
...Apa yang ada di dunia ini hanyalah sebuah titipan. Kapanpun bisa saja terjadi ketika Tuhan sudah berkendak....
...~Gibran Bara Alkahfi...
...🌴🌴🌴...
"Kamu serius?" tanya Ilham tak percaya. "Apa kamu mau jadi istriku?"Â
Jujur Ilham benar-benar tak menyangka bila wanita di depannya ini mau menjadi istrinya. Dia tidak pernah berharap berlebihan untuk memiliki Narumi seutuhnya. Wanita yang sangat cantik dan seksi berbanding terbalik dengan dirinya.Â
"Memangnya kenapa, Mas?" tanya Narumi memasang wajah sedih. "Apa kamu tak mau menjadikan aku istrimu karena aku sudah cacat begini?"Â
Narumi benar-benar wanita yang pandai berakting. Walau matanya tak mampu melihat, tapi bibirnya sangat pandai merayu. Raut wajahnya yang dibuat sesedih mungkin, tentu mampu membuat Ilham yang sangat lugu dan polos gampang terperdaya.Â
"Jangan katakan itu lagi, Rumi!" seru Ilham tak terima. "Bagaimanapun kamu sekarang, aku menerima kamu apa adanya."Â
Narumi tak merasa tersanjung. Bahkan baper pun sudah tak ada. Hatinya seakan sudah mati rasa dan tertutup oleh kebencian yang mendalam pada Almeera.
Perempuan itu seakan selalu merasa iri dan kurang ketika melihat kebahagiaan sahabatnya. Dia selalu ingin berada di atas Almeera dalam segi apapun.Â
Narumi menunduk. Dia memasang wajah sedih yang membuat Ilham merasa bersalah.Â
"Maafkan aku, Sayang. Aku tak berniat membentakmu," ucap Ilham dengan lembut.
Perlahan dia memegang dagu Narumi. Menatap wajah wanita itu yang banyak terdapat goresan kaca.Â
"Aku tersentuh dengan keikhlasanmu, Mas. Aku mencintaimu," ucap Narumi yang membuat jantung Ilham berdegup kencang.
Pria itu menatap Narumi. Tak menyangka jika wanita itu mengatakan sesuatu yang sudah lama dia tunggu. Sebuah kalimat yang sudah sangat lama Ilham tahan dan sembunyikan.
Dia menahan egonya sendiri karena mengetahui jika Narumi adalah istri bosnya sendiri. Menutupi hatinya yang selalu cemburu dan berusaha membuang perasaannya pada istri orang.Â
"Mas, kenapa diam? Apa Mas tidak mencintaiku juga?" tanya Narumi dengan pikiran licik.Â
Dia sangat tahu betul jika pria di dekatnya ini pasti merasa terkejut. Sebenarnya Narumi selama ini tahu betul perasaan Ilham kepadanya. Namun, dia menjadikan pria itu mainannya hanya untuk hiburannya saja.Â
"Bukan seperti itu, Rumi. Mas benar-benar terkejut," ucap Ilham setelah tersadar akan keterkejutannya. "Mas tak menyangka jika kamu membalas perasaan Mas. Sejak kita pertama kenal, Mas sudah jatuh cinta sama kamu."
Ilham tersenyum bahagia. Dia meraih tangan Narumi dan mengecupnya berulang kali. Sungguh hatinya sangat berbunga-bunga. Dia tak menyangka jika waktu yang sudah lama dinanti, akhirnya bisa dia rasakan.Â
"Serius, Mas?"Â
"Ya. Mas serius. Mas benar-benar mencintaimu," kata Ilham dengan tulus.
Narumi mengangguk. Dia balas menggenggam tangan Ilham dan mengelusnya dengan lembut.
"Aku bahagia, Mas. Aku bahagia," kata Narumi dengan senyuman lebar mengandung banyak arti.Â
"Aku juga," sahut Ilham dengan wajah bahagia.Â
Pria itu benar-benar bersyukur. Tanpa dia tahu jika wanita yang ada di depannya ini adalah wanita jahat. Wanita yang memiliki banyak rencana licik di balik wajah cantik dan polosnya.
"Oh iya. Mas mau tanya. Bagaimana kamu bisa kecelakaan?" tanya Ilham yang membuat tubuh Narumi menegang.
Dia kesusahan berbicara. Seakan otaknya berusaha mencari sebuah jawaban yang tepat.Â
"Sayang."Â
"Itu, Mas. Aku bersama temanku dan dia mengantuk. Jadi mobil kita menabrak sebuah truk."Â
"Lalu bagaimana dengan temanmu?"Â
"Dia meninggal."
"Innalillahi wainna ilaihi rajiun."Â
"Jangan bahas dia, Mas. Kalau ingat dia aku takut dan sedih," lirih Narumi mencoba mengalihkan perhatian.Â
"Maafkan aku, Sayang," sahut Ilham mengelus kepala Narumi. "Lebih baik siapkan dirimu. Nanti malam kita harus pergi dari sini!" kata Ilham menatap wajah kekasihnya dengan lembut.Â
"Kita mau pergi kemana, Mas?"Â
"Ke tempat yang jauh. Yang penting kamu harus menyingkirkan dua perawat yang ditugaskan untuk menjagamu," kata Ilham sedikit berbisik.
"Iya, Mas. Aku akan membuat mereka tak ada di ruanganku nanti."
Tanpa keduanya sadari, jika sejak tadi ada dua pasang mata yang berdiri di depan pintu. Mereka mendengar semua yang dibicarakan oleh kedua orang yang ada di dalam ruangan.
"Kita harus segera mengabari Pak Bara," kata seorang perempuan yang memakai pakaian seragam perawat.Â
...🌴🌴🌴...
Akhirnya setelah hampir satu jam, api yang semula berkobar begitu besar mulai meredup dan lenyap. Semua bangunan benar-benar tak ada yang bersisa. Semua sudah hancur dan hangus yang membuat Bara menatap dengan pandangan sendu.
Perjuangan pertama dia mendirikan cafe dari uang tabungannya, harus lenyap tak bersisa. Bangunan ini adalah bukti dia mencoba terjun di dunia makanan. Namun, Bara mencoba menerimanya.Â
Dia mengingat ucapan istrinya, Almeera. Apa yang ada di dunia memang hanyalah sebuah titipan. Kapan saja Tuhan bisa mengambilnya dan dia tak bisa melakukan apapun selain pasrah.Â
Tiba-tiba lamunan Bara buyar saat dia merasakan tepukan keras di bahunya. Dia menoleh dan menatao Reno yang wajahnya terlihat begitu panik.
"Ada apa?" tanya Bara menatap sahabat sekaligus tangan kanannya penuh selidik.Â
"Ada masalah di perusahaan," kata Reno dengan wajah yang tak bisa menutupi kepanikannya.
Dahi Bara berkerut. Dia menatap Reno lekat seakan menunggu perkataan sahabatnya itu.
"Ada apa, Ren? Lo kenapa sih diem mulu, langsung aja bilang kenapa sama perusahaan," sembur Bara yang tak tahan dengan tingkah sahabatnya.
Hati pria itu sebenarnya sudah khawatir. Dia tahu pasti Reno memiliki berita yang penting atau masalah baru yang akan dia sampaikan kepadanya. Melihat wajah pria itu saja, Bara sudah sangat tahu betul.
"Ada seseorang yang mencuri uang perusahaan, Bar. Perusahaan benar-benar kacau."
Bara tak menunjukkan keterkejutannya. Dia hanya bisa menarik nafasnya begitu dalam dan menghembuskannya dengan kasar. Dia berusaha terlihat baik-baik saja walau sebenarnya pikirannya sudah terasa begitu sakit.
"Jangan diem aja Lo, Bar! Bilang apa kek, Lo marah juga gak papa. Kalo Lo diem gini, gue takut!" sembur Reno menatap sahabatnya khawatir.Â
Jujur Reno lebih suka sahabatnya ini marah atau uring-uringan daripada diam seperti ini. Dirinya merasa khawatir dengan keadaan mental Bara. Satu hari ini, pria itu benar-benar diuji secara materi.Â
"Gue baik-baik, Ren," sahut Bara dengan nafasnya penuh kepasrahan. "Mending kita ke perusahaan sekarang! Biarkan disini diurus oleh orang kepercayaan kita."Â
Reno mengangguk. Keduanya segera menuju ke mobil Bara yang terparkir di pinggir jalan. Pria itu segera mengambil alih kemudi karena takut jika Bara yang menyetir maka fokusnya akan terganggu.Â
Ayah dari kedua anak itu duduk dalam diam. Matanya menatap ke depan dengan pandangan kosong. Kepalanya terasa mulai berdenyut. Dia benar-benar lelah tapi harus mengesampingkan rasa itu dari dirinya.
Semoga tak ada hal buruk lagi, Tuhan. Lancarkan segala urusanku karena dari pekerjaan ini aku bisa menghidupi istri dan kedua anakku, gumamnya dalam hati dengan rasa pasrah yang besar.Â
~Bersambung
Ah tenang Mas Bar. Ingat harta di dunia itu bisa kapan aja hilang dan abis. Gak ada yang nyata dan kekal di dunia ini. Semua bisa kapan saja hilang dan pergi, ketika Tuhan sudah berkehendak.
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat updatenya.