
Benar saja, malam pertama ditempat asing ia lalui dengan haru, bagaimana tidak tengah malam Jacob yang sudah terbiasa akan kehadiran Papanya seakan merasa kehilangan.
Ia menangis histeris, hampir tidak bisa ditenangkan, Shirleen dan Jason memang tidur satu kamar setelah kelahiran Jacob, biasanya tengah malam seperti ini Jason akan menjadi papa siaga untuk bayinya, memberikan stok asi perah yang tersimpan di kulkas setelah sebelumnya sudah ia hangatkan, hingga Shirleen tidak perlu bangun karena sudah berbagi tugas dengan Jason, bagaimana mungkin ia bisa dengan mudah meninggalkan laki-laki yang sudah bagai seorang suami baginya. Laki-laki yang siap bertanggung jawab menjadi teman hidupnya.
Jacob pun sama, sudah bergantung pada papanya yang setiap malam rela begadang menemaninya, mungkin karena itu jualah Jacob tidak berhenti menangis saat ini. Shirleen mulai gusar sendiri, ia tidak tau harus bagaimana, badan Jacob sama sekali tidak panas, namun tangisnya tidak mau berhenti.
Karena kondisi yang memprihatinkan, Bi Ida menyarankan untuk membawa Jacob ke Bidan Desa, siapa tau saja telah terjadi sesuatu yang mereka tidak ketahui.
Shirleen menyetujui saran Bi Ida, Ipah segera mengemasi apa saja yang mereka butuhkan, dengan disupirkan Pak Ramli, Shirleen dan Ipah membawa Jacob ke Bidan Desa, sementara Bi Idah menjaga dan menemani Misca dirumah.
Bukan mudah, ternyata jarak antara rumahnya dan Bidan Desa lumayan jauh, dengan perasaan panik begitu rasanya begitu lama perjalanan yang ditempuhnya.
Setelah sampai Ipah langsung mengetuk pintu, ia juga sama cemasnya dengan sang majikan, bagaimanapun ia turut mengurus Jacob sedari hari pertama bayi mungil itu melihat dunia.
"Bisa lihat kartu keluarga dan BPJSnya" sayang sekali Bidan Desa yang tidak mengetahui siapa Shirleen memilih menanyakan identitas Jacob serta BPJS terlebih dahulu, karena menurutnya selama ini begitulah peraturan bagi layanan masyarakat setara desa sepertinya, ia ditugaskan membantu disini, dan kebanyakan rata-rata penduduk di desanya memang kurang mampu, walau ada yang mampu namun masih selalu bergantung dengan BPJS. Tidak heran ia menanyakan kartu itu terlebih dahulu.
Shirleen naik pitam, bagaimana bisa menanyakan identitas dan kartu berobat terlebih dahulu maka bayinya baru akan ditangani.
"Tidak ada, cepat tangani anak saya, kamu nggak liat anak saya udah nangis kejer kayak gini, setidaknya periksa dia duluan baru menanyakan hal lain" ucap Shirleen tersulut emosi.
Shirleen tidak pernah sama sekali berobat di tempat seperti ini, sekalipun tidak dirumah sakit ia hanya pernah berobat atau periksa ke klinik ternama. Ia bahkan tidak pernah melihat bagaimana bentuk kartu yang bernama BPJS itu.
"Baiklah Bun, saya akan periksa dulu" Bidan desa yang agak tersentak hatinya karena ucapan Shirleen tadi, ia tidak berani berkata lagi setelah mendapatkan tatapan tajam dari Shirleen.
Ipah dan Shirleen dengan telaten memegangi Jacob yang kini sedang diperiksa dan tetap dengan masih menangis histeris. Shirleen merasa bersalah jika benar alasannya karena ia memisahkan Jacob dari Jason.
"Bayinya baik-baik saja Bunda, badannya tidak panas, tidak sakit perut juga, apa kalian orang baru disini ?"
"Iya, baru tadi sore kami datang"
"Tidak, papanya masih ada pekerjaan di kota, jadi papanya tidak ikut kami kesini" ucap Shirleen melemah, kini sedikit banyak ia sudah mengetahui alasannya.
"Uuhh, kangen Papanya ini dek yaa" ucap Bidan itu manja pada Jacob.
"Saya sudah beri dia obat, reaksinya akan membuat dia mengantuk, apa biasanya kalau malam ia suka ditemani Papanya ?" lanjutnya lagi.
"Iya, hampir tiap malam papanya yang jagain dia"
"Nah itu dia, saran saya suruh papanya kesini kalau bisa" Bidan Desa itu tidak mengetahui asal Shirleen dari mana, ia pikir Shirleen hanya orang yang berkunjung kerumah saudaranya dan suaminya tengah dinas di pusat kota daerah ini.
"Tidak bisa" ucap Shirleen cepat, sehingga membuat kening bidan tersebut mengkerut.
"Maksud nona Shirleen, papanya Den Jacob tidak bisa datang dalam beberapa hari ini, Tuan tidak bisa meninggalkan pekerjaannya" ucap Ipah membetulkan ucapan Shirleen, ditambah bumbu-bumbu kebohongan.
Nona mudanya pasti tengah memikirkan tuan muda pikirnya.
"Apa ada cara lain Bu Bidan ?" Tanya Ipah lagi.
"Kalau punya baju Papanya coba di dekatkan padanya, suruh dia mainin, biasanya cara tradisional seperti itu bisa sedikit membantu" ucap Bidan Desa.
Shirleen ingat, ia sempat mengambil baju kotor Jason dikeranjang laundrynya, ia ingin mengendus wangi khas kekasihnya itu sewaktu-waktu rasa rindunya tidak lagi bisa dibendung. Ia melihat Jacob yang kini tengah pulas karena efek obat.
Mama juga rindu Papa dek...
Bersambung...
Like, koment, gift, dan vote.