Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Hotel (Yudha dan Weni)


"Sayang, ini coba sini!" seru Yudha, saat ini pukul 15:15 kota Berlin, sepasang anak manusia yang tengah melakukan foto prewedding itu nampak bahagia namun entahlah karena si wanita nampak mulai menekuk wajahnya.


"Capek!" keluh Weni, tadi saat belum dimulai sesi fotonya, dirinya lah yang sangat bersemangat, namun apa ini, wajah dengan riasan make up bold sesuai dengan tema yang preweddingnya yang klasik dan megah, membuat dirinya hampir mau menyerah. Dari atas kepala sampai ujung kaki rasanya sungguh sudah berat sekali.


Ini adalah tempat wisata ke tiga yang mereka datangi untuk sesi foto, ini benar-benar penyiksaan, kalau bukan karena cinta mungkin dirinya sudah angkat tangan.


"Ayok sayang, apa mau istirahat dulu?" tawar Yudha.


"Udahan aja ya sayang!" tawar balik Weni.


"Tapi kita belum foto di situ!" tunjuk Yudha pada jembatan dengan banyaknya gembok bertuliskan nama siapa saja yang menganggap diri mereka sebagai pasangan.


Begitupun Yudha, Yudha dan Weni juga melakukannya, mengunjungi tempat wisata romantis Frankfurt dan menuliskan nama keduanya di gembok Eiserner Steg Bridge, berharap cinta mereka akan abadi.


Dengan kepala dan hati yang berat, Weni mencoba mengangguk, tidak apa sekali seumur hidup baginya, nanti akan menjadi sebuah kenangan masa-masa pacaran mereka yang sangat singkat itu.


Tidak terbayangkan olehnya kalau dirinya dan Yudha bisa sedekat ini dan bahkan sebentar lagi menikah, Weni mengingat pertemuan pertamanya dengan pemuda itu, konyol, Weni tidak bisa menahan tawanya ketika memikirkan itu.


"Kenapa ketawa?" tanya Yudha, melihat gelagat aneh calon istrinya itu dirinya tidak bisa untuk tidak berkomentar.


"Tidak apa, hanya teringat sesuatu yang lucu." jawab Weni apa adanya.


"Apa?"


"Tidak ada!" jawab Weni, tidak mau bilang.


"Dih main rahasiaan nih, apaan sih?" selidik Yudha.


"Uda deh, ayok katanya mau foto!" ajak Weni, mencoba mengalihkan pembicaraan.


Yudha dan Weni kembali bergulat dengan pose, satu jam sudah akhirnya selesai kegiatan mereka, di tempat ke tiga itu tampak lebih singkat, selain karena Weni yang sudah mengeluh keletihan hal lainnya juga karena hari yang sudah semakin sore.


Yudha memutuskan untuk check in di sebuah hotel lewat ponselnya, makan malam romantis setelah seharian berkutat dengan gaya nampaknya bukan ide yang buruk.


"Kita mau ke mana sih?" tanya Weni saat mereka dalam perjalanan pulang, karena Yudha tidak mengendarai mobilnya menuju apartemen.


"ke hotel yuk!" ajak Yudha, sembari mengedipkan mata genit.


"Yudha!" pekik Weni spontan berteriak.


"Apa sayang!" sahut Yudha.


"Putar balik nggak!" titah Weni.


"Emangnya kalau nggak mau gimana?" tanya Yudha, dirinya santai saja.


"Kamu jangan macem-macem yah mentang kita udah mau nikah!" tegas Weni.


Yudha gemas sendiri melihat ekspresi ketakutan calon istrinya itu.


"Nggak macem-macem kok Yang, cuma satu macem doang!"


"Yudha!" pekik Weni.


Yudha tidak menghiraukan, dirinya cuek saja, tidak perduli dengan sang kekasih yang sudah menggeram frustasi.


Sampailah kini mereka pada sebuah hotel mewah, Yudha bahkan hanya memesan satu kamar untuknya dan Weni, pemuda itu ingin menghabiskan malam dengan kekasihnya, namun tentu saja dengan batasan yang masih wajar.


Yudha berjanji tidak akan macam-macam, dirinya hanya akan meminta kalau Weni sudah benar-benar menjadi miliknya, Yudha berjanji akan menghormati Weni sebagai wanita.


Namun lain halnya dengan Weni, dirinya malah mengutuk Yudha yang setelah dirinya ketahui hanya memesan satu kamar saja, sehingga itu berarti dirinya harus satu kamar dengan Yudha, padahal kalau di apartemen saja Yudha dua hari ini tidur di luar sementara dirinya tidur di kamar, sepertinya memang benar pacarnya itu berniat cari kesempatan.


"Kenapa? Ada masalah?" tanya Yudha tanpa dosa saat melihat wajah Weni yang ditekuk.


Sayangnya Weni tidak mampu lagi untuk protes, dirinya terlalu lelah karena kegiatan preweddingnya seharian penuh.


Setelah masuk kamar, Weni langsung saja membaringkan tubuhnya di ranjang, lelah dan kantuk sepertinya bekerja sama untuk membuatnya enggan bangkit lagi.


"Males..." lirih Weni, matanya sudah mau terpejam.


"Dih, jorok!" ejek Yudha, pemuda itu lalu mengambil bathrobe dari lemari kemudian masuk ke kamar mandi, membersihkan diri berharap lelahnya akan pergi.


Pelan Weni tidak bisa menahan matanya, wanita itu nampak menguap berapa kali, apa lagi ranjang hotel yang nyaman membuat dirinya bagai sedang dibuai.


Berhasil, Weni benar-benar tertidur.


Weni menggeliat kala merasakan sentuhan di tubuhnya, matanya mengerjap dan mendapati Yudha sudah berada di atas tubuhnya.


"Yudha..." pekik Weni, dirinya cukup kaget kala melihat Yudha sudah berada di atas tubuhnya, menindihnya dengan hanya berbalutkan handuk dibagian bawahnya, sehingga dada bidang itu bisa terlihat jelas oleh Weni.


Yudha tampak tersenyum puas, bagai pria bejat yang sudah berhasil membawa mangsanya, Yudha pun sama, dirinya juga sudah berhasil mengungkung Weni.


"Aku mencintaimu!" ucap Yudha pelan, pemuda itu lalu menyapu setiap inci wajah Weni dengan matanya, mengecup keningnya pelan, Weni merasakan gelenyar aneh yang dirasai tubuhnya, seperti ingin menolak namun tidak punya cukup tenaga atau yang sebenarnya dirinya malah terbuai.


"Yudha, jangan seperti ini!" ucap Weni pelan, namun Yudha tidak menanggapi, pemuda itu semakin gencar menciumi setiap inci wajah Weni.


"Kau milikku!" parau Yudha, mengatakan itu dengan hawa nafsu yang memuncak.


"Tapi Yud..."


"Sayang, mohon jangan menolakku!" ucap Yudha.


"Tidak Yudha, jangan lakukan, kita belum sah!" tolak Weni, mulutnya berkata demikian, namun tubuhnya tidak bisa menolak perlakuan Yudha.


"Aku mohon sayang! Aku benar-benar mencintaimu, percayalah aku tidak akan meninggalkanmu!" rayu Yudha.


Weni meneguk salivanya kelat, apa dirinya akan habis malam ini, apa Yudha benar-benar menginginkannya, akan melakukannya meski keduanya tau kalau mereka belum sah menjadi sepasang suami istri.


Weni menggeleng cepat, tidak jangan sekarang, lalu apa artinya nanti malam pertama saat hari pernikahan mereka. Malam spesial itu malah sudah di depe duluan oleh Yudha.


Lagi pun Weni masih takut akan dosa, dirinya tidak mungkin mengecewakan kedua orang tuanya, mengecewakan Tante Wina juga, tidak Weni tidak sanggup.


"Jangan Yud!" ucap Weni lagi mencoba menolak.


Mungkin ini kali ya namanya diperkaos pacar sendiri, eh tapi aku antara rela dan tidak rela sih, jadi apa namanya yah? pikir Weni masih sempat-sempatnya.


"Wen, aku mohon, kita akan menikah, bisakah kita melakukannya sayang?" tanya Yudha, matanya sudah diliputi kabut naf*u, sepertinya benar, Yudha memang benar-bebar menginginkannya.


"Yudha, aku tidak akan memaafkanmu!" ancam Weni, "Jika kau berani melakukannya, aku tidak akan memaafkanmu!"


"Silakan, tapi saat kita sudah melakukannya aku yakin kau hanya akan tunduk padaku!" ucap Yudha, matanya juga syarat akan ancaman.


"Tidak, tolong jangan Yudha!"


"Jangan, hiks hiks, aku mohon jangan!"


"Jangan lakukan itu padaku, jangan lakukan itu pada kita, tidak Yud, jangan ku mohon!"


Weni terus meracau, meminta Yudha melepaskannya. Karena hanya itu saja yang dirinya bisa lakukan, Yudha bahkan menindihnya hingga dirinya kesulitan untuk bergerak.


"Wen, Wen, hei sayang, Wen Weni..."


Bersambung...


*


*


*


Like, koment, and Vote !!!