Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Ekstra Bab 5



...Setiap pertemuan pasti akan ada takdir yang sudah tuhan siapkan untuk kita. Begitupun dengan perpisahan, pasti ada sebuah takdir yang akan terjadi setelah kita saling berjauhan....


...~JBlack...


...🌴🌴🌴...


"Apa kamu sudah mengabari Kakakmu, Ra?" tanya Mama Tari yang baru saja keluar dari kamarnya dengan menarik sebuah koper besar.


"Sudah, Ma. Kakak bilang akan menjemput kita di bandara nanti," ujar Almeera apa adanya.


Hari ini adalah hari yang sangat menyedihkan sekaligus awal yang baru untuk mereka. Mereka akan berangkat ke New York dan tinggal disana. 


Entah untuk selamanya atau beberapa bulan ke depan atau beberapa tahun. Almeera tak tahu kepastiannya. Yang dirinya tahu, bahwa pekerjaan suami dan papanya sudah menanti disana. 


Ini memang sulit untuk mereka. Harus meninggalkan Indonesia yang sudah mengajarkan banyak hal untuk mereka. Kenangan yang sudah dilewati terlalu banyak pelajaran yang tak mudah untuk dilupakan. 


Hingga sebuah pelukan dari belakang, membuat Almeera terkejut. 


"Ada apa hmm?" tanya Bara dengan meletakkan dagunya di pundak sang istri.


Dia sebenarnya ke kamar untuk melihat istrinya kenapa tak kunjung turun. Padahal sebentar lagi mereka akan berangkat. Hingga Bara berinisiatif menyusulnya dan menemukan istrinya berdiri di balkon kamar sedang melamun. 


"Sayang!" 


"Aku belum siap untuk meninggalkan Indonesia, Mas," kata Almeera pada akhirnya.


Dia menarik nafasnya begitu dalam sebelum berbalik dan menatap mata Bara penuh cinta. Dengan pelan Almeera memeluk pinggang Bara dan meletakkan kepalanya di dada sang suami.


Sejak semalam dia sudah sangat resah. Memikirkan akan tinggal di negara yang pernah ia tinggal beberapa tahun saat dirinya masih kecil. Lalu, bagaimana jika anaknya akan menghadapi kehidupan luar negeri yang sangat jauh berbeda dengan di Indonesia. 


"Tatap aku, Sayang!" kata Bara lalu menangkup kedua pipi istrinya dan ia angkat agar menatap wajahnya lagi.


"Aku akan menjaga mereka sekuat diriku. Aku tak akan meninggalkan mereka sendirian di sana. Ada kita yang akan menjaga keempatnya," kata Bara penuh keyakinan. 


"Tapi…" 


"Kita juga akan sering ke Indonesia untuk mengecek keadaan perusahaanku dan perusahaanmu. Ada Kak Jonathan juga disini dan kita pasti menemuinya. Bukan?"


Almeera menenangkan hatinya yang resah. Dirinya benar-benar sedang kacau balau. Namun, ini adalah keputusan yang sudah disepakati antara papa dan suaminya. 


Almeera tak bisa berbuat apapun. Bayangan dua anak kecil yang selalu bertengkar ketika bertemu bahkan terbayang dalam pelupuk matanya. Hingga membuatnya berusaha menekan semua itu agar bisa meninggalkan Indonesia dengan hati yang lapang.


Tak lama, pasangan suami istri itu turun dari kamar dengan menarik koper milik mereka. Di ruang tamu sudah ada beberapa jejer koper besar. Mereka sudah sangat terlihat siap untuk pergi dari sini.


Papa Darren dan Mama Tari pun sudah tinggal disini sejak empat hari yang lalu. Mereka menyiapkan semua persiapan secara bersama-sama hingga hari ini.


Sampai suara mobil yang memasuki pekarangan rumah membuat Almeera menyambut kedatangan mereka.


Wajahnya tersenyum tapi tak bisa menutupi kesedihan saat melihat kedatangan keluarga sahabatnya. Matanya bahkan berkaca-kaca melihat sosok Reyn yang sedang membawa paper bag dengan logo store aksesoris terkenal di Jakarta. 


"Assalamualaikum, Tante. Aya ada?" tanya Reyn langsung dengan binar bahagia.


"Ada. Athaya di kamar," kata Almeera menjawab.


"Boleh Reyn masuk?" 


"Tentu. Ayo!" Almeera mulai menarik tangan putra sahabatnya itu setelah menyalami Adeeva dan Reno.


Dia mengajak Reyn masuk sampai jejeran koper membuat langkah kaki anak pertama Reno dan Adeeva menghentikan langkah kakinya. 


"Ini kopernya siapa, Tante?" 


Akhirnya apa yang dia takutkan terjadi. Reyn itu 11 12 seperti anaknya. Kritis akan apa yang ia lihat dan selalu ia tanyakan sampai mendapatkan jawaban yang puas.


"Mama!" teriak suara perempuan kecil yang membuat kepala Reyn menoleh.


Dia tersenyum seakan melupakan perkataannya tadi. Di segera mendekati sosok Athaya yang memeluk kaki mamanya.


"Hai, Aya!" sapa Reyn sambil melambaikan tangannya. 


"Hai, Reyn!" sapa anak keempat Bara dan Almeera dengan wajah malasnya.


"Mama Abang nakal. Dia gangguin adek mulu!" adu Athaya pada Almeera.


"Biar Mama yang bakal nasehatin Abang nanti yah!" 


Athaya mengangguk. Lalu Almeera kembali menurunkan tubuh putrinya saat melihat Reyn ingin berbicara dengan Athaya. 


"Aya mau kemana?" tanya Reyn menatap wajah gadis cilik di depannya ini. "Kenapa pakai baju bagus?" 


Reyn memang sangat teliti dengan pakaian Aya. Pria kecil itu tak pernah terlewat sedikitpun. Walau hanya baju, Reyn sangat menghafalnya. Apalagi hampir setiap hari dia minta diantar ke rumah Athaya dan Athalla untuk bermain dengan mereka. Lebih tepatnya bermain dengan Athalla.


"Aya mau pergi!" sahutnya yang membuat ekspresi wajah Reyn berubah. "Aya mau naik pesawat sebentar lagi." 


Reyn terlihat bingung. Dia menatap Almeera yang membuat perempuan empat anak itu mensejajarkan tubuhnya.


"Tante mau pergi kemana?" 


"Jauh!" sahut Aya dengan cepat.


Reyn menggeleng. Dia berlari ke arah mama dan papanya dengan menangis. 


"Mama, Aya mau pergi, Ma!" ujarnya yang membuat Adeeva hanya mampu terdiam.


Dia juga tak tahu harus melakukan apa. Adeeva menatap suaminya yang sedang menggendong Revano, anak kedua mereka. 


"Reyn gak mau jauh sama Aya, Ma. Reyn mau ikut Aya!" 


Almeera yang mengikuti langkah kaki bocah kecil itu merasa bersalah. Dia juga membawa putrinya yang ia gandeng lalu mendekati keduanya. 


"Reyn Sayang," kata Almeera yang langsung dibalas gelengan kepala oleh putra Adeeva.


"Jangan bawa Aya pergi, Tante. Reyn mau main sama Aya!" 


Almeera menarik nafasnya begitu dalam. Semua yang disana juga hanya bisa terdiam. Mereka sangat tahu betul bagaimana perlakuan Reyn kepada putri kesayangan Bara.


"Tante disana mau nemenin Om Bara kerja, Sayang."


"Tante sama Om aja yang berangkat. Biar Aya sama Athalla disini."


"Kalau disini, Aya sama siapa dong? Om sama Tante kerja." 


"Tinggal sama Reyn di rumah."


Inilah yang menjadi salah satu penyebab Almeera tak mau meninggalkan negara ini. Dia takut menyakiti hati anak kecil sebaik Reyn. 


"Nanti Om Bara sedih kalau jauh sama anaknya. Seperti Reyn, apa Reyn mau jauh sama Papa Reno dan Mama Deeva?" 


"Nggak mau!" sahut Reyn dengan cepat.


"Nah maka dari itu. Aya sama Athalla harus ikut Tante dan Om kerja." 


Mata itu kembali berkaca-kaca lagi. Namun, tiba-tiba tanpa diduga. Aya berjalan mendekati Reyn dan menggenggam tangan mungilnya. 


"Jangan nangis. Kata Abang Thalla, kalau cowok nangis itu lemah." 


"Reyn nangis karena Aya mau pergi," kata Reyn sambil menghapus air matanya.


"Kan Reyn masih bisa telpon, Aya," balas Athaya dengan apa adanya.


"Tapi, apa Aya mau angkat telepon Reyn?" 


Jujur selama ini, Aya tak pernah mau mengobrol dengan Reyn melalui telepon karena dia merasa risih. Namun, melihat anak dari teman mamanya menangis membuat Aya merasa kasihan. 


"Mau."


"Aya janji?" kata Reyn mengulurkan jari kelingkingnya.


"Janji, Reyn," balas Aya lalu menjulurkan jarinya juga dan melingkar di kelingking Reyn.


~Bersambung


Hihi si bocah kalau anggep temen masa kecilnya ya gini. Maunya nemplok mulu, haha.


Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Kemarin mau update lagi aku malah ketiduran. Maaf guys.