
Jason yang mendengar semua itubtersenyum smirk, pertengkaran antara keluarga, heh rumit sekali.
"Kau sudah tau apa yang harus kau lakukan Roy ?" tanya Jason pada Roy yang masih setia mengekor di belakangnya.
"Iya Tuan Muda" jawab Roy.
"Bagus"
Pagi menjelang, Jason sudah berada di samping Shirleen saat Shilreen terbangun pagi harinya, entah kapan Jason pulang ia sama sekali tidak menyadarinya.
Dilihatnya wajah sang suami, ada gurat lelah yang terlukis di wajah itu, entah apa yang sebenarnya Jason kerjakan dini hari tadi.
Kemana pun kau pergi, semoga selalu dalam lindungan-Nya. Terimakasih suami terhebatku, aku percaya di setiap langkahmu kau selalu memikirkan kami.
Shirleen lalu bergegas melakukan aktivitas pagi seperti biasanya, ia berencana akan membuat nasi uduk untuk sarapan kali ini.
Jason masih bergelut dengan selimut, kantuk memang tengah menyerangnya saat ini, ia kembali kerumah sebelum azan subuh berkumandang.
Maafkan aku By, aku melakukannya lagi.
"Ayah... Ayah..." ujar Misca dalam tidurnya, anak gadisnya itu ternyata sampai mengigau memanggil-manggil ayahnya.
Jason yang memang terbangun karena rintihan Misca, langsung saja mengecek suhu tubuh anak gadisnya itu karena melihat badan Misca yang sudah berkeringat.
Ternyata badan Misca lumayan panas, sepertinya anaknya itu demam.
Kasihan sekali kamu sayang, Papa akan berusaha untuk ayahmu tetap hidup.
Jason mulai mengambil obat di kotak P3K, lalu mengambil air hangat untuk mengompres badan Misca.
Setelah selesai mengompres badan Misca, ia segera turun ke dapur untuk menyuruh Shirleen membuatkan bubur untuk Misca.
"By kamu sudah bangun ?" tanya Shirleen.
"Iya, Misca demam By, kamu bikinin bubur dulu yaaa, kasih makan dulu lalu minum obat" ucap Jason, ia kemudian kembali ke kamar untuk menemani Misca dan Jacob.
Dilihatnya Jacob juga sudah bangun dari tidurnya, ia segera menghangatkan asi untuk kemudian diberikan pada Jacob.
Kedua anak ini adalah anak Athar, apa jadinya jika Athar sudah tiada di dunia ini, mungkin Jacob tidak akan apa karena bayi itu tidak mengenal Athar sebagai ayahnya, namun bagaimana dengan Misca, bahkan putrinya itu sampai demam memikirkan ayahnya, anak sekecil itu.
Ia mengurus Misca dengan terus mengompres badannya supaya panasnya bisa turun sembari menunggu bubur dari Shirleen.
"Ayah..." gumam Misca lagi.
"Kakak, ini Papa, ayo bangun dulu, makan lalu minum obat" ucap Jason saat melihat Shirleen sudah diambang pintu masuk dengan membawa semangkuk bubur.
Misca terbangun, ia sedikit kecewa saat yang dilihatnya adalah papanya bukan sang ayah, padahal dalam mimpinya ia terus memimpikan ayahnya.
"Papa, apa ini sudah pagi ? Misca ingin bertemu ayah" ucap Misca.
Jason menoleh pada Shirleen, dengan sikap yang sama Shirleen pun juga menoleh ke arahnya, pasangan suami istri itu saling pandang, Shirleen masih menghargai Jason jadi ia tidak berani untuk mengatakan iya, sedang Jason, ia begitu bingung bagaimana menjelaskan keadaan Athar pada Shirleen, bagaimana menjelaskan pada Misca.
"Papa, Misca ingin ketemu ayah" ulang Misca lagi.
"Eemm nanti yaaa, nanti kita kerumah ayah" jawab Jason pada akhirnya.
"Janji ya Papa" ucap Misca lagi.
"Iya, tapi Misca harus sembuh dulu, jangan demam kayak gini, ayok sarapan lalu minum obat" ucap Jason.
Misca dengan antusias melahap sarapannya, lalu ia meminum obat yang diberikan Bundanya, sementara Jason sudah memandikan Jacob, bayi gembul itu sudah tampan sekali pagi ini.
"By, emang boleh Misca ketemu ayahnya" tanya Shirleen.
"Ya boleh lah By, siapa yang bisa larang Mas Athar kan memang ayahnya, lalu kenapa aku harus membatasi ruang temu mereka" jawab Jason, ia tidak boleh egois bukan.
"Makasih ya By, mungkin juga benar Misca sampai demam begini karena kangen sama ayahnya, kemaren kan ia hanya sebentar" ucap Shirleen.
"Mungkin juga" jawab Jason.
"Kamu nggak marah kan By ?" tanya Shirleen lagi, ia takut sekali menyinggung perasaan suaminya.
"Heh, kamu pikir aku ini papa yang kejam apa"
Sementara di rumah sakit,
"Keluarga pasien" ucap Dokter yang menangani operasi Athar.
"Saya dok" ucap Delia.
"Saya kakaknya Dok" ucap Riska.
Rendi pun maju untuk mendengar apa yang terjadi pada Athar, apakah operasinya berhasil atau tidak, semoga saja berhasil dan Athar berangsur membaik, ia sangat berharap untuk itu.
"Operasinya berjalan dengan baik, hanya saja pasien masih membutuhkan banyak darah, stok darah B+ dirumah sakit ini sudah habis, diharapkan untuk keluarga pasien segera mencari pendonor" ucap dokter tersebut.
"Apa kami sudah bisa melihat adik kami Dok ?" tanya Riska.
"Untuk saat ini belum, saat sudah dipindahkan ke ruang perawatan barulah pasien baru bisa dijenguk" jawab Dokter.
Delia, Riska, dan Rendi pun mengangguk mengerti.
"Mas Rendi, apa Mas ada kenalan atau siapapun yang bergolongan darah B+ ?" tanya Delia.
"Aku juga tidak tau Del, aku A, apa kalian berempat tidak ada yang sama golongan darahnya dengan Athar ?" tanya Rendi.
"Tidak Mas, Athar hanya sama dengan almarhum Ayah" jawab Delia.
Rendi mengangguk mengerti, tapi ia juga bingung, bagaimana caranya menolong Athar.
"Nanti aku ke tanyakan sama rekan-rekanku di kantor, kali saja ada yang sama dan mau donor" ucap Rendi memberi solusi.
"Iya Mas" pasrah Delia.
Ia juga membuka ponselnya, memberitahukan keadaan Athar pada sang suami, dan tak lupa juga untuk meminta pertolongan mencarikan pendonor yang bergolongan darah B+.
Seorang wanita sedang melihat postingan di sebuah forum komunikasi rumah sakit yang selalu ia kunjungi di beberapa bulan terakhir ini.
Seorang pasien sedang membutuhkan darah B+ dengan segera.
Ia tergerak hati untuk membantu, karena ia juga pernah ada di posisi seperti itu, orang tuanya bercerita, bahwa beberapa darah orang asing telah bersarang di tubuhnya saat ia tidak sadarkan diri.
Ia sangat beruntung, karena beberapa orang asing tersebut ia bisa kembali hidup bahagia bersama kedua orang tuanya, bersama orang-orang yang sangat ia sayangi.
"Ma, Pa, sini deh" ucapnya.
Kedua orang tuanya pun mendekat kearahnya.
"Bawa aku ke rumah sakit ini sekarang"
"Lho kenapa ?" tanya Mamanya.
"Aku pengen donor darah Ma" ucapnya.
"Lho sayang jangan, kamu aja baru beberapa bulan ini bisa hidup normal, donor darah itu harus dalam keadaan yang sehat banget, enggak ah jangan dulu" tolak Mamanya.
"Ma, Mama sama Papa ingat nggak, Mama sama Papa pernah cerita ke aku kalau ditubuhku ini ada beberapa darah orang asing yang bercampur dengan darahku" ucapnya.
"Mama dan Papa juga pernah bilang, kalau Mama sama Papa senang banget karena beberapa orang asing itu akhirmya aku bisa ngelewatin masa kritis aku"
"Aku sehat Ma, Pa, sehat banget malah" ucapnya meyakinkan.
"Aku pengen berguna Ma, Pa, orang ini katanya sedang kritis, boleh ya Ma, Pa"
"Haahhh" kedua orang tuanya hanya bisa mengembuskan nafas pelan tanda tidak bisa berbuat apa-apa.
Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...
Happy reading !!!