
"By !" ucap Jason saat Shirleen dan Weni memasuki ruang rawat Yudha.
Sementara Weni, jantungnya mulai berdetak tidak karuan hanya dengan melihat Yudha, ia takut tidak bisa mengondisikan hatinya.
Ia sudah berjanji pada Shirleen jika dia akan menerima Yudha, semoga saja ia tidak bertindak menyakiti hati Yudha mulai dari saat ini.
Shirleen mengedipkan matanya pada Jason, Jason yang di beri kode demikian pun mengerti, namun ia ingin sedikit bermain-main dengan istrinya itu, sekalian membuat kedua jomblo didekatnya itu makan hati.
"Kau menggodaku Baby !" ucap Jason.
Shirleen mengerinyit heran, apanya yang menggoda pikirnya tidak mengerti.
Sementara Angga dan Afik sedang melotot tidak percaya, Jason memang suka tidak tau malu pikir keduanya.
"Heemm, sudah mulai genit yaaa !" ucap Jason lagi.
Shirleen masih belum mengerti, mengapa rasanya sang suami makin aneh saja.
"Apa maksudmu By ?" tanyanya pelan.
Jason mendekatkan wajahnya pada wajah Shirleen, membuat Shirleen melotot tidak percaya, dasar tidak tau malu pikirnya, ini pasti karena abis dikedipin.
Buugghh, sebuah bantal mendarat di tubuh Jason membuat jarak yang tadinya sudah semakin dekat malah terpisah.
"Tau tempat woy, geli gue." ucap Afik.
"Lo pada emang gak mikirin perasaan kita deh." ucap Angga kesal, karena dirinya juga melihat Yudha dan Weni sama sedang saling tatap.
"Teman terbangsat lo pada emang," sambung Afik saat sudah melihat tingkah kedua sahabatnya, "Yuk Ga, cabut nasi padang, baik makan ati ayam dari pada makan ati disini !" ajaknya pada Angga.
Angga pun bangkit mengikuti Afik, "Sekalian mau nitip otak nggak kelen ?" sindir Angga.
Memang benar jika ada yang mengatakan Afik dan Angga punya mulut bon cabe level pedas gila.
Weni dan Yudha menjadi salah tingkah sebab sindiran Angga, sedang Shirleen hanya bisa menunduk malu, jika menyangkut tentang Jason ia memang suka kelepasan, lalu Jason, heh pemuda itu nampak biasa saja, menyunggingkan senyum terbaiknya memasang wajah bodo amat.
"Kasih tau gih temen kamu, bilangin kita mau pulang sebentar gitu, nanti balik lagi." ucap Jason pada istrinya.
Shirleen mengangguk, ia mengatakan itu pada Weni dan memberi pesan untuk menunggui Yudha.
"Len, nanti kalau ada tante Wina gimana, aku harus jawab apa kalau dia nanya kenapa aku bisa sama Yudha ?" bisik Weni pada Shirleen.
"Ya bilang aja, kamu disuruh Jason gitu, udah yakin deh sebut aja nama suamiku beres semua udah." jawab Shirleen, ia begitu yakin menjual nama suaminya itu, karena siapa yang berani pada Jason pikirnya.
Weni mengangguk meski tidak yakin.
Shirleen dan Jason sudah berada diparkiran saat ini, mereka akan pulang ke rumah, Jason memutuskan untuk libur seperti rencana tujuannya mengambil lembur di beberapa hari sebelumnya.
Ia akan istirahat sebentar di rumah lalu nanti sore ke Rumah Sakit lagi, ia akan mengurus kepindahan Yudha supaya bisa dirawat di Rumah Sakit milik keluarganya.
"Kamu tuh suka gitu deh By, kan kasian Angga sama Afik." ucap Shirleen saat mereka dalam perjalanan pulang.
Jason tidak berniat menanggapi, tidak ada yang perlu di kasihani, kadang ada masanya ia yang tersiksa dibuat Angga dan Afik, disini ia hanya sedikit balas dendam, bukan masalah kan.
"Heemm, kek ngomong sama tembok !" sindir Shirleen.
Tidak ada perbincangan lagi setelah itu, tak lama mereka pun sampai di Rumah, dilihatnya Misca sudah rapi, Shirleen sudah menebak pasti anak gadisnya itu sudah menunggu kedatangannya sedari tadi, karena Misca harus berangkat ke Rumah Sakit menemui Ayahnya bersama Ipah.
"Rewel nggak Pah ?" tanya Shirleen pada Ipah yang tengah menggendong Jacob.
"Nggak kok Nona, si dedek mah pinter, ia kan kak ?" ucap Ipah, ia meminta persetujuan Misca.
"Kakak mau ke Rumah Sakit ya ?" tanya Jason pada Misca.
"Iya, Papa udah izinin kan, kakak perginya sama Bi Ipah aja ya." ucap Misca.
"Siap Bos !" tegas Misca semangat sekali.
"By, aku ke kamar duluan ya, ngantuk !" ucap Jason pada istrinya, ia kemudian berlalu meninggalkan semua orang.
"Iya !" ujar Shirleen.
Shirleen mengambil Jacob dari gendongan Ipah, "Kalian hati-hati yaaa !" ucapnya pada Misca dan Ipah.
"Iya Nona !"
"Iya Bun !"
Kompak Misca dan Bi Ipah.
Shirleen kemudian membawa Jacob ke ruang keluarga, ia akan bermain sebentar dengan bayinya itu, Jason sedang istirahat di Kamar dan ia tidak mau mengganggu, ia tau suaminya itu sebenarnya lelah sekali, hampir tiga hari lembur pulang larut malam saat ia sudah tidur, ia bisa mengerti bagaimana letihnya.
Athar sedang disuapi Delia makan siang saat ini, mereka hanya berdua di ruangan itu karena Riska sedang pergi ke persidangan terakhir perceraiannya dengan Rendi
"Thar, cerita sama kakak, kenapa kamu bisa berakhir seperti ini ?" bujuk Delia lagi, dari kemarin ia sudah melayangkan pertanyaan itu, namun Athar tetap juga tidak mau menjawab.
"Kak, biarlah cukup aku saja yang tau." ucap Athar, selalu saja seperti itu jawabannya jika ditanya.
"Thar, aku berhak tau, kamu bahkan hampir mati kehabisan darah, ini bukan permainan Thar, ini sebuah hal yang serius !" ucap Delia lagi.
Athar diam saja, ia akan mengubur kejadian hari itu didasar hatinya saja, jangan diingat-ingat lagi.
"Kau diam lagi, yaaa lindungi saja dia, lindungi saja wanita yang telah memerasmu itu." ucap Delia, ia sungguh tidak mengerti dengan jalan pikiran Athar.
"Aku bukannya melindungi Kak, aku cuma nggak mau lagi bahas itu." ucap Athar.
"Haah," Delia menghembuskan nafasnya pelan, ia sudah jenuh menanyakan itu pada Athar namun tidak juga menemukan jawaban, "Ya sudah, aku tidak akan memaksa, tapi lihat saja karena kalau bangkai pasti akan tercium juga nantinya." ucapnya.
Athar hanya tersenyum menanggapi.
"Ini diminum dulu." ujar Delia, ia memberikan beberapa obat yang sudah disiapkannya sedari tadi, lalu memberikan segelas air untuk Athar.
"Kak Del pulang saja, apa kak Del tidak pernah meninggalkanku selama aku di Rumah Sakit ?" tanya Athar.
"Yah mau bagaimana lagi, kau selalu manja padaku, kalau bukan aku lalu siapa ?" jawab Delia.
Athar tersenyum manis mendengar jawaban kakaknya itu.
"Aku takut kau mencariku saat kau sakit begini, kau ingat saat kita masih kecil, kau selalu ingin berada dikamarku jika kau sedang demam, bahkan saat kau masih SMA juga sama, tidak bisa jauh dariku." ucap Delia lagi.
"Kak Del bisa aja, masih di ingat ingat aja yang itu." ucap Athar, ada malu namun ada senang juga rasanya mengingat moment kedekatannya dengan sang kakak.
"Mana mungkin aku lupa, kau adalah sebagian dariku Thar, dari kecil kita selalu menghadapi apapun sama-sama, maaf jika semenjak kau menikah dengan Shirleen kakak sedikit menjauh." ucap Delia pada akhirnya.
"Sudahlah kak, semuanya sudah terjadi." ucap Athar, ia sangat kuat dan tegar untuk saat ini.
"Nanti kau pasti akan menemukan pengganti Shirleen, kau pasti bahagia." ucap Delia tersenyum lembut pada adik bungsunya itu.
"Aku menyayangimu Kak !"
Ingin rasanya Athar memeluk Delia saat itu juga karena terharu, namun apalah daya saat ini ia masih terbaring, luka di perutnya masih sangat membutuhkan perhatian khusus.
Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...
Happy reading !!!