Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Sudah berakhir !


Yudha tidak bisa membendung tangisnya, bayangan Mamanya yang selaku menemani di setiap langkahnya bagai kaset kusut yang terputar berulang.


"Ma... Jangan tinggalin aku Ma..." lirih Yudha. Baru saja dirinya merasakan kebahagiaan mendapatkan seorang pendamping, namun satu orang terkasih malah pergi meninggalkannya hari ini.


"Ikhlas Yud, Mama udah nggak ada." ucap Angga menenangkan sahabatnya itu.


Saat ini mereka sudah berada di rumah duka, setelah sebelumnya Mama Wina memang sudah dinyatakan meninggal dunia oleh dokter yang memeriksa.


"Mama..."


Bila bicara ikhlas, jujur saja Yudha belum ikhlas, baginya ia belum bisa membahagiakan orang tuanya, meski Yudha termasuk anak yang penurut dan penyayang pada orang tua, namun tetap saja bagai ditinggal pas sedang sayang-sayangnya sekiranya begitulah yang dirasakan Yudha.


Yudha selalu memimpikan, orang tua tunggalnya itu akan bermanja dengan anaknya dan Weni kelak, namun apa mimpi itu harus ia kubur dalam.


Bagai anak ayam yang kehilangan induknya, begitulah yang Yudha rasakan, resah menyeruak di hati, sesak menekan dadanya, bagai kehilangan arah, memikirkan bagaimana hidupnya tanpa orang tua, yah karena Yudha memang sudah menjadi yatim piatu hari ini.


Proses pemakaman yang mengharu biru itu akhirnya bisa terselesaikan dengan baik, Yudha ambruk saat dirinya sudah sampai di rumah.


Hatinya hancur, benar-benar hancur.


Namun sebisa mungkin untuk menerima keadaan.


...##########...


Dua minggu kemudian,


Raut wajah tidak bersahabat dilayangkan Gilbert Cowan, pria paruh baya itu tidak terima atas putusan hakim yang memutuskan dirinya harus mempertanggungjawabkan kesalahannya menurut hukum negara ini, hukuman kurungan, di penjara seumur hidup, tidak pernah bisa dirinya bayangkan bahwa ia akan menanggung beban itu.


Bahkan pengacara yang dirinya sewa tidak bisa berbuat apapun untuknya, dan terdengar kabar hancurnya karier yang pengacaranya itu bangun selama sepuluh tahun lamanya.


Miris, bagaimana bisa semua tidak berpihak padanya.


Jason tersenyum smirk, matanya menatap remeh lawan yang sudah tumbang itu, seolah mengatakan 'Kau harus tau siapa yang kau anjak bermain-main!'


Sialan, benar-benar sialan, dia hanya bocah berumur delapan belas tahun, bagaimana bisa?


Lagi-lagi masalah umur, tidak taukah Tuan Gilbert selama ini bagaimana Jason menumbangkan rival-rivalnya.


Dua jam kemudian, seorang pria berjalan dengan tertunduk lesu menuju ke arah Jason, tangannya masih diborgol, berjalan semakin mendekat hingga memutuskan untuk berhenti tepat di hadapan Jason.


"Selamat..." ucapnya.


Jason tidak menjawab, rasa benci sungguh masih menggunung pada orang yang secara tidak langsung telah menghancurkan keluarganya, menghancurkan masa kecilnya, Adrian menyiksa mentalnya semasa kecil juga sedikit banyaknya dikarenakan oleh seorang Bayu Lesmana, yang sayangnya adalah pamannya sendiri.


"Kau pasti sangat membenciku." lirih Bayu.


Jason mengepalkan tangannya, untuk memandang wajah Bayu saja rasanya enggan, kalau bisa Jason sangat ingin meludah di wajah busuk pamannya itu.


"Aku minta maaf..."


Tidak ada sahutan, urusan maaf biarlah menjadi urusannya dengan Sang Pencipta, apa Bayu kira kesalahannya hanya secuil hingga dengan tanpa malu berucap maaf. Bertahun-tahun menguasai pikiran Adrian. Adrian saja yang terlalu bodoh tidak berani untuk berperang, sedang sebuah harga diri rela saja diinjak.


Namun kali ini Jason, meski mengalir darah Adrian Cakrawala di tubuhnya, namun Jason tidak selemah Adrian, Jason tidak mempunyai hati seluas samudra seperti Adrian.


Tidak juga ingin hidup damai hanya dengan mengalah, bagi Jason jika ingin hidup damai maka harus berani berperang, mencapai menang, menjadi penguasa maka tidak akan pernah ada yang berani mengusiknya.


"Jason..." panggil Bayu.


Sudut bibir Jason tertarik, rendahan! Batinnya.


Yah Bayu memang akan menjalani eksekusi mati sebentar lagi, nyawanya tinggal beberapa detik lagi.


"Aku tidak suka menjadi pengecut dengan hanya merasa kasihan padamu!" tegas Jason dengan masih enggan melihat lawan bicaranya.


Untuk saat ini, dirinya tidak akan bisa memaafkan Bayu, entahlah jika nanti, mungkin hatinya yang sekeras batu ini akan luluh dan bisa menerima di kemudian hari.


Bayu tertunduk lemas, kesalahan terbesarnya mungkin tidak akan termaafkan, dan harus ia bawa bersama kematian.


Pria paruh baya yang sayangnya adalah Paman Jason itu kemudian berlalu, menuju tempat eksekusi.


"Bisakah saya menghubungi istri saya satu kali lagi?" tanya Bayu pada polisi yang bertugas.


"Silakan!"


Salahnya juga karena sebelum berpisah dari istrinya, Bayu sempat menyarankan supaya istrinya itu menutup semua akses komunikasi, jadilah mungkin ia akan mati tanpa tau kabar dari istrinya. Atau mungkin juga istrinya itu akan mengetahui kematiannya lewat berita tentangnya yang sebentar lagi akan bermunculan.


Setelah beberapa kali menghubungi nomor istrinya dan tidak ada sama sekali sambutan, Bayu pasrah mungkin memang sudah takdirnya.


"Ada sudah siap?" tanya polisi yang bertugas sebagai pengeksekusi.


Dengan berat hati Bayu mengangguk. Jantungnya berdetak lebih kencang, dadanya sesak memikirkan nasib tragisnya.


Sumpah demi apapun, yang sebenarnya Bayu tidak akan pernah siap.


Namun inilah akhirnya, keputusan yang sudah final, kini Bayu benar-benar percaya, siapa yang bisa melawan Jason Ares Adrian?


Kepala Bayu mulai dikenakan kain hitam, menutupi seluruh wajahnya, diarahkan menuju tempat eksekusi mati.


Regu penembak mengatur posisi dan meletakkan 12 pucuk senjata api laras panjang di depan posisi tiang pelaksanaan pidana mati pada jarak 5 meter sampai dengan 10 meter.


Jaksa Eksekutor mengadakan pemeriksaan terakhir pada Bayu Lesmana, dan juga memeriksa senjata yang akan digunakan.


Jaksa eksekutor mengangguk, Komandan Pelaksana memerintahkan Komandan Regu penembak untuk mengisi amunisi dan mengunci senjata ke dalam 12  pucuk senjata api laras panjang dengan 3 butir peluru tajam dan 9 butir peluru hampa yang masing-masing senjata api berisi 1 butir peluru.


Jaksa Eksekutor memerintahkan Komandan Regu 2 bersama anggotanya untuk membawa terpidana ke posisi penembakan dan melepaskan borgol lalu mengikat kedua tangan dan kaki terpidana ke tiang penyangga pelaksanaan pidana mati dengan posisi berdiri.


Dokter memberi tanda berwarna hitam pada baju terpidana tepat pada posisi jantung sebagai sasaran penembakan. Komandan Regu 2 melaporkan kepada Jaksa Eksekutor bahwa terpidana telah siap untuk dilaksanakan pidana mati.


Jaksa Eksekutor memberikan isyarat kepada Komandan Pelaksana untuk segera dilaksanakan penembakan terhadap terpidana Bayu Lesmana, memberikan isyarat kepada Komandan Regu penembak untuk membawa regu penembak mengambil posisi dan mengambil senjata dengan posisi depan senjata dan menghadap ke arah Bayu.


Dan pada akhirnya,


Waktu cepat berlalu, Bayu tidak bisa melihat ataupun membayangkan bagaimana dirinya di bunuh, hingga tembakan serentak menghentikan hidup dan pikirannya. "Dorrr!" tepat sasaran, beberapa peluru mendarat tepat pada sebuah tanda di bajunya, melukai jantungnya hingga Bayu dinyatakan sudah benar-benar meninggal dunia.


Sudah berakhir! batin Jason yang sebenarnya sedang melihat semua itu dari kejauhan.


Bersambung...


*


*


*


Like, koment, and Vote!!!