Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Rumah Sakit.


Shirleen saat ini sedang menunggu detik-detik kelulusan siswa siswi SMA Guna Bhakti, Ia harus mengambil amplop untuk Yudha juga, karena tadi Afik mengabarkan sesuatu musibah yang terjadi, Yudha dikabarkan kecelakaan.


Jadi Mama Wina langsung saja pergi menuju rumah sakit, sehingga untuk kelulusan Yudha juga diwakilkan padanya.


Sebenarnya Mama Wina sudah berapa kali dihubungi seseorang yang ternyata salah satu kliennya, namun karena ia masih di dalam ruangan tadi ia mensilentkan ponselnya, lagi pun Mama Wina terlalu asyik bercerita apa saja dengan Shileen sehingga tidak menyadari ada yang menghubunginya sedari tadi.


Shirleen hanya bisa mengelus dadanya pelan saat mendengar kabar dari Afik, coba saja Mama Wina tidak terlalu asik merumpi pasti Mama Yudha itu seharusnya menyadari bahwa Yudha belum juga datang, yah meskipun di ruangan tersebut juga minim ketiga sahabat Yudha yang juga termasuk suaminya sih.


Ah sudahlah mungkin Mama Wina orangnya memang seperti itu, Shirleen saja tadi sampai kualahan mendengar ocehannya.


Setelah dinyatakan bahwa siswa siswi SMA Guna Bhakti lulus 100%, dan nama Jason dan Yudha dipanggil segeralah ia pergi meninggalkan ruangan serba guna tersebut, ia akan menuju ke Rumah Sakit juga.


Diperjalanan ia teringat akan Weni, yah mungkin sahabatnya itu belum tau apa yang telah terjadi dengan Yudha, perlukah ia memberi tau Weni, ah ya beri tau saja toh sebegai bentuk kepedulian sesama manusia.


"Kamu dimana Wen ?"


^^^"Baru nyampe Butik ini, kenapa ?"^^^


"Anu, eem cuma mau ngasih tau, si Yudha masuk Rumah Sakit, kecelakaan katanya."


^^^"Hah."^^^


"Si Yudha, masuk Rumah Sakit, katanya kecelakaan, kalau mau nengokin, dia dibawa ke Rumah Sakit Utama yang di arah belokan jalan Z itu."


^^^"Eem, oh iya nanti aku juga kesana, kamu dimana itu ?"^^^


"Aku lagi di jalan ini, mau kesana juga, kamu kalau mau pergi, nyusul aja."


^^^"Iya iya, nanti aku nyusul ya, makasih infonya Len."^^^


"Iya sama-sama."


Tidak lama Shirleen pun sampai, ia segera menghubungi suaminya untuk menanyakan dimana Yudha ditangani, setelah mengetahui lalu ia bergegas menuju tempat yang disebutkan Jason.


"By..." ucap Jason saat sudah melihat kedatangan istrinya.


"Gimana Yudha ?" tanya Shirleen.


"Masih ditangani, tangan kanannya patah, yang lainnya sih cuma luka aja kata Dokter, kamu sama siapa ?"


"Sendiri, nanti aku balik, mau nengokin bentar ini." ucap Shirleen.


Shirleen melihat keadaan Yudha yang sedang ditangani dokter dari balik kaca, ia merasakan nyeri kala melihat dokter membenahi luka Yudha yang ternyata memang lumayan parah.


"Tante..." seru Shirleen pada Mama Wina.


"Len, Tante merasa bersalah banget, ternyata salah satu klien udah puluhan kali nelponin tante, tapi nggak kena angkat sama tante." jelas Mama Wina.


"Dia saksi kejadian, katanya pas tau yang kecelakaan si Yudha dia langsung hubungin tante, tapi tante nggak tau sama sekali." sesal Mama Wina lagi.


"Udah lah tante, sekarang kita berdoa aja supaya Yudha baik-baik aja." ucap Shirleen menenangkan Mama Wina.


"Baik-baik aja gimana Len, Yudha udah kecelakaan." sanggah Mama Wina.


"Ya itu, semoga nggak ada yang terlalu serius lukanya, semoga Yudha baik-baik aja, cuma luka ringan." jelas Shirleen.


"Ah iya bener bener, semoga aja ya Tuhan anakku."


Shirleen menggelengkan kepalanya pelan, bisa-bisa aja doanya dikoreksi saat genting begini.


Lalu ia memilih untuk duduk di samping Jason.


"Gimana ?" tanya Jason padanya.


"Apanya ?"


"Iya 100%, bukannya sekarang udah biasa lulus 100%, gak kayak zaman aku dulu, pasti masih ada yang gak lulus, nganterin surat kelulusannya juga lewat pos, bikin deg degannya nambah, sekarang mah enak dari rumah juga udah tau hasilnya." ucap Shirleen.


"Itukan zaman kamu, udah lama banget, masih jadul" ucap Jason.


"Sialan bilang jadul" protes Shirleen.


"Lah emang jadul kan." ucap Jason tidak mau kalah.


"Ini dikasiin sama Mamanya Yudha atau kamu aja yang pegang ?" tanya Shirleen sembari memberikan dua amplop kelulusan yang belum juga ia buka.


"Biar aku aja," ucapnya pada Shirleen. "Fik taruh ini di mobil due dong." perintah Jason pada Afik yang masih memainkan ponselnya, ia sedang membalas chat Angga, karena Angga sedang pulang sebentar.


"Yah Junedi, suruh bini lo napa ?" tolak Afik, namun tetap juga menurut.


"Kamu tuh suka seenaknya deh By, ini kan ada tas aku, tarus di tas aku aja dulu kan bisa, aku itu tadi ngasiin itu kali aja kamu mau buka amplopnya, atau mau dikasiin ke tante Wina yang punya Yudha misalnya" gerutu Shirleen, matanya menatap punggung Afik yang semakin menjauh, sungguh besar toleransi dalam berkawan untuk sahabat suaminya itu.


"Biarin, dia lagi rajin." ucap Jason santai.


Dretttt drettt drettt, dering ponsel Shirleen berbunyi, Shirleen melihat Weni yang menelpon, ia pun segera mengangkat telpon sahabatnya itu.


^^^"Kamu dimana Len ?"^^^


"Di ruang ICU, kamu langsung kesini aja."


^^^"Ya udah, aku kesana."^^^


"Siapa ?" tanya Jason langsung.


"Weni." jawab Shirleen.


"Weni temen kamu itu ?" tanya Jason lagi.


"Iya, Weni mana lagi ?"


"Nyambung juga ternyata, ada jalan ya ?" tanya Jason lagi.


"Udah nginep, temen kamu emang nekat, sama kayak kamu gak jauh beda, suka ngeselin ?" jawab Shirleen.


"Tapi cinta kan ?" genit Jason mengedipkan sebelah matanya.


Bibir Shirleen mengerucut, boleh saja ia tidak setuju akan pernyataan Jason, namun dalam hatinya tentu saja membenarkan, memang karena kenekatan sang berondong dihadapannya inilah akhirnya ia bisa membuka hati lalu mencintai suaminya itu.


Jason menggandeng leher Shirleen erat dengan tanganya sehingga membuat Shirleen merasakan sedikit tercekik, Jason gemas sekali dengan ekspresi istrinya itu.


Beberapa orang yang terdeteksi berada didekat situ malah bisa melihat dengan jelas keuwuan mereka berdua, Jason memang tidak menggunakan masker saat ini, ia tidak perduli, baginya tidak untuk apa lagi di tutupi, hubungannya dengan Shirleen sudah jelas, dengan undangan pernikahannya saja yang sudah beredar di media sosial saat itu, sudah bisa memperjelas bagaimana akadnya sudah diselenggarakan empat bulan lalu, jadi ia memang sudah nenikah dengan Shirleen sebelum acara resepsi mereka.


Memang ada sebagian yang nyinyir, namun bukan Jason namanya kalau harus memperdulikan hal semacam itu, mana mau tau dia, kayak nggak ada kerjaan aja menurutnya.


Pun dengan Shirleen, yang sudah dibekali prinsip yang sama dengannya, sebelum go public Jason sudah memberikan peringatan pada Shirleen untuk jangan pernah menanggapi komentar pedas julid netizen, biarlah orang mau bilang apapun tentang sang istri, dirinya ataupun pada pernikahan mereka, cukup melangkah kedepan bersamanya saja.


Jason juga sudah mendaftarkan pernikahannya dengan Shirleen pada kantor Pengadilan Agama, sebentar lagi mungkin akta nikah mereka akan keluar.


Jadi ia tidak perlu lagi sungkan untuk memperlakukan Shirleen selayaknya seorang istri di hadapan umum, kalau adapun yang keterlaluan menanggapi hubungannya dengan Shirleen, Jason masih siap kumat kapan saja jika hanya untuk membuat orang lain menderita, ah Jason Ares Adrian masih orang yang sama, hindari dan jangan pernah mengusik kehidupannya.


Bersambung...


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...


Happy reading !!!