Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Restu Calon Mertua?



...Rasanya memang seperti mimpi. Bahkan aku tak menyangka jika apa yang menjadi anganku kini berubah menjadi kenyataan....


...~Azzelia Qaireen...


...🌴🌴🌴...


Tak henti-hentinya bibir Zelia tersenyum. Wanita itu merasa banyak kupu-kupu terbang di perutnya. Pernyataan yang keluar dari bibir Jimmy, tentu membuatnya merasa sangat beruntung. 


Dicintai oleh pria yang bertanggung jawab. Rupanya yang tampan menjadi bonusnya setelah lama sendiri selama ini. Ditambah, sikapnya yang penuh perhatian dengan caranya sendiri, membuat Zelia benar-benar bersyukur.


Jimmy adalah sosok pria yang berbeda dengan pria di luar sana. Yang banyak mengumbar rayuan maut hanya untuk menjerat para wanita. Apalagi jika dilihat dari pekerjaan dan tampangnya, Jimmy bisa mendapatkan wanita kaya, cantik ataupun seksi dengan mudah.  


Namun, ternyata kenyataannya pria itu sudah lama melajang. Bahkan bisa dibilang ia tak pernah jatuh cinta selama ini. Cinta pertamanya adalah Zelia.


Bertemu dengan sahabat sang adik yang memiliki paras rupawan. Hati yang baik serta penyayang pada keponakannya, tentu membuat daya tarik seorang Zelia semakin bertambah.


"Jangan lupa minum obat dan istirahat, Lia," ucap Jimmy saat mobil pria itu memasuki pelataran rumah Zelia.


Ini kali pertama pria itu berada di rumah wanita yang baru beberapa menit menjadi kekasihnya. Dia bisa melihat rumah besar itu begitu megah. Dirinya yakin jika orang tua sang kekasih bukanlah orang sembarangan. 


"Iya," sahut Zelia yang baru menyadari jika ia sudah ada di depan rumahnya.


Terlalu banyak melamunkan hal-hal indah yang dia lewati, membuatnya tanpa sadar sudah melewatkan perjalanan ke rumahnya dalam diam. Hatinya benar-benar bahagia. Bahkan tak bisa dijabarkan oleh kata-kata lagi.


Tak ada yang paling menyenangkan selain hari ini. Dia benar-benar akan menjerit jika tak punya rasa malu. Dia akan melompat jika tak memiliki luka di perutnya. 


Cinta yang ia pendam dalam diam ternyata berbuah manis. Pria yang menarik perhatiannya sejak awal, ternyata membalas perasaannya dengan baik. Hal yang sangat menakjubkan bukan?


Zelia kembali melingkarkan tangannya di leher Jimmy. Pria itu menggendong sang kekasih memasuki rumahnya. Disana, ada Mama dan Papa Zelia yang menyambut mereka dengan tersenyum lucu.


"Sekalian antarkan Zelia ke kamarnya ya, Nak Jimmy," kata Mama Zelia dengan lembut.


"Iya, Tan." 


Akhirnya kakak dari Almeera itu perlahan merebahkan tubuh kekasihnya. Bahkan dia juga membantu menarik selimut agar Zelia bisa tidur dengan nyaman. 


"Tidurlah," ujar Jimmy dengan tersenyum tipis.


"Terima kasih, Kak," kata Zelia dengan pandangan penuh cinta. "Terima kasih sudah memilih dan mencintaiku dengan tulus."


"Sama-sama. Cepat sembuh dan aku akan mengajakmu bermain di alam bebas." 


"Pasti. Setelah sembuh akan kutagih janjimu, Sayang." Zelia langsung menutup kepalanya dengan selimut. 


Dia benar-benar merasa malu memanggil Jimmy dengan panggilan itu. Namun, bukankah keduanya sudah resmi berpacaran. Mereka berhak merubah panggilan antara satu dengan yang lain. 


Jimmy tersenyum tipis. Dia gemas dengan tingkah Zelia yang lucu. Hingga terlintas pikiran jahil, yang membuatnya segera menundukkan kepalanya semakin ke bawah. 


"Selamat tidur, Sayang. Mimpi indah." 


Mata Zelia membulat penuh. Pipinya semakin bersemu merah saat kata-kata itu terdengar halus di telinganya. Akhirnya perlahan dia membuka selimut itu saat mendengar suara pintu kamar yang tertutup. 


Dia menatap pintu itu sambil membayangkan punggung sang kekasih yang sudah menghilang di balik sana. Telinganya masih ingat dengan suara Jimmy yang memanggilnya begitu mesra.


"Lama-lama bersamanya. Aku bisa jantungan," dumel Zelia membenarkan selimutnya. "Dia benar-benar membuatku gila." 


...🌴🌴🌴...


"Apa Zelia sudah tidur, Nak Jimmy?" tanya Mama Zelia yang ternyata hendak menyusul keduanya. 


"Iya, Tante," sahut Jimmy membalasnya dengan sopan.


"Ayo ke ruang tamu dulu, Nak! Kita mengobrol sebentar," ajak Mama Zelia dengan ramah.


Jimmy tak bisa menolak. Sejak pertemuannya dengan orang tua Zelia. Pria itu bisa melihat bagaimana mereka begitu menyayangi sang kekasih.


Cara keduanya bersikap tentu sangat menampakan keharmonisan. Bahkan selama Jimmy berkunjung di rumah sakit, baik Mama ataupun Papanya Zelia tak pernah terlihat menunjukkan sikap buruk kepadanya.


"Sama-sama, Om. Tidak perlu sungkan," sahut Jimmy berusaha tenang. 


"Minumlah dulu. Mamanya Zelia membuatkan teh rempah kesukaan Om dan Zelia," kata Papa Zelia dengan tersenyum.


Jimmy tak menolak. Bahkan pria itu penasaran dengan minuman apa yang sangat disukai kekasihnya. Saat air berwarna kecoklatan itu mengguyur tenggorokannya. Rasa hangat, wangi teh dan segarnya sangat pas di lidah.


Bahkan tanpa sadar di menyesapnya lagi hingga air di cangkir tersebut tinggal setengah.


"Bagaimana?" tanya Papa Zelia menatap Jimmy dengan senyuman lebar. 


Dia yakin jika pria itu menyukai teh buatan istrinya. 


"Ini enak sekali, Om. Segar dan hangat," kata Jimmy yang membuat Mama Zelia bernafas lega. 


Ketiganya berbincang dengan hangat. Bahkan dengan sikap hangat kedua orang tua Zelia. Mereka menanyakan pekerjaan, keseharian Jimmy dan kemana pria itu selama ini.


Kenapa mereka bertanya seperti itu?


Karena selama ini, selama Zelia bermain di rumah Almeera ataupun sebaliknya. Yang pasti terlihat hanyalah Jonathan. Mangkanya mereka bahkan tak menyangka jika kakak Almeera yang kedua seorang laki-laki. 


"Bisa dibilang saya lebih banyak menghabiskan waktu di markas, Om," kata Jimmy dengan jujur.


Papa Zelia manggut-manggut. Dia benar-benar kagum dengan cerita dari Jimmy. Seorang pria yang menghabiskan waktunya dengan hal bermanfaat demi negara dan bangsa. 


"Om yakin kamu adalah pria bertanggung jawab," ujar Papa Zelia yang membuat Jimmy tersenyum tipis.


"Saya masih belajar, Om. Saya ingin menjadi sosok seperti Papa saya sendiri." 


Papa Zelia mengangguk. "Om yakin kamu pasti bisa." 


Jimmy mengaminkan dalam hati. Bagaimanapun dirinya benar-benar ingin seperti Papa Darren. Seorang pria penyayang pada keluarganya, setia pada istrinya dan menyayangi anak-anaknya meski sudah sebesar ini. 


Papa Darren tak pernah pilih kasih sedikitpun. Pria itu bahkan seorang ayah dan suami yang bijaksana. Tak pernah gegabah dalam mengambil keputusan dan selalu menjadi sosok ayah yang berdiri di garda terdepan ketika anaknya disakiti. 


"Saya juga ingin meminta restu sama, Om dan Tante," kata Jimmy pelan ingin mengutarakan niatnya.


Dia tak mau berpacaran ala anak sekolah ataupun cinta monyet. Dirinya tak mau berhubungan sembunyi-sembunyi. Umurnya yang semakin bertambah membuatnya ingin fokus dan serius dengan hubungannya. 


"Restu apa?" tanya keduanya bersamaan.


"Sebenarnya tadi saya sudah menyatakan perasaan kepada Zelia," kata Jimmy dengan pelan.


"Lalu?" 


"Zelia menerimanya," ujar Jimmy dengan jujur.


"Jadi kalian sudah berpacaran?" tanya Mama Zelia pada Jimmy.


Pria itu mengangguk. Jawaban yang diberikan Jimmy tentu membuat bibir kedua orang tua Zelia tersenyum begitu lebar.


Ternyata apa yang ada dipikiran mereka tak salah. Bahkan anaknya dan kakak sahabat putrinya sama-sama saling mencintai.  


"Om titip Zelia yah. Tolong jangan sakiti dia," ucap Papa Zelia penuh harap. 


"Pasti, Om. Saya akan menjaga Zelia sebaik mungkin." 


"Jangan panggil Om dan Tante lagi dong. Kami sudah merestui hubungan kalian. Jadi panggil kami sama seperti Zelia."


~Bersambung


Ah dah dapet lampu ijo lo bang! Ini mah gaspol banget.


Aku nulis part ini senyum-senyum gak jelas. Apalagi pas Zelia nutupin muka pakek selimut. Rasanya aku ngontrak di novel ini, baper sendiri haha.


Jangan lupa tekan like woy. Aku ngetik tiap hari 3 bab loh. Yang komen sama like huu kemana.