Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Dia akan pergi !


"Ayah !" pekik girang Misca saat ia menemui Ayahnya di Rumah Sakit.


Athar melihat ke sumber suara, anak gadisnya yang sangat ia rindukan hadir menjenguknya.


"Sayang !" ucap Athar.


"Ayah, apa sekarang Ayah sudah sembuh ?" tanya Misca.


"Sudah !" jawab Athar.


"Ayo kita main !" ajak Misca.


"Misca sayang, Ayah sedang sakit saat ini, jika nanti Ayah sudah benar-benar sembuh, baru bisa diajak main." ucap lembut Delia pada keponakannya itu.


Misca memperhatikan wajah Delia lekat, apa ia mengenal wanita ini, apa ia pernah melihatnya sebelum ini pikirnya.


Pernah, hanya saja Misca tidak punya kenangan pada wanita dihadapannya ini, jadi ia tidak bisa mengenali.


Saat Misca masih kecil, dibawah tiga tahunan Shirleen masih sering berkunjung kerumah mertuanya, meski ia adalah menantu yang sama sekaki tidak dianggap kehadirannya, saat pada acara-acara keluarga ia selalu menyempatkan diri untuk hadir, namun setelah ia merasa jenuh dan sakit hati akan perlakuan dari keluarga Athar, ia mulai menjaga jarak, dan renggangnya sebuah hubungan membuat Misca tidak terlalu mengenal siapapun dari keluarga sang Ayah.


"Tante siapa ?" tanya Misca heran.


Athar tercengang, sejauh inikah jarak yang telah keluarganya buat pada anaknya, ia mengingat masa kecil Misca yang tidak pernah sama sekali mendapatkan kasih sayang dari pihak keluarganya.


"Sayang, ini Tante Del, ini Tantenya Misca juga." jelas Athar, meski sebenarnya terlambat ia menjelaskannya.


"Oohh, hai Tante Del !" sapa Misca untuk pertama kalinya.


Delia merasa teriris, sebegitu kejamnyakah ia dulu, sampai-sampai ini adalah interaksi pertamanya dengan si keponakan.


"Hai juga sayang, main sama Tante aja yaaa !" ajak Delia.


"Yuk !" angguk Misca.


"Non Misca..." seru Ipah sekaan ingin mencegah.


"Tidak apa Bi Ipah, katanya Tante ini Tanteku, bukan orang asing !" ujar Misca, seakan tau apa yang ingin Maidnya itu katakan. Papanya selalu mengingatkannya untuk tidak bicara pada orang asing.


Heh dasar keluarga penjilat !


Ipah mengumpat didalam hatinya, ia ingin menyelamatkan Misca dari keluarga penjilat seperti keluarga Athar, ia tau Misca dulu tidak pernah diinginkan oleh keluarga Athar, hanya setelah Shirleen menikah dengan Tuan Mudanyalah keluarga Athar baru seperti hendak menerima, mungkin saja bukan benar-benar menerima hanya takut saja mengingat betapa berkuasanya Jason Ares Adrian.


Di sebuah Danau, seorang gadis tengah melempari batu kedalam Danau untuk melampiaskan kekesalannya.


"Kenapa datang jika harus pergi ?"


Ia bertanya pada air yang tidak lagi tenang karena banyaknya batu yang ia lempari.


"Kenapa mencintai jika hanya membuat luka ?"


"Mengapa harus bilang mencintaiku, mengapa ?"


"Mengapa mengatakan ingin bersama, kalau sebenarnya akan meninggalkan ?"


Weni masih terisak, di Danau itu tidak ada siapapun selain dirinya, jauh dari keramaian karena tempatnya yang lumayan terasing.


"Aku memang lambat menyadari, tapi tidak bisakah dia berjuang lebih lama lagi ?" sesalnya, ia sungguh menyesal karena baru menyadari perasaannya.


"Dasar brengsek, dia akan meninggalkanku, bahkan sebelum kami memulainya."


"Kakak..." sebuah suara membuat ia menghentikan tangisnya.


Weni menoleh, tampak seorang wanita cantik yang nampak lebih muda darinya menatap heran padanya.


Ia menghapus air matanya, untuk mengurangi betapa menyedihkan penampilannya.


"Sejak kapan anda disini ?" tanya Weni pada wanita itu.


"Beberapa hari ini aku selalu kesini di jam segini, tempat ini sangat tenang, tidak pernah ada yang mengunjunginya, membuatku bisa menumpahkan segala keluh kesahku, apa kakak datang untuk menumpahkan segala keluh kesah juga ?"


"Kadang kita harus merelakan sesuatu yang tidak bisa menjadi milik kita kan, namun tetap saja rasanya sangat sulit, apa lagi ada sesal disana, rasanya begitu sulit untuk tidak membenci." wanita itu mulai mencurahkan hatinya tanpa diminta.


Hening, setelahnya hanya ada keheningan, meski Weni sudah bisa meredam tangisnya, namun dalam hatinya masih tersilet-silet sakit tak terhingga.


"Apa kakak punya masalah percintaan yang rumit ?"


"Tidak juga, rumit atau tidaknya kan kita sediri yang membuatnya." jawab Weni mencoba menanggapi.


"Kakak tau, aku selalu ingin punya teman untuk berbagi, tapi aku terlalu malu untuk menunjukkan wajahku ini pada dunia, karena kesalahan masa lalu, aku harus mengubur semua mimpiku, harus melepaskan indahnya dunia di luar sana, aku harus belajar menyendiri yang padahal sama sekali bukan duniaku." ucapnya seperti penuh penyesalan karena harus meninggalkan dunianya yang ceria dengan penuh warna dulunya.


"Kau bisa berbagi denganku kalau kau mau !" ucap Weni, begitulah dirinya selalu berusaha menjadi orang yang menyenangkan meskipun baru dipertemuan yang pertama.


"Heehh, aku bahkan tidak tau harus memulainya dari mana Kak ?"


Weni mengangkat bahunya, tidak mengerti, tadi katanya ingin memiliki teman untuk berbagi, sedang sekarang malah tidak tau harus bagaimana, perempuan aneh pikirnya.


Hening, hanya ada suara dedaunan yang jatuh, dan beberapa burung bercicit tampak menikmati buah hutan di sekitar Danau.


"Aku menyerahkan diriku pada seseorang yang salah ?" si wanita mulai lagi membuka suara.


"Maksudnya ?" tanya Weni.


"Aku sudah kotor sejak hari itu !" tangisnya luruh, ia menunduk dalam, ia tidak berani mengangkat wajahnya, hanya ada tangis pilu yang bisa Weni dengar sangat jelas.


Weni mengusap bahu yang berguncang itu perlahan.


"Hal yang paling aku sesali adalah mengecewakan orang tuaku, karena aku mereka harus menanggung semuanya, karena anak durhaka ini." air matanya semakin lancar mengalir sembari terisak.


"Sudahlah, aku tidak tau seberapa berat masalahmu, tapi semoga saja ada jalan keluar untuk itu." ucap Weni.


"Kau harus semangat dan bangkit dari keterpurukan !" ucap Weni lagi.


Wanita itu memeluk Weni erat, bagai ada kekuatan saat ia membagi masalahnya dengan Weni.


Berkata ikhlas, ikhlas itu tidaklah semudah yang di ucapkan, tidak kawan, ikhlas itu tidak gampang apa lagi untuk sesuatu yang sangat berharga.


"Lalu kakak apa masalahnya ?" tanyanya.


"Hemm, aku ? Aku tidak ada ! Aku kesini hanya sekedar merefresh otakku saja dari banyaknya pekerjaan !" dusta Weni.


"Kakak melempari batu ke dalam Danau, apa benar bisa menyegarkan kerja otak ?" tanyanya yang seakan tau bahwa Weni sedang berdusta.


"Itu, eemm..." gagap Weni.


"Jujur saja Kak, aku sudah berbagi masalahku, bukankah sangat tidak adil jika kakak tidak berbagi denganku ?"


"Heeh, ya kau benar, namun lain kali saja !" tolak halus Weni.


"Memendam sebak itu sakit sekali kak, semisal saja aku, yang harus menahan sebak didada ini karena harus membuat kedua orang tuaku selalu bahagia, karena jika aku bersedih mereka akan lebih bersedih."


"Aku juga tidak tau bagaimana perasaanku !" ucap Weni.


"Cerita saja Kak, kali saja dengan kakak membaginya denganku Kakak bisa merasa lebih lega."


Weni menghembuskan nafasnya berat, haruskah ia membagi masalah hatinya.


"Dia akan pergi !" ujar Weni, matanya menatap lagi ke arah Danau yang sudah tenang tak terganggu.


"Bahkan dengan kisah kami yang belum juga dimulai."


Bersambung...


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...


Happy reading !!!