
"Eehhmm" Jason ingin menghentikan kecanggungan ini.
"Kau boleh memelukku, silahkan saja" ucap Jason, mau bagaimana lagi dari pada membuat orang yang terkasihnya bersedih.
"Tuan Muda, maafkan saya kalau..."
"Kau masih mau tidak, aku hanya menawarkan ini satu kali" potong Jason.
Spontan saja Roy langsung memeluk Tuan Mudanya yang sudah ia anggap seperti adik sendiri itu.
Ada rasa haru sehingga air yang menggenang itu menetes dengan sendirinya.
"Terimakasih Tuan Muda" ucap Roy, ah rasanya ia terlalu senang hingga tidak tau lagi bagaimana cara mengungkapkannya.
"Sudah sudah, hentikan drama ini, kita masih punya banyak pekerjaan" ucap Jason, sebenarnya ia masih canggung karena belum bisa meresapi keharuan antara ia dan Roy.
Roy pun melepaskan pelukannya, mereka akan melanjutkan pekerjaannya, entah apa lagi tugas yang akan diberikan tuan mudanya itu padanya.
Shirleen pelan terbangun dari tidurnya kala ia meraba tempat di sampingnya tidak berpenghuni. Ia bangkit lalu berniat menuju kamar mandi untuk mencari keberadaan Jason.
"By... Kamu di kamar mandi yaaa" seru Shirleen. Namun sayangnya tidak jua terdengar jawaban.
Shirleen membuka kamar mandi yang ternyata tidak terkunci itu, dilihatnya tidak ada siapa-siapa, lalu dimana suaminya.
Ia bergegas keluar kamarnya, mencari dimana keberadaan Jason, namun masih juga tidak menemukan apa-apa, Jason benar-benar tidak dirumah.
"Ssssttt" sebuah bayang hitam lagi-lagi tertangkap oleh matanya, ia melihat ke segala penjuru ruangan, nampaknya dapur dan ruang sekitarnya baru saja dibersihkan, terbukti dari peralatan dapur yang kotor tidak ada lagi, dan sudah tertata rapi di tempat semula.
"By... " Panggilnya, kali saja itu memang Jason.
Tidak ada yang menyahut, hening seolah tidak terjadi apa-apa, dan rasanya memang tidak ada siapapun di dapur itu selain dirinya.
Kemana Jason...
Shirleen kembali ke kamar untuk menelpon suaminya, ia sudah tidak menghiraukan lagi bayangan hitam, biarkan saja meski ia begitu penasaran.
Panggilan pertama langsung tersambung, Jason masih bisa dihubungi.
"Halo By..."
^^^"Aku sedang ada pekerjaan By, tadi tiba-tiba Roy menelpon, maaf tidak membangunkanmu, tapi aku sudah kirimkan pesan supaya kamu tidak usah khawatir"^^^
"Ooohh, aku belum sempat membuka pesan, aku pikir kamu kemana"
^^^"Sebentar lagi selesai, aku akan segera pulang"^^^
"Ya sudah, selesaikanlah urusanmu"
^^^"Iya, love you..."^^^
Shirleen menutup telponnya, meski ia tidak tau urusan pekerjaan semacam apa yang dikerjakan dini hari begini, namun ia tetap mencoba berpikiran positif.
Ia mengecek keadaan anak-anaknya, Jacob seperti sudah mulai tidak nyenyak tidurnya, lalu ia mengambil bayinya itu dan membawanya kedalam dekapan, ia akan menyusui bayinya supaya kembali tertidur nyenyak.
Malam itu juga, Athar melakukan operasi ususnya yang terluka karena sabetan kaca, Riska tidak henti-hentinya berdoa supaya operasinya berjalan dengan lancar, semoga adik bungsunya itu bisa diselamatkan.
"Kamu sudah gila Riska, tidak waras, aku nggak nyangka kamu bisa melakukan semua ini" Rendi juga hadir disana, ia begitu terkejut saat mendengar apa yang telah terjadi pada Athar, tanpa basa-basi lagi ia langsung menuju rumah sakit tempat Athar dirawat.
Riska tidak menyahut, ia masih kecewa terhadap Rendi, ia enggan melihat wajah suaminya itu, namun diingatkan kembali tentang Athar ia sungguh sangat merasa bersalah.
"Athar itu adik kamu, kamu benar-benar gila, setelah Tiara kamu bahkan tidak segan berbuat hal buruk pada Athar, dimana hati nurani kamu" Rendi terus saja memarahi wanita yang masih berstatus istrinya itu.
"Kamu berubah Riska, aku tidak lagi mengenal kamu" ucap Rendi, ada sesal yang teramat menggunung memenuhi ruang hatinya, inikah Riska istrinya dulu, begitu berbeda.
Sangat dalamkah luka yang ia torehkan sehingga membuat Riska berhati batu seperti ini.
"Riska..." Rendi memegang lengan Riska yang nampak mulai berguncang, meski kecewa namun ia juga meyakini masih adanya setitik rasa untuk istrinya itu, namun untuk kembali bersama sepertinya memang sudah tidak lagi bisa ia jalani.
"Cukup Mas" bentak Riska "Kalau kau kesini hanya untuk menyalahkanku, lebih baik tutup mulutmu, jangan bersikap seolah kau mengetahui segalanya sementara kau sama sekali tidak tau apapun, apa yang kau dengar tidak selalu sama dengan apa yang kau lihat" ucap Riska, dari Delia hingga Rendi benar-benar menyalahkannya, menganggap ialah penyebab Athar menjadi tidak sadarkan diri seperti sekarang ini.
Mau bagaimana lagi, ia ingin menjelaskan tapi ia juga masih dipenuhi rasa takut, karena memang benar secara tidak langsung ialah penyebab terlukanya Athar, benar ia yang menusuk Athar dengan pecahan kaca hingga Athar berakhir menyedihkan seperti itu, benar ia yang melakukannya, namun tidak sedikitpun ia menginginkan ini terjadi.
"Jelaskan apa yang terjadi kalau begitu, kenapa kau tetap diam dan tidak menyangkal saat Delia menganggapmu yang ingin membunuh Athar" tanya Rendi, yakin tidak yakin ia sebenarnya juga meragukan.
Riska diam lagi, ia begitu sulit dikenali, bagai ada beban berat yang tengah ia pikul saat ini.
"Diam, kau diam lagi, bagaimana bisa, kalau kau benar tidak bersalah setidaknya jelaskan bahwa bukan kau yang melakukannya" tegas Rendi.
Delia yang melihat perdebatan antara kakak sulung dan iparnya itu tersenyum miring, ia sudah malas melihat sikap Riska yang seolah sangat mendrama itu.
Aku tidak akan percaya, entah apa yang terjadi sebenarnya, meski bukan kau yang melakukannya, atau memang kau yang melakukannya namun tidak dengan sengaja, tapi semua ini pasti karena dirimu, semua yang terjadi pasti ada hubungannya denganmu.
Jika sampai dalam waktu tiga hari Athar belum juga bangun, aku pastikan kau akan menanggung semuanya, kau yang akan bertanggung jawab.
"Hiks hiks, aku tidak bisa menjelaskannya, tapi percayalah bukan aku yang melakukannya, mana mungkin aku bisa melakukan itu pada adikku sendiri" bela Riska pada dirinya.
"Mana mungkin katamu, mana mungkin ? Heh kau sadar apa yang kau katakan Riska, jangan kira aku yang bodoh ini bisa mempercayaimu begitu saja, kalau bukan kau lalu siapa, Ibu yang sedang sakit-sakitan ? Fahri ? Kutanya apakah ia tapi katamu bukan dia, bahkan Fahri tidak berada dirumah jelasmu tadi, lalu apa ? Apakah Athar menusuk dirinya sendiri, apa maksudmu Athar ingin bunuh diri, kenapa ? Karena apa ? Aku tidak yakin, akuntidak percaya, Ibu bahkan pernah memisahkannya dari Shirleen, lalu Riana sakit-sakitan hingga gila, ia mempertaruhkan segala yang ia punya namun ternyata Riana menghianatinya, terkena kasus hingga ia jatuh miskin, mencari kerja dimana-mana dan apa saja pun pernah ia lakukan, lalu menghadapi kenyataan bahwa Fahira bukan anaknya, tidak sedikitpun ia mengeluh, aku tidak yakin Athar akan berpikiran sependek itu meski seberat apapun masalah dalam hidupnya, lalu kalau bukan kau siapa ?" Delia sudah meninggikan suaranya, ia geram sekali akan sikap Riska yang tidak mengakui namun jika ditanya hanya diam saja.
"Sungguh..."
Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...
Happy reading !!!