Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
"Bayi kita!"


"Dia siapa?" tanya Shirleen, ia mengkerutkan keningnya heran.


"Dia By, bayi kita!" jawab Jason, ia masih menetralkan jantungnya, sungguh mimpi tadi bagai begitu nyata.


"Bayi kita?" tanya Shirleen lagi.


"Iya, maksudku salah satu bayi kita, dia yang ada di perutmu, aku mimpi dia, dia menggenggam tanganku dan mengatakan sesuatu, tapi kemudian pergi." jelas Jason.


"Benarkah? Tapi bagaimana bisa?"


Jason mendekatkan telinganya pada perut Shirleen, tidak ada pergerakan, ia lalu menatap lembut istrinya. "Dia yang laki-laki, aku juga tidak menyangka kalau dia akan datang dalam mimpiku, By kau tahu dia sangat tampan, wajahnya mirip sepertimu, aku masih ingat wajahnya meski aku aku hanya melihatnya sekilas, karena aku dan dirinya pernah saling tatap. Aku mengenali matanya, ya Tuhan dia benar-benar anakku!"


"Lalu apa kau lihat bayi perempuan?" tanya Shirleen.


"Ah sayangnya tidak, tapi dia mengatakan kalau dirinya siap untuk lahir ke dunia bersama dengan adiknya."


"Yah mungkin saja itu memang anak kita By, aku turut senang mendengarnya." ucap Shirleen tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi, Jason tidak menjelaskan detailnya, ia hanya menceritakan separuh dari mimpinya saja.


Jason tersenyum manis namun ada kegundahan dalam hatinya, entahlah kali ini ia merasa ragu, ragu akan menceritakan atau tidak masalah yang mengganjal dalam hatinya, sungguh ia tidak ingin membebani Shirleen dan membuat Shirleen khawatir.


"Ah iya By, ini minum dulu... Aku jadi lupa memberikan ini." ucap Shirleen, sembari tangannya memberikan satu gelas air putih pada suaminya.


"Terima kasih By!"


"Ya sudah, lebih baik kita tidur, besok kau harus bekerja kan By? Tadi mengapa pulang larut? Apa pekerjaan kantor sedang banyak?" tanya Shirleen, meski ia jarang sekali menanyakan urusan kantor, namun kali ini ia memilih menanyakan itu, dia tidak ingin Jason terlalu letih bekerja.


"Yah, besok aku harus bekerja, kalau dibilang banyak... Tidak juga, tapi untuk beberapa hari ini sepertinya aku tidak bisa libur By!" jelas Jason.


"Apa ada masalah By?" tanya Shirleen lagi.


"Eemm, hanya masalah kantor biasa, tapi kau tahu kan aku tidak pernah menganggap masalah kantor sebagai masalah sepele!" jawab Jason.


"Ah iya kau benar By, ya sudah aku akan mengganti popok Jacob dulu, kau tidur lah!" ujar Shirleen.


"Cup." Shirleen mengecup singkat bibir suaminya, bukan hanya sebagai pengantar tidur namun supaya Jason bisa lebih tenang, karena sesungguhnya shirleen mengetahui bahwa suaminya itu sedang tidak baik-baik saja, meski ia tidak tahu apa yang telah terjadi, beratkah yang suaminya hadapi? Atau memang hanya sebatas masalah kantor biasa.


Ingin mencari tahu namun Shirleen tidak tahu akan pada siapa ia menanyakan kecurigaannya ini.


Shirleen melihat popok Jacob nampak penuh, lalu dia menggantinya dengan yang baru, setelah selesai ia membawa Jacob dalam dekapan dan lalu menyusui bayinya itu.


Beruntung sekali bayi gembul itu selalu saja anteng tidak pernah rewel.


Selesai menyusui Jacob, Shirleen mengembalikan Jacob ke dalam box bayi.


Shireen melihat Jason yang nampak sudah kembali merebahkan diri, mata suaminya telah terpejam mungkin suaminya itu sangat lelah.


Kalau sedang tidur begitu aku masih tidak menyangka bahwa aku pernah menolaknya, tidak menyangka bahwa saat ini aku akan benar-benar mencintainya, tidak ingin kehilangannya, dia benar-benar membuat aku selalu bergantung padanya.


Shireen mengusap perutnya yang mulai membuncit, ia berkata pada janinnya "Apa benar kalian baru saja menemui Papa lewat alam mimpi? Apa bisa datang pada mimpi Mama juga? Mama iri sekali!"


Shirleen menuju pembaringan, ia juga akan melanjutkan tidurnya, semoga besok adalah hari baik.


Yuda tidak bisa tidur karena terus-terusan memikirkan perkataan Weni tadi saat mereka sedang berbincang di telepon.


Meski Weni tidak secara langsung mengatakan bahwa wanita itu ingin Yudha bersamanya, namun Yudha bisa mengerti bagaimana sesaknya Weni menanggung rindu karena dirinya pun sama.


Tapi mau bagai mana lagi, jarak dan waktu seakan memang menjadi penghalang terbesar untuk hubungan mereka.


"Aku harus apa?" gumam Yudha, ia benar-benar bingung, meski ia bisa memaksakan diri untuk secepatnya menyelesaikan kuliahnya namun sesingkat-singkatnya haruslah tiga tahun lamanya, itu juga sudah sangat cepat.


Lalu bagaimana dirinya dan Weni bisa bertahan menggenggam rindu? Bak seperti menggenggam pasir kering di pantai, saat digenggam maka pasir itu pun akan luruh menyisakan sedikit pasir yang masih tertinggal digenggaman, mungkinkah cintanya juga akan seperti itu.


Yudha takut yang sedikit itu malah akan menjadi tidak bersisa.


"Yah aku rasa jika kami menikah mungkin itu lebih baik, aku bisa membawa Weni ke sini dan hidup bersama, dia juga tidak perlu repot-repot bekerja, jika dia tidak mau kehilanganku, maka dia pasti mau untuk ikut denganku." gumam Yudha.


Tapi lagi-lagi Yuda memikirkan rencana tindakannya, karena Weni pernah berkata bahwa ia tidak akan pernah meninggalkan pekerjaannya, pekerjaan yang sangat susah sekali Weni gapai, bagi Weni tidak akan mudah melepaskannya.


"Menjadi karyawan saja mengapa harus sangat royal?"


Yuda Tidak mengantuk sama sekali, Dia membuka laptopnya, terpampanglah foto dirinya dan Weni yang sempat diambil saat di cafe Jason sebelum mereka berangkat ke bandara waktu itu.


Yudha tersenyum dan mengusap foto kekasihnya itu "Aku kangen yang, tunggu aku! Kita akan segera menikah, mungkin itu adalah jalan satu-satunya supaya hubungan kita bisa bertahan." gumamnya lagi.


Yudha mulai mengetikkan sesuatu, kata demi kata ia rangkai menjadi sebuah kalimat, Lalu kalimat itu bersambung terangkai menjadi sebuah cerita.


Yah, dirinya sedang menulis kisahnya sendiri, rasanya hanya itu yang bisa ia lakukan untuk sedikit meredakan rindunya pada sang kekasih.


Sudah tiga hari ini Yudha melakukan itu, dirinya menceritakan kisahnya dari saat awal ia bertemu dengan Weni, sebuah bab yang ia beri judul "D****ia ceroboh sekali", Yudha masih ingat saat dirinya bertabrakan dengan Weni di Klinik Mamanya, ia bahkan sempat adu mulut dengan Weni lalu setelah itu ia juga masih ingat pasal dirinya pernah menolong Weni dari mobil yang ia kira mogok, padahal ternyata Weni saat itu sedang kehabisan bahan bakar.


Yudha selalu tertawa di bagian ini, lucu sekali rasanya bahkan dirinya pernah mengatai Weni Tante-Tante modus.


Yudha tidak menyangka kalau dirinya akan jatuh cinta dengan dia yang ceroboh sekali itu.


Persis seperti judulnya, Weni memang begitu ceroboh tapi sebab itu juga Yudha bisa ada ketertarikan dengan Weni dan jatuh cinta.


Yudha tidak merubah sedikitpun cerita pada apa yang ditulisnya, nama pemerannya pun juga sama, Yuda dan Weni, cerita ini rencananya akan ia kirim di salah satu platform novel online dan akan Yudha beri judul "LDR (Lelah Dilanda Rindu)"


Sangat sama dengan apa yang sedang ia alami bersama Weni.


Jika sudah rampung dua puluh bab, baru rencananya akan ia publish, ia akan mengabadikan kisah cintanya di situ, biar bisa dibaca saat pada waktu luang nanti, mungkin setelah dirinya dan Weni menikah.


Sungguh Yudha yakin sekali bahwa hubungannya dan Weni akan baik-baik saja meski mereka berjauhan, sebab itu ia bisa percaya diri untuk mengirim naskah novel yang berisikan kisah nyata perjalanan cintanya dengan Weni.


Bersambung...


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...