
"Wen, Wen, hei sayang, Wen Weni..." Yudha mengguncang tubuh tunangannya itu, dirinya baru saja selesai mandi, sudah berganti pakaian dan sedang mencoba menghubungi pihak hotel untuk reservasi tempat perihal makan malam romantis untuknya dan Weni.
Telinganya peka kala Weni mengigau menyebut namanya.
"Tidak, tolong jangan Yudha!"
"Jangan, hiks hiks, aku mohon jangan!"
"Jangan lakukan itu padaku, jangan lakukan itu pada kita, tidak Yud, jangan ku mohon!"
"Wen, bangun sayang, kamu kenapa, hei bangun!" seru Yudha lagi.
Dirinya tidak tau Weni sedang mimpi apa saat ini, namun yang jelas mendengar dari cara Weni menyebut namanya tadi, Yudha yakin Weni sedang bermimpi yang tidak beres.
"Aaaaaaa!" pekik Weni.
Spontan saja, Weni langsung menghindari Yudha.
"Pergi!" usir Weni, wanita itu tampak kalut, memeluk satu guling, dan satu guling lagi ia jangkau lalu dilemparkan pada Yudha.
"Jangan dekat, sana!" pekik Weni, Yudha heran, tunangannya itu terlihat sangat ketakutan.
"Weni, ini aku, kenapa sih kamu?" tanya Yudha, dirinya semakin mendekat, tidak perduli akan penolakan Weni.
"Jangan!" teriak Weni.
"Sayang!" panggil Yudha lembut, entah apa yang terjadi sebenarnya.
Weni seketika merinding mendengar Yudha memanggilnya dengan sebutan 'sayang', Yudha tadi merayunya, memanggilnya dengan sebutan itu saat hendak menggagahinya. Hampir saja dirinya menjadi korban naf*u pacar berondongnya.
Weni bangkit dari pembaringan, dirinya bersiap-siap untuk kabur, namun karena sangat ketakutan dirinya tidak bisa menjaga keseimbangan, dan alhasil...
"Buggghh!"
Weni tersandung kakinya sendiri, dirinya jatuh membentur lantai, membuat Yudha seketika ingin tertawa, namun urung dirinya lakukan karena takut menyinggung perasaan Weni.
Dengan sigap Yudha menolong tunangannya itu, Weni tidak menolak benturan di dahinya membuatnya tersadar kala melihat Yudha yang sudah rapi berpakaian.
Kapan dia ganti bajunya?
"Kenapa? Ada yang aneh? Kamu kenapa sih Yang?" tanya Yudha penuh selidik.
"Eh!" bingung Weni, mengendarkan pandangannya, mengingat-ingat apa yang sebenarnya terjadi.
"Kenapa sih? Jangan aneh deh ngeliatinnya, ada apa?" tanya Yudha lagi.
"Eng... Enggak ada sih, kamu tadi selesai mandi pake handuk nggak?" tanya Weni.
"Pake bathrobe, kenapa emang?" tanya balik Yudha.
"Kamu kapan selesai mandinya?" tanya Weni lagi.
"Yah udah lumayan lama, aku liat kamu tidur nyenyak banget, aku jadi nggak tega mau bangunin!" jawab Yudha apa adanya.
"Masa iya?" tanya Weni, dirinya tidak percaya, benarkah yang tadi hanya mimpi.
"Iya, kamu mimpi apa sih sampe teriak-teriak gitu, aku bangunin juga tapi kamu masih aja ngigo!" ucap Yudha.
"Ah beneran?"
"Iya, kenapa? Mimpi kamu! Mimpi apa? tanya Yudha penasaran.
Jadi yang tadi tuh cuma mimpi, tapi kayak beneran nyata, hiiihh merinding kan aku!
"Kenapa Yang?" tanya Yudha lagi, sepertinya ada yang tidak beres dengan kekasihnya itu.
Weni menunduk malu, ini pasti terjadi karena Yudha yang sempat menakutinya di mobil, jadi dirinya berpikiran macam-macam hingga pikiran kotornya itu harus terbawa sampai ke mimpi.
Yudha yang tadi mengedipkan mata genit sembari mengajaknya ke hotel, konyol sekali, Weni sudah tidak waras rasanya sampai bermimpi ia yang hampir saja habis dilahap Yudha.
Gara-gara Yudha, otakku jadi terkontaminasi yang enggak-enggak.
Weni bangkit, dirinya tidak memperdulikan Yudha, ada malu, ada marah, dan merutuki dirinya sendiri yang dengan bodohnya bermimpi demikian.
"Yang, kok cuek sih!" tanya Yudha, rasa penasarannya belum terjawab, Weni malah sudah berlalu pergi.
Weni mengambil bathrobe dari lemari dan kemudian berlalu pergi ke kamar mandi tanpa memperdulikan pertanyaan Yudha.
Memangnya mau jawab apa? malu sekali jika harus menjelaskannya.
"Sayang..." panggil Yudha dari luar kamar mandi.
Weni menetralkan jantungnya, ia meraba pipinya yang memerah.
Duh otak, bisa-bisanya yah mesum gitu.
"Sayang, aku keluar dulu ya! Ini ada baju, nanti kamu pake, kita bakalan pergi ke suatu tempat!" seru Yudha lagi di balik pintu kamar mandi.
"Iya..." hanya itu yang mampu Weni berikan sebagai jawaban, dirinya terlalu gugup.
Terdengar derap langkah Yudha menjauh, Weni bisa bernafas lega.
Syukurlah hanya mimpi, aku nggak bisa bayangin kalau itu beneran terjadi, cinta sih cinta tapi masa iya si gila itu mau depe duluan.
Heh! Tentu tidak semudah itu Ferguso!
Weni mengisi air hangat dalam bathup, mengecek suhu karena dirinya ingin berendam, tubuhnya benar-benar lelah, menambahkan beberapa tetes aroma terapi mungkin bisa membantu mengembalikan mood dan membantunya segar kembali.
Ponsel Yudha berdering saat dirinya hendak mengurus makan malam romantisnya, dilihatnya wajah sang Ibu Ratu tampil di layar ponselnya.
"Ya Ma!"
^^^"Assalamualaikum sayang, budayakan salam dong!"^^^
"Ah iya, Waalaikum salam Ma, kenapa?"
^^^"Orang tua telpon bukannya ditanya gimana keadaannya, ini malah langsung ditanya kenapa, aneh kamu ih, dasar durhakim!"^^^
"Ah iya lupa lagi dah, gimana kabar Mama? Kanjeng ratu sehatkah di sana?"
^^^"Alhamdulillah, baik, gimana tadi lancar?"^^^
"Alhamdulillah lancar Ma, mungkin lusa aku sama Weni pulang kok, Mama udah nyiapin kan, aku nggak bisa lama cuti kuliahnya, biar gak usah resepsi kalau emang nggak bisa!"
^^^"Ya nggak bisa gitu dong sayang, acara lamarannya aja dirayain kemaren, masa iya nikahannya nggak ada acara apa-apa, udah kamu tenang aja, biar Mama sama Om Radit yang urus."^^^
"Hemmm, tapi Mama jangan capek-capek yah, aku nggak mau liat Mama drop kayak waktu Papa meninggal."
^^^"Udah, anak bujang kok bawel, Mama bisa kok ngurus semuanya, kamu tinggal tau beres aja pokonya mah!"^^^
"Mama, aku jadi kangen nih, Mama sehat-sehat yah, jangan pergi ninggalin aku dulu, aku cuma punya Mama soalnya."
^^^"Hemm, mulai deh cengengnya, malu anak bujang ih, mana udah mau kewong, masih manja aja sama Mamanya, manja ajah itu sama istri!"^^^
"Hahaha, iya dong nanti kalau udah sah pasti tiap malem manja sama istri!"
^^^"Yudha, jagain Weni yah, jangan sakiti dia, hargai dia seperti kamu ngenghargain Mama, tempatkan dia di nomor satu dalam hati kamu, Mama harap kamu selalu bahagia sama istri kamu kelak, selamanya."^^^
"Ehm, Mama jangan bikin haru dong, mau peluk kan susah kalau jauh gini!"
^^^"Duh anak manja, gini nih kalau kebelet mau anak cewek taunya yang keluar cowok, udah ah ngomong sama kamu nggak ada habisnya, manja mulu."^^^
"Ya biarin, manja juga sama Mamanya!"
^^^"Ya udah, Mama matiin dulu yah, selamat bersenang-senang."^^^
"Daah Mama!"
^^^"Daahhh!"^^^
Yudha menghembuskan nafasnya pelan, tiba-tiba dirinya merasa begitu rindu dengan Mamanya itu.
Sementara di sebuah kamar, Mama Wina sedang menangis memandangi foto anak bujangnya, bagaimanapun dirinya tidak rela jika harus benar-benar pergi nantinya.
"Aku harus sembuh!" gumamnya, sembari mengusap lagi foto Yudha.
apa lagi setelah Yudha mengatakan bahwa anak bujangnya itu hanya punya dirinya, bagaimana mungkin dirinya tega meninggalkan Yudha meski dirinya tidak bisa melawan takdir.
Aku mohon ya Allah, jika memang vonis dokter yang mengatakan hidupku tidak akan lama lagi itu benar, bisakah aku sedikit lebih kuat, sedikit lebih sehat, sedikit lebih bahagia yang terpancar dari wajahku ini, aku mohon, setidaknya sampai anakku menikah nanti, sampai dia kembali ke Jerman lagi kemudian hidup dengan wanita yang ia cintai, aku mohon jangan menambah lagi bebannya, jikapun aku meninggal nanti setidaknya Yudha sudah mendapatkan penggantiku sebagai penopang hidupnya.
Mama Wina kemudian berbaring, foto Yudha masih dipeluknya, sanggup atau tidak baginya bukan lagi masalah, yang paling penting hanyalah kebahagiaan anak semata wayangnya, Yudha Razki Pratama.
Bersambung...
*
*
*
Like, koment, and Vote !!!