Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Nah sekarang giliran siapa ?


"Ben, durasi!"


Ben menoleh ke arah sumber suara, jujur ia masih bingung bagaimana awalnya menyiksa manusia, selama ini ia hanya ditugaskan di lapangan, menjadi mata-mata orang yang bermasalah dengan tuannya, ternyata praktik seperti ini membuat mental penjahatnya sedikit menciut, ia merasa gagal jadi orang jahat.


Tolong bantu Ben supaya bisa lebih memudahkan pekerjaannya.


"Kenal Muhammad Al-Fikram?" tanya Ben kemudian.


"Cih, bajingan, pengecut ternyata lo orang suruhannya dia." decih Davin, ternyata orang dari pria yang membela kekasihnya itulah yang saat ini sedang dihadapinya.


"Aa aa aa, tidak sepenuhnya begitu, lebih tepatnya apa lo kenal Jason Ares Adrian?" tanya Ben lagi.


Kening Davin mengkerut, apa hubungannya dengan Tuan Muda Jason pikirnya.


"Kalau lo mau nunjukin betapa berkuasanya lo, biar gue juga tunjukin siapa yang paling berkuasa atas hidup lo, lo tau, lo bisa jatuh miskin seketika kalau lo berani berurusan dengan Jason Ares Adrian, dan sayangnya itu Bos gue." ucap Ben, tawanya menggelegar, menakutkan.


Satu-satunya wanita yang juga menjadi tawanan tepat berada tidak jauh dari Davin bergidik ngeri, kini ia juga mulai tersadar bahwa apa yang ia lakukan tadi sudah sampai di telinga dan mata Tuan Muda Jason Ares Adrian, itulah kenapa sebabnya ia juga bisa berada disini.


"Apa masih ngilu?" tanya Ben, ia menunjuk aset berharga milik Davin yang berguna untuk mencetak keturunan.


"Mau apa lo?" Davin mulai curiga, ia mengerti sekarang mungkinkah Muhammad Al-Fikram adalah orang yang berhubungan dengan Jason Ares Adrian, Tian Muda rekan bisnis kebanggaan Bokapnya itu.


"Sayangnya bagi gue hukuman mati untuk orang seperti lo terlalu mudah, gue yakin setelah keluar dari sini lo hanya akan mengharapkan Zarinda seorang, karena apa..."


"Aaarrggghhh" tidak ada jeda, bersamaan dengan itu Davin mengerang kesakitan, sebuah jarum suntik mendarat mulus tertancap di benda pusaka miliknya, ini sungguh gila, belum sembuh ngilu akibat Zarin yang menginjak pusakanya dengan kekuatan penuh, lalu sekarang pria dihadapannya ini malah menancapkan jarum suntik tepat dititik ngilu, dasar psikopat gila.


Ben hanya bisa bermonolog dalam hatinya,


Semoga aku nggak salah hukuman, soalnya si peselingkuh ada dua disini, tapi kayaknya jarum suntik yang disediain Bos tadi emang buat nih orang deh, biar mandul sekalian.


Yah Jason memang sudah menyiapkan segalanya, hanya saja ia tidak mau melakukan dengan tangannya.


Jarum suntik itu masih juga menancap di celana bagian area sensitif Davin, Ben enggan mencabutnya.


Dua tawanan lainnya masih mewanti-wanti melihat apa yang dilakukan pria dihadapannya ini, masing-masing meneguk salivanya kelat, bergidik ngeri entah apa yang akan terjadi pada mereka selanjutnya.


"Lepasin gue." teriak Davin.


"Jangan terburu-buru, sebentar lagi juga akan gue lepas, gue nggak akan lama-lama nyiksa kalian, bener kata Bos gue tadi durasi." ucap Ben santai.


"Gue mau kasih tau khasiat suntikan tadi, apa lo mau denger?" tanya Ben.


Kini mau tidak mau ia harus mendengarnya, bagaimana bisa mengatakan tidak karena tangan dan kakinya saja masih terikat.


"Lo nggak akan bisa punya keturunan Davin Azka Wirawan, seumur hidup kalau lo nggak ngarepin Zarinda jadi istri lo maka nggak akan ada yang mau sama lo, karena apa, karena lo cuma pria impoten mulai dari sekarang, hahahaha!" tawa Ben menggelegar, sudahlah satu pekerjaannya sudah tuntas.


"Bajingan, gue nggak ada urusan sama kalian, urusan gue sama Zarin itu urusan hidup gue, brengsek lepasin gue." teriak Davin, hilang sudah sakit di area sensitifnya berganti dengan rasa marah, yah hanya ada rasa kemarahan karena hidupnya telah diporak-porandakan.


"Dan dengar, gue harap lo nggak ingat apa yang udah gue lakuin sama lo, karena apa, lo itu cuma titik debu yang mudah saja disingkirkan." ucap Ben.


Kemudian sebuah televisi dinyalakan, terlihatlah Pak Wirawan sedang bekerja keras di kantornya, lalu di bagian lain ada pula sang Mamanya yang tengah berbelanja barang-barang branded, dan sang adik perempuannya tengah bersekolah bercanda riang dengan para sahabat-sahabatnya, Davin sadar ia tidak akan sanggup menghancurkan keluarganya jika ia berani memberontak sedikit saja, tidak ia pun juga tidak mau hidup dalam kemiskinan.


Ben menepuk pundak Davin, membisikkan sesuatu tepat ditelinga Davin, "Keluarga yang bahagia, gue suka keharmonisan ini." bisik Ben.


Air mata Davin menetes, apa segitu salahnya hingga ia harus mendapat hukuman seperti ini, tidak bisakah dibicarakan baik-baik, jika harus meminta maaf pada keluarga Muhammad Al-Fikram sesuai apa yang Papanya sarankan waktu itu dan berjanji tidak akan mengungkit masalah kejadian di Bar, ia siap, ia siap menanggalkan dendamnya pada Zarin.


Jika juga harus tetap membiayai pengobatan Ibunya Zarin, dia akan berusaha membujuk ayahnya meski dirinya tidak menikah dengan Zarin, yah dia akan melakukan apapun jika saja tadi masih bisa dibicarakan.


Namun semua itu hanya ada kalau kalau belaka, semua sudah terjadi, jarum suntik sialan sudah menancap di benda pusakanya, benar kata pria dihadapannya ini mungkin seumur hidupnya ia hanya bisa mengharapkan Zarin seorang untuk bisa menemaninya, itupun hanya jika Zarin masih mau dengannya.


"Masuklah!" perintah Ben, lalu beberapa orang suruhannya masuk dan langsung membuka pengikat pada tangan dan kaki Davin, Davin tidak berdaya lagi memberontak, bayang-bayang keluarganya yang diambang kehancuran jika ia bertingkah sekali saja langsung saja memenuhi otaknya, ia nampak terdiam bahkan pandangannya lurus kedepan, sungguh keadaan yang menyedihkan.


Benar apa yang pernah Jason katakan, saat orang-orang keluar dari tempat eksekusinya ini tidak ada yang keluar dengan wajah yang menyenangkan, karena hidupnya bagai sudah mati, pupusnya harapan membuat semua orang enggan untuk sekedar menikmati hidup.


Davin dibawa keluar, ia akan diantarkan pulang, hanya ada dua pilihan dalam hidupnya, bertahan dengan keadaan atau memilih pergi meninggalkan, kalau setelah ini mentalnya tidak sekeras baja pastilah ia akan memilih meninggalkan dunia ini, cara menghindari masalah dengan jalan ninja, cara cepat bertemu Tuhan, mungkin ia bisa mengadukan semua perbuatan Jason padanya, heh kalau tidak ingin menambah dosa silahkan lakukan.


Kini hidupnya telah dikendalikan oleh Jason Ares Adrian, ia sungguh tidak pernah membayangkan hal seperti ini akan terjadi padanya, pada keluarganya.


Jason ingin mengapresiasi apa yang telah Ben lakukan, jika itu Roy mungkin saja sudah gemetaran, atau bahkan tidak akan jadi untuk melakukannya, karena meski dulu Roy sering mengikuti permainan gilanya, Roy hanya sebagai asistennya saja, menyiapkan ini itu, atau membereskan ini dan itu, tidak pernah mengeksekusi secara langsung, dengan tangannya inilah, Jason sendiri yang akan menuntaskan lawannya.


Nampaknya Ben memang bisa diandalkan untuk hal semacam ini, semoga saja tidak banyak para tikus got ataupun ulat bulu kedepannya.


"Nah sekarang giliran siapa?"


Bersambung...


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...