
...Percayalah apa yang kita rencanakan selalu Allah patahkan karena garis takdirnya adalah rencana terbaik dari rencana-rencanamu....
...~Reno Akmal alfayyadh...
...🌴🌴🌴...
Waktu terus berjalan dengan cepat. Tanpa sadar kehamilan Adeeva sudah memasuki bulan terakhir. Mereka berdua tengah menunggu momen yang sangat dinanti selama sembilan bulan.
Momen dimana keturunan Reno untuk pertama kalinya lahir. Anak yang mereka nanti sebentar lagi akan berjumpa dengannya dalam waktu dekat. Waktu dimana akan menjadi satu hal sejarah dalam hidup mereka.
Baik Adeeva maupun Reno sama-sama antusias dalam menyambut kelahiran anak mereka. Keduanya bahkan berbelanja barang-barang kebutuhan bayi, dari pakaian, peralatan mandinya serta semua printilan yang akan mereka pakai saat bayi mungil itu lahir.
Saat ini, sosok calon ayah yang tak sabar akan kelahiran anaknya itu, tengah membantu istrinya menata kamar mereka kembali. Ya, Adeeva tak mau kamar anaknya dipisah dengannya.
Mereka ingin untuk beberapa bulan kedepan, si bayi akan tidur satu kamar dengan mereka tapi diletakkan di dalam boxnya. Bagaimanapun ini adalah anak pertama. Keduanya belum memiliki pengalaman dan hanya bisa mengandalkan perasaannya saja.Â
"Kamu gak perlu berdiri, Sayang," cegah Reno saat istrinya hendak berdiri. "Kemarikan! Biar aku yang menatanya dalam lemari."Â
Adeeva tersenyum. Dia bahagia karena suaminya mau menemani dirinya membereskan semuanya. Terutama suami sahabatnya itu. Bara adalah sosok yang menjadi tersangka Reno bisa ada di rumah.Â
Bara memberikan waktu cuti untuk sahabatnya karena menjelang istrinya melahirkan. Reno yang memang tak pernah libur dan selalu gila kerja membuat Bara memberikan hadiah dengan hari libur pria itu.
Sahabatnya itu butuh waktu berdua dengan istrinya hingga Bara melakukan semua ini demi kebahagiaan Reno.
"Makasih ya, Ayank," jawab Adeeva saat selesai menyerahkan pakaian yang sudah ia tata rapi di tangan suaminya.
Mata Adeeva terus menatap pergerakan suaminya. Dengan hati-hati Reno membuka lemari kecil khusus bayinya itu dan mulai menata pakaian mungil itu dengan hati-hati.
"Celana itu taruh deretan kedua, Ayank," kata Adeeva mendikte suaminya.Â
Reno menuruti semua yang dikatakan oleh istrinya. Dimana letak pakaian itu, dia turuti hingga akhirnya selesai sudah semua masalah pakaian.Â
"Ambilkan kotak yang ada di sofa itu, Ayank!" pinta Adeeva menunjuk barang yang dimaksud.Â
"Untuk?" tanya Reno sambil mengambilkan barang itu lalu membawanya ke arah Adeeva.Â
"Buat minyak telon, baby oil, dan peralatan selesai mandi," kata Adeeva menjelaskan.Â
Reno hanya manggut-manggut. Dia tak tahu semua itu. Reno menyerahkan perihal printilan ini pada istrinya saja.Â
Setelah semuanya selesai dirapikan. Suara panggilan dari ponsel Reno membuat pria itu segera mendekat. Keningnya berkerut saat dia menatap panggilan dari temannya yang lama menghilang.
"Ada apa Syakir menghubungiku?" gumam Reno dalam diam.Â
Keterdiaman pria itu tentu membuat Adeeva menatap suaminya. Keningnya berkerut penasaran siapa gerangan yang menelpon Reno sepagi ini.
"Sebentar ya, Sayang," pamit Reno lalu mulai berjalan ke arah balkon.
Adeeva hanya mampu mengangkat bahunya acuh. Toh suaminya adalah sosok pria setia. Dia sangat percaya jika Reno tak akan mengkhianatinya. Pria itu adalah bukti dan saksi mata bagaimana perbuatan ayahnya dulu kepadanya.
"Akhirnya semuanya beres," ujar Adeeva lalu meregangkan tangannya.
Ibu hamil itu perlahan beranjak dari duduknya. Dia merasa ingin buang air besar. Entah kenapa perutnya terasa sakit kali ini.Â
Saat Adeeva sudah sampai di kamar mandi. Gadis itu melanjutkan apa yang ingin dilanjutkan. Namun, dirinya membelalakkan matanya saat menyadari bahwa dia mengalami diare.
Adeeva menghela nafas pelan. Saat dia mulai merasa nyaman. Lalu dia segera keluar dari kamar mandi dan melihat suaminya masih berada di balkon.Â
"Sayang. Aku ke bawah yah," pamit Adeeva pada Reno setengah berteriak.Â
"Ya. Nanti aku menyusul."Â
...🌴🌴🌴...
Adeeva segera berjalan ke arah dapur. Dari tempatnya berjalan ia bisa melihat mamanya yang sedang melakukan sesuatu. Namun, bau harum dari sebuah masakan membuat Adeeva mengusap perutnya yang membuncit.Â
Dia sangat mengerti bau makanan apa ini. Bau kue bawang kesukaannya.Â
Ibu Adeeva lekas menoleh. Dia tersenyum melihat anaknya yang sedang mengandung masih begitu manja kepadanya. Tak ada yang berubah dari putrinya itu.
Adeeva tetaplah Adeeva kecilnya. Gadis kecil yang sangat manja kepadanya meski keadaan keluarganya yang hancur lebur.Â
"Kamu pasti ngecium bau kue bawang, 'kan?" tebak ibu Adeeva dengan terkekeh.
Adeeva mengangguk. Lalu dia mulai mencomot kue bawang itu dengan lahap.Â
"Rasanya masih tetap sama, Bu. Nikmat tanpa batas."Â
Ibu Adeeva terkekeh. Dia menggelengkan kepalanya melihat tingkah putrinya. Dia segera mengambilkan kue bawang itu lalu meletakkannya di dalam mangkuk.
"Makanlah!"Â
"Ibu memang yang terbaik!" ujar Adeeva lalu mencium pipi ibunya.Â
Dia menerima mangkuk itu. Namun, saat Adeeva hendak berjalan meninggalkan dapur. Dia merasakan sesuatu mengalir dari inti tubuhnya hingga membuatnya menatap ke lantai yang ada di bawahnya.
Ibu hamil itu merasa panik. Dia memanggil ibunya yang membuat wanita paruh baya itu lekas mendekat.
"Ada apa, Sayang?"Â
Adeeva menunjuk lantai bawahnya yang basah. Ibunya lekas mengikuti arah tangan anaknya.
"Ya Allah, Nak. Kamu mau melahirkan!" ucap Ibu Adeeva terkejut.
Adeeva merasa perutnya mulas seperti saat menstruasi. Dia meletakkan mangkuk yang ia pegang karena takut terjatuh. Kemudian tangannya berpegangan pada dinding dapur untuk menopang tubuhnya.
"Ayo, Nak. Duduk dulu!" Ibu Adeeva memapah putrinya.
Adeeva didudukkan di atas kursi makan. Lalu ibu Adeeva segera berjalan dengan cepat menuju kamar anaknya dengan berteriak memanggil nama menantunya.Â
Reno yang saat itu baru selesai berbicara dengan Syakir lekas berlari keluar. Dia segera menatap ibu mertuanya yang hendak membuka pintu.
"Ada apa, Bu?" tanya Reno dengan panik.
"Istrimu mau melahirkan, Nak."Â
"Apa!" seru Reno terkejut. "Sekarang, Bu?"Â
Ibu Adeeva menatap Reno tak percaya. Dia menarik telinga menantunya agar pria itu sadar.
"Aduh kenapa ditarik, Bu?" kata Reno meringis sakit.
"Namanya melahirkan ya sekarang, Nak!" seru Ibu Adeeva dengan gemas. "Ayo cepat! Bawa istrimu ke rumah sakit."Â
Akhirnya Reno segera berlari ke ruang makan. Dia bisa melihat istrinya yang menahan sakit sampai keningnya berkerut. Wajah istrinya begitu pucat dan menandakan bahwa Adeeva sedang tak baik-baik saja.
"Ayo, Sayang!"Â
Saat Reno hendak menggendong istrinya. Dia melihat lantai didekat Adeeva telah basah. Pria itu terbelalak dengan gemetar ketakutan.
"Sayang!" ujar Reni tertahan dengan bibir susah berkata-kata.
"Ayo, Ren! Cepat!" ujar Ibu Adeeva mengejutkan suami anaknya itu.
"Ibu apa istriku baik-baik saja?"Â
Astaga. Ibu Adeeva benar-benar gemas bukan main. Disaat genting seperti ini, Reno masih bisa bertanya seperti ini.Â
"Kalau kamu gak cepet-cepet gendong Adeeva dan dibawa ke rumah sakit. Istri dan anakmu akan kenapa-napa."Â
~Bersambung
Bang Ren mendadak lola otaknya. Hahaha ada yang suaminya kek gini?
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetiknya.