
"Kita akan sama-sama, kita hanya perlu melewati prosesnya saja, anggap saja ini tantangan sebelum menikah, aku pasti akan nikahin kamu saat hari itu tiba." ucap Yudha, saat ini ia dan Weni sedang berada di cafe Jason, sembari menunggu Angga, Afik, dan Jason yang katanya akan ikut mengantar kepergiannya.
"Aku akan berusaha, berusaha untuk meyakinkan diriku, dan juga berusaha menunggu, kamu baik-baik disana, jangan membuat penantian panjangku menjadi sia-sia nantinya." ucap Weni.
"Aku hanya akan melihatmu, aku juga akan berusaha, selalu kabari aku bagaimana harimu." ucap Yudha lagi.
"Iya..."
Yudha menggenggam tangan Weni untuk menguatkan, ah rasanya jika baru akan meninggalkan seperti ini bolehkah ia berubah haluan lagi, ia ingin disini saja, menuntaskan cintanya yang bagai bunga yang sedang bermekaran.
Mengecup singkat punggung tangan itu, hari ini ia hanya bisa memberikan janji yang dalam hatinya ia tanamkan untuk tidak akan pernah mengingkari, semoga ia tetao teguh pada pendiriannya.
Weni juga menatap wajah itu lama, ia memberanikan diri untuk meraba lembut wajah kekasihnya itu, wajah yang sebentar lagi tidak akan bisa ia gapai, mungkin Jerman bukanlah jarak yang bisa menghalangi hubungan mereka, namun sebuah kesetiaan dipertaruhkan disini, yang dekat saja bisa tidak setia, apa lagi yang berjauhan sepertinya, tidak bisa saling menggenggam tangan untuk sekedar menguatkan.
"Pacaran mulu..." sindir Afik, ternyata ketiga sahabat laknat sudah datang.
"Gimana ?" tanya Angga.
"Apanya ?" tanya balik Yudha.
"Udah cipika cipiki belum ?" tanya Angga langsung tanpa filter.
"Peluk mesra boleh kok neng !" tambah lagi Afik.
"Uyel-uyel juga boleh." Dasar duo A, selalu saja bikin yang kesel nambah kesel atau yang malu nambah malu, Weni rasanya ingin sekali bersembunyi di lubang semut menghindari ucapan Angga dan Afik.
Jason diam saja, ia tidak sedingin biasanya, ia mencoba menikmati setiap moment, lagi pun suasana hatinya sedang bagus saat ini.
"Gue ada kabar baik." ucap Angga.
"Apaan ?" tanya Afik disusul Yudha yang tak kalah penasaran.
"Kasih tau nggak Junedi, lo apa gue nih yang mau ngasih taunya ?" tanya Angga pada Jason.
Tadi, saat ia kerumah Jason sebelum kerumah Afik, ia sudah diberikan kabar baik tersebut lebih dahulu oleh Jason, ia ingin Yudha tau kabar mengenakan ini sebelum keberangkatannya.
"Lo aja." ucap Jason.
"Oke, dengerin lo pada." ucap Angga.
Weni tak kalah menyimak, kabar macam apa yang dianggap baik oleh manusia somplak di hadapannya ini.
"Kita bakalan dapet ponakan baru lagi." ucap Angga antusias.
"Hah, maksudnya ?" heran Afik, ponakan baru yang bagaimana.
"Junedi berhasil buntingin bininya lagi, dua malah." ucap Angga, haruskah ia memuji Jason saat ini, ah sepertinya tidak, sudah cukup kesombongan yang Jason perlihatkan padanya kali ini, untuk apa dipuji lagi.
"Dua ? Maksudnya ?" bagai orang berpikiran lemot, Afik memang sulit mencerna nampaknya, Yudha masih sedikit heran, sementara Weni yang mengerti langsung menutup mulutnya tidak percaya.
"Maksudnya Shirleen hamil anak kembar ?" pekik Weni girang, kali ini ia setuju dengan Angga, ini benar-benar berita baik menurutnya.
"Iya, Kak Ilen hamil anak kembar." jelas Angga sekali lagi.
"Alhamdulillah, selamat ya Jason, aku turut seneng dengernya." ucap Weni, ah habis dari sini nampaknya ia akan singgah ke rumah sahabatnya itu, senang sekali rasanya, setelah kepergian Yudha yg begitu membuatnya bersedih kini ada secercah bahagia yang bisa ia dengar untuk menghibur hati.
Jason hanya mengangguk, sedikit tersenyum, lebih tepatnya samar.
"Selamat Men." ucap Yudha.
"Kang Bucin, selamat ya, duh nggak kebayang bakalan rame bener rumah lo." ucap Afik.
"Iya !" sahut Jason, "Yud lo harus bahagia, susul gue." ucap Jason lagi, ia tersenyum untuk Yudha.
"Pasti, lo doain gue pokoknya." ucap Yudha.
"Udah dong, jangan menciptakan suasana haru, kuy berangkat." ucap Afik, kalau sudah ada yang perhatian antara satu dengan yang lainnya, ada mata yang mulai memanas.
"Ah iya, yuk !" ucap Weni.
Semuanya meninggalkan cafe menuju Bandara, untuk mengantar kepergian Yudha.
Sementara di sebuah pusat perbelanjaan,
"Mas, ini kenapa kok kita beli barang-barang dan makanan sebanyak ini ?" tanya Sri, keranjang belanjaannya sudah penuh terisi, handuk, pakaian baru, dan juga bermacam aneka snack.
Tanpa sepengetahuan Sri, ia sudah berencana untuk liburan ke Jogja ke rumah mertuanya, ia akan membuat sedikit kejutan untuk istrinya itu.
"Mas, ini pakaian Fahira kenapa banyak sekali belinya yang baru-baru." tanya Sri lagi, kemudian ia mengambil sebagian di keranjang belanjaan mereka untuk dikembalikan lagi ke tempat asal.
"Eh eh, mau ngapain kamu ?" tanya Dareen.
"Mas, Fahira itu masih bayi, pertumbuhannya itu lumayan cepat, jadi jangan beli pakaian sebanyak ini, nanti bentar lagi pasti nggak muat." jelas Sri.
"Biarin aja kali, ada si dedeknya nanti." ucap Dareen bodo amat.
"Mas, iya kalau adeknya nanti anak gadis, kalau cowok gimana ?" tanya Sri, "Lagian aku juga belum hamil !" ucap Sri lagi.
"Heemm, ya gak papa aku mau beli pokoknya." ucap Dareen.
"Mas, bukannya kamu selalu bilang bahwa sesuatu yang berlebihan itu tidak baik." ujar Sri mengingatkan.
"Haahh," Dareen menghela nafasnya berat, kalau disinggung soal agama ia yang manusia biasa ini kadang suka tidak tau harus berbuat apa, "Ya sudah, dikurangi saja, tapi aku tetep mau beli." ujar Dareen kemudian.
"Ya sudah." Sri mengambil beberapa baju dan pakaian lainnya, untuk kemudian dikembalikan.
"Yang itu jangan, itu lucu." cegah Dareen.
"Yang mana, yang ini ?" tanya Sri menunjukkan Dress anak bermotif kelinci dengan warna baby pink.
"Iya yang lain aja."
"Yang itu juga jangan, aku rasa Fahira nggak ada deh baju yang warna itu." ujar Dareen lagi.
Sri kemudian mengembalikan lagi Dress warna hijau mint kotak-kotak yang sempat masuk dalam list nggak jadi belinya tadi di keranjang.
"Yang itu jangan."
"Jangan yang itu dong, yang lain aja."
"Warna merah lucu sayang, Fahira pasti cantik kalau pakai itu, jangan dibalikin yang itu."
"Itu untuk pakaian dia harian, bagus kan daster gitu sama kayak kamu suka dasteran."
"Itu topinya sengaja aku samain sama baju yang tadi, jangan dibalikin."
"Jangan yang itu."
"Mas Dareen," ucap Sri dengan nada sedikit membentak, bagaimana tidak bahkan Sri belum mengurangi satu pakaian Fahira pun yang berada di keranjang belanjaan mereka akibat Dareen yang selalu mencegahnya.
"Semuanya bagus Sri, itu udah aku select tadi." ucap Dareen sembari nyengir kuda.
Heran deh, bukannya biasanya yang doyan belanja itu Ibu-ibu, ini kenapa Bapak-bapak yang doyan belanja pikir Sri.
"Pilih tiga, atau nggak usah beli." ucap Sri memberikan pilihan.
"Yah kok tiga sih, dikit amat, sepuluh ya." tawar Dareen.
"Sepuluh ?" Sri tercengang, tiga dan sepuluh itu banyak sekali selisihnya, "Tiga !"
"Yah, tujuh deh !"
"Enggak tiga aja."
"Enam deh !"
"Tiga !"
"Sayang, lima yah !"
Sri menghela nafas panjang, "Ya udah, oke lima aja !"
Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...