
...Tepati janji pada putrimu, maka itu akan menjadi hadiah terindah di hari ulang tahunnya ....
...~Almeera Azzelia Shanum...
...🌴🌴🌴...
Baru beberapa menit yang lalu wanita itu pergi. Tiba-tiba pintu ruangannya terbuka dan membuat Almeera kesal bukan main.
"Ngapain balik lagi, hah? Apa kurang jelas kalau kau kalah taruhan?"Â
"Taruhan apa?"Â
Almeera berjingkat kaget. Dia mendongakkan kepalanya saat mendengar suara seorang pria yang begitu dia kenal.
"Mas Bara," kata Almeera dengan terkejut.
"Taruhan apa maksud kamu, Ra?" tanya Bara dengan rasa penasaran yang tinggi.Â
Almeera menelan ludahnya paksa. Entah kenapa dia merasa berat untuk mengatakan tentang taruhan ini. Almeera takut jika suaminya dianggap seperti barang taruhan dan tersinggung.
"Ra," panggil Bara dengan lembut.
"Lebih baik duduklah dulu, Mas," kata Almeera sambil melewati tubuh suaminya.
Bara menurut. Dia memilih duduk di hadapan Almeera dan menatap wajah wanita itu.
"Apa maksud taruhan itu?" tanya Bara lagi dengan rasa penasaran yang tinggi.Â
Akhirnya Almeera tak mampu menutupinya lagi. Dia mulai menceritakan semuanya. Tentang kehadiran wanita itu dan ucapannya yang membuat Almeera dan Bara salah paham. Tak ada yang ditutupi sedikitpun oleh ibu dari dua anak itu.
"Maafin aku, Mas. Aku…"Â
"Kamu gak salah, Ra," kata Bara yang mengejutkan Almeera. "Semuanya adalah kesalahanku. Aku terlalu percaya padanya daripada kamu."Â
Almeera menatap wajah suaminya dengan lekat. Dia bisa melihat jika Bara benar-benar menyesal. Wajah pria itu menunduk dan membuat Almeera berpindah duduk tepat di samping sang suami.Â
"Ini bukan kesalahanmu saja, Mas," ungkap Meera membuat Bara menatap wajah istrinya. "Ini salah kita berdua."Â
Bara masih terdiam. Dia menikmati bagaimana cantiknya wajah istri pertamanya ini. Suara lembutnya yang meneduhkan hati dan pemikiran dewasanya selalu membuat Bara semakin diliputi penyesalan yang besar.Â
"Jika bukan karena izinku, kamu tak akan poligami."Â
"Tapi kamu menyetujuinya karena aku memaksa. Bahkan aku menamparmu untuk pertama kalinya," ucap Bara dengan mata mulai berkaca-kaca.
Almeera menggeleng. "Jangan menangis, Mas. Buktikan kalau kamu benar-benar berubah. Buktikan kalau kamu berhak mendapatkan maaf dariku dan anak-anak."Â
"Ya. Aku akan berusaha. Aku akan buktikan padamu dan anak-anak kalau aku tak akan mengulanginya lagi?"Â
Almeera mengangguk. Dia tersenyum begitu tulus mendengar ungkapan suaminya itu. Dirinya yakin jika Bara miliknya sudah kembali. Adik dari Jimmy itu benar-benar yakin, bila suaminya pasti menepati janjinya.Â
"Oh iya. Mas ngapain ke sini? Bukannya ini masih jam kantor?" tanya Almeera sambil menengok jam dinding.
"Ya. Aku ingin mengajakmu mencari kado untuk putri kita," ajak Bara dengan jujur. "Kamu mau?"Â
"Tentu, Mas. Kita cari kado itu sama-sama."
...🌴🌴🌴...
Saat kaki baru saja menginjak lantai mall. Suasana di dalamnya sudah terlihat ramai. Banyak orang yang berlalu lalang dan membuat Bara dengan berani menggenggam tangan istrinya, Almeera.
Tentu perilaku sejenak itu, membuat langkah keduanya berhenti. Ibu dari dua anak itu menatap tangannya yang digenggam hingga membuat Bara meminta maaf.
"Aku tak bermaksud kurang ajar, Ra. Aku tak mau kalau kita sampai berpencar," kata Bara sebelum istrinya marah.Â
Almeera tersenyum tipis. Dia mengangguk dengan menggaruk dahinya yang tak gatal.Â
"Aku hanya gugup, Mas. Sudah lama sekali kita tak bergandengan tangan," ungkap Almeera dengan menunduk.
Entah kenapa perkataan yang keluar dari mulut istrinya seperti angin segar untuk Bara. Senyum pria itu semakin lebar saat menyadari jika istrinya tak marah.
"Jadi boleh?"Â
"Tentu. Bukankah kita masih halal untuk berpegangan?" tanya Almeera dengan wajah serius.
Apa yang dikatakan Almeera benar bukan?
Mereka masih suami istri. Berpegangan tangan masih halal dan mendapatkan pahala untuk keduanya. Â
Mereka berjalan sambil menatap kanan kiri. Mencari toko yang cocok sekaligus kado apa yang ingin mereka berikan untuk anak keduanya.Â
"Kamu ingin cari apa, Ra?" tanya Bara dengan mata terus menatap bagian depan toko.
"Aku ingin mencari pakaian renang, Mas. Putri kita sudah semakin jago dan aku ingin memberikan itu di hari ulang tahunnya," sahut Almeera dan tersenyum.
Bara mengangguk. Dia segera membawa istrinya ke salah satu tempat pakaian anak-anak. Ikatan tangan itu tak lepas sedikitpun. Bahkan walau banyak orang, mereka secara bergantian untuk saling melindungi.
"Ini bagaimana?" tanya Almeera menunjukkan sebuah pakaian renang anak-anak berwarna hitam.
"Bagus, tapi apakah Bia suka warna hitam?"Â
Almeera terdiam. Apa yang dikatakan oleh suaminya adalah kebenaran.
"Dia suka hitam tapi juga suka biru."
"Belikan dua-duanya saja, Ra. Gimana?" tawar Bara dengan lembut karena takut menyinggung perasaan istrinya.Â
"Oke, Mas," sahut Almeera sambil membawa dua baju itu ke kasir. "Mas belum dapet?"Â
Bara menggeleng. Dia benar-benar tak ingin membelikan baju untuk putrinya.
"Kado apa yang ingin kamu beli untuk Bia?" tanya Almeera setelah membayar barang yang ia beli.
"Gimana kalau mainan?"Â
"Boleh."Â
Akhirnya Almeera mengantar suaminya menuju toko mainan anak-anak. Pasangan suami istri itu kembali saling bergandengan tangan dengan mesra. Siapapun yang melihatnya secara langsung, pasti merasa iri.
"Kalau ini gimana?" tanya Bara pada Meera.
"Udah punya, Mas."Â
"Kalau ini?"Â
"Udah punya juga."Â
"Ini?"Â
Almeera sampai kewalahan. Dia melihat suaminya begitu antusias memilih tapi tak ada satupun yang cocok.
"Gimana kalau ini?" tanya Almeera menunjuk sebuah boneka boba begitu besar.Â
Bara masih menimbang. Dia menatap wajah boneka itu dengan sang istri bergantian. Entah kenapa pikirannya malah berpikir bahwa kelucuan boneka boba masih kalah jauh dari istrinya.Â
"Boleh. Apapun saran darimu, aku akan penuhi!" kata Bara dengan sorot mata yakin.Â
Akhirnya kado keduanya sudah selesai. Bara membawa dua buah paper bag itu di tangan kanannya dan kanan yang lain digunakan menggenggam telapak tangan Almeera.Â
"Silahkan masuk, Tuan Putri," kata Bara pura-pura menunduk menjadi pelayan.Â
Almeera hanya terkekeh. Keduanya segera meninggalkan mall setelah semuanya telah siap dengan baik.Â
"Makasih yah. Makasih udah mau nerima aku sampai di titik ini," ungkap Bara bersamaan lampu lalu lintas berganti merah.Â
"Jangan bahas itu lagi! Aku sudah tutup semuanya," ujar Almeera menjelaskan.Â
Bara hanya mengangguk. Tak berselang lama akhirnya kendaraan roda empat itu sudah sampai di depan perusahaan. Hal itu tentu membuat Almeera lekas melepaskan seat belt nya.Â
"Sekali lagi makasih udah mau nemenin aku cari kado. Semoga putri kita suka dengan hadiahnya," kata Bara begitu tulus.
Almeera mengangguk, "Mas juga gak lupa kan sama janjinya?"
"Nggak. Aku akan mentalak Narumi besok dan menjadikan itu sebagai kabar paling indah untuk kita semua!"Â
~Bersambung
Bab siang isinya janji Mas Bar. Awas aja kalau gak ditalak, tak talak jadi anakku. Tak suruh minggat, hahaha.
BTW yang gak terima Mas Bara gandeng tangan atau Almeera gampang luluh. Sabar tunggu next video. Perempuan itu beda sama lakik, dia bisa bersikap mesra walau cintanya berkurang. Kalau lakik, dia gak bisa mesra kalau bukan sama yang dicintai.
Bener apa gak?
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat updatenya.