
Jason langsung saja mencari informasi seputaran bagaimana langkah untuk berwudhu, tata cara sholat yang benar, berikut niatnya.
Otak jeniusnya ia paksa bekerja, dilihatnya tulisan latin dengan bacaan ayat yang dilafalkan dari tulisan arab, lima menit berlalu ia nampak sudah bisa menghafalnya.
Roy di luar sana melanjutkan wudhunya, ia sebenarnya tau apa yang sedang di lakukan tuan mudanya di dalam toilet, namun ia membiarkan itu, ia cukup mengerti mengingat tuan mudanya itu adalah orang yang sangat menyukai kesempurnaan jadi ia tidak mau membuat tuan mudanya merasa terkecilkan, sekalipun memang tuan mudanya itu sebenarnya tidak banyak tau tentang agamanya sendiri.
Ia sengaja tidak mengetuk pintu atau memanggil tuan mudanya, biarlah tuan mudanya berkonsentrasi dengan apa yang dihapalnya.
Ceklek, pintu di buka, Jason nampak lebih lega seperti seseorang yang baru saja menuntaskan sesuatu, Roy berusaha untuk menahan senyumnya.
"Kau sudah wudhunya?" tanya Jason pada Roy.
"Sudah Tuan Muda!" jawab Roy.
Lalu tanpa basa-basi lagi, Jason mulai membaca niat dan lalu berwudhu, Roy memperhatikan dan ternyata tidak ada yang salah ataupun terbalik.
Sungguh jenius, bisa menghafal dalam lima menit.
Bagaimanapun Roy memang mengagumi Tuan Mudanya itu.
Jason mengangguk, mengisyaratkan untuk mereka masuk ke dalam Mushola, Roy menurut.
Keduanya sudah siap dengan peralatan sholat masing-masing, Jason meminta untuk sholat sendiri-sendiri saja dengan alasan ia tidak terbiasa mengimami.
"Lain kali Tuan Muda harus terbiasa menjadi imam sholat, Nona Shirleen dan anak-anak Tuan Muda bisa menjadi makmumnya nanti, Tuan Muda pasti akan merasa damai di hati saat setelah selesai sholat menoleh ke belakang, lalu ada seorang istri dan anak-anak yang tersenyum menjadi makmum." ucap Roy sembari tersenyum manis, ia sudah mencobanya, karena sedikit-sedikit ia juga sudah membawa Shakira dalam kebaikan.
Rasanya memang benar, ia suka tersenyum lebih lama kala Shakira menyalami punggung tangannya.
Jason mengangguk meski ia tidak mengerti karena tidak pernah melakukannya.
Lalu keduanya pun sholat masing-masing, Jason yang saat itu masih di tahap menghafal tidak akan bisa terfokus pada sholatnya namun sampai di akhir sholatnya ia melakukan semuanya dengan benar.
Roy mengerti itu tidak mudah, ini hanya pembelajaran, biarlah Allah yang menilai bagaimana pahalanya, yang terpenting Tuan Mudanya sudah mau melakukan.
Tak lupa berdoa untuk kebaikan Shirleen, Jason nampak fokus pada bagian itu saja.
Ya Allah, aku tau aku sudah banyak lalai dalam agama-Mu, aku sadar selama ini aku sangat jauh dari-Mu, mengabaikan perintah-Mu, tak peduli akan larangan-Mu, aku tau Kau sedang mengujiku atau mungkin juga memberikan pelajaran atas semua dosa-dosa yang aku lakukan selama ini, namun jika boleh aku menawar, bolehkah aku saja yang merasakan kesakitan ini, jangan istriku, jangan anak-anakku.
Aku tidak bisa kehilangan mereka, sekali ini saja aku minta, tolong selamatkan anak-anakku dan istriku, aku yang tidak pernah berserah diri pada-Mu namun kali ini aku melakukannya, aku mohon ya Allah, selamatkan mereka.
Aku tidak bisa berjanji, namun aku ingin memulai, aku akan berubah ya Allah, akan aku usahakan kewajibanku yang harus selalu mengingat-Mu, aku akan berusaha untuk selalu dekat dengan-Mu.
Hamba yang penuh dosa ini, bolehkah meminta, sungguh hanya Engkau yang bisa membolak-balikkan keadaan, tolong selamatkan istri dan anak-anak hamba ya Allah.
Roy tersenyum pada wajah yang jujur saja sangat ia rindukan, selama ini di luar negeri dirinya acap kali teringat akan bagaimana hidup tuan mudanya tanpa dirinya, namun ia segera menepis pemikiran itu karena baginya Tuan Mudanya sudah punya segalanya, Tuan Mudanya juga orang yang hebat tidak akan membawa pengaruh apapun jika dirinya tidak ada.
Kini Tuan Mudanya itu sedang dalam tahap belajar menjadi dewasa, ia yakin Tuhan mengujinya karena Tuan Mudanya itu pasti bisa melewati semuanya, dan supaya Tuan Mudanya diberikan hidayah, bukan tidak mungkin kan sakitnya Nona Shirleen adalah sebuah hidayah untuk tuan mudanya.
Roy terdiam karena kini tiba-tiba tuan mudanya itu sudah memeluknya, Roy bingung dengan keadaan yang terjadi, ini adalah ke dua kalinya mereka berpelukan, setelah yang pertama dirinya yang meminta lalu kali ini Tuan Mudanya sendiri yang melakukan.
"Tuan Muda!" serunya.
"Biarkan seperti ini, baru saja aku merasakan bahagia namun Tuhan ingin mengujiku lagi." Jason berucap sembari memeluk Roy.
"Tuan Muda, Tuan Muda adalah orang yang terpilih, karena Tuan Muda pasti bisa melewatinya, hanya perlu bersabar, serahkan semuanya pada Allah." ucap Roy.
"Biarkan seperti ini, aku butuh sandaran, aku tidak tau harus mengadu pada siapa selain dirimu, kau yang paling tau akan diriku." aku Jason.
Setelah selesai berdoa tadi, Jason menyadari bahwa dirinya sangat rapuh, bahkan untuk mengungkapkan isi hatinya saja ia tidak tau harus bebagi pada siapa, selama ini dirinya bukanlah orang yang terbuka akan suatu hal dalam hidupnya, dengan orang tua, entah mengapa semenjak Mamanya memisahkannya dari Shirleen waktu itu, ia enggan untuk sekedar mencurahkan hatinya lagi pada sang Ibunda.
Ia hanya butuh Shirleen dalam hidupnya, ia sering membincangkan apa saja, berdiskusi banyak hal dengan sang istri, baik di waktu senggang ataupun saat sebelum mereka tidur, ia hanya berbagi masalahnya dengan Shirleen saja, baik itu tentang anak sampai pada masalah kantor pun ia hanya berbagi pada Shirleen.
Jadi bagaimana bisa rasanya ia kehilangan Shirleen.
"Tuan Muda sangat kuat, saya yakin, ini hanya sebentar, Tuan Muda pasti bahagia nanti." ucap Roy menenangkan.
"Aku kadang iri padamu Roy, padahal aku punya segalanya, kata mereka uang dan kekuasaan bisa membeli segalanya." parau Jason.
Roy tidak menjawab, ia tidak mau menjadi menggurui, biarkanlah Tuan Mudanya merubah mindsetnya pelan-pelan.
Bahwa ada sebagian hal di dunia ini yang tidak bisa dibeli dengan uang maupun kekuasaan, tidak selamanya yang berkuasa bisa melakukan apapun, ada kalanya uang dan kuasa menjadi tidak bernilai karena beberapa sebab.
Berbahagialah Tuan Muda, setelah ini pasti ada bahagia untuk Tuan Muda.
"Saat ini Tuan Muda sedang berada di bawah, di berikan cobaan yang rasanya saja mungkin tidak sanggup untuk di jalani, ingatlah pada Allah, berserah dirilah dan bersabar, tapi nanti jika Tuan Muda sedang berada di atas, bila menjumpai bahagia tiada tara, jangan lupa bahwa Tuan Muda pernah berada di bawah, tetap selalu rendah hati dan ingat pada yang maha Kuasa, Allah selalu dekat dengan kita, kita saja yang kadang tidak sadar bahwa kita telah jauh darinya."
Roy memberikan nasihat, ia melepaskan pelukan dari Tuan Mudanya, menghapus air mata Tuan Mudanya yang ternyata sudah mengalir sedikit di pipi, Roy merasa sakit jika adik kecilnya itu begitu rapuh, tidak menyangka Jason akan semenyedihkan ini, Tuan Muda Jason yang tidak kenal takut akan apapun, seseorang yang sangat ia kagumi, bahkan ia telah belajar menjadi kuat dari seorang Jason Ares Adrian, "Sampai kapanpun saya akan berusaha untuk selalu ada disisi Tuan Muda, berbagilah, berkeluh kesahlah dengan saya, saya siap menjadi pendengar yang setia." ucapnya lagi.
"Tuan Muda adalah adik kecil saya, ingatkah Tuan Muda waktu saya pertama kalinya bekerja untuk Tuan Muda, Tuan Muda adalah orang yang sangat hebat, tidak kenal kata menyerah, kuat dan tak terkalahkan, ini hanya sebentar, ini ujian dan sekali lagi Tuan Muda pasti bisa mengalahkannya." ucap Roy, matanya sudah memanas, ah sudahlah ia tidak sanggup.
Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...