Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Suasana Romantis Jimmy Lia



...Perjalanan kita masih panjang dan kita berdua berharap semoga cintaku dan cintamu akan terus berakhir bahagia....


...~Jimmy Harrison & Azzelia Qaireen...


...🌴🌴🌴...


Semua orang terlihat memasuki kamarnya masing-masing. Bara dan Almeera meminta mereka beristirahat karena perjalanan panjang yang baru saja dilakukan. Namun, berbeda dengan sepasang kekasih yang masih sama-sama energik.


Keduanya bukannya pergi ke kamar masing-masing. Malahan berjalan berdua bersama menikmati udara yang sejuk dan langit yang begitu cerah. 


Kedua tangan mereka saling bertaut. Tatapan keduanya memancarkan banyak cinta ketika saling memandang satu dengan yang lain. Mereka benar-benar saling treat like king and queen pada pasangan.


Langkah kaki keduanya berjalan menuju rumah pohon dimana banyak sejarah Almeera dan Bara berada. Mereka tak mau melepaskan genggaman tangan keduanya. 


"Ternyata rumah pohon ini masih bagus," kata Zelia saat mereka tiba tepat di bawah dua rumah pohon.


Wajah Zelia menatap penuh kagum. Dia tak menyangka belasan tahun rumah ini masih terawat. Bahkan lebih bagus dan lebih besar. 


"Apa kamu ingin naik?" tanya Jimmy yang membuat Zelia menoleh.


"Memangnya bisa kita naik?" 


Jimmy mengangguk. Dia merogoh saku celananya lalu menunjukkan sebuah kunci di depan wajah sang kekasih.


Mata Zelia berbinar. Dia memegang kunci itu tak percaya.


"Ini?"


"Ya. Kunci rumah pohon ini, Sayang. Kamu mau?" tawar Jimmy begitu lembut.


"Tentu. Aku mau banget, Kak." 


Akhirnya Jimmy mulai menarik tangan sang kekasih. Dia mulai meneliti apakah tangga gantung itu begitu kuat atau tidak.


"Ayo!" 


Zelia yang memang bukan wanita menye-menye. Tentu dengan mudah berpegangan erat. Selangkah demi langkah mulai ia tapaki hingga keduanya telah sampai di atas rumah kayu itu.


Nafas Zelia ngos-ngosan. Dia merebahkan tubuhnya sambil merentangkan tangannya. Merasakan udara segar dengan hembusan angin benar-benar membuat rasa lelahnya berkurang.


Sudah lama ia tak bergerak seperti ini. Naik turun atau melakukan aktivitas berat dan berpetualang hingga membuat tubuhnya harus kembali menyesuaikan. 


Hingga suara gembok yang terbuka membuat Zelia beranjak duduk. Matanya terbelalak saat melihat ada kasur kecil disana. Rumah pohon ini memang bukan rumah pohon yang kecil tapi melainkan rumah pohon yang lumayan besar.


Saat renovasi Bara meminta diperlebar karena memang ingin mengajak anak-anaknya suatu hari nanti kesini. 


"Ini seperti kamar," kata Zelia menatap ruangan itu begitu teliti. 


Jika dulu saat Bara dan Almeera kesini mereka ke rumah sebelah kiri. Maka sekarang Jimmy dan Zelia ke rumah sebelah kanan. 


Dengan pelan kekasih Jimmy itu membuka jendela yang ada di sana hingga tatapannya langsung tertuju ke arah rumah pohon sampingnya. 


"Kalau rumah itu? Apa Kaka bawa kuncinya?" 


Jimmy menggeleng. "Almeera mengatakan disana banyak rahasia." 


Zelia terkekeh. Dia bisa menebak pasti banyak kenangan masa lalu di rumah pohon itu hingga membuat pasangan suami istri itu takut mengizinkan mereka untuk masuk. 


Perlahan Zelia berbaring di atas kasur kecil itu. Dia menatap ruangan yang memang bisa ditiduri oleh dua orang. Udaranya yang alami, suara kicau burung tentu membuatnya begitu betah. 


"Mikirin apa hmm?" kata Jimmy sambil mengusap rambut kekasihnya yang berantakan. 


"Gak ada. Aku suka disini, Kak." 


Jimmy tersenyum. Dia ikut membaringkan tubuhnya hingga dua tubuh itu saling bersentuhan. Dengan pelan Jimmy memeluk perut sang kekasih dengan pelan. 


"Bagaimana kalau kita tidur disini malam ini?"


Mata Zelia membulat. Dia memukul lengan kekasihnya yang ada di atas perutnya.


"Mengada-ngada banget sih, Kak."


Zelia menggeleng. Dia memiringkan tubuhnya sehingga tubuh mereka saling berhadapan. Zelia bisa dengan puas menatap pahatan sempurna di depannya itu. Dia mengangkat tangannya dan mengusap kepala kekasihnya.


"Gak perlu, Kak. Mungkin tidur siang bersama disini sudah cukup," kata Zelia dengan tersenyum. "Kalau malam pasti banyak nyamuk dan dingin. Nanti kita sakit bisa ngerepotin semua orang." 


Jimmy mengangguk. Dia benar-benar selalu dibuat terkagum oleh pemikiran kekasihnya. Zelia yang mandiri dan berpikiran dewasa selalu memikirkan Jimmy dan dirinya sendiri.


Wanita itu tak pernah egois. Zelia selalu memikirkan akibat apa yang terjadi setelah mereka melakukan ini. 


"I love you, Sayang. Kamu selalu bikin aku selalu jatuh cinta setiap hari," kata Jimmy dengan menatap bibir yang menggoda.


"I love you too, Kak. Aku juga bahagia memilikimu." 


Hingga entah siapa yang memulai tiba-tiba bibir keduanya mulai bertaut. Mereka saling meresapi bibir yang seakan selalu menjadi candu untuk keduanya.


Entah kenapa keduanya seakan tak bisa saling melepaskan. Zelia tanpa sadar melingkarkan tangannya di leher Jimmy hingga pria itu sudah ada di tasnya.


Suasana yang tenang dan damai. Seakan menjadi candu dan konsep romantis sesungguhnya. Suara burung berkicau dengan semilir angin membuat keduanya semakin tenggelam akan nikmatnya bibir mereka.


Tangan keduanya saling bermain. Mereka saling menggenggam tangan satu dengan yang lain. Hingga sebuah suara yang memanggil membuat ciuman itu terlepas.


"Om Jim… Tante Lia!"


Tatapan keduanya saling memandang. Suara teriakan itu semakin kencang yang membuat mereka tahu betul siapa pemilik suara dibawah itu. 


Jimmy dan Zelia terkekeh. Penyelamat mereka ternyata masih ada hingga hasrat yang memuncak langsung terjun bebas.


Dengan lembut Jimmy mengusap bibir kekasihnya yang terdapat bekas air liur mereka yang berantakan. Dia mengusap bibir Zelia yang bengkak karena ulahnya.


"Manis." 


Zelia tersipu malu. Sampai suara teriakan itu semakin kencang yang membuat Jimmy dengan tak rela beranjak dari atas kekasihnya. Pria itu lalu keluar dan melongok ke bawah.


"Cih dasar pengganggu!" celetuk Jimmy pelan saat melihat di bawah sana ada Bia, Abraham dan Bara yang sedang tertawa meledek.


"Ayo turun, Om! Bia juga mau ikut naik!" rengek anak itu pada Jimmy.


Kekasih Zelia itu menatap malas adik iparnya. Jimmy bisa menebak jika semua ini ide Bara gila itu. 


Uhh kalau tak ingat dia suami adiknya. Pasti sudah ia tendang jauh-jauh. 


"Om kenapa lama banget sih?" tanya Bia saat Jimmy berhasil turun. 


Dia meninggalkan kekasihnya yang sedang merapikan dirinya di atas.  


"Om lagi tidur!" 


"Wah. Jangan bilang kalau…" 


Jimmy menepuk kepala adik iparnya hingga Bara mengaduh.


"Otakmu memang harus diruqyah. Biar sehat!" 


Bara mendengus. "Seenaknya. Otak gini otak pintar tau!" 


"Ya pintar. Pintar curi kesempatan dalam kesempitan," sindir Jimmy dengan memutar matanya malas.


Bara terkekeh. "Kalau gak gitu. Mana bisa jadi empat keturunan?" 


Ah Jimmy lupa jika Bara adalah 11 12 dengan adiknya. Menyebalkan dan tak akan pernah kalah jika berdebat. 


Jimmy langsung mengajak keponakannya naik dan meninggalkan Bara yang tersenyum begitu lebar.


"Akhirnya dua anak berhasil diatasi. Tinggal dua bocah lagi biar bisa mesra-mesraan sama lembah basahku!" 


~Bersambung


Haha kasihan Bang Jim. Dijadikan penitipan anak sama Mas Bar. 


Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetiknya.