Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Tidak mungkin dia.


Hari ini Jason terlihat uring-uringan, tangannya mengepal kuat, bahkan gelas yang ia remas kuat pun pecah melukai tangannya. Darah segar mengalir namun itu bukan apa-apa baginya, hanya luka kecil yang tak berarti untuk seorang penyiksa manusia sepertinya, darahnya mendidih melihat sebuah kenyataan yang ia temukan didalam perusahaannya.


Produk yang ia luncurkan baru saja dibajak oleh perusahaan lain, dan anehnya entah bagaimana caranya media memberitakan bahwa perusahaannyalah yang memplagiat produk dari perusahaan lain. Apa-apaan itu mencuri ide orang lain sama sekali bukan seleranya.


Roy sedang mengurus segalanya, siapa dalang dari sebuah masalah ini. Karena kasus yang menimpanya itu kerugian pun mencapai angka belasan triliun rupiah.


"Heh, tikus mana lagi yang mau mencari mati kali ini"


"Tidak mungkin dia kan"


Jason masih diruangannya, Papanya sudah menelpon untuk membicarakan masalah ini, dan mengajaknya mengadakan rapat pertemuan, namun Jason mengatakan ia bisa menyelesaikannya sendiri.


Tadinya ia sudah membahas kejadian ini pada seluruh petinggi di perusahaannya, dan ia pun juga sudah mengintrogasi mereka satu persatu termasuk Roy, mengapa hal ini bisa terjadi, apakah ada penghianat yang menyebabkan kebocoran produk yang sama sekali belum mereka perkenalkan, lalu dimana kesalahannya, ia sudah melihat setiap pasang mata dari rekannya, namun semuanya bungkam dan enggan mengakui.


Dari bahasa tubuh, sebenarnya Jason sudah mengetahui siapa dalang dari masalah yang tengah terjadi ini, namun ia diam saja karena hatinya sulit untuk menerima dan percaya.


"Gue rasa tikus yang lain, bagaimana bisa dia yang melakukannya, bukannya dia sudah tau apa konsekuensinya jika berani bermain dibelakangku"


Sore itu juga Roy memberikan map berisi berkas laporan tentang kasus yang tengah menimpa perusahaannya, Jason mengamati dan membaca dengan teliti, sebuah perusahaan baru yang didirikan sekitar enam bulan yang lalu, namun mempunyai dukungan yang sangat mumpuni menurut perkembangannya yang pesat sekali.


Ia lalu mencari sendiri informasi tentang perusahaan baru itu, dan mengejutkan sekali diluar dugaannya perusahaan asing itu ternyata fiktif, bagaimana bisa Roy memberikan informasi tidak berguna seperti ini batinnya.


Ia terdiam, mencoba fokus dalam mencermati setiap masalah. Ia menelusuri setiap kejadian secara detil, menggabungkan titik demi titik masalah yang ada, mengkaji semua ulasan, dan memperhitungkan cara kerja rivalnya kali ini, satu hal yang dapat ia simpulkan lawannya kali ini cukup berpotensi.


Ia menelpon seseorang, untuk mengecek sebuah kebenaran yang harus ia luruskan.


"Darwin, kau pergilah bersama Ben ke alamat yang aku kirimkan, cepat... aku tidak bisa kehilangan uang sebanyak itu karena dirampok seorang pengecut"


^^^"Baik Tuan"^^^


Kini ia tinggal menunggu hasilnya, ia memanggil Roy kembali keruangannya.


"Ya Tuan Muda..." ucap Roy saat sudah tiba diruangannya.


"Kau tau, jika orangku berhianat akan seperti apa nasibnya" ucap Jason dingin.


"Tau tuan Muda, maaf apakah pelakunya orang yang Tuan Muda kenali" jawab Roy.


"Aku sudah mengetahui dalang dari masalah ini, yaaa bisa dibilang begitu, aku cukup mengenalnya" ucapnya dengan menatap tajam asisten pribadinya itu, sementara jarinya masih betah memainkan pulpen, namun beberapa detik kemudian entah bagaimana caranya mata pena itu hampir saja mendarat mengenai mata Roy, meluncur terarah tepat disamping mata Roy.


Jika bukan Roy yang berhadapan dengannya, heh, manusia jenis apa yang tidak akan kencing dicelana jika dihadapkan dengan kondisi level gila semacam ini.


"Benarkah Tuan Muda, secepat itu ? Lalu siapa pelakunya ?" ucap Roy lagi, ia berusaha tenang walau ia sudah biasa menghadapi tikus tikus yang bermasalah namun kali ini tatapan tuan mudanya seolah bagai pedang yang siap menghunus jantungnya


"Kau siapkan saja segalanya, aku sudah lama tidak membau nikmatnya darah segar" ucap Jason lalu berlalu pergi meninggalkan Roy yang masih berdiri mematung di depan meja kerjanya.


Roy mempersiapkan segalanya sesuai permintaan tuan mudanya, walau ada keganjalan dalam hatinya namun ia tetap profesional dalam bekerja.


Jason melajukan mobilnya hendak menemui Darwin, dalam hatinya ia masih berharap bahwa penemuannya tadi salah.


Lain halnya dengan seorang pria yang tengah menatap takjub hasil kerjanya, kini hidupnya telah berangsur kembali normal sedia kala, tanpa istri yang membebaninya dengan sakit yang tak kunjung sembuh, sekarang ia begitu menikmati hidupnya dengan sang buah hati.


Dimana janjinya yang akan berhenti jika yang ia butuhkan sudah tercukupi, ia bahkan meraup keuntungan dengan nilai yang tak tanggung-tanggung.


"Ini baru pencairan tahap satu, sudah sebanyak ini, bisa kaya mendadak aku"


Masih ada pencairan tahap ke dua dan tiga yang siap memberikan pundi-pundi rupiah padanya, bahkan dengan keuntungan yang ia dapat seharusnya ia sudah bisa membayar lunas hutangnya pada perusahaan.


Ia berniat untuk membeli sebuah rumah mewah untuknya dan Fahira, ia berpikir jika suatu hari nanti rumah yang ia tempati ditarik perusahaan karena telah ia gadai sebagai jaminan, maka ia tidak akan repot harus pindah kemana natinya.


Senyum lebar pun enggan menyingkir dari bibirnya, ia menatap tak percaya dengan gendutnya rekening pribadi miliknya.


"Andai aku dulu tak mengikuti saran Rudi, entah bagaimana jadinya"


Bersambung...


Like, koment, gift, dan vote


Happy reading !!!