Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Ceraikan Narumi



...Aku baru tahu bagaimana rasanya kehilangan sosok yang sangat berharga. Sakit tapi untuk menyesal pun percuma....


...~Gibran Bara Alkahfi...


...🌴🌴🌴...


"Ayo makan, Sayang." Rayu Meera kesekian kalinya.


Ini adalah hari kelima Bia dirawat. Kondisi anak perempuan pasangan Almeera dan Bara terlihat semakin buruk. Bocah berumur 4 tahun itu tak mau makan apapun. Bahkan Bia hanya mendapatkan asupan dari infus yang melekat di tangannya karena bujukan dan rayuan semua keluarga tak ada yang mempan.


Tubuh yang mulanya gembul terlihat mengurus. Cekungan matanya yang semakin dalam semakin membuat bocah kecil itu begitu menyedihkan. Sudah beberapa kali, Almeera meminta anaknya untuk makan. Bahkan juga menjelaskan segalanya agar anaknya mengerti.


Namun, Bia tetaplah Bia. Anak kecil yang belum mengerti apapun walau sudah dijelaskan. Apa yang dia inginkan harus dikabulkan. Salah satunya, dengan bertemu Papanya. 


"Jangan dipaksakan, Sayang. Biar Mama yang akan membujuk Bia," kata Mama Tari sambil mengelus pundak putrinya. 


Mata Almeera berkaca-kaca. Rasa bersalah tentu memupuk di hatinya. Apalagi kondisi anaknya yang seperti ini karena dirinya melarang putrinya bertemu ayahnya sendiri.


Tanpa kata, Almeera perlahan beranjak dan berjalan keluar ruangan. Dia mendudukkan dirinya di kursi tunggu sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan. 


Dia ingin menangis sendirian saat ini. Melampiaskan segala sakit yang dia rasakan. Ingin sekali dia dimengerti oleh seseorang. Namun, tempat yang seharusnya menjadi pundaknya, ternyata poin utama yang menyakiti hatinya.


"Meera," panggil Darren pelan yang membuat istri dari Bara itu lekas menghapus air matanya.


"Iya, Papa?" 


"Pulanglah, Nak!" kata Darren dengan wajah khawatir. "Selama lima hari kamu belum pulang sama sekali."


Almeera menghela nafas lelah. Dia menatap wajah pria yang selalu ada untuknya. Jika melihat kasih sayang Darren padanya. Ada perasaan tersentuh ketika membandingkan dengan kehidupan anak-anaknya. 


Usia kedua buah hatinya yang masih 14 tahun dan 4 tahun, adalah fase dimana mereka harus mendapatkan kasih sayang dan bimbingan yang utuh dari orang tuanya. Namun, keadaan yang seperti ini, membuat Almeera sadar jika Bia dan Abraham tak akan mendapatkan apa yang dia dapatkan dulu semasa kecil. 


"Kenapa?" tanya Darren pelan dan mengelus kepala putrinya yang tertutup hijab. 


"Kenapa suami aku bukan, Papa?" tanya Almeera dengan menatap Darren lekat. "Jika suamiku seperti Papa, mungkin anak-anakku tak akan seperti sekarang."


Darren tentu tak tahu harus menjawab apa. Dia memilih meraih putrinya dalam pelukan agar hati Almeera menjadi tenang.


"Pulanglah, Nak! Mandi, makan dan istirahat. Biar Papa sama Mama yang jagain Bia disini." 


Almeera mengangguk. Dia tak membantah sedikitpun. Tubuhnya juga butuh istirahat. Beberapa hari di rumah sakit, jam tidurnya berantakan dan kepalanya yang masih masa penyembuhan, membuat Almeera merasa sangat amat lelah.


"Kalau ada apa-apa, Papa kabarin aku, 'yah!" 


"Iya, Sayang. Hati-hati."


...🌴🌴🌴...


Di tempat lain, lebih tepatnya di sebuah perusahaan. Terlihat seorang pria tengah berdiri di dekat meja resepsionis dengan penampilan acak-acakan. Keadaan orang itu terlihat sangat kacau. Celana jeans pendek dengan kaos serta rambutnya tidak rapi semakin membuat orang yang melihatnya tahu jika dia sedang ada masalah. 


"Kumohon, Nona. Katakan pada Tuan Jonathan, jika adik iparnya ingin bertemu," kata Bara dengan tatapan memelas.


"Hari ini Tuan Jonathan tidak menerima tamu, Tuan. Beliau sedang sibuk."


Saat Bara hendak membalas. Diujung sana, terlihat pintu lift terbuka dan muncullah sosok yang sangat ingin ia temui. Tanpa menunda, Bara berlari dan berteriak memanggil nama Jonathan dengan keras.


Pria itu sudah tak peduli dengan harga dirinya. Dia sudah cukup hampir gila lima hari ini mencari istri dan kedua anaknya. Dia tak mau semakin menyesal di kemudian hari.


Bara bertekad dia akan menemui ipar atau papa mertuanya. Dirinya tak peduli jika harus dipukuli sampai habis. Yang terpenting saat ini, dia bisa bertemu Almeera, Bia dan Abraham, itu sudah cukup. 


"Katakan dimana istriku!" seru Bara menarik kerah jas Jonathan hingga pandangan mereka saling bertatapan tajam. "Cepat katakan! Kalian tak berhak menyembunyikannya." 


"Jaga sikapmu, Bara. Ini di perusahaan," seru Jonathan dengan suara dinginnya. 


Pria itu melepaskan cengkraman tangan adik iparnya dan meminta Bara untuk ikut ke ruangannya. Dia tak mungkin berbicara disini. Aksi yang dilakukan oleh Bara barusan, sudah memancing keingintahuan para pekerjanya.


"Batalkan jadwal meeting hari ini, Deeva. Lalu urus semua pekerja yang mengintip kejadian ini." 


Adeeva, sahabat Almeera berpindah sementara menjadi sekretaris Jonathan. Kinerja wanita itu yang baik, serta akhlaqnya yang bagus, membuat kakak dari Almeera sangat puas dengan apa yang dilakukan oleh Adeeva. 


"Apa yang ingin kamu tanyakan?" tanya Jonathan tanpa basa-basi.


"Dimana istri dan dua anakku?" 


"Di suatu tempat," sahut Jonathan dengan cepat.


"Lokasi tempatnya?" 


"Untuk apa kamu menanyakan itu? Apakah keberadaan mereka mulai berarti untukmu?" seru Jonathan dengan tegas. "Atau kamu sudah merasakan arti kehilangan yang sesungguhnya?" 


"Jangan berbasa-basi lagi. Cepat katakan dimana mereka!" 


"Tidak akan." 


"Jangan paksa aku melakukan kekerasan!" Ancam Bara dengan tangan terkepal kuat.


Nafas pria itu memburu. Dia benar-benar tak bisa menahannya lagi. Rasa rindu yang menyergap hatinya, rasa khawatir akan keadaan istrinya membuatnya hampir gila selama lima hari.


Keberadaan tiga orang itu benar-benar disembunyikan dengan baik. Bahkan saat Bara meminta seseorang untuk mengikuti Jonathan dan keluarga mertuanya, tak ada jalan apapun yang membawanya menuju Almeera dan kedua anaknya.


"Kemana Bara yang pandai dan tenang? Kemana pria yang tegas dan berwibawa di saat menghadapi sebuah masalah?" ujar Jonathan dengan tenang. "Saat ini pikiranmu hanya mengikuti ego dan emosimu saja." 


"Itu semua karena kalian menyembunyikan Meera," sahut Bara dengan lantang.


Jonathan tak tahan. Dia segera beranjak dan memukul wajah Bara dengan satu bogeman dari tangannya. Pria itu benar-benar tak habis pikir dengan pikiran adik iparnya. 


Dulu dia menyetujui adiknya menikah dengan Bara karena pria itu sangat tenang ketika berhadapan dengn suatu masalah. Pria itu sangat tegas memberikan jalan tengah di setiap ujian yang menimpanya. Namun, sekarang Bara tak lebih ubahnya pria yang gampang sekali diatur dan temperamental. 


Bugh!


"Seharusnya otakmu digunakan berpikir, Bodoh!" sembur Jonathan tak tahan. "Berpikirlah kenapa adikku bisa pergi dari hidupmu."


Jonathan berada di atas tubuh Bara. Pria itu mencengkram kaos yang dipakai adik iparnya dengan nafas menderu. Rasanya ingin sekali dia layangkan pukulan lagi pada Bara. Namun, Jonathan memilih beranjak karena dia masih memiliki rasa kasihan.


"Pergi dari ruanganku!" seru Jonathan menunjuk pintu keluar.


Bara bangkit dengan pelan. Dia merasakan bekas pukul kakak iparnya begitu sakit. Dia mulai berjalan menghampiri Jonathan. Berdiri di belakang pria itu lalu menekuk dua kakinya.


Dia bersimpuh di depan Jonathan. Menurunkan harga dirinya karena dia sudah tak tahu harus kemana lagi. Kepalanya tertunduk dan merasa malu dengan apa yang sudah dia lakukan selama ini.


"Aku mohon, Kak. Beri tahu aku dimana istri dan dua anakku." Mohon Bara dengan suara lemahnya.


Jonathan berbalik. Pria itu menatap pria yang berlutut di hadapannya dengan helaan nafas berat.


"Aku akan memberitahu dimana Almeera dan dua anakmu berada, tapi dengan syarat…" jeda Jonathan yang membuat kepala Bara mendongak. "CERAIKAN NARUMI SEKARANG!"


~Bersambung


Buat pembaca lama, pasti udah tau gaya nulisku menjebak. Untuk pembaca baru, pasti ngira tulisanku muter-muter.


Coba deh baca dari awal sampai bab ini. Tiap bab aku, isinya bukan cuma adegan receh makan doang. Setiap bab ada kejadian yang saling bersangkutan.


Dan ya, aku ingetin, ini otw konflik besar. Jadi dari sekian banyak bab, akan ada puncak konflik dari segala konflik kecil-kecil. Intinya aku cuma minta percayalah kalian kepadaku, hehe.


Hukum tabur tuai itu ada. Apalagi ini novel dari kisah nyata. Jadi bakalan ada adegan dimana Mas Bara akan menuai apa yang selama ini dia lakukan.


Udah ah ntar dibilang aku ceramah lagi.


Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetiknya.


Oh iya grup whatshapp udah ada yah



Yang mau masuk grup whatshapp, follow instagram aku biar tau caranya masuk