Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Diamputasi



...Dibalik ujian yang terjadi maka terdapat hikmah yang begitu luar biasa....


...~Gibran Bara Alkahfi...


...🌴🌴🌴...


Kedatangan Jimmy di sebuah rumah sakit terdekat tentu membuat beberapa perawat segera mengambil tindakan. Yang ada dalam pikiran pria itu saat ini adalah keponakannya mendapatkan penanganan. Dia tak mau mengalami penyesalan jika harus membawa Bia ke rumah sakit yang sama dengan Zelia dan terlambat ditangani.


Dua pria dengan pakaian serba hitam itu menunggu di depan ruang IGD. Mereka sama-sama menatap pintu yang sejak tadi belum terbuka sama sekali. Perasaan Jimmy masih kacau. Dia tak tahu harus memberi kabar kepada adiknya tentang keadaan putrinya itu.


"Apa ada kabar?" tanya Jimmy pada Jack yang duduk di sampingnya.


"Belum," sahut Jack menatap ponsel di tangannya. "Apa mungkin mereka berhasil lolos dari kejaran?" 


"Tidak mungkin," sahut Jimmy menggeleng. "Aku menembak kakinya agar dia tak bisa lari begitu jauh. Aku yakin dia merasakan sakit yang luar biasa saat mengendarai mobilnya itu." 


Jack mengangguk. Apa yang dikatakan oleh temannya itu memang benar. Jika tembakan itu mengenai mereka, itu sudah menjadi hal biasa. Namun, untuk orang awam dan biasa, satu tembakan saja sangat menyakitkan. 


"Lebih baik kau obati dulu lenganmu itu, J.  Peluru itu harus kau keluarkan!" seru Jack mengingatkan. 


Jimmy menatap lengannya yang terluka. Lengannya menjadi basah oleh darah. Dirinya benar-benar hampir melupakan lukanya sendiri karena terlalu khawatir pada keponakannya. 


Tanpa berkata akhirnya Jimmy segera memanggil seorang perawat yang berjalan di depannya. Dia mengatakan tentang lukanya dan segera diminta masuk ke dalam ruang IGD. 


Pandangannya mengedar. Dia mencari keberadaan Bia di ruangan itu. Namun, beberapa tirai yang tertutup membuatnya kesulitan mencari keberadaan anak dari Almeera dan Bara tersebut. 


Saat peluru mulai dikeluarkan dari lengannya. Getaran di saku celananya membuat Jimmy membuka mata. Dia merogoh sakunya dan mengambil benda pipih itu. Melihat nama yang tertera di sana, membuat Jimmy lekas mengangkatnya.


"Ya?" 


"Maaf, J. Dua orang itu mengalami kecelakaan." 


Jantung Jimmy berdegup kencang. Bahkan tanpa sadar dia sampai mendudukkan dirinya. 


"Ayo berbaring, Pak. Tangan Anda belum selesai," kata seorang dokter yang menangani lukanya.


"Sebentar, Dokter," sahut Jimmy menetralkan dirinya yang masih terkejut.


"Halo...halo?" panggil suara dari seberang telepon yang membuat Jimmy mendekatkan ponselnya lagi di telinga. 


"Bagaimana keadaan mereka?" tanya Jimmy dengan nada begitu ragu.


"Mobil mereka meledak. Pria itu terjepit di dalam dan ikut terbakar. Sedangkan si perempuan, dia berhasil kami keluarkan," jeda orang tersebut dengan jujur. "Tapi…" 


"Kenapa?" 


"Keadaan kaki wanita itu putus dan remuk, J."


Jimmy memijat dahinya yang berdenyut. Dia kembali berbaring ketika dokter memaksanya untuk segera melanjutkan jahitan luka di lengannya.


"Bawa dia ke rumah sakit. Aku akan mengirimkan alamatnya padamu!" 


Ketika panggilan itu terputus. Jimmy segera mengirim alamat rumah sakit tempat dimana keluarganya dan Zelia berada. Menurutnya jika Narumi dibawa ke sana. Maka lebih mudah untuk menjaga dan mengontrol wanita itu. 


"Apa Anda seorang polisi?" tanya dokter itu dengan penasaran.


Melihat bagaimana Jimmy yang tak kesakitan dan tak takut pada luka tembak. Membuat Dokter itu bisa menafsirkan bahwa luka seperti ini sudah menjadi hal biasa untuk pria itu. 


Jimmy hanya menggeleng. Dia tak mau mengatakan identitas dirinya karena memang Komandan pusat tak pernah mengizinkan. 


"Selesai. Lebih baik Anda beristirahat karena jahitannya masih basah," ucap Dokter saat Jimmy mulai beranjak berdiri.


"Maaf, Dokter. Saya harus melihat keponakan saya. Terima kasih atas bantuannya." 


Setelah mengatakan itu, Jimmy segera membuka tirai miliknya. Kemudian pandangannya ia edarkan sampai matanya bisa melihat sosok yang dia cari sedang terbaring lemah di atas brankar.


Jimmy lekas berjalan mendekati Bia. Dia menatap sendu keponakannya. Dia raih tangan mungil itu dan menciumnya begitu lembut. 


"Lekas bangun, Sayang. Om ada disini," bisik Jimmy pelan agar tak menganggu yang lain.


"Bagaimana, Dok?" 


"Sepertinya pasien mengalami trauma yang mendalam. Sejak tadi dia bergumam mengatakan takut dalam tidurnya," kata dokter yang membuat Jimmy menatap Bia. "Apakah pasien mengalami kekerasan?" 


"Ya, Dok. Dia mengalami penculikan dan kekerasan."


"Lebih baik setelah dia sadar, kita panggilkan psikiater untuk menangani rasa traumanya."


Akhirnya setelah Dokter menjelaskan segalanya. Jimmy lekas meminta pendapat untuk memindahkan keponakannya di rumah sakit yang sama tempat dimana Zelia dirawat.


Akhirnya setelah melewati banyak pertimbangan dan mengurus segalanya dibantu oleh Jack. Mereka bisa membawa Bia menuju rumah sakit dimana keluarganya sudah menunggu. 


...🌴🌴🌴...


Kabar tentang kecelakaan Narumi tentu sudah didengar oleh keluarga Almeera dan Bara. Jimmy baru saja memberikan kabar terlengkap dan menceritakan semuanya. 


Tentang kecelakaan, kematian Adnan dan trauma yang dihadapi Bia membuat Almeera menangis begitu kencang. Tubuh lemahnya direngkuh erat oleh Bara. Wanita itu khawatir dan ingin segera menemui anak keduanya. 


"Kapan Bia dipindah ke sini, Mas? Aku sudah tak sabar untuk menemui putriku," ucapnya dengan suara serak karena terlalu menangis. 


"Sebentar lagi, Sayang. Kak Jimmy sedang dalam perjalanan," sahut Bara sambil mengelus kepala istrinya dengan sayang. 


Bara benar-benar menjadi suami siaga di samping Almeera. Pria itu tak meninggalkan istri dan anak pertamanya sedikitpun. Permintaan Jimmy yang memintanya untuk menjaga Zelia untuknya, tentu dilakukan sebaik mungkin. 


Hingga tak lama, ambulance yang membawa sosok Narumi mulai berhenti di depan sana. Almeera dan keluarganya menunggu paramedis menurunkan brankar dimana mantan istri kedua Bara berbaring.


Hingga saat tubuh itu mulai turun, Almeera memalingkan wajahnya saat keadaan kaki Narumi begitu mengkhawatirkan. 


"Sayang," bisik Almeera dengan tubuh takut. 


"Tenanglah. Dia tak akan menyakiti kita lagi," ucap Bara meyakinkan.


Entah kenapa keberadaan wanita itu seakan menjadi trauma mendalam dalam diri Almeera. Kondisi istrinya yang banyak diam, tentu membuat Bara menyesal.


Kehadiran Narumi adalah kesalahan terbesar dirinya. Walau mulanya terjebak tapi dia juga menikmati wanita itu setelah mereka halal. 


Apa yang terjadi pada anak dan istriku saat ini karena hasil kesalahanku di masa lalu, Tuhan. Aku benar-benar menyesali semuanya, gumamnya dalam hati. 


Tak lama Bara yang merasa dipandangi seseorang akhirnya menoleh. Disana, putra pertamanya Abraham sedang menatapnya dengan pandangan sendu. Dia segera berpindah tempat dan mendekatinya dengan pelan.


"Maafkan Papa, Bang. Papa mengaku salah," ucap Bara dengan kepala menunduk merasa malu pada putra pertamanya. "Papa sadar sudah menyakiti Abang, Adek dan Mama."


Abraham tak menjawab. Namun, air mata yang mengalir dari matanya menjadi jawaban jika hati anak laki-laki itu yang paling tersakiti selama ini.


"Papa tak akan berjanji pada, Abang. Papa cuma mau bilang, Papa bakalan berusaha menjadi Papa yang bisa dibanggakan oleh Adek dan Abang. Papa juga berusaha menjadi Papa dan suami yang baik untuk Mama. Papa…" 


"Aku sayang, Papa," kata Abraham lalu memeluk sosok pria yang memiliki wajah mirip sepertinya. 


Keadaan inilah yang dia tunggu dari lama. Pelukan Papa yang sangat dirindukan. Pelukan ternyaman setelah mamanya akhirnya bisa dia rasakan lagi. 


"Abang maafin, Papa," ucapnya dengan sungguh-sungguh.


"Terima kasih, Bang. Terima kasih udah kasih kesempatan buat Papa."


Akhirnya perselisihan antara anak dan ayah itu berakhir. Rasa benci yang timbul karena kesalahan papanya. Keegoisan yang memuncak akhirnya bisa runtuh karena sebuah penyesalan. 


Hingga tak lama, pelukan itu harus berakhir ketika dokter yang menangani Narumi keluar dari ruangan.


"Ya kami keluarganya, Dokter," sahut Bara ketika pria berpakaian sneli putih itu menanyakan keberadaan keluarga Narumi. 


"Sebelumnya saya minta maaf. Saya ingin meminta persetujuan keluarga untuk melakukan amputasi pada kedua kaki pasien bernama Narumi."


~Bersambung


Gimana bab ini? Dibayar lunas banget, 'kan? Gak pakek drama lumpuh kalau sekarang.


Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetiknya.