
Jason masih memandangi tangannya, hari ini dengan tangannya itulah ia mengangkat tubuh Shirleen membawanya menuju Rumah Sakit, Dengan tangannya itu pula berapa kali ia mencoba membangunkan istrinya, dia bisa melakukan apa saja dengan tangannya, tapi lihatlah tangannya bahkan tidak mampu membuat Shirleen terbangun membuka mata saat ini.
Suaranya yang lantang dan tegas tidak dapat membuat Shirleen tersadar, matanya yang bagai elang itu pada akhirnya hanya bisa melihat apa yang telah terjadi.
Kau menyakitiku By...
Kau lah yang sebenarnya menyakitiku...
Hentikan semua ini By, hentikan aku mohon...
Tanpa sadar, kau lah yang menyakitiku...
Kau menyakitiku By...
Demi aku, demi Misca, demi Jacob...
Demi mereka yang selalu kau tunggu kehadirannya...
Shirleen masih ditangani, tidak ada satupun orang yang Jason kabari tentang apa yang menimpa Shirleen, tubuh istrinya masih terbaring lemah, semua dokter di rumah sakitnya sudah ia kerahkan untuk menangani Shirleen, namun terakhir yang ia lihat Shirleen tidak juga bangun.
Jason, kau sudah dewasa nak, sudah menjadi seorang ayah, ada sebuah keluarga yang menantikan kepulanganmu setiap hari setelah lelah bekerja, ada keluarga yang selalu menyambutmu, ada tangis dan tawa yang akan meramaikan kediamanmu, aku minta maaf karena telah membuatmu tidak terkendali seperti ini, namun jika kau sedikit saja bisa memahami arti keluarga kau akan mengetahui betapa sakitnya rasa kehilangan dan kau bisa memilah bahwa jalan yang kau ambil ini benar atau salah.
Ucapan Tuan Fred waktu itu juga jelas terngiang dibenaknya, apa ia memang belum cukup tau arti dari sebuah keluarga.
Aku tidak butuh dibalaskan dendam, aku hanya butuh kau terus berada di sampingku By...
Ah Shirleen, sekali lagi ia telah mengecewakan istrinya itu.
Jason bangkit dari duduknya, ia melihat Shirleen yang masih terus ditangani oleh para medis dari balik jendela kaca, tak terasa air matanya menetes, ia tidak bisa berbuat apa lagi kalau sudah begini.
"Selamatkan dia ku mohon, selamatkan istriku, selamatkan bayiku." gumam Jason, air matanya terus saja jatuh, ia benar-benar menangis kali ini, ia tidak kuat melihat banyaknya rangkaian alat-alat medis yang menempel di tubuh istrinya, dan terlebih semua itu adalah salahnya, semua itu karena dirinya.
"Aku yang salah, aku minta maaf By, aku akan membebaskan wanita itu jika kau bangun nanti, kau harus bangun By."
"Tuan Muda, bisa kita bicara?" tanya Dokter Eri yang menghampirinya.
Jason mengangguk kemudian mengikuti langkah Dokter Eri.
"Aku akan bicara sebagai seorang kakak yang berbicara pada adiknya, dengar Jason, kondisi istrimu melemah, mungkin kau juga sudah tau itu, untuk itu segeralah memberi tahukan kondisi nona Shirleen pada orang tuanya, kenyataannya selama ini nona Shirleen punya penyakit jantung dan entah bagaimana itu bisa tidak diketahui sejak dini, jadi kondisi yang nona Shirleen alami tadi adalah henti jantung."
"Kondisi ini terjadi karena gangguan listrik di jantung, yang mengakibatkan pompa jantung terhenti. Akibatnya, aliran darah ke seluruh tubuh juga terhenti."
"Gangguan irama jantung yang membuat ventrikel jantung hanya bergetar saja, bukan berdenyut untuk memompa darah, sehingga menyebabkan jantung berhenti secara mendadak."
"Berdoalah pada Tuhan untuk istrimu, dan juga supaya janin yang di kandungnya tidak apa-apa, kami para medis sedang berusaha menangani istrimu, apapun akan kami lakukan, namun perlu kau ketahui bahwa kami hanyalah dokter, tangan kami tidak selalu ajaib, jika Tuhan sudah berkehendak apapun bisa saja terjadi, dewasalah dalam berpikir." Dokter Eri menepuk pundak adik sepupunya itu untuk menguatkan.
"Apa dia bisa diselamatkan?" tanya Jason, hanya itu yang bisa keluar dari mulutnya.
"Berdoa saja, dan kami akan melakukan yang terbaik." ucap Dokter Eri.
"Dia tidak akan mati kan, dia tidak akan meninggalkanku kan?" Jason menatap sepupunya itu penuh harap.
Dokter Eri mengiba, ia yang mengetahui bagaimana tadi Shirleen di tangani, ia yang sudah menjalani setiap detil prosesnya, ingin ia memberikan semangat dengan mengatakan bahwa ya istrimu itu akan tetap hidup, tapi ia takut sesuatu yang buruk akan terjadi, ia tidak bisa memberi harapan pada Jason sedang disana Shirleen tidak bisa dipastikan kondisinya, dengan kemungkinan hidup yang hanya 20% saja.
"Kau tidak akan menyerah kan?"
Dokter Eri terdiam, bagaimana ia harus menjawab pertanyaan itu, nyawa adalah titipan, dan dirinya tidak bisa berbuat apapun jika Tuhan sudah berkehendak.
"Kau tidak menjawab, kenapa?" Jason sudah terisak.
"Maafkan aku Jason, meski berat aku harus mengatakan ini, Shirleen hanya bisa menyelamatkan dirinya sendiri, kami hanya melakukan apa yang kami bisa, selebihnya hanya Shirleen dan Tuhan yang tau." ucap Dokter Eri.
Pada akhirnya ia harus mengatakan itu, sebuah tanggung jawab dipertaruhkan jika ia tidak jujur mengenai kondisi pasien, bukannya ia lebih ke pemikiran buruk, namun karena itulah kenyataanya, ia sudah waspada.
"Enggak, dia tidak boleh meninggalkanku, lakukan apapun, aku perintahkan kalian semua untuk lakukan apapun Shirleen ku harus tetap hidup."
Dokter Eri meninggalkan Jason, ia harus kembali menangani Shirleen, semoga saja ada keajaiban.
Jason langsung saja berlari mengikuti dokter Eri, ia rasanya harus menemui Shirleen, dan melihat kondisi istrinya itu secara langsung.
"Aku harus masuk juga ke dalam." ucap Jason.
"Tidak Tuan Muda, biarkan kami bekerja." ucap Dokter Eri.
"Aku suaminya!" tegas Jason.
"Di Rumah Sakit, tidak ada status bahwa Tuan siapa, kau tidak bisa menunjukkan kuasamu disini Tuan Muda sehingga aku harus selalu menurut denganmu, biarkan kami melakukan pekerjaan kami dengan baik." Dokter Eri tak kalah tegas.
"Aku mohon, biarkan aku masuk juga, aku ingin melihatnya, aku ingin meminta maaf padanya." ucap Jason penuh harap.
Namun Dokter Eri tidak peduli, karena hal itu memang tidak diperbolehkan.
Jason melihat lagi Shirleen dari balik kaca, masih terus ditangani, alat kejut jantung juga sudah digunakan berkali-kali, melihat kenyataan dihadapannya Jason begitu hancur, dibalik ruangan ini Shirleennya sedang berjuang antara hidup dan mati, dan Shirleen masih belum bereaksi sedikitpun.
Ia sedikit banyaknya mengetahui tentang medis, Jason melihat ke arah layar monitor yang menampilkan kondisi jantung istrinya, sangat lemah.
Aku harus masuk, Shirleenku membutuhkan aku...
Tidak, Shirleenku tidak akan meninggalkanku...
Sekali lagi Jason menggunakan keahliannya, ia membuka paksa pintu ruangan itu dengan caranya, ia tidak perduli akan larangan dokter Eri.
Beberapa perawat nampak menatapnya penuh tanya, apakah pintunya tidak dikunci sehingga dirinya bisa masuk, mungkin begitulah kiranya yang bisa Jason baca atas keterkejutan ahli medis di situ.
Jason langsung saja menyambar baju APD yang sudah ia incar sedari tadi karena geramnya ingin masuk, dan lalu mengenakannya lengkap dengan sarung tangan dan masker.
"Aku hanya ingin menemaninya!"
Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...