Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Sesal Athar II


Saat ini Athar sudah sampai dirumahnya, ia ditemani Sri dan Fahira akan tinggal bersama saat ini.


Dengan sisa cutinya yang tinggal satu hari, ia memutuskan untuk mengajak Shirleen bertemu, pun ia juga sangat rindu dengan putri kecilnya itu.


Beruntung Shirleen menyetujuinya, ia segera bergegas menuju cafe tempat ia akan bertemu dengan Shirleen dan Misca.


Ia mempersiapkan dirinya dengan baik, tujuan pertamanya ia ingin meminta maaf dengan Shirleen, dan mencoba membujuk Shirleen untuk mengatakan kejujuran apakah benar anak yang kini Shirleen kandung adalah anak laki-laki lain.


Shirleen meninta bertemu di Cafe Jash, cafe baru yang lumayan dekat dengan apartemennya itu nampaknya sedang hits saat ini, namun ia tidak mengetahui bahwa itu adalah cafe milik Jason yang dibukanya sekitar dua minggu yang lalu. Jash adalah gabungan dari Jason dan Shirleen, Jason begitu bahagia hingga ia memikirkan nantinya saat ia menikah dengan Shirleen ia akan mempersembahkan cafe itu untuk istrinya.


Duduklah Athar disini, menunggu mantan istri dan putrinya.


"Ayah..." suara yang Athar rindukan itu kini ia dengar memanggilnya.


"Sayaaanngg" Athar menghampiri Misca dan langsung memeluknya.


Pertemuan ayah dan anak itu berlangsung haru. Shirleen sempat meneteskan air matanya, namun segera ia hapus. Ia merasa bersalah karena tidak bisa bertahan dan memilih pergi dengan hasil harus memisahkan ayah dan anak dihadapannya ini.


Bukankah aku sangat egois


"Shirleen, duduklah"


Shirleen duduk dengan tatapan yang biasa saja, ia tidak ingin mengurai sisa-sisa cinta untuk mantan suaminya ini, sisa-sisa cinta yang sudah ia kubur dalam-dalam.


"Bagaimana kabarmu, sudah berapa bulan ?" tanya Athar sambil tangannya menunjuk perut buncit Shirleen.


"Baik Mas, sudah jalan tujuh bulan"


Jawaban Shirleen membuat Athar terpaku, ia terdiam sesaat dan mencoba menghitung mundur kehamilan Shirleen. Dan hasilnya sungguh diluar dugaan.


"Kau yakin ini anak laki-laki waktu itu ?" tanya Athar, ia sungguh berharap kejujuran Shirleen dan anak yang dikandung Shirleen adalah anaknya.


Shirleen terdiam, ia nampak ragu untuk menjawab, ia benci Athar, ia benci keadaan ini, ia benci mengakui anaknya adalah anak bajingan didepannya ini.


Bayangan Athar yang menghinanya dengan sebutan ****** dirumah sakit waktu itu langsung terlintas dipikirannya, ia tidak akan memaafkan itu.


"Memangnya kenapa ?" jawaban Shirleen malah balik bertanya.


"Kau tidak semudah itu menghianatiku"


"Lalu bagaimana dengan Mas Athar sendiri ?"


"Selingkuh, dan bahkan ternyata madu mas sudah hamil"


"Kasihan sekali aku ini"


"Shirleen, Mas minta maaf !" Athar kembali ketujuan pertamanya.


"Aku sudah memaafkan Mas"


"Yah kau memang pasti begitu"


Lama keduanya terdiam larut dalam pikiran masing-masing, sesekali hanya terdengar celoteh Misca yang sedang bahagia melepas rindu dengan Ayahnya.


"Shirleen jujurlah" Athar kembali membuka percakapan dengan sang mantan.


"Untuk ?" Shirleen mengkerutkan keningnya, jujur untuk apa batinnya.


Shirleen terdiiam kali ini, tolong jangan katakan Athar mau mengakuinya setelah apa yang bajingan ini lakukan padanya.


"Anak ini, anakku kan !"


Jeddeeerr.


Apa yang Shirleen takutkan kini terjadi, Athar mengetahuinya.


Tidak, tidak boleh seperti ini


Shirleen berada dalam dilema, ia tidak mau mengakui anak dikandungannya ini sebagai anaknya Athar, namun jika ia tak mengakuinya ia tampak bagai tidak ada bedanya dengan Athar. Sama sama peselingkuh.


Bagaimana ia bisa mengatakan status anak ini, apa yang harus ia katakan.


"Heh, jangan gila"


"Mas pikir aku gak bisa lakuin setelah apa yang Mas lakukan"


"Jika Mas bisa selingkuh, pun dengan aku"


"Kau selalu mencintaiku Shirleen, itu tidak akan semudah apa yang kau katakan" Athar memandang Shirleen, ia masih bisa merasakan ada cinta dimata mantan istrinya itu.


"Cinta, dengar ya Mas, saat aku mengetahui hubungan Mas dengan pelakor itu, sudah tidak ada cinta lagi untuk Mas"


"Katakan saja itu adalah anakku, aku yakin kau berbohong saat bilang tidak bisa melayaniku malam itu, aku sudah menghitung mundur usia kehamilanmu, itu adalah anakku" ucap Athar tegas.


Shirleen terdiam. sungguh ia bukan pembohong yang handal, seharusnya tadi ia memudakan sedikit usia kandungannya.


"Kau diam, berarti benarkan itu anakku"


Shirleen nampak memucat, apa yang harus ia lakukan.


"Tapi Papa bilang adek bayi itu punya Bunda dan Papa" Misca tiba-tiba menyela karena melihat perdebatan kedua orang tua kandungnya itu.


"Papa ?" Athar menoleh pada Misca, Papa siapa pikirnya.


"Iya, selama Ayah kerja karena nggak mau diganggu Misca dan Bunda, Misca, Bunda dan adek bayi diperut Bunda selalu ditemani Papa, Papa baik deh"


Ucapan Misca membuat Athar menatap tajam Shirleen, matanya menyisaratkan akan penjelasan.


Shirleen yang ditatap seperti itu pun hanya bisa menunduk, bibirnya kelu, saat seperti ini ia tidak mampu walau hanya sekedar berkata iya atau tidak.


"Hai Princess, ternyata kamu disini juga"


Bersambung...


*


*


*


***Hai gaess, jangan lupa like, koment, kasih hadiah, dan vote untuk selalu dukung cerita ini yaaa.


Happy reading*** !!!