
...Aku hanya ingin melihat apakah kamu benar-benar sudah bahagia atau hanya ingin terlihat bahagia di depanku....
...~Fadly Aradhana...
...🌴🌴🌴...
Suasana pagi yang cerah tak henti-hentinya disambut senyuman lebar oleh keluarga besar Almeera dan Bara. Kabar tentang perceraian Bara dan Narumi, tentu sudah disampaikan pada semua keluarganya oleh si kecil Bia. Bocah itu terus mengatakan pada Kakek, Nenek, Om dan Tantenya bahwa ia hanya memiliki satu mama. Tak ada mama lain selain Almeera.Â
Hal itu tentu membuat orang tua Almeera serta Bara merasa sangat bersyukur. Mereka bahagia melihat anak dan menantunya bisa mengambil keputusan yang benar. Apalagi Darren, walau rasa kepercayaannya pada sang menantu sudah hilang. Namun, dia yakin bila Bara tak akan menyakiti putrinya lagi.Â
Kehangatan dan keharmonisan rumah itu tentu ada sampai di meja makan. Mereka saling membantu menata, memanggil semua anggota agar berkumpul di ruang makan. Tak ada perbedaan di sana. Semua layaknya sebuah keluarga besar tanpa membeda-bedakan mana menantu, mertua dan besan.Â
"Wahh. Cucu cantik ini mau kemana?" tanya Tari saat melihat Bia baru saja turun dan menuju meja makan bersama Almeera.
"Bia mau ke rumah sakit, Nek. Bia mau jenguk Mantannya Papa," kata bocah itu dengan jujur.
Tentu jawaban itu membuat semua orang menatap Almeera. Istri dari Bara hanya mampu mengusap lehernya yang tertutupi hijab. Dia merasa malu dan risih saat semua mata memandang ke arahnya.Â
"Kami mau ke rumah sakit menjenguk Narumi," ucap Almeera menjelaskan.Â
"Untuk apa, Nak?" kata Ummi Mira menatap menantu kesayangannya. "Bukankah wanita itu juga yang merebut kebahagiaan kalian?"Â
Ummi Mira memang tak suka pada Narumi. Menurutnya mantan istri kedua putranya itu adalah wanita tidak baik. Dari tingkah lakunya saja, sebagai orang tua dia sudah memiliki firasat tersebut.
"Ummi." Almeera berjalan mendekat.
Dia mengusap lengan mertuanya yang tertutupi gamis dan mencium pipi ibu dari Bara.
"Bukankah Ummi selalu bilang, siapapun yang menyakiti kita, baik sengaja atau tidak harus kita maafkan?" kata Almeera mengulang nasihat mertuanya.Â
Ummi Mira hanya mampu menghela nafas berat. Benar memang yang dikatakan oleh menantunya ini. Namun, entah kenapa jika itu untuk Narumi, tidak berlaku.
"Betul, 'kan?" kata Almeera dengan tersenyum.
"Ya ya. Putri Ummi ini yang menang. Ummi selalu kalah denganmu, Ra."Â
Almeera hanya terkekeh. Dia selalu seperti itu jika membujuk mertuanya. Memakai nasehat yang selalu diajarkan akan membuatnya lolos dari perdebatan dengan Ummi Mira.Â
"Oh iya, Pa. Disana ada Kak Jim juga," kata Almeera memberitahu.Â
Kening Darren berkerut. Dia menatap anaknya dengan lekat.Â
"Bagaimana bisa?"Â
"Kata Mas Bara. Kak Jim tiba-tiba sudah ada di seberang jalan saat Narumi kecelakaan."
"Mungkin Kakakmu memang sengaja ingin menyusul suamimu," tutur Tari dengan lugas.
"Mungkin, Ma."Â
"Ya udah. Ayo makan! Biar kalian juga tak terlalu siang ke rumah sakit."Â
...🌴🌴🌴...
Setelah membereskan semua yang akan dibawa ke rumah sakit. Dari pakaian ganti kakak dan suaminya. Makanan dan minuman akhirnya keduanya segera keluar dari rumah di antar oleh semua orang. Almeera membantu putrinya masuk ke dalam mobil dan memakaikan seatbelt juga ke tubuhnya.Â
"Abang beneran gak ikut?" kata Almeera setelah menutup pintu mobil.
"Nggak, Ma. Abang mau berkebun sama Kakek aja," kata Abraham dengan memeluk tubuh Darren.
"Baiklah. Hati-hati yah." Saat Almeera hendak memasuki kemudi.
Sebuah mobil berwarna hitam memasuki pelataran yang membuat Almeera mengurungkan niatnya. Wanita itu lebih memilih berdiri di dekat kendaraannya dengan mata terus menatap mobil itu sampai berhenti.Â
Semua orang tentu sama dengan Almeera. Mereka bertanya dalam hati tentang siapa yang datang di rumah baru anak dan menantunya itu. Sampai saat pintu mobil itu terbuka dan muncullah sosok pria tampan yang beberapa bulan ini menghilang.Â
"Kak Fadly," kata Almeera terkejut dengan kehadirannya.Â
"Assalamualaikum, Om, Tante." Fadly berjalan mendekati orang tua Bara dan Almeera.Â
Dia mencium tangan mereka secara bergantian.
"Nak Fadly masuk!"Â
"Iya, Om. Saya kesini ingin ketemu Bia," kata Fadly sopan.
Semua orang mulai masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Almeera dan Bia yang masih ada di dalam mobil.
"Hy," sapa Fadly dengan tatapan lekat ke wajah Almeera.
"Hai, Kak," sahut Almeera dengan ramah.
Istri Bara itu memilih menundukkan pandangannya. Dia tahu betul jika kakak seniornya itu sedang memandangnya lekat.
"Aku kesini ingin mengucapkan ulang tahun pada Bia dan minta maaf sama kamu," kata Fadly dengan lembut.
"Untuk apa minta maaf?" tanya Almeera dengan bingung.
"Aku minta maaf karena memegang tanganmu secara spontan waktu di restoran. Aku melupakan kalau kamu sudah berubah, Ra. Kamu bukan Almeera yang dulu. Aku benar-benar tak menghargaimu waktu itu," ucap Fadly penuh penyesalan.
Almeera mendongak sejenak. Dia menatap wajah Fadly yang juga sedang menatapnya.
"Aku sudah memaafkan, Kakak."
"Sungguh?" Almeera mengangguk.
"Syukurlah. Lalu kemana Bia?"Â
"Bia di dalam." Almeera memutar tubuhnya.
Dia membuka pintu yang ada di sisi Bia dan membukanya. Lalu muncullah sosok yang dicari Fadly dari sana.
"Halo, Cantik. Selamat ulang tahun," kata Fadly dengan mensejajarkan tubuhnya. "Om ada kado buat kamu."Â
Fadly mengulurkan sebuah kotak lumayan besar ke arah Bia. Namun, bukannya langsung menerima, bocah itu menatap wajah mamanya terlebih dahulu.
"Boleh, Sayang. Terima," kata Almeera dengan tersenyum.
Sejak dulu baik Almeera maupun Bara selalu mengajarkan putra putrinya agar tak menerima barang apapun dari orang yang tak dia kenal. Mereka selalu mengatakan bahwa keduanya harus berhati-hati kepada siapapun.
"Terima kasih atas kadonya, Om."
"Sama-sama," sahut Fadly lalu menegakkan tubuhnya. "Kalian mau kemana?"Â
Fadly tentu merasa penasaran. Dia bisa melihat ibu dan anak itu begitu rapi dan cantik pagi ini. Wajah yang begitu mirip serta Almeera yang tak terlihat tua, membuat keduanya seakan bukan seperti ibu dan anak melainkan kakak dan adik.Â
"Ke rumah sakit, Om." Itu bukan suara Almeera melainkan Bia yang menjawab.
"Rumah sakit?" ulang Fadly menatap anak kedua Almeera. "Siapa yang sakit?"Â
"Mantan mama tiri aku," kata Bia dengan jujur.Â
Fadly belum mengerti. Dia menatap Almeera seakan meminta penjelasan.
"Narumi, Kak. Dia kecelakaan," kata Almeera pada akhirnya.
"Istri kedua suamimu itu?" tebak Fadly ingin memastikan.
Almeera mengangguk dan hal itu membuatnya menatap Almeera tak percaya.
"Apa maksud Bia mantan istri…"Â
"Iya. Mas Bara sudah menceraikan Narumi," sela Almeera mulai merasa risih dengan keadaan ini.
Entah kenapa sejak dulu Almeera paling tidak suka kehidupan pribadinya diulik. Oleh siapapun itu. Pada orang tuanya saja, dia berusaha menyimpannya. Apalagi pada orang lain yang tak memiliki hubungan apapun. Kecuali jika keadaannya sudah mendesak atau orang lain tahu sendiri. Maka, dengan terpaksa dia menceritakan walau tak begitu detail.Â
"Aku harus segera ke rumah sakit, Kak," kata Almeera saat melihat jam di pergelangan tangannya.
"Bolehkah aku ikut?" kata Fadly tanpa ragu.Â
Almeera menatap kakak seniornya dengan pandangan yang sulit diartikan. Namun, melihat wajah Fadly yang tulus membuat Almeera tak bisa menolaknya.
"Ayo, Kak!"Â
"Lebih baik kita satu mobil, Ra. Bukankah suamimu ada di sana?"Â
~Bersambung
Kira-kira gimana reaksi Mas Bara yah, pas tau ada Babang Fadly bareng istrinya?
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat updatenya.