
Malam hari, tepatnya di dua bulan kemudian.
"Biarkan aku di sini saja!" tegas seorang anak kecil laki-laki berteriak pada Jason. Sementara tangan satunya sudah ditarik oleh anak perempuan yang sangat mirip dengannya.
"Abang, kita harus pergi, abang tidak boleh tinggal di sini, kita harus bertemu Mama." ucap anak perempuan itu pada anak laki-laki seumuran dengannya yang ternyata adalah abangnya.
"Aku tidak mau, sudah kukatakan aku tidak mau!" namun sayang sekali, bocah laki-laki berusia kiranya empat tahun itu tetap pada pendiriannya.
"Nak..." lirih Jason, "Kita bertemu Mama yuk!" ajaknya, mencoba merayu lagi.
"Sudah kukatakan aku tidak mau, kau sudah berjanji padaku waktu itu, namun kau belum juga menepatinya!"
Jason melihat anak kecil itu mulai menangis sesegukkan, seperti begitu dalam luka yang anak itu dapatkan.
"Aku tidak akan hidup normal jika kau memaksaku keluar dari sini sementara kau belum menepati janjimu. Ini hukuman bagi kami." lirihnya lagi.
"Nak, apa kalian benar-benar anakku, tapi bagaimana bisa?" tanya Jason memastikan.
"Tidakkah kau lihat aku begitu mirip dengan Ibuku, sementara dia lebih-lebih mirip denganmu, apa aku harus memanggilmu Tuan, hey Tuan penguasa!"
Sifatnya, caranya berbicara, anak laki-laki itu begitu mirip dengan Jason, tidak akan takut jika hanya dengan orang yang lebih tua selama dirinya benar, selalu mementingkan pemikirannya, begitulah sebanyak yang Jason ketahui tentang dirinya.
"Papa..." lirih sang anak perempuan. "Dia Papa kita Bang!"
"Aku tidak akan menemuinya!" tegas anak laki-laki itu menolak.
"Aku juga tidak akan pergi jika kau tidak ikut Bang, jangan membantah, ini sudah waktunya!" nampaknya gadis kecil itu mengajak Abangnya berdebat.
"Kau tidak akan menjadi pemimpin di suatu hari nanti, jadi kau tidak akan perlu merasakan ketakutanku!"
"Tapi kita sama, dari darah yang sama, ayolah... Kita beri mereka kebahagiaan."
"Tidak!"
"Ayo!"
"Tidak!"
"Sudah cukup!" Jason menghentikan perdebatan anak-anaknya, dirinya juga tidak mengerti akan situasi macam apa yang dihadapinya. Janji untuk ditepati, apa?
"Kau bukanlah Ayah yang baik, kau Ayah yang buruk!" teriak anak laki-laki itu menggema di telinga Jason.
"Nak..."
"Pergi, aku tidak akan mau ikut denganmu!"
"Abang..."
"Kalau kau ingin pergi, pergi saja, aku akan tetap disini, aku lebih baik mati dari pada lahir hanya untuk melihat kebenciannya."
"Nak, Papa mohon jangan seperti ini..." lirih Jason.
Jason begitu bingung, janji apa yang harus dirinya tepati.
Hubungan darah, ibarat kata darah lebih kental dari air maka di dalam tubuh keturunannya juga mengalir darah Adrian, Jason lupa akan hal itu.
"Papa... Apa Papa pernah berjanji sesuatu pada kami?" tanya si anak gadis.
Jason nampak bingung, dirinya benar-benar tidak ingat.
"Aku juga tidak mau pergi dari sini, jika Abang tidak pergi, sampaikan saja salamku untuk Mama." lirihnya lagi.
Jason tidak tega, namun mau bagaimana lagi, dirinya benar-benar lupa.
Anak perempuan itu berbalik menuju Abangnya, tangan mereka saling bertaut, dan kemudian ada cahaya putih yang menyilaukan mata Jason, sayang sekali keduanya hilang tidak berjejak.
"By..." Jason mencoba membangunkan Shirleen, namun istrinya tidak juga terbangun, dan Jason tau saat ini Shirleen bukanlah tertidur pulas, melainkan pingsan.
Dengan segera, Jason keluar menuju kamar Ipah, menyuruh Maidnya itu mengurus keperluan Shirleen, Jason memutuskan untuk membawa Shirleen ke rumah sakit.
"Tuan!" Ipah sedikit terkejut kala ternyata bukan Nona Mudanya yang mengetuk pintu melainkan Tuan Mudanya.
"Bantu aku, terjadi sesuatu dengan istriku!" ucap Jason dengan nafas yang tersengal, pemuda itu panik liar biasa.
Ipah langsung menuju kamar Tuan dan Nona Mudanya. Tubuh Ipah lemas melihat apa yang terjadi dengan Nona Mudanya, darah sudah merembes membasahi sprei. Ingin dirinya berteriak histeris, namun beruntung masih bisa ia tahan.
"Kau urus saja apa yang perlu dibawa, aku akan mengangkatnya ke mobil." titah Jason.
"Tuan Muda, apa saya tidak ikut?" tanya Ipah.
"Kalau kau ikut, siapa yang akan menjaga kedua anakku, bodoh!"
Ipah tersentak, ah iya benar, bagaimana mungkin dirinya bisa ikut. Keadaan yang panik membuatnya tidak bisa berpikir jernih, apa yang dirinya ucapkan sebenarnya spontan karena kepanikan, tidak dipikirkan terlebih dahulu.
Ipah melakukan apa yang diperintahkan Tuan Mudanya, sembari batinnya tidak putus berdoa semoga tidak terjadi sesuatu dengan Nona Mudanya.
"Kau bawa itu ke mobil!" titah Jason lagi.
Dengan segera Ipah melangkah menuju garasi, diikuti Jason yang membopong tubuh Shirleen.
"Kau, nanti ada orang yang akan menemanimu, kau jaga anak-anakku." pesan Jason sebelum menjalankan mobilnya membawa Shirleen menuju Rumah Sakit.
"Baik Tuan Muda!"
Dalam perjalanan, Jason segera menghubungi Roy, meminta Roy untuk mengurus segalanya di rumah sakit, sementara Shakira ia perintahkan untuk menemani Ipah menjaga Misca dan Jacob di rumahnya.
"Ya Tuhan, selamatkanlah istri dan anak-anakku." gumam Jason tiada hentinya, berharap tidak terjadi hal buruk pada istrinya meski dirinya juga tidak bisa meyakini, mengingat darah yang sudah merembes pada bagian bokong Shirleen, persis seperti yang dialami Shakira tempo hari.
Bayang-bayang Shakira yang kehilangan bayinya dan Roy membuat Jason begitu kalut, air matanya tumpah, sungguh seorang Jason sedang takut sekali saat ini.
Dilihatnya Shirleen di kursi belakang yang sudah dirinya ubah menjadi tempat tidur, istrinya itu sedang terbaring lemah tidak sadarkan diri.
"Ya Tuhan istriku..." gumam Jason lagi.
Dua puluh menit berlalu, Jason sudah sampai di rumah sakit dan langsung saja membawa istrinya, dengan tangannya sendiri ia membopong Shirleen, berteriak seperti orang kesetanan meminta para medis untuk segera bertindak.
"Selamatkan istriku!"
"SELAMATKAN ISTRIKU!!!"
Tiba-tiba kondisi lingkungan rumah sakit tiba-tiba menjadi tegang, Dokter Eri yang kebetulan dinas malam langsung menenangkan sepupunya itu dan segera melakukan tindakan untuk Shirleen.
Dilihatnya Shirleen yang memang akan melahirkan, perihal darah yang merembes itu juga sering terjadi pada Ibu-Ibu yang mau melahirkan, namun akan dirinya periksa terlebih dahulu untuk mematahkan praduga ataupun hal buruk yang jangan sampai terjadi. Semoga saja Shirleen memang benar mengalami normalnya orang yang mau melahirkan.
"Selamatkan dia, aku mohon!" ucap Jason dari balik kaca IGD, melihat Shirleen seperti berjuang antara hidup dan mati untuk kedua kakinya sungguh menyesakkan dadanya, ya Tuhan Shirleenku!
Dokter Eri dan tim medis lainnya masih memeriksa Shrileen, Jason tidak bisa melakukan apapun untuk saat ini selain menjadi penonton dan terus berdoa untuk keselamatan istrinya itu.
"Selamatkan dia, selamatkan istriku!"
Bersambung...
*
*
*
Like, koment, and, Vote !!!