Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Aku yakin kau bisa berubah By...


Jason menggenggam erat tangan Mamanya, dikecupnya berapa kali berharap Mamanya akan terbangun dari mimpi.


Sesekali Mama Mila masih mengigau memanggil Jason, namun tidak terlalu berulang seperti tadi.


"Aku di sini Ma!" seru Jason. Bagaimana bisa wanita paruh baya yang pagi tadi masih baik-baik saja mendatanginya di kantor, namun saat ini malah terbaring lemah.


"By, yang sabar ya!" ujar Shirleen.


Jason menunduk, entahlah apa yang tengah dirinya rasakan saat ini, menyesal namun rasanya masih ada kebencian yang mengganjal, namun dirinya juga tidak mau Mamanya menjadi seperti itu.


"Bahkan Adrian sudah menghubungiku berapa kali, tapi aku mengabaikannya, aku kira..."


"By... Shuttt, sudah jangan dibahas, segala hal yang akan membuatmu sakit, jangan dibahas lagi, kini ada Mama yang membutuhkanmu, dan juga Papa. Kalau bisa, bagaimana kalau..."


"Jangan lakukan itu By, dia sudah pergi!" Jason ternyata masih tetap pada pendiriannya.


"Pergi menjauh darimu, tapi sebenarnya dirinya tidak kemana-mana kan?" tanya Shirleen. Dirinya yakin, meski suaminya itu mencoba menerima apa yang telah diputuskan, namun dalam hati masih saja ada ketidakselarasan.


"Jangan dipaksakan jika tidak sanggup By, di sini akan sangat kesakitan." ucap Shirleen, ia membelai lembut dada Jason, mengisyaratkan bahwa sesak pasti sedang dirasakan Jason saat ini.


"Aku..." Jason mulai meragu, entahlah mungkin pertahanannya mulai goyah.


Shirleen memilih untuk memapah Jason menuju sofa, dirinya akan memberi sedikit pengertian pada suaminya, kadang ada kalanya kita harus mengalah supaya kita bisa tetap waras menghadapi kenyataan.


Shirleen duduk dan menyuruh Jason berbaring di pangkuannya.


"Kita bercerita sedikit, mungkin masalah hidup kita tidak sama, kau begitu membenci orang tuamu karena mereka memperlakukanmu secara tidak adil. Sedang aku, aku tidak membenci tapi aku terpaksa harus pergi waktu itu."


"By, tidak ada sedetik pun aku lewatkan tanpa mengenang kedua orang tuaku, saat aku memutuskan pergi meninggalkan rumah waktu itu." Shirleen membelai lembut rambut suaminya.


"Yang aku lakukan adalah menganggap diriku benar, tapi bukan berarti aku menganggap orang tuaku salah. Aku hanya mengikuti kata hatiku, semua yang ada di pikiranku tentang Mas Athar waktu itu bagiku sudah sangat benar."


"Jangan menyamakan aku dengannya." ucap Jason.


Masih sempatnya cemburu... Posesif.


"Aku tidak menyamakanmu dengan Mas Athar By!" helaan nafas terdengar, Jason pastilah sedang menahan cemburu saat ini.


Lagi pula bisa-bisanya Shirleen membahas Athar saat dalam keadaan begini.


"Sebut-sebut namanya tadi apa maksudnya?" tanya Jason, namun dengan nada lembut, sepertinya Jason sedang tidak punya tenaga untuk marah.


"Iya aku minta maaf, maksudku begini, seperti orang tuaku yang tidak pernah menyetujui pernikahanku dengan Mas Athar, mereka melakukan itu pastilah ada tujuannya meski sampai hari ini pun aku tidak tau. Tapi enam tahun kemudian aku bercerai, apa yang mereka takutkan terjadi, Mas Athar seakan membuangku."


"Begitu juga Papa, Papa melakukan itu pastilah ada sebab dan tujuan, yah meski rupanya tanpa sengaja menyakiti hatimu. Dengarkan aku, kalau saja kamu bisa mengambil sisi positifnya, kamu pasti bisa meredakan dendammu By, meski itu tidak semerta-merta hilang begitu saja."


"Aku tidak menyukai kau bicara begini." keluh Jason.


"By... Kau memang sudah menjadi orang tua, namun belum pernah membesarkan anak sepenuhnya, jangan terlalu menghakimi, kita tidak pernah tau kedepannya apa yang akan terjadi pada keluarga kita, apa lagi Jacob bukan anak kandungmu, meski kau tidak pernah membedakan kasih sayangmu tapi percayalah, hubungan darah itu kental, ada darahmu mengalir di sini." ujar Shirleen, dirinya mengambil tangan suaminya untuk mengusap lembut perut buncitnya itu.


"Kita tidak bisa terlalu menyalahkan seseorang meski dalam penglihatan, orang itu tetap salah. Kau akan menjadi orang tua dari yang benar-benar darah dagingmu sebentar lagi, apa kau yakin bahwa kau akan menjadi orang tua paling sempurna, orang tua yang tidak akan pernah menyakiti di sepanjang hidup anak-anakmu nanti? By, berbuat salah itu manusiawi, tidak ada kita manusia di muka bumi ini yang bebas dari namanya salah, entah itu kecil ataupun kesalahan besar, itulah sebabnya Tuhan menciptakan kata maaf, untuk mengimbangi kata salah."


"Ikhlas, rela, itu memang sulit, tapi ada kalanya kita harus mencoba, supaya hati kita bersih dari dendam, mengurangi sedikit dosa yang setiap hari semakin bertambah. Lihat aku, apa aku pernah dendam dengan orang tua ataupun saudara-saudara Mas Athar? Tidak kan, meski kau tau mereka memperlakukanku bagaimana, tapi aku ikhlas, aku serahkan semuanya pada Tuhan, Dia adalah hakim yang paling adil, aku tidak akan membalas, tapi percayalah Tuhan akan selalu bersamaku dan membalaskan perbuatan mereka, baik di dunia ini ataupun kelak nanti di akhirat."


"Aku bukan malaikat By..." ucap Jason, matanya tertutup kala merasakan lembutnya belaian sang istri di kepalanya.


Jason memang keras hati, apa lagi sudah benci, baginya tidak semudah itu untuk memaafkan dan melupakan semuanya.


Shirleen sampai kesal di buat Jason, jadi untuk apa dirinya mengoceh memberi pengertian sedari tadi, kalau Jason masih tetap pada pendiriannya. Ah sudah lah tak apa, yang penting sudah berusaha.


"Baiklah jika itu maumu, aku sebagai seorang istri akan selalu mendukung apapun keputusanmu, aku hanya mengingatkan pesan Papa sebelum beliau pergi, jangan pernah mengabaikan Mama lagi, kau sudah berjanji untuk itu, jadi aku harap untuk Mama di sini seharusnya tidak ada lagi benci." ucap Shirleen menunjuk dada Jason lagi, padahal hati bukan disitu tempatnya, tapi selalu diibaratkan begitu.


Jason diam saja, dirinya sebenarnya terenyuh kala mendengar segala penuturan istrinya, meski berat namun hatinya tergerak dan ada kemauan untuk mencoba.


Tapi berhubung dirinya adalah Jason, seseorang yang tidak akan semudah itu ditaklukan, maka Shirleen bagai sia-sia melakukan itu semua.


Shirleen melihat ke arah ranjang Mama Mila, mertuanya masih terlelap dengan infus di tangannya, raut wajahnya seakan penuh beban, Shirleen yang melihatnya sungguh tidak tega.


Aku akan berusaha Ma, untuk membuat keluarga kita kembali utuh, Mama bersabar sebentar yaaa.


Jason nampak tertidur di pangkuan Shirleen, malam semakin beranjak naik, Shirleen mengirimkan pesan pada Mamanya untuk bisa menyuruh Papanya menjemput Ipah, Misca, dan Jacob di rumahnya, dirinya akan menemani sang suami di rumah sakit menjaga mertua.


Shirleen membelai lembut puncak kepala suaminya.


Bagaimana kau bisa setangguh ini By, bagaimana kau bisa melewati semua ini, hidup dalam ketidaknormalan, aku sebenarnya juga ingin marah tapi sayangnya itu bukan sifatku.


Aku yakin kau seperti ini karena kurangnya pembelajaran dari orang tuamu tentang bagaimana menyikapi hidup, sehingga kau selalu mengikuti apapun kemauanmu, bertindak sesuka hatimu.


Aku yakin, kau bisa berubah By...


*


*


*


Like, koment, dan vote !!!