
...Aku mencoba menjadi wanita yang egois untuk menyelamatkan mental dan diriku dari segala kesakitan yang terjadi beberapa hari ini. ...
...~Almeera Azzelia Shanum...
...🌴🌴🌴...
Almeera tak henti-hentinya menatap Bia yang dibaringkan di pangkuannya. Dia menangis meski berusaha tegar. Rasa penyesalan semakin menyusup di hatinya tatkala mengingat kejadian tadi siang.
Seharusnya dia tak membentak.
Seharusnya dia bisa lebih bersabar.
Namun, terlalu banyak tekanan dan kejadian, pasti membuat ibu dari dua anak itu ingin sekali melampiaskan semuanya.
"Bertahan, Sayang. Mama minta maaf," lirihnya sambil mencium dahi putrinya dengan lembut.
Mimisan di hidung Bia memang sudah berhenti, terutama Almeera juga menyumbatnya dengan tisu. Dia benar-benar kalut dan tak mengingat apapun. Yang terpenting menurutnya, darah dari hidung Bia mulai berhenti dan putrinya bisa segera mendapatkan penanganan.
Saat mobil sudah berhenti di depan UGD. Almeera lekas turun sambil menggendong putrinya. Darren, ayah dari Meera lekas meraih cucunya karena melihat putrinya kelelahan.
"Tolong selamatkan cucuku, Dokter," kata Darren sebelum pintu UGD tertutup.
Mama Tari perlahan membawa anaknya duduk. Dia mengelus kepala Almeera pelan hingga membuatnya menoleh.
"Maafin Meera, Ma. Meera benar-benar menyesal."
"Jangan menyalahkan dirimu, Sayang. Bia pasti baik-baik saja," ucap Mama Tari menyemangati putrinya.
Sungguh penampilan Almeera begitu acak-acak. Daster panjang dengan kerudung membalut tubuhnya malam ini. Dia sudah tak sempat untuk berganti pakaian memang. Menurutnya, melihat keadaan anaknya saja, dia berpikir harus segera ke rumah sakit.
"Apa kita akan mengabari Bara, Pa?" tanya Mama Tari yang membuat semua pandang menatap ke arahnya. "Maksud Mama. Keadaan Bia seperti ini, pasti karena merindukan Bara."
Terdengar helaan nafas berat dari pria tua yang memiliki tiga orang anak itu. Darren, pria itu tentu memikirkan cucunya. Dia pasti sanggup melakukan apapun agar Bia bahagia. Namun, disini ada hati putrinya juga yang harus dia jaga.
Apakah Almeera mau menerima kehadiran Bara disini?
Apakah Almeera setuju dengan keputusan yang dia pikirkan?
Tapi disini, Darren tak mau egois. Ya dia akan meminta jawaban putrinya sebelum bertindak lebih jauh.
"Meera," panggil Darren yang menyusul duduk di samping anak ketiganya. "Jangan marah, 'yah! Papa hanya memberi saran, Nak. Kamu terima atau nggak, itu hak kamu."
Darren memulai dengan kata-kata itu untuk menghargai putrinya. Dia tak mau Almeera terpaksa menerima ajakannya. Saat ini, mental anaknya dan dua cucunya benar-benar sedang diuji. Maka dari itu dirinya ingin menasehati Almeera daripada ikut campur.
"Iya, Pa," sahut Meera dengan pelan.
"Bagaimana jika Bia dipertemukan dengan ayahnya?"
Tubuh Almeera mematung. Wanita itu masih mencoba menerka apa yang dia dengar. Apakah perkataan yang dilontarkan papanya ini, benar-benar nyata.
"Papa serius?"
"Serius, Nak.".
"Dia udah nyakitin anak Papa ini," seru Almeera dengan kekecewaan yang tinggi. "Dia gak jenguk Almeera, gak mencari Almeera dan anak-anaknya. Apa semua yang sudah dia lakukan, gak buat Papa sadar?"
"Bukan seperti itu, Meera," sela Darren dengan cepat. "Ini bukan karena Papa gak sayang kamu tapi lihatlah Bia. Dia jadi korban keegoisan suamimu."
Almeera menggelengkan kepalanya. Dia tetap pada pendiriannya. Dirinya berusaha egois untuk saat ini. Berada di titik sekarang bukanlah hal yang mudah. Kabur dari rumah tanpa pamit untuk mencari kebahagiaan sendiri adalah sesuatu yang sangat ingin Almeera raih bersama kedua anaknya.
"Almeera gak mau, Pa. Bia hanya butuh waktu untuk mengerti."
Percakapan keduanya berhenti saat dokter keluar dari ruang UGD. Pria bersneli putih itu terlihat mencari seseorang yang membuat Almeera penasaran.
"Bagaimana keadaan putri saya, Dokter?"
Dokter itu menghela nafas berat.
"Pasien hanya kelelahan dan perutnya belum terisi makanan," kata Dokter dengan wajah serius. "Suami ibu dimana?"
Almeera kebingungan. Dia menatap kakak, mama dan papanya secara bergantian. Seakan dia sedang mencari pertolongan untuk membantunya menjawab.
"Menantu saya sedang ada tugas kerja. Memangnya ada apa, Dok?"
"Maksud Dokter bagaimana?"
"Apa pasien sudah lama tak bertemu Papanya?"
"Terakhir bertemu kemarin, Dokter," sahut Alemera dengan jujur.
"Bagaimana hubungan putri dengan suami, Anda? Saya tebak keduanya begitu dekat?"
Almeera menganggukkan kepalanya dengan lemah. Bagaimanapun yang dikatakan oleh Dokter memang benar adanya. Hubungan Bia dan Bara memang sangat dekat. Bahkan lebih dekat daripada dia yang notabenenya adalah ibunya.
"Iya, Dok."
"Kejadian seperti ini sudah pasti akan terjadi pada anak kecil. Dia yang terbiasa dengan kehadiran orang tua, maka akan ada ketergantungan," kata Dokter menjelaskan. "Lalu ketika keduanya terpisah, maka akan ada tekanan batin pada anak itu dan bisa membuatnya seperti tadi."
"Salah satunya mimisan, Dok?" tanya Almeera yang dibalas anggukan kepala.
Penjelasan Dokter tentu membuat Almeera termangu. Dia menunduk sampai pria bersneli putih itu pamit undur diri. Putrinya akan bermalam di rumah sakit dan besok akan ada psikolog yang akan melihat apakah mental Bia terganggu atau tidak.
Setelah adik dari Abraham sudah dipindahkan di ruang rawat. Almeera lekas mendekat. Dia mengelus kepala putrinya dan memberikan ciuman di pipi dan dahi bocah kecil itu.
"Kamu kangen Papa, Sayang?" bisik Almeera dengan pelan. "Mama minta maaf kalau kali ini egois. Mama yakin kamu bisa melewati semua ini bersama Mama dan Abang."
...🌴🌴🌴...
Seperti perkataan Dokter kemarin. Pagi ini ruangan Bia didatangi oleh seorang perempuan cantik berpakaian sederhana. Dia mendekati Meera dan orang tuanya lalu berjabat tangan.
"Perkenalkan nama saya, Citra. Psikolog yang diminta menangani pasien bernama Bia. Benar?"
"Benar, Dokter," sahut Almeera dengan sopan. "Tapi putriku dari semalam…"
"Saya tau, Bu," sela Citra dengan cepat. "Izinkan saya mengobrol berdua dengan putri Anda, 'yah?"
Akhirnya semua orang mulai keluar dari ruang rawat Bia. Mereka menunggu dengan perasaan khawatir. Terutama Almeera, ibu dari dua anak itu terlihat mondar mandir di depan pintu. Dia seakan khawatir akan apa yang terjadi pada anaknya di dalam.
"Duduklah, Nak," pinta Darren menepuk kursi sampingnya. "Percayakan pada Dokter Citra. Bia pasti mau berbicara padanya."
Almeera hanya mengangguk. Dia duduk di samping papanya sambil memanjatkan doa. Istri dari Bara itu meminta agar putrinya mengerti akan apa yang terjadi saat ini. Meera meminta pada Tuhan, agar putrinya lekas menerima apa yang terjadi pada mereka.
Hingga hampir satu jam lamanya Dokter Citra di dalam. Tak lama, perempuan itu keluar dan menutup pintunya secara perlahan.
"Bagaimana, Dokter?" tanya Almeera tak sabaran.
"Anak ibu benar mengalami Lovesick," kata Citra dengan serius. "Dia mengatakan sangat ingin bertemu papanya saat ini."
"Tapi…"
"Orang tuanya sedang ada masalah. Betul bukan?"
Telak.
Almeera seakan ditampar oleh kenyataan. Jangan lupakan, wanita di depannya ini adalah seorang psikolog. Jadi hanya menatap gerak-geriknya saja bisa terlihat.
"Maaf, Dok."
"Jangan minta maaf pada saya, Bu. Minta maaflah pada putri, Anda," kata Citra dengan suara tenangnya. "Ibu perlu mengingat! Seburuk apapun rumah tangga yang sedang terjadi, korban utama adalah anak-anaknya."
"Lalu bagaimana dengan saya, Dok? Bagaimana dengan hati saya?" seru Almeera mulai lepas kendali.
"Saya tau perasaan anda, Bu. Tapi untuk saat ini, berusahalah berdamai demi anak ibu," kata psikolog cantik itu dengan tatapan lembut. "Pikirkan kesehatan anak ibu sebelum mentalnya semakin terganggu karena keadaan ini dan membuat Anda menyesal."
~Bersambung
Gak di dunia nyata, gak diketikan kok part Adek Bia mesti bikin nyesek. Emang bapaknya aja yang bikin masalah, huh.
Kabur takut Mas Bara baca ini, hahaha.
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah.
follow instagram aku kalau mau masuk grup.