Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Lupakan dia !


"Len, kok aku jadi kasian ya." ungkap Weni saat ia dan Shirleen sudah berada di Toilet.


"Udah ada rasa kali kamu." tebak Shirleen.


"Yah kamu ih, orang nanya beneran." kesal Weni.


"Aku juga kasian sih, Wen kamu gimana jadinya ?" tanya Shirleen.


"Apa ?"


"Seharusnya nanti sore kamu janjian sama dia kan ?"


"Iya sih, nah makin gak bisa bilang enggak kan kalau gini keadaannya." ucap Weni.


"Haah, serah kamu aja deh."


"Semoga aja dia cepet sadar, aku takut Len." imbuh Weni.


"Takut kenapa ?" tanya Shirleen lagi.


"Keadaannya parah banget, dia masih belum sadar kan." jawab Weni.


"Iya sih, tapi kata Jason sih nggak papa, nanti juga Yudha bangun."


"Tau dari mana ?" tanya Weni.


Shirleen mengangkat kedua bahunya.


"Len Yudha itu orangnya nekat, nanti kalau dia udah sadar dan hubungin aku, aku harus gimana ?" tanya Weni.


"Ya nggak gimana Wen, kamu kan sebelumnya udah mutusin buat nerima dia, yah lanjutin." ucap Shirleen.


"Iya juga sih," Weni tampak masih ragu, "Jadi terima nih misalnya ?" tanyanya lagi.


"Tau ah, kirain mau nanya apaan sampe ke toilet, taunya cuma nanyain masalah hatinya doang." gumam Shirleen.


"Len, ini juga penting kali, disana ada Mamanya Yudha, aku itu bisa nebak pasti Yudha belum ngasih tau Tante Wina kedekatannya sama aku."


"Wen, jangan bilang kamu mau berubah pikiran ya pas liat keadaan Yudha, kamu jangan brengsek gitu dong !"


"Eh." Weni melototkan matanya, begitu mudahnya pemikirannya di tebak "Kok kamu tau sih Len ?" tanya Weni.


"Wen, kamu beneran nggak ada perasaan apapun sama dia ?" tanya Shirleen sekali lagi dan untuk kesekian kalinya ia bertanya demikian, masih berharap Weni mau menerima Yudha.


Weni menggeleng pelan, ia sebenarnya juga belum yakin, namun mungkin perasaannya lebih berat ke tidak mempunyai perasaan lebih.


"Haah, Weni Weni, sia-sia aku cuap cuap ngomongin ini itu, nasehatin kamu apapun, kalau kamu tetep nggak mau ya percuma, katanya kemaren mau buka hati." dengus Shirleen kesal.


"Len kok kamu malah marah gitu ?" tanya Weni.


"Wen, seumur hidup aku nggak pernah liat kamu punya hubungan lebih dari teman ataupun rekan kerja kalau sama cowok, terus ada yang terang-terangan mau sama kamu, gimana bisa aku nggak seneng, apa lagi dia Yudha temannya Jason, menurutku dia baik, dari keluarga yang baik-baik juga, cuma kurangnya kalian beda usia, tapi aku bisa bahagia kok sama Jason, bagi aku kenapa kamu nggak ?" jelas Shirleen, ia sedikit tidak suka dengan penolakan Weni, padahal dirinya hanya ingin melihat Weni bahagia meliliki pacar dan yah semoga saja sampai ke pelaminan seperti dirinya.


"Aku hanya takut nyakitin dia Len !" ucap Weni.


"Wen menyakiti itu pasti, cuma jangan keseringan, jangankan yang pacaran, yang udah kawin aja bisa nyakitin, kamu berani bilang gitu padahal belum nyoba, aneh tau nggak, kecuali nih ya kamu emang udah ngerencanain kalau pacaran sama Yudha kamu emang cuma mau nyakitin dia." ucap tegas Shirleen.


"Ya maksud aku, dengan aku nggak punya rasa sama dia, dia nanti bakal tersakiti" bela Weni pada dirinya.


"Aku nggak tau Wen, mungkin aku bukan kamu, aku mudah saja jatuh cinta, hingga saat Jason memperlakukanku dengan baik, menolongku, dia yang selalu ada disaat aku butuh, malah membuat aku secepat itu merasa nyaman lalu jatuh cinta padanya, Wen aku nggak tau apa yang buat kamu meragu, dan aku juga nggak tau kenapa di usiamu yang sudah dua puluh sembilan tahun ini malah betah sendiri, sebenarnya aku tidak ingin mengatakan ini, namun jika ada yang mengganjal semisal seseorang dimasa lalu, jika dia tidak akan datang lagi di hidupmu bisakah kau menggantinya ?" ucap Shirleen, Weni sungguh tercengang, ia serasa tercekat tidak tau harus berbuat apa menanggapi perkataan Shirleen.


"Kenapa Wen ?" tanya Shirleen, melihat Weni terdiam ia sungguh yakin perkataannya sangat mengena di hati Weni.


"Ah nggak ?" ucap Weni.


"Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku ?" tanya Shirleen.


"Nyembunyiin sesuatu, sesuatu apa ?" tanya balik Weni.


"Entahlah, jika kau yang menyembunyikannya mana bisa aku tau."


"Kenapa ?"


"Aku nggak tau mesti gimana Len ?" ucap Weni.


"Wen, dengar lupakan dia !" tegas Shirleen tiba-tiba.


Weni menatap dalam mata sahabatnya, lupakan dia ! Apa maksudnya lupakan dia ?


"Kau hanya berada pada titik itu saja selama ini, selama bertahun-tahun tidak pernah kemana-mana, tidak pernah memandang luasnya dunia." ucap Shirleen lagi dan lagi membuat Weni bingung, mungkinkah Shirleen sudah...


"Haah," Shirleen menarik nafasnya dalam, "Harus bagaimana aku menjelaskan padamu, apa kau tidak mengerti, bukankah sakitnya menjadi Yudha sama seperti sakit yang kau alami selama ini ?"


"Sakitnya mencintai orang yang tidak mencintai kita, kau adalah orang paling mengerti akan rasa sakit semacam itu !"


"Aku bersalah, seumur hidup aku bersalah telah membuatmu mengorbankan perasaanmu hanya demi aku."


"Len..." sanggah Weni, ia tidak akan mampu mendengar perkataan semacam itu keluar dari mulut Shirleen, tidak... Sungguh ia ikhlas.


"Kau mencintainya kan, sebab itu kau tidak bisa menerima laki-laki manapun yang mendekatimu, termasuk Yudha yang telah terang-terangan menyatakan perasaannya padamu." ucap cepat Shirleen, ia tidak membiarkan Weni berbicara.


"Kau bahkan menaruh fotonya didalam dompetmu, dengan tanda hati di belakangnya, luar biasa, bagaimana bisa kau begitu tegar Weni ?" ucap Shirleen, semburat senyum palsu menghiasi bibirnya.


"Len..."


"Aku mengerti, mengapa kau terlihat lebih kecewa dariku saat aku dan dia berpisah, aku mengerti kau lah yang paling tersakiti, karena sudah menyerahkan laki-laki yang kau cintai pada sahabatmu, kau menggantungkan harapan padanya untuk selalu membuatku bahagia, namun sayangnya harapanmu tidak sesuai kenyataan kan." Shirleen sudah terisak, entah ada siapa di toilet tersebut selain ia dan Weni, untung saja tidak begitu ramai.


"Len..."


"Dia yang kau cintai, dia juga yang menyakiti, kau tidak bisa terima semua itu kan."


"Len, maafin aku Len." Weni segera memeluk Shirleen erat, tidak tolong jangan, persahabatannya dengan Shirleen sungguh lebih penting dari apapun.


"Aku yang bersalah Wen, aku yang bersalah." ucap Shirleen sembari terisak di pelukan Weni.


"Nggak Len, bukan salah kamu, sebuah rasa bisa datang kapan saja, aku yang salah tidak pernah bisa membuang rasa ini." ucap Weni.


"Bertahun tahun, bagaimana bisa kau setegar ini Wen, hiks hiks, kau harus bahagia Weni, aku akan sangat merasa bersalah jika kau tidak bahagia." lirih Shirleen, hari ini semuanya telah terbuka, Shirleen mengetahui semuanya dimulai dari hari itu.


Flashback.


Shirleen ingin membersihkan tangannya, karena merasakan lengket sehabis mempersiapkan kue untuk para sahabat Jason.


"By, aku permisi ke toilet sebentar yaaa." izinnya pada sang suami.


Jason dan para sahabatnya masih menertawakan tingkah Yudha yang aneh senyum-senyum sendiri seperti orang gila, mereka tidak tau saja itu semua jelas karena Yudha yang telah mendapatkan ciuman dobel dari Weni, sungguh permulaan yang bagus.


"Iya." tanggap Jason singkat, karena ia juga masih betah mendengarkan Afik dan Angga menggoda Yudha tiada henti.


Sesampainya di Toilet, ia melihat sebuah foto yang sangat ia kenali tergeletak dilantai, foto Athar saat masih kuliah, mengapa bisa berada disini pikirnya.


Ia mengambil foto tersebut, aneh saja rasanya karena ia tidak mempunyai foto Athar semacam itu, ia bahkan sudah membakar seluruh kenangannya bersama Athar.


Ia membalik foto itu, dan alangkah terkejutnya ia bahwa ternyata foto mantan suaminya itu adalah milik Weni, dengan sebuah tulisan yang sangat ia kenali Mencintaimu adalah sebuah kesalahan, serta diakhiri dengan gambar hati sebanyak dua biji.


"Weni menyukai Mas Athar ?"


Flashback off.


Bersambung...


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...


Happy reading !!!