Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
"Kau tau kenapa ?"


"Kau menyukainya Tuan ?"


Perkelahian telah terjadi, sisi iblis Jason sudah ia hadapi saat ini, ia yang hampir sekarat karena telah membiarkan Jason melampiaskan amarah dengan bebas pada dirinya.


"Kenapa kau tidak melawan ?"


"Ayo lawan aku..." tantang Jason.


"Jason, aku tau aku telah menyentuh kehidupan pribadimu, tapi semua itu ku lakukan untuk hidupmu yang lebih baik, dia... dia sangat mencintaimu apa kau tega mengecewakannya ?" Tuan Fred saat ini sedang menahan emosinya, ia tidak peduli dengan kondisi tubuhnya, sementara ia tidak tau dimana Shirleen berada setelah Jason membawanya kesini malam tadi.


"Dia ? Apa maksudmu istriku ?"


"Jason, kau sudah dewasa nak, sudah menjadi seorang ayah, ada sebuah keluarga yang menantikan kepulanganmu setiap hari setelah lelah bekerja, ada keluarga yang selalu menyambutmu, ada tangis dan tawa yang akan meramaikan kediamanmu, aku minta maaf karena telah membuatmu tidak terkendali seperti ini, namun jika kau sedikit saja bisa memahami arti keluarga kau akan mengetahui betapa sakitnya rasa kehilangan dan kau bisa memilah bahwa jalan yang kau ambil ini benar atau salah" ucap Tuan Fred, sebenarnya ia bisa saja melawan, karena selain memiliki ilmu bela diri ia juga punya keahlian dalam kecepatan dan ketepatan tangan, sedikit kepandaiannya menghipnotis yang bisa ia lakukan hanya dari tatapan mata dan memberikan sugesti juga bisa membantunya.


Namun ia sengaja tidak melawan, biarlah ia ingin Jason menang saat ini, karena itu tentu akan menjadi sebuah kepuasan tersendiri dari seorang Jason Ares Adrian.


"Maksudmu ?"


"Aku tanya apa arti keluarga bagimu ?" tanya tuan Fred, sedikit siraman rohani mungkin bisa mebantunya meluluhkan hati si bengis di hadapannya ini.


"Heeeh keluarga, sayang sekali aku tidak punya banyak kenangan manis tentang keluarga" ucap Jason tertunduk.


Ia bahkan lupa apa alasannya berkelahi dengan tuan Fred, karena setiap diingatkan dengan sebuah kata yang bernama keluarga ia selalu saja tertunduk memejamkan mata seolah mengenang jauh ke belakang sana.


"Jason, dimana Shirleen ?" tanya Tuan Fred, ia menyangka Jason pasti sudah membawa Shirleen yang semula dilindunginya beberapa hari ini.


"Aku tidak suka dia meminta bantuan dari orang lain untuk menyelesaikan masalah suami istri, dia urusanku" tentang Jason, jelas sekali ia marah saat ini dengan menegaskan kata masalah suami istri.


"Seperti aku yang tak pernah mengatakan apapun masalah kami pada orang luar"


Sekali lagi menegaskan kata orang luar yang bermaksud menyindir Tuan Fred.


Semalam saat Tuan Fred memasuki rumahnya tiba-tiba saja pandangannya menggelap, nafasnya sesak ia tidak bisa menahan pencemaran itu meski ia sudah menutup hidungnya dengan jaket, ia tau itu perbuatan siapa namun ia masih kalah cepat karena seperdetik kemudian ia sudah jatuh tak sadarkan diri.


Dan lebih parahnya lagi, saat itu Shirleen, anak-anaknya dan Ipah sedang berada di mobil, siapa yang mengira Jason akan menebarkan gas beracun di halaman rumahnya hingga membuat Tuan Fred hilang kesadaran bahkan hampir mati.


Tuan Fred kira Jason hanya akan merampas uangnya hingga ia bisa menebak rencana bocah itu kalau Jason ingin dirinya sendiri yang akan mendatangi sang bocah untuk meminta pertanggung jawaban, namun lebih dari itu ternyata dirumahnya juga sudah dipasang perangkap.


Saat ia meninjau rumahnya lewat cctv di ponsel, sama sekali tidak ada yang mencurigakan, padahal tanpa ia ketahui Jason hanya melakukan apa yang pernah dilakukannya, hanya saja Tuan Fred lengah dan tidak menyadari itu.


Shirleen yang melihat Tuan Fred tergeletak tak berdaya begitu langsung saja hendak turun dari mobilnya, ia lupa dengan perkataan Tuan Fred bahwa apapun yang terjadi jangan sekali-sekali keluar dari mobil.


Baru saja ia menurunkan satu kakinya keluar mobil, sebuah tangan kekar sudah membekap hidungnya hingga Shirleen lemas dan berujung tak sadarkan diri.


Kini Tuan Fred tidak mengetahui dimana dan bagaimana nasib Shirleen.


Ia sangat merasa bersalah telah melibatkan Shirleen, telah bermain-main dengan perasaan Jason supaya pemuda itu bisa mengerti akan arti sebuah keluarga, kalau sudah hilang maka hilanglah semuanya.


"Jason kau tau, Opamu pernah berpesan supaya aku selalu melindungimu saat beliau sudah tidak ada, kau adalah cucu kesayangannya, cucu satu-satunya, kau yang terhebat yang selalu ia banggakan, itulah sebabnya aku melatihmu bela diri, mengajarimu olahraga menembak, hal itu semata-mata aku ajarkan supaya kamu bisa melindungi diri sendiri saat aku tidak ada disampingmu, namun sayangnya kau telah salah mengartikan semua itu" jelas Tuan Fred.


Jason tetap tidak bergeming, benar-benar berhati batu.


"Sama seperti Papamu, ternyata aku juga tidak akan pernah bisa meluluhkan hatimu jika hanya dengan bicara berdua seperti ini, bahkan sekalipun dalam kesunyian"


"Ck, kau dan Adrian itu memang sama saja" ucap Jason.


Tuan Fred mengangguk, sebenarnya ia sudah diperingatkan oleh Adrian untuk jangan melibatkan Shirleen namun ia masih tetap mencoba, dan sayangnya hasilnya malah tidak sesuai rencana yang telah ia susun.


"Tuan Abraham, disana ia pasti tidak senang melihat kau seperti ini Jason"


"Jangan membawa nama orang yang sudah tiada, itu tidak akan merubah keadaan, karena apa ? Ternyata kau pun sama mengecewakan" lantang Jason, satu hal lagi, ia paling tidak suka nama kakeknya di bawa-bawa.


Hati Tuan Fred sakit, saat ia mencoba melindungi Jason malah ini yang ia dapatkan. anak kucingnya yang menggemaskan kini sudah berubah menjadi singa yang menakutkan.


Jason tidak akan mengerti walau ia menjelaskan sampai mulutnya berbusa sekalipun, Jason sama seperti Tuannya dulu, jika menginginkan sesuatu haruslah sesuai kehendaknya, tidak perduli apapun lagi, beruntung di masa tuanya Tuan Abraham bisa lebih memahami arti dari sebuah keluarga.


Bahwa keluarga bukan hanya sekedar dua hati yang menyatukan cinta, namun juga pemikiran dan rasa simpati juga mencoba saling memahami, jika yang satu salah, satu lainnya siap mengarahkan pada kebenaran atau tidak peduli tentang siapa yang salah namun tetap bisa berlapang dada meminta maaf maupun memaafkan.


Definisi keluarga bahagia bukanlah tentang semakin tua umurnya suatu pernikahan maka itulah ukuran keluarga bahagia, melainkan mereka yang tetap bertahan dan selalu mencoba memantaskan diri.


Menerima apa adanya sebisa mungkin.


"Bukankah Shirleen sudah mengatakan, saat kalian bertemu lagi, maka ia sangat berharap kau bukan lagi orang yang menakutkan, bagaimana bisa kau mengingkari janjimu seperti ini" ucap Tuan Fred, ia sudah berada sangat dekat dengan Jason.


"Dan juga, istrimu juga sudah berjanji tidak akan meninggalkanmu saat dengan yakin kau juga bisa berjanji padanya akan meninggalkan dunia hitam kita" lanjut tuan Fred lagi.


"Bahkan ia tetap menepati janjinya meski ia tau kau sebenarnya telah mengingkari"


"Kau tau kenapa ?" tanya Tuan Fred.


Jason terdiam, ia mengaku salah, namun rasanya sulit juga keluar dari lingkaran yang telah membesarkan hidupnya itu.


"Aku tanya kau tau kenapa ?"


Bersambung...


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...


Happy reading !!!