Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Reno Gaspol!



...Wanita itu tak suka menunggu. Dia ingin hubungan yang pasti daripada bertahun-tahun tapi tanpa kepastian....


...~Adeeva Khumairah...


...🌴🌴🌴...


Pagi yang cerah akhirnya menyapa tidur seorang perempuan yang sedang bahagia. Senyumnya terus mengembang sejak matanya terbuka menyambut indahnya hari ini. Tubuhnya menggeliat di kasur empuk yang terdapat bau maskulin milik kekasihnya itu.


Dia mulai beranjak duduk. Menurunkan kedua kakinya dan menuju ke kamar mandi. Waktu masih menunjukkan pukul lima pagi. Dia menjalankan ibadah terlebih dahulu lalu segera keluar dari kamar.


Samar-sama, gadis itu mendengar suara orang berbicara dari arah dapur. Saat dia menuruni tangga, ternyata disana ada ibu dan kekasihnya yang sedang memasak bersama.


"Selamat pagi," sapa Adeeva dengan senyuman begitu lebar.


"Oh putri tidurku sudah bangun?" goda Ibu Adeeva yang membuat Adeeva menunduk malu. "Kalau sudah menikah, jangan bangun jam segini. Nanti suaminya dipatok tetangga sebelah."


"Astagfirullah, Ibu. Ini masih jam setengah enam," kata Adeeva memeluk ibunya dari belakang.


"Ya. Ibu tau tapi jangan dibiasakan."


"Siap, Bu Boss," sahut Adeeva lalu mengecup pipi ibunya.


"Tidurmu nyenyak?" tanya Reno mengelus puncak kepala sang kekasih.


"Sangat nyenyak," ujar menanggapi. "Apalagi ini berkat kamu."


"Ehem." Ibu Adeeva berdehem yang membuat keduanya terkekeh pelan. "Kalau mau mesra-mesraan tunggu Ibu selesai memasak."


"Ah, Ibu. Deeva jadi malu." 


"Sana siapkan piring dan minumannya. Nasi goreng kesukaanmu hampir selesai." 


"Kenapa masak nasi goreng? Nanti Reno gimana?" 


"Ya ini permintaan kekasihmu, Nak." 


Pipi Adeeva memerah. Apalagi saat matanya tanpa sengaja menatap kerlingan mata Reno kepadanya yang membuat hatinya semakin berbunga.


Akhirnya acara sarapan pagi dimulai dengan doa bersama. Reno benar-benar membeli bahan makanan semalam saat mengingat tak ada apapun di apartemennya ini. 


Dirinya juga tidur di sofa di ruang tamu dan membiarkan kekasihnya tidur di kamar pribadinya. Hal itu sangat membuktikan bagaimana perasaannya kepada Adeeva.


Sangat luar biasa ia mencintai gadis itu!


"Ibu," panggil Reno yang membuat wanita paruh baya itu menghentikan tangannya yang akan menyendok nasi.


"Ya?"


"Reno ingin berbicara suatu hal penting dengan, Ibu," ujar Reno dengan serius.


Jantung Adeeva berdegup kencang. Dia sudah tahu betul apa yang akan dibahas oleh kekasihnya itu. Namun, gadis itu tak pernah menyangka jika Reno benar-benar gerak cepat. 


Pria itu tak main-main lagi dengan keseriusannya. Dia melakukan semuanya dalam waktu dekat dan ucapannya untuk menikahi dirinya secepatnya adalah kebenaran.


"Boleh. Selesai sarapan kita bicara ya." 


Akhirnya mereka melanjutkan sarapannya. Tak ada yang ingin disampaikan oleh Adeeva. Gadis itu sama gugupnya. Ia memikirkan apakah ibunya benar-benar menyetujui hubungan mereka dan memberikan restu jika Reno menikahinya secepat ini.


Mereka bahkan baru beberapa hari jadian. Lalu dalam waktu dekat, pria itu melamarnya dengan tiba-tiba. Sungguh Reno adalah sosok pria idaman yang sangat digilai banyak wanita.


Pria yang tak mengumbar banyak gombalan dan janji tapi memberikan hubungan yang pasti yaitu pernikahan. 


"Apa yang ingin kamu bicarakan pada Ibu, Nak?" tanya Ibu Adeeva saat ketiganya mulai duduk berhadapan.


Adeeva memilih duduk di samping ibunya. Dia melirik kekasih dan ibunya itu bergantian.


"Ibu sebagai wali Adeeva. Reno meminta izin dan restu Ibu untuk bisa menikahi putri Ibu satu-satunya," lanjutnya dengan menatap wanita paruh baya di depannya ini. "Beri Reno kesempatan untuk membahagiakan Adeeva, Bu. Reno memang bukan pria kaya tapi Reno akan berusaha mencukupi setiap kebutuhan Adeeva dan memberikan cinta yang besar untuknya." 


Mata Ibu Adeeva berkaca-kaca. Dia menatap putrinya yang duduk di sebelahnya ini. Putri yang dulu dia peluk sendirian. Dia nyanyikan setiap tidurnya. Dia rawat penuh kasih sayang ternyata sudah tumbuh sebesar ini. 


Lalu sekarang seorang pria sudah meminangnya dengan begitu baik yang membuat hatinya sangat tersentuh.


Melihat bagaimana sikap Reno, perbuatan pria muda itu. Perlakuannya pada putri kandungnya sendiri. Membuat ibu dari satu anak itu mulai memantapkan hatinya.


"Ibu…" jedanya sambil menarik nafasnya begitu dalam. "Ibu merestui kalian berdua." 


Mata Adeeva membulat penuh. Dia tak menyangka jika ibunya dengan mudah memberikan restu kepada Reno untuk menikahinya. 


"Ibu serius? Ibu beneran ngasih restu sama kami berdua?" tanya Adeeva memeluk ibunya.


Setetes air mata jatuh dari mata Ibu Adeeva. Wanita paruh baya itu mengangguk membenarkan ucapannya bahwa ia benar-benar sudah memberikan restu.


"Ibu serius, Nak. Kamu berhak bahagia," lirih Ibu Adeeva dengan suara serak karena menangis.


Adeeva dengan cepat memeluk ibunya dengan erat. Di benar-benar bahagia dengan apa yang dirinya dapatkan sekarang.


"Terima kasih, Ibu. Terima kasih," ucap Adeeva begitu tulus.


"Tolong jaga putriku satu-satunya, Nak Reno. Adeeva adalah putri yang sangat ibu cintai," ujarnya dengan pelan.


Reno mengangguk. Dia beranjak dari duduknya lalu berjongkok di hadapan wanita yang akan menjadi ibu mertuanya ini. 


"Terima kasih atas restunya, Bu. Reno akan menjaga Adeeva sebaik mungkin." 


"Ibu percaya padamu." 


Pasangan kekasih itu saling menatap. Mereka tersenyum bahagia saat jalan di depan mereka ada titik terang. Hubungan mereka akan berlanjut ke jenjang yang lebih serius dan keduanya berharap tak ada lagi halangan yang menimpa keduanya.


"Keluarga Nak Reno bagaimana?" tanya Ibu Ibu Adeeva yang penasaran pada kekasih anaknya itu.


Semenjak tinggal di rumah milik Papa Darren dan bertetangga dengan Reno. Baik Adeeva maupun Ibunya tak pernah melihat siapapun selain Reno di rumah itu. 


Reno menghela nafas pelan. Dia menggenggam tangan Ibu Adeeva dan Adeeva secara bersamaan.


"Reno anak yatim piatu, Bu," lirihnya memulai. "Orang tua Reno sudah meninggal."


Kedua wanita berbeda usia itu sama-sama terkejut. Mereka tak menyangka jika Reno benar-benar hidup sendirian.


"Lalu wanita tua yang waktu itu aku lihat ke rumahmu. Siapa?" 


"Itu Ibu Angkatku. Dia adalah seorang wanita yang menemukanku dulu ketika aku kelaparan dan dia yang membantuku." 


Mata Adeeva berkaca-kaca. Disisi lain dia begitu iba pada hidup kekasihnya. Namun, melihat bagaimana gigihnya Reno bekerja membuat Adeeva sebagai kekasihnya merasa bangga. 


"Jika seperti itu. Lebih baik kalian cepatlah menikah." 


Adeeva membelalakkan matanya. Dia menatap tak percaya ibunya benar-benar memberikan lampu ijo yang sangat gaspoll ini mah.


"Kenapa? Kamu belum siap?" tanya Ibu Adeeva pada putrinya.


"Bukan, Bu. Adeeva cuma terkejut." 


"Untuk apa kalian menunda terlalu lama jika sudah siap. Segeralah menikah dan saling membangun keluarga yang sangat kalian inginkan. Umur kalian berdua sudah hampir empat puluh tahun. Tak baik menunda-nunda lagi."


"Baik, Bu. Jika Ibu sudah memberikan dukungan. Reno akan menghubungi Bara agar si bos segera pulang dan Reno bisa segera menikahi Adeeva."


~Bersambung


Wahahah kondangan yeyy kondangan. Siapin amplop yak.


Jangan lupa klik like dulu. Bahagia mah boleh. Likenya jan kelupaan. Sama komen yah.