
Shakira masih mencoba mendekati Roy, begitulah ia, putus asa bangkit lagi, kecewa lalu semangat lagi, meski berkali-kali seakan tak terbalas namun karena ia merasa yakin sekali bahwa malam itu Roy benar-benar menyatakan lamaran padanya, ia tetap akan berpihak pada satu rasa saja yaitu cinta.
"Apa kau tidak punya pekerjaan lain selain menggangguku ?" tanya sinis Roy. Shakira, wanita itu pagi-pagi sekali sudah berada di rumahnya, membuatkan sarapan yang katanya dibuat dengan cinta, beruntung Roy hanya tinggal sendiri, karena orang tuanya berada di desa yang lumayan jauh dari kota.
Jangan tanya bagaimana Shakira bisa masuk, mau di kunci sekalipun itu tidak akan berguna karena Shakira sama saja dengan Jason pernah mempelajari tutorial menjadi maling yang handal.
"Tidak ada" ucap Shakira. Saat ini ia memang sedang menjadi pengangguran kaya raya, ia tidak perlu lagi bekerja mencari rupiah, dengan seluruh kekayaan yang ia miliki sekarang bahkan tidak akan habis meski sampai turunan ke tujuhnya kelak.
"Heeehh" desah berat Roy, seberat perasaannya pada Shakira.
"Roooyyy" panggil Shakira manja.
Roy bergidik ngeri, ia sungguh tidak bisa melihat Shakira yang terlalu manja padanya, tapi ia bisa apa karena ia pun juga mulai menyadari kalau ia juga memiliki perasaan lebih terhadap Shakira, hanya saja ia yang waras ini seakan menampik semua itu.
"Shakira... Kau tau, semua yang kau lakukan pasti akan sia-sia, aku tidak akan bisa membalas..."
"Suutt shhuuttt shuutt" Shakira menahan bibir Roy dengan tekunjuknya "Jangan katakan itu, kalau kau benar-benar tidak punya perasaan padaku, seharusnya kau benar bisa bersikap biasa saja, kau menjauh dan menolak semua perlakuanku ini karena sebenarnya kau tidak ingin jatuh cinta padaku kan, padahal di sini, Shakira sudah menempati sebagian tempat disini" ucap Shakira sembari menunjuk dada Roy. Maafkan Shakira yang memang sudah tergila-gila dengan pria bermata sipit nan ganteng itu.
Roy menetralkan jantungnya yang mulai berdetak tidak sesuai irama, disentuh oleh Shakira adalah pengalaman yang buruk baginya Ia bahkan terdiam tidak bergerak saat ini, tubuh dan lidahnya kaku, rasa itu memang sudah ada untuk Shakira sehingga tubuhnya bisa merespon seperti ini.
"Katakan, katakan dengan bibir ini, kalau kau memang tidak punya sedikit rasa untukku" Shakira kembali menunjuk bibir Roy.
"Mata ini tidak pernah melihatku dengan cinta" kali ini telunjuk Shakira beralih ke mata.
Kesempatan tidak datang dua kali, saat Roy bak patung yang sudah pasrah diperlakukan seperti apa, Shakira berniat menyatakan perasaannya.
"Lalu otakmu ini tidak pernah memikirkan diriku sekali saja" beralih lagi ke kepala Roy.
"Kalau kau bisa mengatakan "tidak" dengan sangat jelas, mungkin akan ku pertimbangkan untuk menyerah" tantang Shakira.
Sementara di sebuah pusat perbelanjaan.
"Shirleen..."
Shirleen menoleh, ia memicingkan matanya mencoba mengenali siapa yang memanggilnya barusan.
"Ini aku Erni, ih udah lama banget yaaa, ini anak kamu yaaa" ucap Erni yang kini sudah mencomot pipi chubby Jacob, dan kini Shirleen mulai ingat bahwa wanita yang memanggilnya itu adalah teman masa SMAnya dulu.
Tidak akrab namun kenapa bisa sok kenal, bukannya ia dulu pernah mendengar gosip bahwa si Erni ini tidak suka padanya.
"Iya udah lama, gimana kabarnya ?" ujar Shirleen mencoba berbasa basi.
"Baik, kamu gimana ?"
"Aku baik juga, alhamdulillah"
"Ah iya Len, katanya kamu nikah sama Athar pacar kamu dulu yaaa yang kita pernah ketemu di cafe dulunya itu, aku turut prihatin yaaa atas kasus yang menimpa suamimu, yah begitulah hidup Len, kadang ada pasang kadang surut juga kan, tapi kamu sabar dan jangan khawatir kalau kamu butuh modal usaha ini nomor aku, aku bisa percepat kok kalau kamu mau pinjam" ucap Erni, menawarkan brosur pinjaman modal usahanya pada Shirleen.
"Tapi..."
"Udah nggak usah sungkan-sungkan, santai ajah kalau sama aku, berapa sih maunya, lima puluh, seratus, aku bisa lah kalau cuma buat kamu" ucap Erni sedikit dibumbui dengan kesombongan.
"Ah iya, makasih yaaa" ucap Shirleen, ia malas berdebat, lagian untuk apa menjelaskan pada temannya ini siapa dirinya, biarlah temannya berpikiran sesuai porsinya.
"Heemm, eh simpan itu nomornya, jadi mau minjam berapa ?" tanya Erni antusias.
"Eemm, belum mungkin lain kali saja" tolak halus Shirleen.
"Aaahh apaan sih gak usah sungkan, kamu pasti mikirin gimana bayarnya yaaa, ayolah bunganya juga nggak gede-gede banget loh Len, cocoklah buat ekonomi menengah kebawah kayak kamu" ucap Erni semakin meremehkan.
Shirleen hanya bisa geleng-geleng kepala, entah apa yang akan terjadi jika Erni mengetahui siapa Shirleen saat ini.
Shirleen memang berpenampilan biasa saja, karena dari atas sampai bawah ia mengenakan pakaian yang biasa saja, namun jangan di tanya harganya, hanya saja orang awam seperti Erni tidak akan pernah tau kualitas dan list harga barang apapun yang dikenakan Shirleen saat ini.
Yang Erni tau dan lihat Shirleen hanya mengenakan celana jeans selutut dengan atasan baju kaos V neck berwarna putih tulang, di tangannya Shirleen tenteng sebuah tas yang lumayan besar yang bisa Erni tebak isinya pasti peralatan dan kebutuhan anak Shirleen yang masih bayi.
Kereta dorong Jacob juga nampak biasa saja, meski sebenarnya nilainya begitu fantastis.
Shirleen memang sudah cantik sedari dulu, sayang sekali Erni harus mengakui itu, jadi mahal atau tidaknya barang yang Shirleen kenakan tidak akan membuat Erni silau, ya karena dia tidak mengetahui harganya sehingga ia anggap biasa saja.
"Kamu tinggal dimana sekarang ?"
"Aku..."
"Ah maaf yaaa, pasti pertanyaan aku bikin kamu sedih yaaa, gak usah di jawab kalau emang nggak sanggup, yang sabar ya Len, aku yakin kamu bisa bangkit lagi" Belum sempat Shirleen menjawab, ucapannya sudah di potong lagi.
"Bukan gitu, aku..."
"Ah iya Len, ternyata ganteng aja nggak cukup ya, aku beruntung banget bisa kawin sama suamiku, meski duda anak tiga dan umurnya jauh lebih tua, tapi hidupku di jamin nggak akan melarat" mengoceh dan terus mengoceh apa saja membandingkan hidupnya dengan Shirleen yang sebenarnya tidak ia ketahui sedikitpun.
Ia hanya menarik kesimpulan bahwa Shirleen menikah dengan Athar Adijiandanu, yang ia ketahui bekerja di ASA Group, dulunya ia sangat iri, karena suami Shirleen, Athar itu menurutnya sangat ganteng, dan lagi sudah bekerja di ASA Group pula, sangat meresahkan untuk wanita pengidola pria tampan sepertinya,sementara ia harus menikah dengan duda anak tiga serta umurnya yang sudah tua bahkan boleh dibilang sudah aki aki.
Dulu Erni memang punya dendam dengan Shirleen semasa sekolah SMA, ia yang di sebut-sebut kalah cantik dengan Shirleen yang waktu itu adalah murid baru di sekolahnya, merasa tersaingi kala para cowok di sekolahnya tidak ada satupun lagi yang mengidolakannya, ia berencana membuat perhitungan pada Shirleen namun rencananya selalu gagal, dan kali ini ia merasa sangat menang bisa mempermalukan Shirleen yang menurutnya sudah bangkrut.
Kamu udah kalah Ilen...
Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...
Happy reading !!!