
Paginya, lagi dan lagi Jason bergegas menuju kamar mandi, setelah tidurnya semalam tidak terganggu sama sekali namun nyatanya pagi ini tubuhnya kembali berulah.
"Hoeekk, hoeekk..." Sungguh keadaan ini membuat Jason yang biasanya begitu tidak kenal kesakitan malah bisanya sudah terduduk lemas di lantai kamar mandi.
"By..." pekik Shirleen saat ia melihat suaminya sudah tergeletak di lantai kamar mandi.
Jason tidak kuat lagi menyahut, saat dipapah istrinya menuju pembaringan ia malah bergegas lagi balik arah menuju kamar mandi.
Jason, dia muntah lagi.
"Kenapa sih dia ?" gumam Shirleen.
"By, aku telpon sepupu kamu aja yah, suruh kesini, gak perlu kerumah sakit jadinya." saran Shirleen.
Jason hanya mengangguk pelan, ia tidak kuat lagi.
Shirleen menghubungi dokter Eri, Dokter muda itu mengatakan bahwa dirinya akan segera menuju kerumah sebentar lagi.
"Gak panas, udah normal, gak demam tapi kok muntah mulu sih, gak ada isinya ini perut By ya !" ucap Shirleen sembari mengusap lengan sang suami dan membawanya menuju ranjang.
"Ya gimana mau ada isinya By, orang kalau diisi dimuntahin mulu !" ucap Jason.
"Iya sih, terus kamu ini apa lagi yang dirasain ?" tanya Shirleen.
"By, kamu ada stok jeruk nipis nggak di kulkas ?" tanya Jason tiba-tiba.
"Nggak ada, kenapa nanyain jeruk nipis ?" tanya balik Shirleen.
"Kali aja kalau makan yang asem gitu muntah-muntahku bisa ilang !"
"Ada-ada aja By, ini masih pagi, makan biskuit aja yah sekalian untuk ganjelan !" ucap Shirleen.
"Tapi aku ngerasainya jeruk nipis By, keknya beneran bakalan ilang deh kalau makan jeruk nipis !" ucap Jason lagi.
"Haah," Shirleen menarik nafas dalam, "Ya sudah nanti aku suruh Ipah beli." ucap Shirleen pada akhirnya.
Shirleen meninggalkan Jason di kamar menuju dapur, ia ingin memerintahkan Ipah untuk mencarikannya jeruk nipis, ia juga menyarankan untuk Ipah mengajak Misca, sementara Jacob diambil alih olehnya.
Bersamaan dengan Ipah keluar, ternyata Dokter Eri juga sudah sampai di rumah mereka, langsung saja Shirleen mempersilahkan masuk dan membawa dokter Eri menuju kamar untuk memeriksa Jason.
Tidak ada sakit yang serius, bagi dokter Eri, Jason hanya demam biasa mungkin karena terlalu lelah bekerja, ia juga mengetahui kabar kalau asisten pribadi sepupunya itu sedang berbulan madu, jadi bukan tidak mungkin Jason memang terlalu letih hingga berakibat demam karena banyaknya pekerjaan, wajar saja ia menyimpulkan praduganya.
"Ini obatnya, yang ini tiga kali sehari, obat demam, antibiotiknya, sama ini kalau mual-mual lagi nanti beri ini." ucap Dokter Eri menunjukkan obat-obatan untuk Jason pada Shirleen.
"Setelah makan nanti kasiin yang ini sama yang ini, nanti istirahat dia hanya terlalu lelah." lanjutnya.
"Ah iya dan satu lagi, kalau masih ada keluhan nanti bawa kerumah sakit saja untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut." saran dokter Eri.
"Baik Dok !" ucap Shirleen.
"Aku tinggal dulu !" pamit Dokter Eri.
Shirleen mengantar dokter Eri sampai ke depan pintu utama, untung saja Jason bukan termasuk orang yang rewel jika sedang demam, perasaan suaminya itu, kalau nggak muntah ya tidur, untuk makan tidak pernah mengeluh meski Shirleen bisa menebak bahwa Jason pasti tidak ada selera untuk makan.
Shirleen kembali ke kamar menemani suaminya itu, dilihatnya Jason yang meringkuk membelakanginya dengan berselimut tebal membuat Shirleen menatap itu menjadi kasihan, selama ini Jason selalu menjadi papa siaga untuk mereka semua meski tengilnya tidak bisa dihilangkan, namun baru sehari saja Jason demam suasana rumah mereka nampak sunyi, tidak ada yang menggodanya seperti biasa, tidak ada lawannya untuk berdebat, tidak ada perbincangan hangat yang biasa mereka lalui sebelum tertidur, candaan serta Jason yang selalu bisa membuatnya kesal, ia merindukan Jason yang sering berbuat ulah.
Apa lagi beberapa hari kemarin Jason sempat lembur, pulang selalu larut malam, ia merasa sedikit kehilangan moment kedekatannya dengan sang suami.
"By, mau makan apa langsung minum obat ?" tanya Shirleen yang semakin mendekat, duduk di tepi ranjang ia membelai lembut lengan suaminya itu.
"Kamu mau makan apa ? Aku bikinin, tadi kami bertiga cuma sarapan roti telur, ada sih bubur buat kamu udah aku bikinin, tapi kali aja kamu mau makan yang lain, biar ada selera !" tanya balik Shirleen.
"Aku nggak laper sih By, terserah aja bubur itu juga boleh, dikit aja biar aku bisa minum obat." ucap Jason.
"Ya udah, aku ambilin yaaa !"
Jason mengangguk, kemudian ia merasakan asam di ujung lidahnya, sepertinya rasa dari jeruk nipis yang diinginkannya memang sudah menguasai indra pengecapnya.
Lama sekali si Ipah nyari jeruk nipisnya.
Shirleen datang dengan membawa nampan berisi sepiring bubur dan dua gelas air putih, tidak lupa ada dua sachet gula diet serta jeruk nipis yang tadi sudah ia cuci terlebih dahulu, kebetulan Ipah sudah datang membawakan pesanannya saat ia menyiapkan bubur untuk Jason di dapur tadi, ada pisau yang ia bungkus dengan tissu juga sudah ia siapkan di nampan.
Jason menatap penuh minat pada buah masam yang sejak tadi sudah seakan ia rasai di ujung lidah.
"Makan dulu ya !" ucap Shirleen saat Jason sudah mencomot satu jeruk nipis dari nampan.
"Aku mau makan ini By, mana pisaunya ?" tanya Jason tidak sabaran.
"Enggak makan dulu, lagian mau makan jeruknya gimana sih, ini aku bawain air hangat sama gula, buat di peres nanti jeruknya dibikin jeruk hangat aja."
Jason pasrah, ia segera melahap satu piring bubur itu tidak bersisa.
"Nah makan obatnya dulu ya." ucap Shirleen.
"Enggak, aku mau itu dulu !" tolak Jason.
"Ya udah, aku bikinin dulu." Shirleen mengambil pisau kecil yang berbalutkan tissu untuk memotong jeruk nipis buah permintaan Jason.
Setelah memotong jeruk nipis tersebut, saat Shirleen hendak memeras untuk menjadikannya jeruk hangat, Jason malah mencegahnya.
"Tidak usah diperas ?" cegah Jason.
"Haah, lalu gimana ?" tanya Shirleen heran, lalu diapakan pikirnya.
Jason mengambil jeruk nipis yang telah dibelah dua oleh istrinya itu, dan langsung memankannya dengan nikmat, menghisap habis sarinya, membuat Shirleen sungguh tercengang, jeruk seasam itu malah terlihat sungguh nikmat dilahap suaminya, air liur Shireen sampai menetes ngences karena tidak kuat melihat pemandangan aneh di hadapannya.
"Ini kalau ditambah garam pasti lebih enak kayaknya By !" ucap Jason dengan masih merasai sedap jeruk nipis di mulutnya, tangannya sudah memotong lagi jeruk nipis kedua, tidak perduli dengan Shirleen yang menatapnya keheranan.
Gubrak, Shirleen benar-benar tidak habis pikir, mau ditambah garam, heh lelucon apalagi ini pikirnya.
"By, itu asam sekali !" ucap Shirleen, ia meneguk salivanya kelat, ia benar-benar sudah hilang selera makan saat ini.
"Enggak, ini enak !" bantah Jason, malah dengan yakin lagi.
"By, itu jeruk nipis lho !" ucap Shirleen lagi.
"Iya aku tau, tapi ini enak, segar sekali rasanya." ucap Jason lagi.
Seketika Shirleen merasakan pedih diperutnya, meringis melihat Jason yang sama sekali tidak menunjukkan mimik kecut seperti jika memakan makanan yang asam saat menyantap jeruk nipisnya, sungguh ia merasa ini diluar kenormalan.
Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...
Happy reading !!!