
"Mbak... Mbak..." panggil Shirleen.
"Ah iya Non, duh aku melamun jadinya, eemm kalau memang menurut Non Ilen itu yang terbaik, Mbak setuju aja Non, silahkan semoga bisa menjadi pahala yang mengalir untuk almarhum Bapak dan Ibu" ucap Sekar.
"Mbak, kalau merasa keberatan tidak apa, Ilen kan hanya bertanya, tanah itu milik Paman dan Bibi, dan Mbak lah yang berhak atasnya, jadi jangan sungkan"
"Tidak Non, sebenarnya juga lebih baik begitu, kalau di bangun Masjid akan lebih bermanfaat dari pada di biarkan kosong"
"Ah Mbak, terima kasih yaaa, aku senang sekali" ujar Shirleen lalu memeluk Sekar dengan haru.
"Iya Non"
Jason tidak ke kantor hari ini, ia memutuskan untuk libur mendadak karena ingin mengunjungi mertuanya.
Hal itu membuat Roy harus bekerja lembur lagi menggantikan Tuan Mudanya, padahal hari ini ada dua pertemuan dengan kolega bisnis mereka, dengan terpaksa Roy harus menghadiri menggantikan Tuan Mudanya.
"Astagfirullahaladzim..." istigfar Roy, saat ia membuka pintu ruangannya, Shakira malah sudah duduk dengan santai di kursi kerjanya.
"Hai" sapa Shakira dengan tanpa rasa bersalah.
"Shakira..." geram Roy, hampir setiap hari Shakira selalu berada di sampingnya, datang dan pergi dengan tiba-tiba, dan selalu saja mengatakan kalau wanita itu tidak akan berhenti mengganggunya sebelum ia memberikan jawaban atas segala pertanyaan yang pernah dilayangkan Shakira waktu pagi dirumahnya saat itu.
"Katakan, katakan dengan bibir ini, kalau kau memang tidak punya sedikit rasa untukku"
"Mata ini tidak pernah melihatku dengan cinta"
"Lalu otakmu ini tidak pernah memikirkan diriku sekali saja"
"Kalau kau bisa mengatakan "tidak" dengan sangat jelas, mungkin akan ku pertimbangkan untuk menyerah"
Jujur saja, Roy tidak berani mengatakan tidak, ia takut Shakira akan pergi darinya, namun ia juga belum bisa yakin sepenuhnya dengan perasaannya, meski jantungnya selalu berdetak tidak normal saat dekat dengan Shakira.
Shakira menyunggingkan senyuman terbaiknya, apa lagi yang harus Roy lakukan, masih mendingan ia tidak mimisan.
Baiklah, jika itu maumu...
Jason membeli beberapa bingkisan dan buah untuk ia bawa ke rumah mertuanya, rencananya ia juga ingin membahas masalah resepsi pernikahannya nanti.
"Papa datang, yeee Papa datang" girang Misca saat melihat mobil Jason memasuki halaman rumah omanya.
Sambutan seperti itulah yang selalu membuat Jason terlena dan melupakan bahwa Misca dan Jacob bukanlah darah dagingnya. Tidak masalah baginya menjadi ayah sambung selama ia bisa mencintai dan selalu di cintai.
"Hei girl, papa kangen sekali dari kemarin gak pulang-pulang, semenjak Bi Ipah sudah punya mobil sepertinya kamu yang senang sekali bisa bebas kemana-mana" ucap Jason pada Misca.
"Maaf Tuan Muda, saya terlalu sering menuruti kemauan non Misca" ucap Ipah yang tak enak hati mendengar perkataan Tuan Mudanya.
"Tidak apa, selama tidak aneh-aneh kalau dia hanya ingin hidup nomaden seperti ini biarlah" ucap Jason.
"Ma..." sapa Jason lalu menyalami ibu mertuanya.
"Kamu nginep juga kan nak" tanya Mama Nena.
"Iya Ma, Papa mana belum pulang ya ?"
"Belum, mungkin bentar lagi"
Saat ini Rendi sedang berada di rumah sakit, ia harus mengambil hasil dari tes DNA kecocokannya dan Fahira.
Sebenarnya hasilnya sudah keluar sekitar tiga hari yang lalu, namun karena ia sedang berada di luar kota maka ia baru sempat mengambilnya hari ini.
"Ini hasilnya Pak Rendi" ucap Dokter itu lalu menyodorkan amplop berisi hasil tes DNA tersebut.
"Terimakasih Pak, maaf saya baru sempat mengambilnya hari ini"
"Tidak apa, tidak masalah, silahkan di baca dulu kalau mungkin ada yang ingin di tanyakan"
"Baik Pak"
Rendi lalu membuka amplop coklat berisi hasil pemeriksaan Fahira, ia menghembuskan nafas kelegaan melihat hasil yang tertera.
Fahira 99,9% tidak ada kesamaan dengan DNAnya, sehingga bisa disimpulkan hasilnya bahwa Fahira bukanlah darah dagingnya.
"Terima kasih Dok" terbaca sekali kelegaan pada caranya bicara.
"Iya"
"Saya permisi" Rendi kemudian menyalami dokter tersebut, dan kemudian berlalu meninggalkan rumah sakit.
Tiara sudah menunggunya di rumah, rencananya ia akan mengurus segala keperluan Tiara untuk pindah sekolah, Tiara akan ia bawa menetap di Palembang bersama orang tuanya, sehingga tidak perlu lagi Riska menemui anaknya itu.
Awalnya ia merasa sangat bersalah telah menghianati Riska, padahal jujur saja ia melakukan dosa itu benar-benar hanya sekali, itupun karena bujuk rayu Riana yang seakan membuatnya lupa diri, ia juga menyesal saat Tiara memutuskan untuk tinggal bersamanya dan bukan dengan Riska, ia masih saja selalu memikirkan perasaan wanita yang sebentar lagi menjadi mantan istrinya itu, ia selalu mengirimkan uang pada Riska saat Riska meminta dengan alasan untuk kebutuhan Tiara, padahal ia tau uang yang ia kirimkan tidak pernah sekalipun Riska gunakan untuk menunjuang keperluan Tiara, biarlah ia menutup mata untuk semua itu, selama ini ia masih bisa memaafkan karena selalu terbawa rasa bersalah karena telah berkhianat dalam suatu hubungannya dan Riska.
Tanpa sepengetahuan Riska ia menitipkan sejumlah uang pada Athar untuk Tiara, dan ia pun juga tau kalau uang yang ia titipkan dengan Athar juga masih saja dimintai Riska meski jumlah yang Riska minta tidak banyak, sekali lagi selalu beralasan dengan mengandalkan nama Tiara, Tiara sebenarnya bagai ladang uang baginya.
Sudah cukup rasanya ia mengabaikan segala kelakuan buruk Riska, saat melihat kenyataannya sekarang, saat mendengar apa yang diceritakan Delia iparnya saat mengantar Tiara ke Palembang, rasa benci seakan memenuhi segala cinta yang di beberapa hari kemarin padahal masih ia simpan untuk Riska.
Ia memang tidak akan melaporkan tindakan Riska pada kepolisian, namun ia akan melakukan sesuatu untuk membuat Riska menyesal seumur hidupnya telah melakukan keburukan terhadap Tiara yang padahal anak kandung mereka.
Hari sudah mulai malam, saat ini semua orang tengah berkumpul di meja makan keluarga Julian tak terkecuali Sekar dan Ipah, keluarga Pak Haris memang seperti itu dari dulunya semenjak Bu Neneng menjadi asisten rumah tangga pertama di rumah mereka, mereka tidak pernah membedakan status sosial diri seseorang, mereka selalu makan bersama dalam satu meja makan, kadang juga Pak Topan supir keluarga mereka tidak jarang ikut makan bersama.
"Nak, rekan bisnis papa sering lho bertanya, kenapa perusahaan biasa seperti perusahaan Julian bisa bekerja sama dengan perusahaan kamu, kadang papa suka bingung harus jawab apa, karena pernikahan kalian masih di rahasiakan begini" ucap Pak Haris.
"Biarin aja Pa, palingan nanti mereka tau sendiri" jawab Jason.
"Tapi sebenarnya Papa malu kadang, soalnya nanti pas orang tau alasannya dikiranya perusahaan papa aji mumpung"
"Aji mumpung gimana Pa, perusahaan Papa kan juga udah bagus dan perkembangannya juga pesat, aku rasa wajar saja jika bisa bekerja sama di perusahaan kami"
"Ya ya ya kau benar, tapi sayangnya tidak semua orang bisa berpikiran baik seperti itu" ucap Pak Haris tertunduk, ia masih ingat betapa ia diremehkan oleh rekan bisnisnya karena dianggap tidak pantas mendapatkan kerja sama dengan ARAD Group.
Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...
Happy reading !!!