
Petinggi Julian Group saat ini sedang heboh, karena tiba-tiba saja ARAD Group ingin melakukan kerja sama dengan perusahaannya.
Pak Haris bahkan bingung, kenapa tiba-tiba sekali, dan lagi CEO ARAD Group bahkan mengundangnya untuk makan malam. Ini sungguh diluar nalarnya, bukannya ia yang seharusnya mengajukan kerja sama ke perusahaan raksaksa itu, malah sebaliknya. Namun ia tak henti-hentinya mengucap syukur.
Jika kerja sama ini berhasil, otomatis perusahaannya akan berdampak lebih baik lagi nantinya.
Athar kini sedang makan siang dirumahnya, Ia tahu makanan yang dimakannya saat ini adalah makanan yang dibeli istrinya di restauran, walaupun istrinya itu mengatakan kalau ia yang memasak makan siangnya. Ia membiarkan itu, karena Riana sedang hamil, ia tidak ingin marah-marah dan membuat mood istrinya itu jadi jelek.
"Mas, tadi ibu kesini" Riana mulai memasang wajah minta dikasihani.
"Kenapa, Ibu memang seperti itu setiap bulan ia selalu mampir kesini tidak ada salahnya kan" Jawab Athar.
"Tapi Mas, Ibu kamu itu keterlaluan, dia bilang aku tidak pantas mendampingi kamu, padahal aku hanya tidak mengerjakan pekerjaan rumah hari ini, aku lemas sekali mas rasanya, bayi kamu minta diperhatiin terus" Alasan Riana yang dibuat-buat untuk mempengaruhi Athar.
"Mas, kamu kan udah naik jabatan nih, aku juga lagi hamil, gimana kalau kita ambil pembantu aja, buat ngurus rumah ini, masak, aku capek Mas, nanti takutnya kalau ibu dateng lagi kesini trus rumah berantakan kayak tadi aku bakalan bertengkar lalu sakit hati, untung aja tadi masih bisa nahan emosi, aku sedih banget tau dikatain istri nggak berguna dan aku takut itu akan mempengaruhi bayi kamu, aku nggak mau bayi kita kenapa-napa" Riana mulai mendrama, bahkan ia sudah menangis saat ini.
"Heemm" Athar menghela nafasnya "Ya udah nanti aku cariin pembantu buat nolongin kamu disini" Athar tersenyum dan mengelus puncak kepala istrinya itu.
"Yeeee makasih ya Mas, kamu emang selalu perhatian sama aku, jadi makin sayang akunya" Gombal Riana.
Athar pun yang telah menyudahi makan siangnya itu, segera bersiap untuk kembali kekantornya, semenjak menjadi asisten pribadi dikantornya, ia tidak bisa berlama-lama makan siang dirumah, ia selalu diburu waktu karena atasannya selalu menyuruhnya ini dan itu, namun gaji yang lumayan membuat ia menerima segalanya.
"Aku pergi dulu yaaa sayang" Athar mengecup bibir Riana sekilas.
"Mas, aku mau ngemall nanti, kamu transfer yah" renggek Riana.
"Ya udah, nanti aku transfer kalau udah sampai kantor" Athar pun hanya bisa menghela nafasnya kasar, ia mulai membandingkan Shirleen dan Riana.
Shirleen adalah anak orang kaya, namun ia tidak suka berfoya-foya, sementara Riana yang dari kalangan biasa perasaan baru dua hari yang lalu ia mentransfer sejumlah uang ke rekening istrinya itu untuk berbelanja, hari ini sudah minta lagi.
Baru dua bulan ia tinggal bersama, namun sepertinya naiknya jabatan sungguh tidak ada artinya, ia bahkan tidak bisa menabung untuk istrinya melahirkan dan kebutuhan calon buah hatinya nanti, semuanya habis untuk Riana.
Padahal ia berpikir naiknya jabatan itu adalah rezeki anak dikandungan Riana yang membawa kebaikan dan rezeki yang berlimpah.
Sesampainya dikantor, Athar segera mentransfer sejumlah uang ke rekening istrinya, biarkanlah istrinya itu bersenang-senang, ia masih bisa menabung lagi nantinya.
Riana begitu senang melihat notifikasi M-banking di ponselnya, ia segera berkemas untuk pergi berbelanja.
Shirleen dan Misca saat ini sedang berada di restaurant cepat saji di Mall XXX, Shirleen ingin menyenangkan Misca, sudah lama semenjak masalah datang bertubi-tubi dihidupnya ia tidak hangout bersama malaikat kecilnya itu, kini ia sudah berdamai dan mencoba menikmati hari.
Setelah makan ia dan Misca menuju toko tas branded, Shirleen memang sudah lama tidak belanja, ia ingin membeli sebuah tas yang nyaman dibawanya untuk periksa kehamilan, karena besok ia akan memeriksakan kehamilannya.
Namun ia malah dikejutkan oleh suara perempuan yang telah merusak rumah tangganya. Yah istri mantan suaminya kini dengan sinis melihat kearahnya.
"Emmm, kamu tau aku itu membawa keberuntungan bagi Mas Athar. setelah kami tinggal bersama Mas Athar langsung deh naik jabatan, makannya aku bisa belanja ini dan itu" Sungguh sombong istri mantan suaminya ini.
"Entah dimana Athar nyomot ini mahluk, dengan tingkahnya yang kayak gini, sultan bukan malah norak sih iya" Batin Shirleen.
"Mbak, tas ini berapa ?" Riana menanyakan tas tangan branded Hermes kepada pelayan toko.
Namun gengsinya terlalu tinggi, ia tidak mau dianggap miskin oleh mantan istri suaminya itu.
"Yaudah saya ambil yang ini" Riana pun membeli tas hermes tersebut dan hendak membayarnya di kasir.
Namun Shirleen yang melihatnya tiba-tiba ingin sedikit memberi pelajaran untuk wanita ular itu. Ia masih dendam karena kejadian dirumah sakit waktu itu.
Ia lalu mendekati kasir dan mengatakan ia akan membeli tas itu lebih mahal dengan harga delapan belas juta. Shirleen tau toko ini hanya menyediakan stok barang satu-satunya, maka jika ingin membeli tas yang sama maka harus menunggu pengiriman barang selanjutnya.
Saat Riana ingin membayar tasnya, kasir tersebut mengatakan kalau tas yang ingin dibayarnya sudah menjadi milik Shirleen.
"Hah, gimana bisa, kan saya duluan yang ambil" Protes Riana.
"Mbak ini membelinya delapan belas juta Mbak, lebih mahal dari Mbak, dan pula tas ini sudah dibayar duluan oleh Mbak ini" Kasir tersebut menjelaskan sambil menunjuk Shirleen.
"Ya nggak bisa gitu dong, kan saya duluan yang ambil" Riana menjadi begitu kesal dengan Shirleen, tanpa pikir panjang ia berkata akan membeli lebih mahal dari Shirleen "Saya akan beli delapan belas juta lima ratus, siniin itu punya saya" pinta Riana.
"Enggak, saya akan bayar tas ini seharga dua puluh juta" Ucap Shirleen tegas.
Ia yakin Riana tidak punya uang sebanyak itu, kalaupun ada mungkin ia harus meminta lagi dengan mantan suaminya.
"eerrrggghh" Riana menggeram menatap Shirleen marah, kini tas yang diinginkannya telah menjadi milik Shirleen.
Shirleen sebenarnya tidak begitu menginginkan tas itu, namun ia ingin sedikit bermain-main dengan istri baru suaminya itu. Ia sangat puas sekali.
Ia melangkahkan kakinya mendekati Riana, dan berbisik ditelinga Riana.
"Bagaimana, bukankah sangat menyenangkan kalau apa yang kamu inginkan telah menjadi milik orang lain"
"Cukup sekali aku memberikkan milikku untukmu, dan untuk ini tidak akan lagi..."
Shirleen tersenyum smirk lalu pergi dari toko itu, meninggalkan Riana yang tampak sangat kesal.
Riana kesal, kenapa saat ia berhasil merebut Mas Athar, Shirleen masih lebih kaya dibandingkan suaminya. Seharusnya sekarang ia melihat Shirleen menderita namun nampaknya itu tidak terjadi.
Sungguh Riana yang malang !!!
Bersambung...
*
*
*
***Hallo readers jangan lupa like, koment, dan vote cerita ini yaaa
Happy reading*** !!!