
Pagi ini Pak Adrian benar-benar naik pitam, sejumlah pekerja kontruksi melakukan aksi protes dengan mendatangi gedung ASA Group, sejumlah awak media juga nampak memenuhi luar gedung anak perusahaannya yang terkait proyek dimana yang saat ini memang sedang mereka kerjakan.
Salah satu dari pekerja diminta untuk hadir mewakili menyampaikan aspirasi, alangkah terkejutnya Pak Adrian ia sama sekali tidak mengetahui kendala yang terjadi, karena sebelumnya ia sudah menyerahkan kepercayaan pada CEO ASA Group untuk mengelola anak perusahaannya ini. Namun hari ini juga ia baru mengetahui bahwa Ferdi sudah menyerahkan kepemimpinannya pada seseorang yang bernama Athar Adjiandanu sekitar dua bulan yang lalu.
Bagus, bagaimana ia bisa tidak mengetahui keputusan sebesar ini.
Namun hal itu sudah dikonfirmasi, Ferdy juga sudah mengakui dan beralasan karena ia harus menjalankan salah satu perusahaan Adrian Group yang bergerak di bidang teknologi di luar negeri.
Keterkejutan belum berakhir disitu.
Wakil dari pekerja tersebut menjelaskan bahwa gaji mereka belum dibayarkan sepeserpun sudah dua bulan lamanya, mereka dijanjikan uang mereka akan keluar pada akhir bulan ini dirangkap dobel namun sampai hari ini memasuki pertengahan bulan ketiga gaji mereka belum juga masuk ke rekening. Mereka mengeluhkan bagaimana akan menopang ekonomi keluarga jika mereka kerja seperti tidak digaji.
Mereka juga mengeluh dengan kualitas bahan baku material yang tidak sesuai standar, baik menurut jumlah ataupun segi kualitas.
Hal itu juga yang menyebabkan kecelakaan pada salah satu rekan satu profesi mereka, semua itu terjadi karena disinyalir akibat bahan baku yang tidak layak pakai, namun sampai hari ini tidak ada tanggapan terkait bagaimana tindak lanjut tanggungan kesehatan yang dijanjikan untuk pekerja, sehingga dapat dijelaskan pada waktu hari kejadian itu pekerja yang kecelakaan harus mengeluarkan biaya dari kantong mereka sendiri untuk berobat, mereka tidak percaya perusahaan besar seperi ASA group akan bertindak abai seperti ini.
Pak Adrian meradang, ia menoleh ke arah kepemimpinan yang baru, Athar tampak berkeringat dingin mendapat tatapan tajam dari sang raja.
Pada keadaan genting seperti ini, Rudi Kurniawan tidak terlihat batang hidungnya, kehadirannya sangat menimbulkan kecurigaan, tuduhan sementara mengarah ke manager keuangan itu namun semuanya masih harus diselidiki.
Pak Hamid pengacara keluarga Adrian menyarankan kasus ini harus diserahkan pada pihak berwajib, dan untuk gaji pekerja yang menunggak akan langsung dibayarkan hari ini juga, mereka juga sudah mengakui dan sangat menyayangkan kelalaian yang ditimbulkan, atas nama besar ASA group Pak Adrian pun meminta maaf, ia berjanji masalah seperti ini tidak akan pernah terjadi lagi, dan menjelaskan kesalah pahaman bahwa ini juga diluar kendali mereka.
"Atur rapat direksi satu jam lagi, hadirkan pengelola kegiatan, adakan pemeriksaan fisik maupun berkas, jangan ada yang terlewat, hubungi tim audit sebelum perkara dilimpahkan pada pihak berwajib" ucap Pak Adrian geram, ia yakin perkara ini pasti ulah orang dalam.
"Baik Pak"
Lain halnya dengan Athar, waktu satu jam ia gunakan sebaik-baiknya untuk menghubungi Rudi, namun nihil sama sekali tidak tersambung.
Ia mulai gusar, pasalnya jika semua dibuka maka tidak ada pilihan lain tuduhan pasti akan mengarah padanya, tanda tangan yang bersangkutan hanya ada dua, ia dan Rudi pastilah kena mengingat statusnya sebagai kuasa pengguna anggaran.
Rapat direksi dimulai, tim pengelola kegiatan memberikan keterangan sedetilnya dan sangat diusahakan untuk tidak menutupi apapun.
Athar nampak tidak bisa menyembunyikan raut khawatirnya karena duduk permasalahan yang mulai terbuka, namanya sudah beberapa kali disebutkan, seolah ia memang berpengaruh dalam kasus ini.
Masuk ke tahap investigasi, benar saja namanya harus terseret, kini ia sudah berada di sebuah ruangan yang hanya ada dia dan tim audit, keterangan demi keterangan sebisa mungkin ia berikan, Athar tidak bisa lagi berkelit, hebatnya tim audit dalam mengorek informasi dan membaca situasi membuat ia menjadi serba salah, lagipun ia bukan pembohong handal maka secara tidak langsung ia bahkan telah mengakui perbuatannya.
Tidak lupa nama Rudi terus ia bawa sepanjang tanya jawab investigasi, maka dari itu diputuskanlah Rudi pun juga bersalah.
Namun keberadaan Rudi masih tanda tanya, keberadaannya masih belum diketahui, pihak perusahaan sudah mendatangi Rudi dikediamannya, namun Rudi bagai menghilang ditelan bumi. Athar terancam bertanggung jawab sendirian.
"Jadi bagaimana Pak Athar, apa bapak bersedia mengganti kerugian perusahaan ?"
Athar terdiam sejenak sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya teratur, ia tidak punya pilihan lain, mengganti kerugian adalah jalan satu-satunya kalau saja tidak mau berakhir dibalik jeruji besi.
"Tugas kami sudah selesai, untuk tenggang waktunya nanti perusahaan yang akan memutuskan, kami permisi terimakasih sudah kooperatif"
Menelan pil pahit, Athar sudah resmi menjadi bahan gunjingan satu kantor, tidak ada lagi karyawan yang hormat padanya, rendahan dan dianggap tidak tau diri adalah kata yang paling banyak ia dengar dimulai dari keluarnya ia dari ruang investigasi.
Berita tindak korupsi yang dilakukannya menyebar pesat karena salah satu awak media yang kedapatan mencuri berita, entah bagaimana caranya padahal wartawan sudah dibubarkan sejak tadi bersamaan dengan bubarnya para pendemo.
Satu yang Athar harus lakukan ialah menemukan Rudi, karena kalau tidak ia benar-benar akan menanggung ini sendirian.
Bersambung...
Like, koment, gift, dan vote.