Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Aku minta maaf.


"Tidak... Anak-anakku!"


"Jason, kenapa Nak?"


Seakan tertimpa beban berat yang langsung mengenai tepat di dadanya, begitulah yang dirasakan Jason saat ini.


Secara tidak langsung, dirinya adalah penyebab mengapa Shirleen begitu sulit saat melahirkan.


Roy merangkul Jason menuju kursi tunggu, keringat dingin membasahi seluruh wajah Tuan Mudanya itu, dengan segera Roy mengelapnya.


"Aku minta maaf!" ucap Jason.


Ketiganya tampak bingung, namun mata Jason tertuju pada Adrian, Papanya.


Tidak ada yang berani menjawab, Roy sedikit mengerti, mungkinkah Tuan Mudanya ingin meminta maaf pada Tuan Besar perihal mimpi yang selalu menghantuinya.


"Aku minta maaf padamu, aku ingin berdamai, aku mohon maafkan aku!" lanjut Jason lagi.


"Nak..." lirih Adrian.


"Kau memaafkanku atau tidak?" tanya Jason tidak sabar.


"Jason, kau putraku, aku sudah memaafkanmu bahkan sebelum kau menyadari kesalahanmu, semua yang terjadi pada kita tidak sepenuhnya salahmu, lebih-lebih Papa lah yang bersalah." ucap Adrian.


"Namun sayang... Minta maaf itu tidak segampang yang diucapkan, kau tidak perlu meminta maaf, cukup tanamkan di sini kau sudah membuang seluruh rasa kecewamu, kau sudah bisa menerima kami kembali, kau benar-benar sudah berdamai dengan hati. Maka kau akan merasa lega, seolah baru saja melepaskan beban yang sangat berat, jika kau minta maaf namun di sini masih begitu sesak, itu artinya kau tidak setulus hati meminta maaf, kau masih ragu untuk berdamai, bukan dengan kami, melainkan dengan hatimu sendiri." ucap Mama Mila sangat bijak sembari tangannya menunjuk tepat di dada Jason.


Jason terdiam, kata maaf, kata yang sangat sulit dirinya ucapkan, selama ini hanya ada dendam yang tertanam, hingga bagai tiada tempat untuk mencoba mengikhlaskan.


"Kami sudah memaafkanmu, benar... Bahkan sebelum kau mengakui kau bersalah, kami akan menunggu saat itu tiba, saat di mana keluarga kita bisa saling tersenyum dalam satu meja makan, saling bercanda melempar tawa, kami yakin kau akan kembali pada kami, cepat ataupun lambat, ini semua hanya masalah waktu." lanjut Mama Mila lagi.


"Jason, di dunia ini tidak ada yang suci tanpa melakukan dosa, Papa juga minta maaf karena sudah merenggut masa kecilmu, sudah memisahkanmu dari Dareen, sudah memeras otakmu, maafkan Papa Nak, Papa bersalah, itu adalah salah Papa, dosa terbesar bagi Papa." ucap Pak Adrian penuh sesal.


Jason mendongak, menatap langit-langit di rumah sakit, Papanya bisa begitu gampang berucap maaf, sementara dirinya.


Berhati batu, mungkin itu adalah sebutan yang cocok menggambarkan seorang Jason, kalau sudah benci, sebaik apapun yang orang itu lakukan padanya, dirinya akan buta mata menulikan telinga, hal itu juga berlaku untuk Adrian meski Adrian adalah Papa kandungnya.


"By, tidak ada yang berdosa tanpa adanya suatu cobaan!"


Sekilas bayangan Shirleen yang selalu mengatakan itu untuk menenangkan hatinya juga terpatri di kepalanya.


"Aku minta maaf... Benar-benar minta maaf, aku mengakui aku melakukan kesalahan pada kalian, aku minta maaf, ya aku minta maaf..." Tangis Jason pecah, pemuda itu langsung saja berhambur memeluk Mamanya.


Mama Mila yang mendapatkan perlakuan spontan dari putranya itu menegang setelah kemudian terharu, hanyut dalam perasaan bahagia, Jasonnya sudah kembali, ia bisa merasakan pelukan ini sangat tulus.


"Maafkan aku Ma... Maafkan aku, aku yang salah, aku bersalah!" lirih Jason, pemuda berusia delapan belas tahun itu menangis sesegukkan.


Jason melepaskan pelukan pada Mamanya, lalu dengan segera beralih memeluk Adrian, Papanya.


"Maafkan aku Pa, maafkan aku... Aku terlalu membenci hingga aku lupa asalku, maafkan aku, aku adalah anakmu... Aku hanya rindu, aku begitu merindukanmu, kau selalu pergi pagi hari dan pulang saat sudah larut malam, kau bahkan tidak pernah menemuiku di kamar meski hanya untuk melihat kondisiku, kau bahkan tidak pernah mengusap kepalaku seperti yang selalu orang tua Dareen lakukan. Aku merindukanmu Pa, aku rindu..." sungguh Roy ingin menangis saat dilihatnya Tuan Muda yang selalu kuat tahan banting itu menangis sesegukkan meratapi nasib yang sangat tidak beruntung, Roy saja yang hidup sederhana dulunya tidak begitu miskin kasih sayang orang tua.


"Aku rindu, aku merindukan saat masa kecilku, kau selalu membawakanku mainan, tidak peduli aku menyukainya atau tidak, semua mainan itu masih aku simpan Pa, itu adalah kenangan terbaik sebelum kau berubah atau mungkin sebelum kau merubahku." ucap Jason.


Mama Mila menangis pilu mendengar keluh kesah putranya, ini adalah kali pertama Jason menyampaikan keluh kesahnya, semenjak masa kecilnya direnggut oleh keegoisan orang tuanya. Mama Mila ingat putranya itu pernah protes saat dirinya memisahkan Shirleen dari Jason waktu itu, namun saat itu Jason menyampaikan keluh kesah dalam keadaan yang begitu marah, tidak seperti ini... Yang dilihat Mama Mila begitu pilu mengiris hati.


"Iya Nak..."


"Aku rindu, saat Papa dan Mama membawaku liburan setiap akhir pekan, aku merindukan itu kau tau, aku bahkan sering kali bermimpi kalian begitu memperhatikanku, namun aku hanya bisa merindu, karena semenjak hari itu kita tidak bisa melakukannya lagi."


"Aku sudah mencoba berdamai, dan mencoba menerima keadaan namun lagi-lagi kalian mempermainkan perasaanku, kalian begitu memupuk benci yang aku tanamkan."


"Nak, maafkan Mama, maafkan Papa yah..."


Ketiganya menangis dalam satu pelukan, saling menghapus air mata namun sayangnya air mata itu juga semakin luruh enggan berhenti.


"Aku menyayangi kalian, sungguh, aku sangat menyayangi kalian." lirih Jason.


"Kita akan bahagia Nak, pasti, setelah ini pasti ada kebahagiaan bagi kita, keluarga kecilmu, Shirleen dan anak-anakmu akan selamat." ucap Pak Adrian meyakinkan putranya.


"Hiks hiks, dia... istriku mengalami pendarahan hebat, dan semua itu karena diriku... Aku yang bersalah hingga anak-anakku menyulitkan Mamanya saat mereka hendak lahir melihat dunia." ucap Jason parau.


Pak Adrian dan Mama Mila sejurus bingung, apa maksudnya? Apa maksud dari perkataan Jason?


Roy pun enggan menjawab, meski dirinya bisa mengerti apa yang tengah dimaksud Tuan Mudanya itu.


"Aku Papa yang buruk, padahal aku sudah berjanji tidak akan pernah mengikuti jejakmu, tapi... Bahkan darah dagingku belum lahir ke dunia, aku sudah menjadi Papa yang buruk bagi mereka." ratap Jason.


"Nak jangan terlalu menyalahkan dirimu sendiri, berdoa saja untuk kebaikan Shirleen, mereka pasti terselamatkan, yakin!" ucap Mama Mila.


"Anak-anakku..."


"Jason, berdoa Nak, serahkan semuanya pada yang Kuasa, Dia-lah yang maha membolak-balikkan keadaan, mintalah pertolongan-Nya, berserah diri pada-Nya." nasihat Pak Adrian.


Siapa yang bisa menyangka, seorang Jason yang terkenal begitu menakutkan, kini begitu lemah tidak berdaya, menyangkut tentang istri dan anak-anaknya Jason hanyalah manusia biasa, yang begitu mengharapkan kebahagiaan berpihak padanya.


"Tuan Muda, mari kita sholat subuh dulu, masih ada waktu." ajak Roy.


Jason pun menurut, yah sholat! Hanya itu yang bisa dirinya lakukan untuk saat ini. Meminta dan berserah diri pada yang Kuasa, pemilik alam semesta ini.


Bersambung...


*


*


*


Like,koment, and Vote !!!