Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Banyaknya calon eksekusi.


"Erni, kau sadar apa yang kau katakan?" tanya Shirleen tidak percaya.


"Iya, sangat sadar, aku begitu membencimu, jadi berhenti bersikap baik padaku karena semua itu hanya akan sia-sia." ucap Erni, ia hendak melayangkan tamparan untuk Shirleen namun sayangnya tangannya menggantung kala seorang wanita menahannya.


"Lepas!" ucap Erni, ia akan menghabisi Shirleen, yah ia sudah berjanji pada dirinya jika dirinya hancur, Shirleen juga harus hancur meski harus menukar hidupnya pada Jason Ares Adrian, suami Shirleen bak iblis itu.


"Aku hanya mencegah supaya keadaan tidak semakin buruk, sudah cukup." ucap si wanita.


"Kakak bisa pergi, orang seperti Mbak ini memang sulit ditenangkan, jika hatinya sudah penuh dendam mungkin hanya butuh karma untuk membuatnya sadar."


"Tidak apa," ucap Shirleen, "Erni, aku tidak ingin kita bermusuhan, hiduplah dengan baik, jangan melimpahkan kesalahan pada orang lain, seseorang kalau sudah berselingkuh, atau terang-terang sudah mencampakan kita untuk apa dipertahankan, kalau sudah seperti itu mungkin dengan jalan perceraian memang lebih baik, kau bisa kembali hidup dengan baik tanpa makhluk yang bernama suami, bagiku kau hanya perlu menerima, selebihnya biarkan Tuhan yang mengatur segalanya." ucap Shirleen menasihati.


"Terimakasih ya untuk kamu, sudah menahannya." ucap Shirleen pada si wanita.


"Iya kak!"


"Jangan sok suci Ilen, cuih aku tidak akan pernah melupakan apa yang telah kau dan suamimu lakukan pada keluargaku." ucap Erni, ia begitu sakit hati nampaknya.


"Lepas, lagian kamu ini siapa coba, berani-beraninya menghentikan aku." Erni seperti pernah melihat orang yang sedang memegang tangannya ini, tapi ia lupa entah dimana.


"Erni, maafkan aku, tolong pikirkan sekali lagi, apa pantas kamu menyalahkan aku dan suamiku atas apa yang terjadi padamu."


"Anda keluar, sudah membuat keributan, tidak tau malunya berteriak-teriak seperti orang yang tidak punya etika, keluar." rupanya satpam penjaga, Ipah yang mengadukannya sehingga Erni bisa segera ditangani.


Erni langsung diambil alih oleh ke dua satpam penjaga, ia diseret paksa keluar, satpam penjaga itu pasti akan selalu mengingat wajahnya supaya tidak bisa lagi masuk ke cafe Shirleen untuk kedepannya.


"Brengsek, dasar keluarga iblis, kalian akan membayar semua yang telah kalian lakukan pada keluargaku, kalian akan kena karma, hey semua yang ada disini kalian dengar baik-baik, Jason Ares Adrian yang selama ini kalian kagumi dan idolakan itu adalah iblis, dia sudah menghancurkan keluargaku, istrinya itu bermulut busuk, hatinya sangat busuk, tidak sesuai dengan wajahnya, dia juga iblis pandai bersilat lidah, hei kalian dengar mereka itu sebenarnya adalah keluarga yang tidak berprikemanusiaan." teriak Erni sembari tangannya terus ditarik paksa untuk keluar, ah ia sudah puas hati setidaknya ia bisa membeberkan rumor bahwa keluarga Shirleen sangat buruk.


Kedua satpam tersebut tidak habis pikir, entah mungkin sudah gila wanita yang mereka seret paksa ini.


"Diam, sebentar lagi hidupmu yang akan hancur, kau sudah menyebarkan rumor yang sama sekali tidak benar, kalau berita ini sampai ke telinga Tuan Jason, tamatlah riwayatmu, kau pasti tidak akan mau hidup di dunia lebih la lagi." ucap salah satu satpam, Erni sudah berada di luar pagar, mereka bahkan mengunci akses masuk untuk menghindari wanita yang mereka anggap gila itu masuk lagi.


Sementara di dalam cafe,


"Sekali lagi terima kasih yaaa untuk yang tadi." ucap Shirleen, ia sudah mengajak wanita yang menolongnya tadi duduk, dan Ipah juga sudah memesankan makanan untuk mereka semua.


Tidak ada yang berani bisik-bisik lagi, kalaupun ada sebanyak yang Shirleen dan Ipah dengar tadi mereka disitu nampaknya lebih pro kepada Shirleen dibandingkan Erni, bahkan ada yang mengatai Erni sakit jiwa.


"Tidak usah sungkan Kak, itu memang sudah tugasku untuk peduli sesama manusia." ucap Lisa, yah seorang wanita yang menolong Shirleen tadi adalah Lisa.


Aku ingin menolong Mbak tadi dari jerat Jason, namun nampaknya tidak akan berhasil, dengan sikapnya tadi, serta perkataan yang sangat buruk terhadap Nona Shirleen, sepertinya hidup Mbak tadi akan tamat.


Satu korban lagi akan sama denganku, Mbak itu benar-benar mau menghancurkan hidupnya sendiri.


"Siapa namamu?" tanya Shirleen.


"Lisa Kak." jawab Lisa.


"Kau kesini hanya sekedar berkunjung atau apa?" tanya Shirleen berbasa-basi.


"Em hanya berkunjung Kak." jawab Lisa, ia enggan untuk jujur apa tujuannya datang ke cafe yang awalnya sama sekali tidak ia ketahui bahwa cafe tersebut milik istrinya Jason.


"Ralisa Imanuella Syarif, sudah ditunggu di ruangan." ucap Bella salah satu pegawai Shirleen.


"Iya..." jawab Shirleen sedikit bingung.


"Silahkan..." ucap Bella mempersilahkan.


"Terimakasih!" ucap Lisa.


"Dia..." perkataaan Shirleen menggantung, Bella yang bisa menebak apa selanjutnya langsung saja menjawab.


"Pelamar kerja Bu." jawab Bella langsung.


"Tadi dia bilang hanya berkunjung." gumam Shirleen.


"Kenapa Bu?" tanya Bella, ia samar mendengar Bosnya itu sepertinya mengatakan sesuatu.


"Emm tidak apa, kapan penentuannya?" tanya Shirleen.


"Ibu maunya kapan, kami selalu siap." ucap Bella.


"Baiklah, jam berapa selesainya?"


"Jam empat sore Bu, apa Ibu mau melihat surat lamaran para pelamar kerja, ada di ruangan Ibu." ucap Bella.


"Ya nanti akan aku lihat satu persatu." ujar Shirleen.


"Baik Bu, apa ada lagi?"


"Eemm, tidak ada, hanya saja tolong bilang sama Sarmi untuk bantu Ipah mengasuh Misca dan Jacob, aku akan ke ruanganku nanti."


"Baik Bu." lalu Bella berlalu meninggalkan Shirleen.


"Kenapa tidak jujur saja sedang melamar kerja, apa dia malu, atau mungkin juga karena kejadian tadi ia merasa takut aku menerimanya karena dia yang menyelamatkanku, yah mungkin saja begitu." gumam Shirleen, ia sedikit tersentuh dengan tindakan Lisa tadi.


Ternyata benar apa yang dikatakan Lisa, mungkin sebentar lagi hidup Erni akan segera tamat, karena beberapa pengunjung cafe Shirleen tadi sempat memvidiokan kelakuannya yang mengatai Jason dan Shirleen.


Jason menggeram melihat vidio yang dikirimkan Roy, ternyata Roy di belahan dunia sana juga tetap mengawasi pekerjaannya, ia sedikit kagum.


Ah kembali ke topik, Jason sangat merasa dipermalukan, ia tidak akan terima segala penghinaan ini.


Kenapa saat gue udah janji sama bini gue kalau gue nggak bakalan main gila lagi, gak ada drama dorr dorr lagi, semua orang jadi kayak nggak tau diri.


Jason mengumpat dalam hatinya. Kemarin masalah Afik ini masalah dirinya, banyak sekali calon eksekusi pikirnya.


Dan yah satu lagi, ia belum menuntaskan lakinya si Serong yang sempat membuat patah tangan sahabatnya, itu juga sedang diurus Ben, setiap gerak gerik suaminya Sarah sudah masuk dalam rekam mata Ben.


Tangan Jason sudah gatal ingin memegang pisau tumpul, sungguh ia sulit menahan gejolak rasa ingin bermainnya.


Bersambung...


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...