
"Anakku..."
"Anakku..."
"Anakku..."
Jason tidak bisa membendung air matanya kala melihat Mamanya terbaring lemah di rumah sakit dengan terus memanggilnya.
"By..." lirih Jason. Dia menarik nafas dalam, menggenggam erat jemari Shirleen, tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.
"Mama baik-baik saja By, Dokter sudah menanganinya." ujar Shirleen. Terus menenangkan suaminya.
"Aku durhaka By!" ucap Jason. Dirinya terduduk di lantai rumah sakit, Mamanya mengalami itu semua pasti karena pengusirannya.
"By, tidak... Bukan begitu, kau hanya salah jalan dan masih bisa diperbaiki, aku akan terus berada di sisimu," Shirleen memeluk suaminya erat, "Kita akan bahagia, bersama Mama, dengan Papa juga, pasti By, pasti!"
"Dia sudah pergi, karena keegoisanku, seharusnya aku senang, seharusnya aku bahagia bisa menyingkirkannya." suara parau Jason berbicara tentang Papanya, dia yang telah sangat setuju saat Pak Adrian memutuskan untuk pergi, namun dia juga yang bagai kehilangan.
"Sebenarnya apa yang telah aku lakukan, aku melakukan apa yang selalu mengganjal di hatiku, aku melakukan apa yang aku mau, termasuk membuatnya menjauh dari hidupku, dia sudah pergi tapi kenapa aku juga belum puas hati."
Shirleen tidak bisa bicara meski dirinya ingin mengatakan itulah kenapa dirinya tidak menginginkan suaminya balas dendam, baik dengan orang yang berbuat masalah dengan keluarga kecil mereka, ataupun permasalahan suaminya dengan keluarga Adrian sendiri.
Shirleen juga baru mengetahui bahwa kenyataannya sang suami menyimpan dendam yang begitu menggunung, dendam lama yang begitu subur akan kebencian, saat mendengar pertengkaran antara Jason dan mertuanya, Shirleen sadar ternyata Jason begitu menderita batin selama ini.
"Seharusnya aku bisa hidup tenang, karena inilah yang sebenarnya aku mau." ucap Jason, dirinya tidak memfilter ucapannya lagi, kini Shirleen pasti akan tau betapa jahat hati suaminya.
"Kita tidak pernah tau, bagaimana kita menjalani hidup bahkan satu detik kemudian lun, jangan menyalahkan dirimu By, ini semua terjadi karena sudah kehendak-Nya. Ini adalah ujian untuk keluargamu, dan semoga kamu, Mama dan Papa bisa melewati semua ini. Tidak ada yang berdosa tanpa adanya suatu cobaan."
Shirleen masih memeluk Jason, baginya menyalahkan Jason hanya akan membuat hati suaminya semakin diliputi kebencian, jadi meski salah Shirleen harus tetap merangkulnya, harus tetap mengabaikan kesalahan suaminya.
"Kau tidak membenciku By?" pertanyaan itu akhirnya keluar dari mulut Jason.
"Bagaimana bisa aku membencimu, aku sudah berjanji akan menerimamu apa adanya By, jika pun kau salah aku yang akan memperbaikinya, kita menikah bukan hanya sekedar menjadi teman hidup lalu berpaling saat adanya perbedaan pendapat, aku tidak menginginkan pernikahan yang seperti itu."
"Kita akan selalu bersama, dan untuk masalah ini, kita juga akan menghadapinya bersama."
Shirleen menghapus air mata suaminya. Setelah keadaan membaik nanti barulah dirinya akan berbicara pada Jason, supaya kejadian seperti ini tidak lagi terulang, supaya Jason bisa melupakan dendamnya.
"Ayo masuk, temui Mama, minta maaflah, dia merindukanmu By!" ajak Shirleen. Dia mengambil tangan Jason dan menuntun Jason untuk menemui Mama Mila di dalam ruang perawatan.
Sementara di lain tempat,
Pak Adrian masih mematung di sebuah ruangan, dulu ruangan ini adalah ruangan Jason belajar bisnis, ruangan penuh luka bagi Jason namun Pak Adrian mengetahui itu saat sudah sangat terlambat.
"Aku pikir kau tidak pernah membantahku itu karena kau mau Nak!" gumamnya pelan. Sesal pasti sangat ia rasakan.
"Aku pikir dengan melihatmu sangat serius belajar berarti kau sangat menyukainya Nak."
"Aku pikir setiap hari kau datang ke tempat ini dan menghabiskan begitu banyak buku, kau baik-baik saja Nak."
"Aku pikir kau begitu bahagia duduk dan kursi ini menghabiskan waktu siang dan malammu, aku pikir kau suka rela mengikuti kemauanku."
"Hiks hiks, namun ternyata di balik semua itu kau menderita, mengapa tidak mengatakannya, mengapa tidak melawan apa yang aku kehendaki, mengapa?"
"Aku adalah Papa yang buruk, memang benar, karena aku sebenarnya tidak tau apa-apa tentangmu."
"Kau putraku, pewarisku, kebangganku, kesayangan kami, aku tidak ingin kehilanganmu, tapi kau tidak mau memberiku kesempatan."
Pak Adrian lalu menelpon orang kepercayaannya untuk menemuinya di ruangan itu, dirinya ingin mengatakan sesuatu.
Pak Adrian akan pergi jauh membawa kenangan buruk putranya, biarkan dirinya mengenang kesalahannya, biarkan dirinya yang tak termaafkan ini hidup dalam kesendirian, meski dirinya juga tidak mau melakukannya.
Supaya Jason bisa melepaskan dendam yang menggunung itu, supaya tidak ada lagi kebencian untuk Mamanya, dia sudah mengatakan pada Jason dan meminta tolong untuk jangan pernah mengabaikan Mamanya.
Biarkan istrinya itu bahagia meski Pak Adrian harus menanggung derita.
"Mila, aku tidak pernah meninggalkanmu, kau adalah rumahku, tempatku pulang, aku pergi supaya anak kita bisa menerimamu, aku tidak peduli jika seumur hidupku, aku harus di benci olehnya, namun kau tidak bisa menerima semua ini, kau adalah seorang Ibu, Jason pasti bisa menerimamu."
Pak Adrian berbicara pada foto yang masih terpajang rapi di meja, rasa sesak menyeruak di dadanya.
"Ya Tuan!" ucap salah satu orang kepercayaan Pak Adrian yang kini telah sampai di ruangan itu.
"Kemarilah Jo!" seru Pak Adrian.
"Ya Tuan!"
"Aku ingin kau mengantarkanku ke suatu tempat, jauh... Dan aku tidak tau kapan aku akan kembali, tolong kau kelola perusahaan kita, untuk berita kepergianku nanti kuharap kau bisa megurusnya, yang pasti jangan menyakiti jati istriku." jelas Pak Adrian. Ia sudah siap, pergi dengan membawa foto istri dan anaknya, sudah cukup baginya.
"Tuan..." ucap Jo, dirinya tidak bisa berkata apa lagi, sedih pasti yang Jo rasakan.
"Aku yakin kau bisa mengatasinya, aku serahkan kepemimpinan padamu, sebentar lagi perusahaan kita akan menjadi perusahaan biasa, berita bahwa Adrian bangkrut sebentar lagi akan menyebar kemana-mana, kalau kau tidak sanggup menjalankannya kau bisa menjualnya, jangan memilih bertahan hanya karena sebuah kesetiaan, aku sudah iklhas, semua kuserahkan padamu, aku ikhlas."
"Selama ini kau adalah orang yang paling dekat denganku, paling tau akan diriku, aku bangga punya asisten sepertimu!"
"Tidak Tuan, masalah jatuhnya perusahaan Adrian ini pasti bisa kita atasi, kita hanya kehilangan sebagian investasi, Tuan tidak akan menyerah begitu saja." ucap Jo, mimpi apa dirinya semalam bisa mendengar penuturan seperti itu dari Tuannya.
"Sayangnya aku memilih menyerah." ucap Pak Adrian yakin.
"Tidak Tuan, maaf kali ini aku tidak menuruti perintahmu, tidak... Jangan tinggalkan kami!" ucap Jo, ingin rasanya dia menangis karena baginya kehilangan Tuannya itu adalah hal yang paling menyakitkan, meski tidak ditinggal mati namun Tuannya akan pergi, dan dirinya tau seorang Adrian tidak akan bercanda.
"Kau harus menurut sama seperti sebelumnya, karena kau kebanggaanku."
*
*
*
Like, koment, dan vote.