Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Aduh! Pelan-pelan, Mas!



...Kau boleh berbahagia untuk saat ini tapi selanjutnya aku pastikan kau akan menangis darah....


...~Narumi Alkhansa...


...🌴🌴🌴...


"Hehe maaf ya, Tante. Jangan marah. Orang marah itu, temannya iblis dan orang jahat, tempatnya di penjara."


Tubuh Narumi menegang. Tatapannya menatap lekat mata Bia yang sedang menatapnya juga. Dia merasa seperti ingin mengorek maksud dari perkataan putri Bara dan Almeera. 


"Kenapa wajah Tante begitu tegang?" tanya Bia dengan polosnya. "Apa perkataan Bia barusan salah?" 


Anak itu memilih turun dari ranjang. Lalu dia meminta duduk di pangkuan Almeera agar bisa menatap wajah wanita jahat itu dengan leluasa. 


"Papa selalu bilang kalau orang jahat pasti di penjara dan orang marah temannya setan," sahutnya diperjelas.


"Ya. Papa Bia benar."


"Jadi Tante harus dipenjara dong?" celetuk Bia yang membuat Almeera gemas bukan main.


Tubuh Narumi mematung. Dia seakan susah menelan salivanya saat Bia dengan entengnya mengatakan hal sensitif itu. 


Entah kenapa jika membahas penjara. Kesalahan yang pernah dilakukan olehnya seakan berputar bak kaset rusak. Dari awal dia menjebak sampai di posisi ini, dirinya pasti bisa dijebloskan ke penjara jika rencananya terbongkar.


Aku tak mau di penjara. Aku harus segera mencari surat-surat penting milik Bara dan aku curi, batin Narumi dengan tekad yang besar.


 


"Kenapa Tante Rumi harus dipenjara? Tante, 'kan baik?" tanya Almeera sambil mengedipkan sebelah mata memberikan kode. 


"Tante Rumi sudah merebut Papa, 'kan? Jadi Tante orang jahat." 


"Ah, jika begitu Tante bukan orang jahat, Sayang." Almeera mengangguk. Lalu dia menatap Narumi yang sejak tadi merenung. "Rumi aku pamit keluar yah?"


Narumi terkejut. Dia mengelus dadanya saat tanpa sadar melamunkan hal yang tidak-tidak. 


"Ya." 


"Ingat! Istirahat yang cukup. Nanti aku antar makan siangnya ke sini."


"Iya, Meera. Terima kasih." 


...🌴🌴🌴...


Tawa Bara pecah ketika mereka keluar dari kamar Narumi. Suami dari Almeera itu geleng-geleng kepala saat mengingat ucapan putrinya bahwa dia akan melihat hasil dandanannya. Maha karya luar biasa sekali, tingkah kejahilan Bia sangat patut diacungi jempol.


Mereka semua segera kembali ke meja makan. Melanjutkan acara mengisi perut yang sempat tertunda. 


"Abang tadi bantu Adek?" tanya Darren pada Abra yang asyik minum air putih. 


"Iya, Kek. Kami berdua bekerjasama mewarnai kucing galak." Mendengar kata kucing galak, tentu membuat Jimmy dan Bara menahan tawanya.


Keduanya seakan ingin menyemburkan makanan yang ada di mulutnya saat mengingat bagaimana wajah Narumi yang kacau. Sungguh benar-benar lucu dan berantakan memang. Coretan itu pun mampu menakuti siapapun yang terkejut menatapnya. 


"Lain kali ajak Om Jim, Abra. Om juga mau bermain dengan wanita itu," ujar Jimmy dengan jujur.


Putra pertama Bara dan Almeera itu hanya mengacungkan jempolnya. Dia pasti melakukan hal-hal yang lain lagi dan membuat wanita itu segera pergi dari rumahnya. Dirinya merasa tak nyaman semenjak Narumi ada disini. 


Namun, mengingat permainan yang dimainkan oleh mereka semua. Mau tak mau, suka tak suka. Abra hanya bisa menurut. Tak lama, suara langkah kaki yang mendekat, membuat mereka yang ada di meja makan menoleh.


"Papa!" teriak Bia sambil berlari ke arahnya. "Bagus, 'kan, gambar Adek?" 


"Bagus." Bara mencium pipi sang putri. "Adek memang hebat."


Tanpa mereka semua sadari. Ada sepasang mata yang menatap interaksi ayah dan adiknya dengan hati tersentil. Sejujurnya Abra sangat ingin hubungannya dengan sang ayah kembali membaik. Tapi entah kenapa dia merasa gengsi untuk kembali menyapa dan mendekati Bara terlebih dahulu. 


Abraham hanya mampu menahan semuanya. Rasa rindu dan kecewa masih membalut hati anak 14 tahun itu. Dia memang sangat menyayangi sosok papa yang ada di dekatnya ini. Tapi jika mengingat perbuatannya kemarin, rasa sakitnya lebih besar daripada rasa rindunya. 


Semoga Papa tak menyakiti hati Mama lagi. Jika itu terjadi, maka aku yang akan membawa Mama dan Bia lari dari kehidupan Papa, batin Abra dengan yakin.


...🌴🌴🌴...


Dia meringis, saat kaki yang dipasang pen itu digerakkan dan terasa sakit. Dia menyandarkan punggungnya di ranjang. Lalu meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas.


Tangannya bergerak lincah. Dia mencari nomor kontak seseorang yang sudah lama tak dihubungi. Jarinya dengan cepat menekan tombol panggilan hingga terdengar deringan di sana.


"Sayang," rengek Narumi saat panggilan itu tersambung. 


"Kenapa baru menghubungiku?" semprot suara seorang pria dari seberang telepon. 


Dari nada bicaranya saja. Narumi bisa tahu bila kekasihnya itu pasti sangat khawatir kepadanya.


"Maaf, Adnan. Aku baru sempat menghubungimu karena mereka selalu ada didekatku," kata Narumi dengan manis. 


"Apa mereka tak melakukan hal buruk kepadamu?" tanya Adnan dengan khawatir.


"Tenang, Sayang. Mereka memperlakukanku dengan baik," sahut Narumi dengan santai. "Tapi, dua perusuh itu selalu mengerjaiku." 


"Perusuh?" ulang Adnan tak paham.


"Ya. Anak-anak Bara dan Almeera." 


"Apa yang mereka lakukan kepadamu, Honey?" tanya Adnan dengan perhatian.


"Si kurcaci kecil itu, menjatuhkan es krim di kepalaku," sungut Narumi dengan kesal. 


Sungguh mengingat kejadian itu. Ingin rasanya dia menjambak rambut Bia dan memukul gadis cilik itu. Tingkahnya memang terlihat lugu tapi Narumi bisa lihat bahwa gadis itu begitu nakal. 


"Lalu barusan dia mencoret wajahku ketika tidur. Dia benar-benar anak nakal yang harus dimusnahkan!" seru Narumi dengan ketus 


"Apa kamu ingin aku menyingkirkannya, hm?" tanya Adnan dengan nada menggoda.


Narumi tersenyum miring. Hal inilah yang sangat dia suka pada Adnan. Kekasihnya itu sangat peka terhadap kebutuhan dirinya. Tak perlu memancing, dia sudah tahu apa yang harus dilakukan.


"Apa kamu bisa?" tantang Narumi dengan nada menggoda.


"Tentu. Gadis kecil itu mudah untuk disingkirkan!" 


Dari nada bicara Adnan. Narumi bisa tahu jika kekasihnya tak main-main. Jika dirinya mengatakan singkirkan, maka pria itu akan mematuhinya. 


Adnan benar-benar seperti boneka mainannya Narumi. Pria itu sudah bucin akut dan terobsesi hingga tak mengenal mana yang baik dan buruk. Semua hal yang bisa membahagiakan Narumi, maka akan dia lakukan. Walau keselamatannya sendiri dipertaruhkan. 


"Culik dia dan buang yang jauh, Sayang! Kehadirannya membuat telingaku sakit disini." 


"Siap, Ratuku. Aku akan mengabulkannya untukmu." 


Akhirnya panggilan itu terputus. Narumi tersenyum begitu puas. Dia tak bisa membayangkan bagaimana jika bocah itu hilang dan tak ditemukan. Pasti semua keluarga ini akan merasakan kesedihan yang mendalam.


Namun, tiba-tiba. Senyuman lebar Narumi pun surut ketika telinganya samar-samar mendengar suara jeritan di luar sana. Dia mengepalkan tangannya saat suara itu semakin kencang.


"Aduh, Mas. Sakit!" 


"Pelan-pelan, Mas. Ini menyakitkan." 


"Ini terlalu sempit, Sayang. Lebih baik kau buka saja!" 


Narumi melempar bantalnya ke lantai. Dia menggeram kesal dengan mata tajam menatap pintu kamar yang tertutup seakan dia bisa melihat adegan apa yang terjadi di luar sana. 


"Untuk saat ini kalian boleh bahagia. Tunggu saja pembalasanku yang akan membuat kalian menangis darah!" 


~Bersambung


Otaknya bertrevelling hahaha. Kira-kira Mas Bara sama Mbak Meera ngapain?


Lagi senam sore kayaknya haha.


Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat updatenya.