Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Hal Mengejutkan?



...Luka yang basah tidak mampu disembuhkan dengan cara instan. Butuh perawatan yang intensif dan perhatian untuk menyembuhkannya. Begitupun dengan perasaan. Sakit hatinya yang mendalam tak bisa dilupakan hanya dalam waktu semalam. Butuh waktu dan itu bertahap....


...~Adeeva Khumairah...


...🌴🌴🌴...


Adeeva benar-benar sudah merasa sangat kecewa pada sosok ayahnya. Dia tak mau menemui pria itu lagi. Segala sakit yang selama ini diberikan olehnya bisa sembuh karena bantuan dari sosok kekasih yang saat ini sudah menjadi suaminya.


"Pergi! Pergi dari rumah suamiku sekarang!" seru Adeeva membentak menunjuk arah luar rumah.


Mata wanita itu melotot tajam. Dia tak main-main dengan perkataannya. Kali ini Adeeva sudah tak sudi bertemu dengan sosok yang memberikan dirinya luka begitu mendalam.


Sosok yang sangat ia hormati dulu. Sosok yang selalu ia maafkan meski menyakiti hatinya dan hati ibunya. Sosok yang selalu bersikap kasar tapi dirinya masih menerima.


Namun, tidak dengan sekarang! 


Adeeva sudah lelah. Bahkan teramat lelah. Dia tak mau lagi bertemu atau berinteraksi dengan sosok ayah kandungnya.


Cukup sudah! 


Biarkan kali ini dia mencari kebahagiaannya sendiri. Kebahagiaannya dan sang ibu biarlah ia raih dengan keluarga baru yang Adeeva miliki.


Dia akan berusaha bertahan. Mempertahankan apa yang menjadi miliknya kali ini.


Reno yang tak mau semuanya semakin runyam. Akhirnya mulai berjalan melewati sang istri. Dia menuntun ayah mertuanya keluar sambil mengusap punggungnya.


Bagaimana Reno tak bisa menyalahkan istrinya. Dia sangat tahu betul bagaimana perasaan Adeeva. Sakitnya gadis itu karena perilaku pria tua di hadapannya ini. 


"Maafkan Ayah yang merusak suasana pernikahan kalian. Ayah…" 


Reno menggeleng, "Maafkan istriku, Ayah."


"Istrimu adalah putriku yang dianiaya oleh ayahnya sendiri," ucap Ayah Adeeva dengan pandangan sedih. "Dia berhak marah kepadaku karena memang aku lah penyebab dirinya tak bahagia sampai di umur yang sekarang." 


Ayah Adeeva menatap ke langit. Dia menahan laju air mata yang hendak menetes. Dirinya benar-benar lemah saat ini. Apalagi penolakan istri dan anaknya membuat dirinya semakin sakit. 


Sakit yang ia peroleh dari dirinya sendiri. Sakit yang harus dia tebus atas apa yang selama ini ia lakukan. 


Ayah Adeeva benar-benar menyesal. Bahkan dia sangat ingin memutar waktu jika bisa. Menyiksa istri dan anak yang tak bersalah membuat hidupnya terus dihantui rasa bersalah.


Dia benar-benar ayah yang bodoh!


Ayah yang gila!


Tak memiliki hati nurani bahkan ingin menjual anak kandungnya sendiri.


"Ayah pulang ya, Reno. Titip istri dan putriku! Jagalah mereka sekuat tenagamu. Aku sudah tak memiliki hak atas hidup mereka."


Saat Reno hendak menyela. Ayah Adeeva sudah beranjak pergi tanpa menatapnya lagi. Dirinya benar-benar ada di posisi yang sulit. 


Membela ayah mertua tapi Ayah Adeeva memang salah. Lalu menyalahkan istrinya tapi Adeeva adalah korban dari kejahatan ayahnya sendiri. 


Tanpa keduanya sadari. Jika sejak tadi ada seorang perempuan yang melihat interaksi keduanya di dekat pintu. Siapa lagi jika bukan Adeeva. Gadis itu merasa rindu tapi dia juga marah. Dia ingin menemui ayahnya tapi mengingat bagaimana kejamnya pria tua itu, membuatnya tak mau bertemu dengannya lagi. 


Hingga saat Reno berbalik. Pandangannya bertemu pandang langsung dengan istrinya. Bisa Reno lihat istrinya menahan kesedihan yang mendalam. Hal itu tentu membuatnya segera berjalan mendekati sosok Adeeva dan memeluknya.


"Tenanglah, Sayang," ucapnya mengusap punggung Adeeva.


Reno segera membawa istrinya ke dalam kamar. Dia tak mau kesedihan Adeeva menjadi bahan tontonan. Disana banyak pihak WO yang berlalu lalang dan membuat Reno tak mau mereka terusik karena kejadian yang baru saja terjadi.


"Aku…" 


"Jangan katakan apapun," sela Reno mengusap pipi sang istri. "Aku mengerti perasaanmu, Sayang."


Adeeva menangis. Dia memeluk suaminya dengan erat. Dirinya tak peduli dengan riasannya yang belum dihapus. Adeeva butuh sandaran. Dia butuh pundak suaminya untuk membuatnya sedikit lebih tenang. 


"Tenanglah, Sayang. Sekarang tidak apa-apa. Biarkan waktu yang menyembuhkan semuanya," ucap Reno dengan pelan sambil mencium pucuk kepala istrinya itu.


"Sama-sama, Sayang."


...🌴🌴🌴...


Akhirnya tempat parkir yang semula lenggang mulai terisi penuh. Para tamu undangan mulai berdatangan. Tema outdoor yang dipilih oleh Adeeva dan Reno serta dekorasi yang begitu indah membuat para tamu undangan merasa nyaman.


Udara yang alami serta dekorasi yang begitu alam membuat mata para undangan berbinar. Tamu-tamu yang datang tentu banyak dari rekan kerja Reno dan Adeeva. Teman kuliah serta teman dekat keduanya semuanya diundang. 


Ketika pasangan pengantin baru itu keluar dari rumahnya dan berjalan menuju pelaminan sederhana tapi elegan membuat para undangan terbius akan ketampanan dan kecantikan keduanya.


Tepuk tangan riuh menjadi pengiring jalan keduanya menuju tempat dimana mereka akan tampil malam ini. Semua tamu memuji penampilan Adeeva dan Reno. 


Mereka benar-benar dibius akan kebahagiaan pasangan baru itu.


"Selamat malam semua. Saya, sebagai tuan rumah disini. Mengucapkan banyak terima kasih pada rekan kerja, teman dan saudara yang hadir di hari bahagia saya malam ini," kata Reno menyapa seluruh undangan. "Disini, malam ini, wanita yang duduk di pelaminan itu adalah istri saya. Belahan hati saya yang sangat saya cintai." 


Pipi Adeeva bersemu merah. Dia tak menyangka jika suaminya yang kaku itu bisa bersikap romantis seperti ini.


"Saya tak bisa mengatakan apapun lagi tapi yang pasti saya sangat bahagia bisa menikahinya."


Suara tepuk riuh terdengar saat sambutan itu berakhir. Para teman dan rekan kerja yang mengenal Reno mengacungkan jempolnya.


Mereka turut bahagia karena Reno menikah di usia yang tak lagi muda. Namun, mendengar pria itu sudah menikah saja semua orang ikut bahagia.


"Kamu emang bisa bikin aku deg deg an," bisik Adeeva mencubit pelan lengan suaminya.


"Seharusnya aku dapat ciuman tapi kenapa dicubit?" ujar Reno merajuk.


"Ututu suami aku ngambek, 'yah? Sini aku usap-usap kepalanya." 


Tawa keduanya pecah. Saat tingkah laku mereka sangat amat lucu. Baik Adeeva dan Reno seakan melupakan kejadian yang tadi siang terjadi disini.


Kejadian dimana ayah Adeeva datang dan membuat Reno menenangkan istrinya itu sampai tertidur.


"Apa kamu merasa dingin?" tanya Reno merangkul bahu istrinya.


"Nggak. Gimana mau dingin, sejak tadi aku dipeluk terus."


Reno terkekeh. Dia mencium pipi sang istri hingga membuat mereka melupakan tamu undangan yang ingin bersalaman.


"Wah, sepertinya Tuan Reno benar-benar menganggap kami hanya tamu saja di dunia ini," ucap seorang pria tampan yang naik ke pelaminan dengan wanita cantik di sampingnya. 


Spontan mata Adeeva dan Reno menoleh. Adeeva begitu sesak nafas ketika melihat siapa sosok di depannya.


Sosok pria yang pernah ia temui di toko roti dengan gadis kecil tetangganya itu.


"Tuan Manggala," sapa Reno dengan ramah.


"Selamat untuk pernikahan kalian berdua," kata Manggala menyalami Reno dengan akrab.


"Terima kasih atas kehadiran Anda, Tuan. Kami benar-benar sangat tersanjung." 


"Sama-sama," sahut Manggala dengan mengangguk. "Oh iya, kenalkan wanita cantik di samping saja ini adalah Nyonya Manggala."


"Saya Isvara, istri Manggala. Selamat atas pernikahan kalian berdua yah. Semoga kalian berdua langgeng sampai Tuhan yang memisahkan."


Jantung Adeeva serasa berhenti berdetak. Dia merasa ditimpa kenyataan yang begitu menusuk. Membuat pikirannya terus tertuju pada Fayola.


Jadi apa wanita yang sudah dianggap sebagai adiknya itu menjadi pelakor di antara pasangan mesra di depannya ini? 


~Bersambung


Biar yang penasaran makin gemruduk penasarannya, hahaha.


Author macem apa aku ini yak. Sakit disuruh istirahat malah ngetik. Disuruh tidur gak bisa. Malah nulis ide banyak-banyak di buku. Berasa tiap mau tidur gak bisa.


Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetiknya.