Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Bonchap #2


"Astagah Yudha!" Weni tidak terima, tangannya dengan cepat menahan tengkuk Yudha lalu mengecupnya lama.


"Lakukan!" bisik Weni.


Gila aja, dasar suami beperan!


Yudha melihat ke arah bawah, di mana si perkasa kebanggaannya sudah tergolek lemas, menghempaskan lagi Weni di ranjang, Yudha sadar Weni menginginkannya dan akhirnya mulai kembali melakukan pemanasan lagi dari awal.


Sebisa mungkin dirinya harus menyenangkan sang istri di malam pertama mereka.


Weni juga tak kalah blingsatan, ini adalah pengalaman pertamanya, dalam hatinya dia sangat bersyukur memiliki Yudha.


Yudha bukanlah lelaki brengsek, meski tampangnya cukup meyakinkan menjadi playboy.


Mungkin juga Yudha baru pertama kali melakukan dengan dirinya, hingga bisa bertingkah sepolos itu. Gayanya saja begitu agresif diawal-awal, namun ternyata praktiknya harus remidi.


"Aku mencintaimu Gweni Kirana!" ucap Yudha lembut, kini kebanggaannya sudah kembali pada ukuran siap tempur.


Weni mengangguk pelan, Yudha mulai mengarahkan perkasanya, dan jleb! Kali ini, meski Weni mengeluarkan titik-titik air mata, Yudha akan tetap berkonsentrasi melaksanakan praktik malam pertamanya.


...***...


"Sayang..."


"Hemmm!"


"Aku tuh semalam nggak nyadar, tiba-tiba liat kamu nangis, aku pikir kamu sakit, kesakitan, hehe peace!" ucap Yudha sembari mengoleskan selai kacang pada rotinya.


Weni memberengut kesal, mengingat dirinya yang begitu agresif menyuruh Yudha tetap melakukannya membuat pipinya bersemu merah.


"Apa masih sakit?" tanya Yudha lagi.


Hari ini Yudha ada jadwal kuliah pagi, dia sengaja tidak membangunkan Weni untuk membuatkannya sarapan. Semalam saat sudah berhasil tes drive Yudha lupa diri, mereka melakukannya lagi dan lagi sampai Weni mengatakan menyerah dan mengatakan akan melayangkan cuti seminggu kedepan.


"Sedikit!" jawab Weni parau.


"Berarti malam ini boleh lagi dong Yang?" tanya Yudha antusias.


"Yudha!" bentak Weni.


"Iya...! Tapi besok boleh yaaa, katanya mau bikin yang kayak punya Junedi!" bujuk Yudha.


Weni menatap Yudha sinis, badannya remuk, rasanya Weni baru saja memejamkan mata melelapkan diri, namun pagi sudah kembali menyambutnya, padahal kantuk masih enggan meninggalkannya.


"Kamu istirahat aja Yang, nggak usah beresin rumah, nggak usah masak, nanti aku orderin buat kamu makan siang."


"Hemmm, baguslah kalau ngerti!"


"Yang..."


"Apa sih?"


"Moga cepet isi yaaa, seharusnya aku bilang ini saat kita berhasil melewati ronde pertama sambil cium kening kamu, tapi aku lupa!" jelas Yudha.


Weni menghela napasnya dalam, "Iya..."


"Kamu kok kayak nggak semangat sih Yang?" tanya Yudha lagi.


"Aku bukannya nggak mau semangat Mas, tapi aku emang lesu, kurang tidur, badan remuk, semua ini juga gara-gara kamu." jelas Weni, nadanya menggerutu seperti menyalahkan Yudha.


"Iya, aku minta maaf yaaa!" ucap Yudha, pemuda itu bangkit lalu mengacak lembut puncak kepala istrinya.


"Iya, tapi jangan keseringan kayak semalam, sampe berapa kali, capek tau, dasar gila!" umpat Weni.


"Hihi, nggak berani janji aku Yang, kamu enak!" goda Yudha.


"Yudha!" geram Weni.


"Ahahahaha, lah emang aku nggak berani janji, namanya juga lupa diri! Ya udah jangan ngambek dong, nanti aku beliin eskrim mau?"


"Ih apaan sih!"


"Jangan ngambek dong Yang, nanti cantiknya ilang, aku kan ganteng, jadi nggak bisa gantiin cantiknya kamu!" garing Yudha.


"Isshhh, suami lebay!"


"Ah udah ah!" Yudha gemas dengan Weni yang seakan begitu marah padanya, "Cup!" maafin aku yaaa, aku janji, malam ini libur deh!" rayunya lagi.


"Aku berangkat dulu yaaa!" pamit Yudha.


"Iya Mas!" Weni menjawab dengan masih kebingungan karena mendapat ciuman spontan dari sang suami.


"Istirahat aja, nggak usah ngapa-ngapain Yang!" pesan Yudha sebelum dirinya keluar apartemen.


"Ehhmm, Iya Mas!" sahutnya.


Yudha melangkah keluar apartemen dengan hati yang begitu senang, rona bahagia terpancar di wajahnya.


...***...


Fajar tampak malu-malu mulai menerangi bumi, sepertinya pagi ini akan dilewati dengan keteduhan, langit yang tidak bersahabat membuat seorang pemuda yang sudah siap dengan pakaian olahraganya memberengut kesal.


Niatnya ingin joging pagi ini terpaksa ia batalkan.


"Bun..." panggilnya berteriak.


"Susu abang mana?" tanyanya lagi.


Seminggu ini, kapten mereka mengambil cuti dari pekerjaan.


"Susu abang mana Bun?" tanya Afik lagi. Biasanya selalu ada segelas susu hangat yang menyambutnya untuk mengawali hari.


"Astagaahh, Bunda lupa!"


"Apa Bun?" panik Afik.


"Bibi udah berhenti kerja kemaren, maaf yaaa kamu bikin aja deh sendiri!"


"Kok berhenti kerja nggak bilang-bilang sih! Terus siapa yang ngurus rumah, abang nggak mau yaaa kayak waktu itu, Bunda nyuruh abang nyuci ngepel, awas aja Bunda!"


"Hihi, masih ingat aja anak bujang!"


"Nanti ada kok Bang, orang baru, tapi kamu nggak keberatan kan, dia bakalan tinggal di sini berdua sama anaknya?" tanya Bundanya Afik.


"Emangnya kalau abang bilang nggak setuju Bunda bakalan pertimbangin? Enggak kan!"


"Hehe, tuh kamu tau, nggak papa ya Bang, kasian soalnya rumahnya jauh, jadi Bunda suruh tinggal aja."


"Hemmm, terserah Bunda deh!"


Ting Tong, bel rumah Afik berbunyi, menandakan ada tamu yang ingin berkunjung.


"Nah, tuh mungkin orangnya dateng, bukain bentar dong, biar Bunda bikinin kamu susu!"


Afik mengangguk, gegas ia membukakan pintu.


Ceklek,


"Lo!" pekik Afik tidak percaya.


"Eh!"


"Assalamualaikum, selamat pagi Den, ini benar rumahnya Bu Zalfa?" tanya pria paruh baya yang disebelahnya ada seorang gadis yang Afik kenali.


"Waalaikum salam, masuk Bu, udah ditungguin Bunda!" sahut Afik bersemangat.


Ibu dan anak gadisnya itu masuk ke rumah Afik, membawa satu tas berukuran besar yang dibawa oleh anaknya.


"Bun..." seru Afik, dadanya berdebar melihat gadis itu.


Bundanya Afik datang menghampiri, sebelumnya dia memang sudah pernah menjumpai calon ART-nya itu, jadi dia tinggal menjelaskan tugas apa saja selama bekerja di rumahnya, berikut hal yang tidak boleh dilakukan atau hal penting lainnya.


"Eh iya, Afik, ini Bi Adin, ART baru kita, dan itu anaknya!" ujar Bundanya memperkenalkan.


"Namanya Zalin Bunda!" Afik yang sudah tidak tahan lagi menahan kerinduan, tidak sengaja mengadukan semua yang mengganjal di hatinya pada sang Bunda.


"Apa? Maksudnya apa?" tanya Bunda.


"Begini Nyonya, aku sama Den Afik udah pernah ketemu sebelumnya, dan maaf sebelumnyaa, aku juga mau minta izin, aku kalau siang harus bekerja di cafe, tapi jika Nyonya tidak mengizinkan maka saya akan berhenti dari cafe itu dan hanya bekerja di sini bantuin Ibu." jelas Zalin. Yah gadis itu adalah Zalin, hidup serba kekurangan membuatnya harus bekerja, apa lagi sang Ayah sedang terbaring lemah di rumah Neneknya.


Flashback.


Zalfa, Bundanya Afik yang tidak sengaja mendengar perdebatan antara orang tua dan anak karena masih ragu menjual kalung itupun menanyakan mengapa alasannya.


"Suami saya sedang sakit Nyonya, kalung ini adalah perhiasan satu-satunya anak saya, saya tidak bisa menjualnya."


"Tidak Bu, biar dijual saja, lagi pula ini sudah putus, aku nggak pernah lagi pake ini, cuma disimpan lebih baik dijual biar bisa bantuin pengobatan Ayah."


"Apa Ibu butuh pekerjaan?" tanya Zalfa.


Ibu dan anak itu saling menatap, kemudian mengangguk teratur.


"Kalau Ibu mau, Ibu bisa bekerja di rumah saya, kebetulan ART di rumah saya mau mengundurkan diri dan saya belum menemukan penggantinya." tawar Zalfa.


"Alhamdulillah, iya saya mau Nyonya, saya mau!"


Lalu Zalfa menyebutkan berapa nominal yang akan Zalin dan Ibunya dapatkan, Zalfa juga menjanjikan akan membayar separuh gaji mereka di bulan pertama ini pada hari pertama mereka bekerja untuk membantu pengobatan Ayahnya dan mereka setuju.


"Saya permisi Nyonya, saya harus bekerja, Bu aku tinggal dulu ya!" Zalin berlalu pergi.


Zalfa mengangguk, kemudian berbincang sedikit dengan wanita paruh baya yang setelah mereka berkenalan namanya adalah Bi Adin.


Flashback off.


"Namanya Zalin Bunda, coba tanyain dia!" Afik menatap penuh permohonan pada Bundanya, entah mengapa saat dipertemukan dengan Zalin di cafe waktu itu, Afik merasa dirinya memiliki keterikatan.


"Zalin?" tanya Bunda Zalfa bingung.


"Saya Nyonya!" sahut Zalin pelan.


Bundanya Afik tidak percaya, matanya menatap teliti gadis itu, kemudian air matanya menetes kala melihat sebuah tanda lahir di ujung alis kanan gadis itu.


"Ya Tuhan, Zalin!" pekiknya histeris.


...***...


...Cek dong yang masih mantengin! 🥰🥰...


...Sayang kalian semua!!!...


...Jangan lupa like, koment, and Vote juga yah!!!...