
Aku sudah memutuskan sesuatu yang sangat berat dalam hidup ini, dengan resiko akan dibenci anakku sendiri.
Seumur hidup aku tidak pernah membayangkan sifatnya akan menurun almarhum papa.
Cepat sekali rasanya, padahal baru saja aku mendekapnya untuk pertama kali, melantunkan suara adzan tepat ditelinganya pertama kali.
Kini aku harus melawannya, demi hidupnya yang lebih baik. Ya harus ku lakukan walaupun dengan memisahkan cintanya.
Pak Adrian masih betah memandangi foto putranya di ponsel miliknya, foto itu ia ambil saat Jason berulang tahun ke lima tahun, sungguh cepat sekali ini berlalu. Kini bahkan Jason sudah berani melawannya.
Shirleen sedang cek kandungan saat ini, ia pergi bersama Misca dan janji bertemu dengan Jason dirumah sakit, ia merasakan muntah-muntah lagi pagi tadi padahal usia kandungannya sudah memasuki bulan ke tujuh.
"Bagaimana dok kondisi anak saya ?" tanya Jason pada dokter Eri.
"Baik-baik saja tuan muda, lihatlah bayi anda sangat aktif" ucap Dokter Eri seraya menunjuk ke layar monitor menggunakan kursor. Ia sedikit menjelaskan posisi bayi dan seputar kesehatan ibu dan janin pada pasangan itu. Shirleen nampak menyimak, muntah-muntah yang ia alami memang sering kali terjadi pada ibu hamil, bukan hanya waktu hamil muda saja orang akan mengalami gejala muntah.
"Itu tidak apa normal saja, semoga cepat sembuh setelah minum obat muntahnya"
Dokter Eri meresepkan obat untuk ditebus nanti.
"Juniormu akan segera lahir, sebentar lagi akan menjadi papa muda, tidak menyangka ya" ucap Dokter Eri pada Jason.
Jason hanya menanggapi dengan senyuman, ia memilih mengelus perut buncit pacarnya itu, Shirleen menghangat, terbesit dalam hatinya menyayangkan anak yang ia kandung adalah anak Athar, melihat tatapan penuh cinta dari pemuda dihadapannya ini membuat ia berandai kalau saja Jason benar-benar ayah biologis anak dikandungannya ini, sungguh kebahagiaan yang lengkap sudah.
Jangan tinggalkan aku Jason, bolehkah aku egois, tolong jangan tinggalkan aku.
Ia bermonolog dalam hatinya, sungguh cinta sudah memenuhi ruang hatinya, nama Jason sudah terukir disana.
Misca nampak antusias memegang perut bundanya, ia juga tidak sabar menunggu adik bayinya keluar.
"Papa, adik bayinya sama seperti misca atau sama seperti papa ?" tanya Misca.
"Emm coba Misca tanya om dokter ?" jawab Jason.
"Om Dokter, bayinya seperti Misca atau seperti Papa ?"
"Seperti papa, ganteng seperti papa" jawab Dokter Eri dengan senyuman.
Wajah Misca nampak lesu ketika mengetahui adik bayinya yang tidak sejenis dengannya, padahal ia sudah berandai ingin mengajak adik bayinya bermain boneka, namun nampaknya ia harus menelan kecewa karena teman yang akan datang tidak sesuai harapannya.
"Papa, ayo buat adik bayi lagi sama Bunda, buat yang seperti Misca, dua !" Misca mengatakannya lancar tanpa beban, seolah sedang meminta permen sambil menunjukkan dua jarinya.
Shirleen pun sama, ia begitu terkejut mendengar cara kerja pemikiran anak gadisnya yang kelewat pintar, wajahnya juga memerah bak tomat menahan malu.
Pada akhirnya mereka bertiga permisi, tanpa menghiraukan senyum geli yang dilayangkan dokter Eri untuk keduanya.
Namun karena terlalu ingin segera keluar agar bisa menghirup udara segar untuk menghilangkan cekatan di tenggorokannya, Shirleen malah tidak sengaja bertemu bahkan menabrak seseorang yang sialnya mantan kakak iparnya.
"Eh kalau jalan itu pake mata" ucap Riska yang belum mengetahui siapa penabraknya.
"Maaf, maaf saya tidak sengaja" ucap Shirleen sambil mengatupkan telapak tangannya.
"Kamu..." Riska menatap nyalang Shirleen, sudah lama sekali semenjak ibunya dirawat dirumah sakit, orang yang paling ingin ia temui adalah Shirleen, ia ingin meluapkan segala. kekesalan atas segala yang terjadi dengan sang ibu, menurutnya semuanya yang terjadi tidak lain karena wanita pembawa sial dihadapannya ini.
"Kak Riska..." Shirleen sungguh malas sebenarnya, namun hendak menghindar pun ia sudah tanggung.
"Kamu benar-benar yaaa" Riska tanpa aba-aba langsung saja menjambak rambut Shirleen, membuat Shirleen hilang keseimbangan dan hampir saja terduduk di lantai untunglah Jason dengan sigap menahannya.
Jason yang meihat apa yang terjadi dengan kekasihnya itu dengan tanpa belas kasih mendorong tubuh Riska dengan sekuat tenaga lelakinya. bayangkan saja, itu bahkan membuat Riska terpental membentur dinding.
"Jangan sentuh wanitaku" ucapnya dingin.
Terpancar aura kemarahan yang mencekam dari wajah pemuda itu, benar kalau sudah begini iblis pasti dengan senang hati segera mendekat kearahnya. Haruskah dikatakan sekali lagi bahwa Jason adalah iblis berbentuk manusia.
Ia tidak perduli kalau dihadapannya kini adalah seorang wanita, yah wanita yang dalam artinya mahluk penuh kasih sayang sekalipun, tidak ia tidak pandang bulu, berani menyentuh Shirleen, maka siap-siap katakan selamat tinggal dengan hidup yang normal.
"Siapa kau ?" tanya Riska dengan dadanya yang masih sesak akibat hantaman tangan Jason saat mendorongnya tadi.
Bersambung...
*
*
*
Like, koment, dan vote yaaa
Happy reading !!!