
...Jangan memaksa hidup dengan orang yang tak menghargai kita di sisinya. Jika mereka sudah tak bisa diharapkan, pergilah menjauh. Agar mereka sadar bagaimana pentingnya kita dalam hidupnya....
...~JBlack...
...🌴🌴🌴...
Akhirnya pagi-pagi sekali. Setelah acara sarapan pagi. Bara dan Almeera serta kedua anaknya segera menuju ke puskesmas. Mereka ingin menjenguk kondisi Humaira yang mulai membaik kata Syakir melalui pesan.
Mereka juga membawa makanan untuk Syakir karena Bara sudah mengatakan agar pria itu tak membeli makanan di luar.Â
Mobil Bara mulai keluar dari gang rumah Syakir. Suasana pagi hari di Tumpang ternyata mulai ramai. Apalagi pasar tradisional yang masih kental di sana, membuat banyak lalu lalang orang-orang yang hendak berbelanja.Â
"Tinggal disini enak ya, Mas?" ujar Meera sambil menatap jalanan luar. "Udaranya dingin terus masih seger banget lagi."
"Iya, Sayang. Disini kan juga deket sama Gunung Bromo. Mangkanya air dan udaranya sedingin itu," balas Bara dengan fokus menatap ke depan.Â
"Kalau begini terus aku betah, Mas," kata Meera yang membuat Bara menoleh sejenak dan tersenyum.Â
"Abang juga betah."Â
"Adek juga."Â
Dua anak itu ikut berkomentar. Namun, apa yang mereka katakan benar adanya.
Hidup di kota metropolitan dengan gedung-gedung tinggi di setiap kanan kiri jalan tentu membuat udara disana sangat amat panas. Belum lagi udara kotor karena polusi kendaraan semakin pekat.Â
Mereka benar-benar ekstra lebih hati-hati jika tinggal di kota. Harus super kuat menjaga kebersihan pada diri sendiri saat berada di luar ruangan.Â
"Ah. Apa kita harus membangun rumah disini?" kata Almeera menoleh ke belakang.
"Boleh!" sahut keduanya bersamaan.
"Terus gimana sama pekerjaan Papa?"Â
Perkataan Bara membuat ketiganya lekas menoleh. Mereka hampir melupakan perusahaan dan Cafe yang ada di kota. Dua tempat itu adalah tempat mengais rezeki mereka selama ini.
"Iya sih, Pa."Â
"Abang juga sekolahnya, 'kan, disana," celetuk Abra dengan lemah.
"Ya gapapa," ujar Bara ikut menatap anak-anaknya saat mobil terparkir rapi di parkiran puskesmas. "Nanti Papa bakalan beli rumah di sini buat tempat healing kita. Bagaimana?"Â
Bia dan Abraham saling menoleh. Keduanya menganggukkan kepalanya setuju dengan ide papanya.Â
"Yey. Akhirnya kita bakalan kesini lagi," kata Abraham dengan mengangkat ipad miliknya ke atas.
Indahnya kota malang dan suasananya memang membuat Abra dan Bia sangat menyukai kota ini. Apalagi mendengar cerita dari teman-teman dan keluarganya yang pernah datang kesini membuat dua anak itu semakin tak sabar menjelajahi kota dengan banyak macam wisata yang bisa dikunjungi.
"Sekarang ayo kita masuk! Kasihan Om Syakir udah kelaparan dari tadi."Â
...🌴🌴🌴...
"Assalamualaikum," ucap Bara, Almeera, Bia dan Abraham serentak.
"Waalaikumsalam," sahut keduanya yang ada di dalam kamar rawat.
Almeera tersenyum tulus saat melihat Humaira sudah duduk menyandar di sisi ranjang dengan wajah yang tak sepucat kemarin.
"Mbak," ujar Humai sambil menggenggam tangan Meera. "Terima kasih banyak udah nyelametin aku dan anakku."Â
"Sama-sama. Yang terpenting sekarang kamu harus lebih berhati-hati," balas Almeera sambil menggenggam tangan wanita itu.
Almeera menatap sedih saat menurutnya bobot Humaira terlalu kurus untuk seusia ibu hamil. Dia bisa membayangkan bagaimana tekanan batin wanita di depannya ini.Â
Hamil yang seharusnya mendapatkan limpahan kasih sayang, perhatian dan cinta. Namun, tidak dengan Humaira. Perempuan itu harus kuat di pundaknya sendiri.Â
Menerima perlakuan suami yang tak mau mengakuinya sebagai istri. Lalu entah kejadian apa lagi yang ada di belakang mereka sebelum dia dan Bara datang kesini.Â
Almeera hanya berharap semoga Syakir tak menyesal. Almeera juga berdoa semoga anak ini tak menjadi korban dari keegoisan sahabat suaminya itu.Â
"Apa Mbak sudah tahu semuanya?" bisik Humai pelan saat mereka menyadari jika bukan hanya mereka berdua yang ada disini.
Almeera menoleh ke belakang. Dia melihat kedua anaknya duduk dengan tenang. Lalu Syakir mulai memakan sarapan yang ia bawa sambil mengobrol dengan suaminya.
"Sudah," balas Meera sambil memandang lekat wanita muda di depannya.Â
"Kumohon jangan memojokkan Kak Syakir, Mbak. Aku sendiri tahu pasti dia terpaksa melakukan ini semua."Â
Almeera menggeleng. "Tak ada yang terpaksa untuk sebuah pernikahan."Â
"Menikah itu di hadapan Tuhan. Disaksikan oleh para keluarga kita yang mendoakan agar pernikahan anak dan menantunya bahagia. Tak ada yang namanya menikah karena terpaksa ataupun belum siap. Semua itu sudah takdir yang harus dijalani," ujar Almeera menjelaskan.
"Tapi untuk kejadianku, Mbak…"Â
"Dengerin Mbak, 'yah! Kamu mau menikah karena alasan apapun. Entah anak atau dijodohkan. Itu tak menjadi alasan atau hak suami kamu melampiaskan semuanya sama kamu. Tak ada perintah Syakir melakukan kejahatan padamu di dalam rumah kalian. Sekalinya dosa tetap dosa! Apa yang Syakir lakukan itu sudah menyakiti hati kamu, Humai."Â
Humaira menunduk. Penjelasan Almeera begitu menusuk hatinya. Bahkan mata wanita itu hamil itu mulai berkaca-kaca membenarkan setiap kalimat yang keluar dari bibir wanita yang ada di depannya ini.Â
"Tapi aku sadar diri, Mbak. Aku jelek, aku jerawatan yang bakalan bikin malu Kak Syakir. Aku sangat buruk untuk mereka semua," kata Humaira dengan menangis. "Jika mereka membully aku, aku ikhlas. Tapi jika ada yang membully dan mempermalukan Kak Syakir. Aku gak rela, Mbak!"Â
Almeera menatap bangga wanita di depannya ini. Hati Humaira benar-benar tulus. Disaat wanita itu yang berhak marah pada Syakir tetapi dia lebih memilih menjaga kebaikan suaminya.
Disaat dia butuh tameng dari teman-temannya. Pembullyan yang diterima Humaira di kampusnya. Namun, tak sekalipun membuatnya mengadu pada Syakir.
Wanita itu benar-benar menguatkan dirinya sendiri dan mentalnya. Menjaga nama baik suaminya dari banyak orang.
Insecure pada wajahnya sendiri!Â
Mendoktrin dirinya jelek karena memiliki wajah jerawat membuat Humaira selalu berusaha menerima segala perlakuan Syakir kepadanya. Â
"Kamu wanita hebat, Hum." Almeera lekas menarik tubuh wanita itu dalam pelukan.
Mengusap punggung Humaira yang mulai bergetar karena tak kuat. Memang sebenarnya ia butuh sandaran untuknya saat ini. Lalu bertemu dengan Almeera ternyata membuatnya memiliki teman seakan rasa saudara.Â
Betapa baiknya Almeera membuat Humaira tak sungkan untuk bercerita.
"Kalau kamu gak kuat, jangan maksain diri sendiri, Humai," kata Almeera mulai melepas pelukannya.
Dia menatap mata wanita di depannya. Merangkum wajahnya dengan lembut hingga tatapan mereka saling bertaut.
"Jangan takut sendirian. Ada anakmu disini menemanimu," kata Meera menyemangati sambil mengelus perut Humaira. "Kalau Syakir tetap menyakitimu, pergilah menjauh! Jangan memaksa untuk bertahan di sisi Syakir jika itu menyakiti kamu dan membahayakan anak-anakmu. Karena sekarang prioritas anak yang kamu kandung adalah hal utama daripada harus selalu mengutamakan diri Syakir yang tak pernah menghargaimu."Â
~Bersambung
Bener, 'kan? Yang dibilang Mbak Meera.
Kejadian mereka berbeda. Humaira masih hamil dapet beginian. Anaknya pumpung belum tau bapaknya juga. Jadi mungkin pergi adalah pelajaran terbaik buat Syakir.
Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar author semangat ngetiknya.