
"Eemmm Tuan, bolehkah saya..."
"Boleh apaan ?" tanya Dareen penasaran.
"Bolehkah saya meminta tuan Dareen untuk mencari akun facebook teman saya, saya tidak punya ponsel, saya ingin meminta nomornya" ucap Sri agak ragu.
Entah kenapa Dareen merasa kecewa atas permintaan Sri, ia pikir Sri akan meminta hal semacam apa padanya namun ternyata cuma menyuruhnya mencari akun facebook temannya, Dareen juga berpikiran mungkinkah teman yang dimaksud Sri adalah pacarnya, atau bisa saja ayah dari bayinya Sri. Dareen tersenyum kecut.
"Ada apa Tuan ?" tanya Sri lagi.
"Emang segitu pentingnya yaaa temen lo itu ?" tanya balik Dareen.
"Iya tuan Dareen, dia penting sekali"
"Heeehh, ogah gue, lo cari aja akunnya sendiri" ucap Dareen kemudian berlalu meninggalkan Sri, namun langkahnya tertahan kala Sri menghalanginya.
"Tuan, saya mohon tuan, saya benar-benar butuh nomor teman saya tuan" mohon Sri, ia bahkan tanpa sadar sudah memegang tangan Dareen, karena baginya hanya Dareen yang bisa membantunya.
"Nggak nggak nggak, lo pikir lo siapa ? seenaknya nyuruh-nyuruh gue, dan lagi apa untungnya buat gue nolongin lo ?"
"Tuan saya mohon, sekali ini saja" Sri sudah terisak, bayangan orang tuanya yang mungkin saja mencemaskannya kini bagai begitu nyata dipikirannya.
Sampe segitunya nangisin tuh lakinya, dasar murahan, wajar aja masih muda udah punya anak.
"Eh jangan nangis lo, ntar dikira gue ngapa-ngapain lo lagi" bujuk Dareen.
"Tuan saya mohon, cari akun facebook teman saya, namanya Dwi Rangga" ucap Sri lirih.
Nah bener kan akun cowok, fix temennya itu pasti bapaknya si Fahira.
Lagunya bilang temen, lo pikir lo bisa boongin gue.
"Ya udah bentar..." Dareen kemudian mengeluarkan ponselnya dan mulai berselancar di dunia maya, mencari akun yang bernama "Dwi Rangga" lewat aplikasi dengan lambang icon huruf F tersebut.
"Nih banyak yang nama akunnya kek gitu, lo aja yang liat yang mana punya temen lo" Dareen kemudian memberikan ponselnya pada Sri.
Sri dengan hati-hati memegang barang mahal tersebut, jika sampai rusak bisa habis duit gaji yang ia simpan kalau saja harus mengganti barang milik laki-laki yang nampak tidak menyukainya ini.
"Ini Tuan, coba klik yang ini" ucap Sri pada Dareen.
Dareen melihat sebuah akun laki-laki dengan foto biasa saja, ia tersenyum smirk seolah membandingkan dirinya.
"Ya terus ngapain lagi maunya ?" tanya Dareen lagi.
"Tuan inbox dia, minta nomornya bilang padanya dari Sri gitu" suruh Sri.
Dareen menurut, ia mengirimkan pesan pada akun tersebut.
"Terus apa lagi ?"
"Eemm begini Tuan, bisa tidak kalau nanti sudah dapat nomornya saya pinjam ponsel tuan Dareen untuk menghubungi Dwi, nanti pulsanya saya ganti, saya akan bayar uang pulsanya kok" pinta Sri lagi.
"Heeehh" Dareen menghela nafasnya "Lo banyak maunya tau nggak ?"
Daren kemudian berlalu, kali ini tidak ditahan oleh Sri. Sri senang akhirnya sebentar lagi ia bisa kembali menghubungi orang tuanya.
Rendi sedang berada di kedai Athar saat ini, ia tadinya mengantar Tiara yang sempat menginap dirumahnya beberapa hari, namun melihat Athar yang membuka usaha ia jadi tertarik mengunjungi kedai iparnya itu.
"Sudahlah Mas, maaf juga tidak akan bisa merubah keadaan, kami sudah hancur, terutama kak Riska dan Tiara" ucap Athar, ia sebisa mungkin bersikap biasa pada iparnya itu meski masih ada sedikit benci yang ia simpan di dasar hatinya.
"Kau juga kan dengan Shirleen" sindir Rendi.
"Yaaa itu adalah sebuah kesalahan, kadang ketika semuanya sudah pergi baru kita akan menyadari beratnya rasa kehilangan" ucap Athar, terbesit lagi sosok Shirleen dalam hatinya, ah sudahlah Shirleen sudah bahagia, nanti jika ia punya cukup uang ia akan memperbaiki hubungannya dengan Shirleen, meski tidak bisa kembali seperti dulu namun ia sangat berharap bisa berhubungan baik dengan mantan istrinya itu.
"Aku sama sekali tidak mencintai Riana, waktu itu aku khilaf, pengaruh alkohol juga, paginya aku benar-benar tidak percaya kalau aku sudah melakukannya" ucap Rendi penuh penyesalan.
"Sudahlah Mas, semuanya sudah terjadi, sekarang kita tinggal memperbaiki diri saja jangan sampai kejadian seperti itu terulang lagi, aku pun sama, dulu aku dijebak disebuah hotel bersama Riana, dan ternyata dalang semua itu adalah ibuku sendiri, miris sekali kan, tapi sudahlah bersyukur sekarang aku sudah menerima semuanya dengan ikhlas"
"Aku harus banyak belajar darimu Thar" puji Rendi.
"Semua itu akan bisa dilewati jika kita sudah bisa menerima, kalau Mas masih dalam penyesalan terus menerus, Mas akan terbelenggu pada titik itu saja"
"Ah iya, aku juga mau memberi ini untukmu" Rendi memberikan sebuah amplop untuk Athar.
"Ini apa Mas ?"
"Riska pasti sering meminta uang padamu, aku sudah tau, ia kadang juga memerasmu kan, ini kau simpan saja sebagai peganganmu, jika Riska membutuhkan uang kau beri saja uang dariku ini, tapi kusarankan jangan langsung semua, dan jangan bilang kau mendapatkan uang ini dariku, dan juga jika Tiara butuh sesuatu kau biayailah hidup anakku itu dari uang ini" papar Rendi, ia sudah tau kondisi di rumah mertuanya saat ini.
"Mas, apa ini tidak kebanyakan ?" tanya Athar, pasalnya setelah Athar mengintip sedikit isinya, kira-kira uang didalamnya mungkin ada sekitar lima juta rupiah.
"Aku tidak tau bisa tidaknya kesini menjenguk Tiara sampai persidangan terakhirku, Riska benar-benar membatasi ruang temu untuk aku bertemu Tiara.
"Ahh iya Athar, kau gunakanlah itu sebaik-baiknya, terutama untuk Tiara, karena Tiara pernah bilang kemarin bahkan Riska memotong uang jajannya" ucap Rendi lagi.
"Maafkan aku Mas, aku benar-benar tidak tau, padahal kalau Tiara minta uang padaku pasti akan ku kasih meski hanya dua puluh ribu, tapi selama ini Tiara tidak pernah mengatakan keluhannya padaku"
"Tidak apa, aku selalu mengajarkannya untuk tidak pernah bilang masalahnya pada orang lain, meski itu pada nenek, paman atau bibinya, Tiara kalau ada masalah selama ini pasti ia hanya akan bilang padaku dan Riska selaku orang tuanya"
"Aah iya Mas tunggu sebentar" ucap Athar, lalu ia masuk kedalam rumah meninggalkan Rendi sendirian di kedainya yang sepi pembeli karena hujan masih juga belum lelah membasahi bumi.
Sekitar sepuluh menit lamanya Rendi menunggu, dari kejauhan Athar sudah kembali dari rumahnya.
"Mas, maaf jika membuat Mas tersinggung, tapi aku kira Mas harus mengetahuinya" ucap Athar tiba-tiba dan berhasil membuat Rendi menegang.
Pasalnya Rendi melihat Athar membawa sebuah amplop yang entah apa isinya.
"Ada apa Thar ?"
"Begini Mas, sebelumnya aku benar-benar minta maaf, bukan aku ingin mengungkit yang telah lalu, namun disini tertulis Fahira itu bukan anak kandungku, jadi akan lebih baiknya Mas juga membuktikan kebenarannya, ini sampel rambut Fahira silahkan kalau Mas mau melakukan tes DNA juga" ucap Athar ragu.
"Thar ?"
"Mas, tidak ada salahnya kan Mas, karena Mas juga pernah melakukannya dengan Riana meski Mas bilang hanya satu kali, aku hanya mengingatkan dan jangan sampai Mas menyesal kemudian, sebelum semuanya terlambat" ucap Athar, walau berat ia harus menanyakan itu. Dan juga ia menginginkan kehidupan Fahira menjadi lebih baik jika saja benar Rendilah ayah biologisnya.
Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...
Happy reading !!!