meminta Bara menjaga mereka. Membuat pria itu selalu kepikiran dengan sosok abinya.
"Ummi adalah sosok yang paling tak mengizinkan untuk menceritakan kondisi Abi padamu," jeda Bara yang ternyata berhasil membuat Almeera berbalik.
"Kenapa?" seru Almeera dengan hidung memerah. "Kenapa Ummi gak mau Meera tau?"Â
"Karena ummi gak mau kamu kepikiran. Ummi juga bilang, pasti kalian lagi program hamil. Mangkanya ummi gak mau kamu ikut stress memikirkan keadaan abi."Â
"Tapi dia Ummi dan Abiku, Mas. Aku tak pernah mengatakan mereka mertuaku. Baik Abi Hafiz maupun Ummi Mira adalah kedua orang tua setelah Papa dan Mama."Â
Bara menjadi tersentuh. Selembut inilah hati istrinya. Sebaik ini hati wanita yang pernah ia sakiti begitu dalam.
"Aku tau," sahut Bara sambil mendekat.
Dia mengusap dua sisi wajah istrinya hingga membuat mata Almeera kembali berkabut. Tatapan mereka saling memandang dengan lekat dan dengan sekali kedipan, Almeera lagi-lagi meneteskan air matanya. Dengan pelan Bara menyelimut tubuh istrinya dengan selimut yang ia bawa.
"Maafkan aku, Ummi dan semuanya, Sayang. Aku tau kamu sangat menyayangi Abi dan Ummi," kata Bara dengan tulus. "Tapi Ummi hanya tak mau kamu kepikiran."Â
Almeera merangsek masuk ke dalam pelukan Bara. Perempuan itu menangis tak menyangka jika Ummi Mira begitu khawatir pada keadaannya dan tak mau dirinya banyak pikiran.Â
"Aku dan Papa juga tak bermaksud berbohong padamu. Aku minta maaf."Â
Bara ingin semuanya selesai malam ini. Dia tak berniat berbohong. Namun, keadaan lah yang memaksanya untuk melakukan ini. Ditambah paksaan dari Umminya yang mengatakan untuk merahasiakannya membuat Bara mau tak mau melakukan itu.
"Bagaimana kabar Abi, Mas?" tanya Almeera dengan suara serak dan tetap memeluk Bara.
"Abi sudah tak sadar, Sayang," ujarnya membuat Almeera menjauhkan tubuhnya. "Ya. Abi koma. Keadaannya drop banget."Â
"Innalillahi wainna ilaihi raji'un." Mata Almeera semakin banjir air mata.
Kepalanya menggeleng dengan menghapus air matanya. "Aku ingin menjenguk Abi."
"Boleh tapi tunggu kehamilanmu kuat, Sayang. Kamu gak lupa, 'kan? Bahwa kamu sedang hamil."Â
Almeera menghela nafas kasar. Dia melupakan itu. Akhirnya ibu calon dari empat orang anak mencoba menetralkan emosinya yang sejak tadi naik turun agar lebih tenang.
"Iya aku nggak lupa, Mas," ujar Almeera dengan penyesalan. "Aku ingin menghubungi Ummi!"Â
"Ayo! Aku akan menelfon Ummi agar kamu bisa berbicara dengannya."Â
~Bersambung
Yang tanya mertuanya Mbak Meera kenapa gak muncul. Sabar yah. Ini ada porsinya masing-masing. Ada outlinenya sendiri-sendiri jadi gantian.
Part begini ini bikin sedih sama lesu sendiri.
Jangan lupa klik like, komen dan vote..Biar author semangat ngetiknya.