Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Ranjau Pertama


"Jadi kamu mau mengajukan pinjaman dana ?" Pak Ferdy selaku CEO di ASA Group tempat Athar bekerja menanyakan perihal kedatangan Athar yang membawa berkas informasi data diri dan asetnya.


"Betul Pak, kira-kira berapa persen dari gaji saya yang harus terpotong setiap bulannya" Tanya Athar.


Athar sudah tidak tau lagi bagaimana menghadapi sakitnya Riana, ia sudah berobat kesana kemari, ke rumah sakit dan cara tradisional, berbagai ramuan-ramuan sudah ia lakukan, bahkan dua hari yang lalu ia mengobati Riana dengan cara rukyah kalau saja benar Riana terkena guna-guna, tapi tetap saja hasilnya nihil, yang ada Riana malah kesakitan, karena tubuhnya yang makin melemah namun dipaksakan untuk dibawa berobat kesana kemari.


Ia sudah frustasi, ia ingin mengikuti saran dokter untuk membawa Riana berobat keluar negeri namun bagaimana ia bisa meninggalkan pekerjaannya disini.


Dan akhirnya duduklah ia disini, diruangan Pak Ferdy atasannya, ia ingin mengajukan pinjaman dana sekaligus meminta izin satu minggu untuk cuti, karena ia ingin mengurus keberangkatan dan pengobatan istrinya ke luar negeri.


Kalau pinjamannya disetujui, ia akan mencari orang untuk mengurus istrinya selama diluar negeri, karena ia harus pulang melanjutkan kembali bekerja.


Ia tidak tahan, tubuhnya lelah, mukanya sudah pucat seperti mayat, tiap malam ia terjaga karena Riana yang tak hentinya berucap sakit, Riana sungguh kesakitan karena kondisinya kini.


Borok dikakinya sudah semakin parah, bahkan baunya sudah agak membusuk meskipun sudah dibungkus.


Wajahnya sudah buruk rupa, ruam merah yang menebal serta bernanah menghiasi wajah mulusnya dulu, meskipun ia rutin mengobatinya itu semua seakan tidak berguna, sama sekali tidak ada tanda-tanda kesembuhan dalam dirinya, tidak ada lagi Riana si cantik yang mampu merebut suami orang dengan bangganya dulu.


Kakinya kini sudah lumpuh, sudah tidak ada lagi rasa sakit walau ia menghentakkannya dengan keras.


Bayi dikandungannya pun nampak tidak baik-baik saja, kondisi bayinya melemah, karena kurangnya nutrisi dari ibunya.


Beberapa hari ini Riana tidak bisa makan barang sesuap, tenggorokannya sakit karena ternyata terjadi peradangan di tenggorokannya, membuatnya susah bicara apalagi untuk menelan makanan.


Sungguh kehidupannya sudah seperti sedang syuting film AZAB ILAHI, namun yang terjadi padanya bukanlah sinetron belaka, ini nyata adanya, dan ia sungguh tersiksa.


Dan dengan kondisi istrinya seperti itu, Mana mungkin Athar bisa makan dan tidur dengan tenang.


"Terserah kau saja, dua puluh, tiga puluh, perusahaan pasti akan menyetujuinya" Ucap Pak Ferdy.


"Kalau gitu, saya akan minta pemotongan dua puluh persen dari gaji saya Pak" Athar tidak punya pilihan lain, ia memberikan sertifikat rumah yang dibangunnya dengan Shirleen dulu sebagai jaminan, karena jumlah uang yang ia pinjam nilainya sudah terbilang lumayan, maka ia harus menyertakan jaminannya.


"Ya, nanti sekertaris saya akan mengurusnya dibagian administrasi" ucap Pak Ferdy.


"Baik Pak, terima kasih banyak atas pertolongannya" Athar pun menyalami bosnya itu.


Ia lalu pergi melanjutkan pekerjaannya, dengan harapan semoga pengorbananya untuk kesembuhan Riana tidak sia-sia.


Tanpa ia sadari, Pak Ferdy tersenyum smirk setelah kepergiannya.


Ia pun menelpon seseorang untuk mengabari apa yang telah terjadi diruangannya tadi.


^^^"Baguslah, setujui saja berapapun yang ia minta*"^^^


"*Apa aku akan dapat bonus dari tuan muda nantinya Roy ?"


^^^"Berharaplah, aku yakin melihat hasil kerjamu*"^^^


Kedua orang suruhan Jason itu pun tergelak bersama, kini targetnya sudah masuk dalam ranjau pertama tuannya.


Keadaan memang senjata paling ampuh untuk melumpuhkan lawan.


Roy masih ingat kata-kata itu, saat ia pertama kali bekerja menjadi asisten pribadi Tuan Muda Jason, ia yang tidak punya nyali untuk membunuh harus berdampingan dengan Majikannya yang kejam tak kenal ampun.


Lalu ia diajarkan untuk tetap tangguh dan membuang rasa kasihannya, dalam melumpuhkan lawan, senjata paling ampuh adalah "keadaan" begitulah Jason menanamkan prinsipnya untuk bertarung.


Yah meskipun kadang mentalnya masih saja sering ambruk, melihat kejamnya yang harus ia lakukan.


Itulah Tuan Mudanya, Jason membuat rival bisnisnya jatuh tersungkur, lalu jika diperlukan ia akan dengan senang hati bermain permainan gila mengeksekusi lawannya hingga terinjak dan mati.


Apalagi hanya untuk orang sekecil Athar dan istrinya, jangan berharap rasa kasihan pada Jason Ares Adrian, itu jelas tidak akan ada.


Roy lalu mengabarkan informasi yang didapatnya tadi pada Tuan Mudanya.


Jason menyeringai, baginya ini belum seberapa. Sisi iblisnya kini telah bereaksi dalam tubuhnya.


Akan ada pedih yang sangat panjang untuk kau yang telah berani menghina wanitaku, kau akan menanggung lebih lebih banyak lagi air mata dari pada yang Shirleen jatuhkan untuk menangisi bajingan seperti kau.


Bersambung...


*


*


*


***Hai readers, jangan lupa like, koment, hadiahnya dan vote cerita ini yaaa...


Semoga kalian suka, dan Happy Reading*** !!!