
...Kesedihanmu adalah kesedihanku juga. Maka dari itu aku akan berusaha sekuat mungkin untuk membuatmu bahagia....
...~Reno Akmal Alfayyadh...
...🌴🌴🌴...
Udara pagi yang dingin mulai terasa menusuk tulang. Seorang pria tengah menciumi seluruh wajah wanitanya yang masih asyik memejamkan mata. Dia ingin membangunkan sang istri dan mengajaknya keluar.
Entah kenapa Reno ingin istrinya melupakan kesedihannya walau sejenak. Dia ingin membuat sang istri terhibur sejenak dengan tingkah dirinya dan sang putra.Â
"Sayang, bangun!"Â
Adeeva menggeliat. Dia mulai membuka matanya yang langsung disambut oleh senyuman menawan sang suami. Bibirnya ikut tersenyum, dia mengusap matanya lalu membiarkan Reno mengelus pipinya.
"Jalan-jalan pagi yuk!" ajak Reno yang membuat Adeeva melihat jam dinding di kamarnya. "Kita shalat dulu baru jalan-jalan bareng Reyn. Mau?"Â
Adeeva masih diam. Dia menatap suaminya begitu lekat. Namun, wanita itu sebenarnya sangat tahu jika sang suami tengah mencoba membangun komunikasi dengannya, mencoba mengalihkan kesedihannya dan Adeeva menghargai itu.Â
Akhirnya keduanya segera membersihkan diri dan mengambil air wudhu. Lalu shalat berjamaah. Keduanya memang manusia yang masih memiliki dosa. Namun, baik Adeeva maupun Reno berusaha untuk selalu menjadi makhluk yang taat.Â
"Oh anak Papa sudah bangun?" kata Reno saat mendengar suara anaknya berceloteh.
Reno sudah menghafal tingkah putranya itu. Baby Reyn akan bersuara ketika dia sudah bangun. Dia mencoba menarik perhatian orang disekitarnya dengan berceloteh sendirian.Â
Kedua orang tua itu akhirnya mulai bersiap. Adeeva juga meraih tubuh anaknya dan mengganti pakaian Baby Reyn.Â
Setelah semuanya selesai. Akhirnya pasangan suami istri tersebut dengan satu anaknya mulai keluar dari rumah. Dengan Baby Reyn yang ada di stroller. Reno mendorongnya dengan pelan.Â
Mereka akan jalan-jalan kompleks dimana mereka tinggal. Sudah lama sekali keduanya memang tak pernah jalan-jalan seperti ini. Biasanya Reno dan Adeeva akan mengajak Baby Reyn olahraga di halaman rumah sambil berjemur.
"Bagaimana keadaanmu, Sayang?" tanya Reno melirik istrinya.
Adeeva yang saat itu tengah melingkarkan tangannya di lengan Reno menoleh.
"Aku mulai menerima semuanya, Mas. Aku mulai mengerti jika tiap manusia pasti ada masanya sendiri di dunia," jawabnya dengan ekspreasi yang mulai menerima.Â
Reno tersenyum. Dia mengusap rambut Adeeva dan mencium kepalanya.Â
"Kamu memang harus menerimanya. Bersedih boleh tapi jangan berlarut. Apalagi melupakan Baby Reyn yang masih membutuhkan kamu," kata Reno dengan serius.
"Iya, Mas. Aku minta maaf jika semalam membuatmu khawatir, membuat Baby Reyn menangis juga. Aku menyesal."Â
Reno benar-benar bangga pada istrinya. Adeeva sangat terpukul memang akan kepergian papanya. Namun, wanita itu mencoba bangkit kembali setelah jatuh terpuruk.
Sebuah kematian tak ada yang berharap untuk datang. Namun, datangnya yang secara mendadak memang menimbulkan luka yang mendalam.
Apalagi untuk sosok wanita seperti Adeeva. Yang memiliki luka dan trauma akan perilaku ayahnya sendiri ketika masih hidup. Kenangan buruk yang selama ini tertanam dalam otaknya membuatnya bisa menjadi seperti sekarang.
Mencoba menangguhkan pikiran dan meminta ayahnya pergi dari kehidupan. Namun, hidup tetaplah hidup. Setiap perbuatan akan dipertanggung jawabkan.Â
Apa yang terjadi pada Ayah Adeeva, pria itu pasti menyesal hingga terjadi seperti ini.Â
"Gakpapa. Aku udah seneng kamu sadar duluan. Kalau ada apa-apa, ceritakan padaku atau Reyn. Kami siap mendengarnya," kata Reno lalu mereka mulai melanjutkan langkahnya.Â
Suasana pagi yang tenang, dingin dan sejuk semakin membuat pikiran tenang. Lalu lalang orang yang sama-sama jalan-jalan pagi saling menyapa satu dengan yang lain. Walau mereka tak pernah keluar tapi mereka tetap selalu bersikap baik dengan para tetangga.
Tak ada kata kepo, atau apapun. Mereka seperti hidup sendiri dengan kesibukannya masing-masing. Hingga akhirnya mereka mulai sampai di taman perumahan yang letaknya ada di tengah-tengah perumahan ini.
Terlihat banyak sekali anak kecil bermain, lalu lalang orang yang sama-sama olahraga sangat terlihat jelas. Reno mengajak istrinya ke salah satu bangku taman dan duduk disana.Â
Keduanya menatap stroller dan melihat Baby Reyn yang terlelap.
"Memang tukang molor dia, Sayang!" kata Reno menoel pipinya.
"Meski aku suka tidur. Aku tetep ganteng, 'kan, Sayang?"Â
Adeeva memutar bola matanya malas. Suaminya ini memang memiliki tingkat kepedean yang tinggi jika menyangkut ketampanan. Namun, Adeeva mengakui itu.
"Jangan pede!"Â
Reno mengeratkan pelukannya. Mengigit pipi Adeeva hingga perempuan itu mengaduh.Â
"Kenapa digigit?" tanya Adeeva mengusap pipinya.Â
"Gemes aja sama kamu!"Â
"Gemes ya gak perlu digigit, Bapak. Sakit!" balas Adeeva mendelik.
Reno terkekeh melihat ekspresi istrinya. Dia bahagia bisa melihat istrinya seperti biasanya. Sudah tersenyum, suka mengejeknya lagi dan membuat pria dengan anak satu itu mulai senang karena berhasil membuat istrinya kembali sedia kala.
"Teruslah seperti ini. Aku akan berusaha untuk selalu disampingmu dan membuatmu bahagia."Â
...🌴🌴🌴...
Sedangkan di tempat lain, terlihat sepasang keluarga bahagia tengah bermain di taman belakang rumah. Lebih tepatnya mereka sedang berolahraga ditemani anak-anaknya.
Baik Bara dan Almeera selalu menjaga tubuhnya. Menjaga kesehatannya karena menyadari bahwa si kembar, Bia dan Abraham masih membutuhkan mereka.
"Mama, Adek Thaya mau makan rumput!" teriak Bia pada sosok Almeera yang sedang melakukan gerakan tepat di sinar matahari pagi.
Anak-anak itu memang sedang ada di bawah pohon. Almeera menyiapkan sebuah karpet tebal agar mereka bisa bersantai di sana.
"Jangan, Sayang. Itu kotor. Kalau dipegang saja boleh!" kata Almeera menjauhkan rumput itu dari putrinya.Â
Kehidupan keluarga kecil ini memang sudah berada di titik memetik hasil dari buah kesabaran yang sudah mereka lalui. Tak ada lagi kesedihan di antara keduanya.
Baik Almeera maupun Bara belajar dari masa lalu. Mencoba saling memahami, jujur dan terbuka antara satu dengan yang lainnya.
"Emmm anak Papa bau wangi!" ujar Bara yang baru saja datang dan memeluk putrinya Bia.
"Ih, Papa. Jorok!" seru Bia mendorong kepala papanya agar menjauh.
Namun, Bara tetaplah Bara. Menggoda putrinya hingga Bia hendak menangis. Baru setelah itu ia akan melepasnya secara perlahan.Â
"Papa! Abraham lusa akan mengikuti lomba basket antar SMA. Sepatu Abang…"Â
"Beli, Nak," sahut Bara tanpa menolak. "Papa sadar sudah lama tak membelikanmu sepatu basket."Â
Bara bergeser tempat duduk. Dia menatap sosok putranya yang wajahnya benar-benar 11 12 dengannya.Â
"Tapi Abra mau pakek uang tabungan Abra sendiri," katanya yang membuat Almeera semakin bangga pada putranya.
Anak-anaknya ini memang selalu ia ajarkan untuk menabung. Bukan karena mereka kaya, mereka bisa seenaknya membeli apapun tanpa berusaha. Almeera tak mau anak-anaknya menjadi seperti itu.Â
"Terus. Masalahnya apa?" tanya Bara dengan nada rendah.
"Kalau uang Abang kurang. Abang minta sama, Papa," kata Abraham menatap sosok papanya.
Bara tersenyum. Dia menepuk bahu anak pertamanya dan mengangguk.
"Papa akan siap membantumu. Teruslah berkarya dan buat kamu bangga pada dirimu sendiri, Nak!"Â
~Bersambung
Ahh siapin koper yah. Kita siap-siap menyambut tenggat akhir. Bang Syakir sama Humai kemarin sore dapet kabar lolos review. Berarti author bakalan fokus bikin outline dia sebelum rilis.
Uhuyy yuhuuu.