Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Haruskah aku pulang ?


Shirleen sangat bosan berada di apartemennya, Misca kini tengah tidur siang, tangannya sudah gatal ingin segera membuat kue, namun ia masih ragu takut dengan kedatangan Jason secara tiba-tiba, mengingat bawelnya Jason memperingatkan ia untuk tidak melakukan ini dan itu.


ditengah-tengah diamnya tiba-tiba terjadi pergerakan dalam perutya, yah bayi dalam perutnya entah sedang apa saat ini, ia sangat antusias bergerak.


Shirleen yang menyadari itu pun senyumnya mengembang, ia mengusap-usap perutnya dengan sayang.


"Sayangnya mama, kamu didalem lagi apa sih, aktif banget" Shirleen berbicara sendiri dengan janinnya.


Shirleen memanggil dirinya mama untuk bayi yang belum lahir itu, itu adalah permintaan Jason dan katanya Shirleen harus menyetujuinya.


Apakah benar Jason begitu serius denganku, Jason masih muda, jiwa mudanya bisa saja kan hanya sekedar cinta buta, karena takut kehilanganku ia jadi menerima semuanya, bagaimana nanti jika aku menikah dengannya dan punya anak, apakah ia akan menyayangi Misca dan anak ini layaknya anak kandungnya juga ?


Aku tidak bisa menemukan keraguan disetiap matanya, setiap ucapannya membuatku melemah dan bodohnya aku menurut saja.


Apa aku juga sudah jatuh cinta padanya, secepat inikah ?


Begitu banyak pemikiran tentang Jason yang berkecamuk dikepalanya, ia bukannya tidak bisa menerima Jason, namun ia masih belum bisa percaya begitu cepatkah ia mengganti Athar dengan cinta yang baru.


Shirleen masih terus mengusap perutnya bermain-main dengan buah hatinya yang licah didalam sana


Ia merasa beruntung, punya Misca dan bayi ini, walaupun rumah tangganya harus kandas karena Athar menghianatinya.


Jason bersama ketiga temannya saat ini sedang berada dikantin sekolah duduk dipojokan tempat biasa mereka, sembari menunggu pesanan.


"Gue boleh gabung nggak ?" Tiba-tiba Lisa datang dengan tidak tahu malunya ikut nimbrung.


"Nggak !" Jawaban tak terduga keluar dari mulut si es Yudha.


Lisa pun cemberut, nggak Jason nggak temannya nampaknya sama saja.


"Kita bukannya nggak mau ngajak nih ya neng, tapi biasanya selain kita berempat nggak pernah ada yang bisa gabung, nih si kutub nggak suka ada orang lain" Angga menjelaskan sambil menunjuk Jason.


"Dia anak baru Ga, nggak tau jadinya, Son gimana boleh nggak gabung ni cewek ?" tanya Afik.


"Iya Jason, lagian tempat lainnya udah penuh..." Lanjut Lisa lagi.


"Heemmm" Jawab Jason dengan kata pamungkasnya.


Lisa pun yang sudah kepalang tanggung, dengan tidak tau malunya mendudukkan diri disamping Jason, ia merasa ini adalah langkah awal, kesempatan pertama baginya, ternyata Jason tidak sedingin yang ia kira.


Namun itu hanya mimpinya saja.


Jason yang melihat Lisa sudah duduk pun segera bangkit dan meninggalkan kantin.


Ternyata maksud dari heemmmnya Jason adalah, kalau dia duduk gue yang pergi.


Lisa yang melihat kepergian Jason pun kecewa, ia lalu berdiri dan berlalu meninggalkan ketiga sahabat Jason lainnya.


Ia tidak mood lagi makan, karena tujuannya ke kantin hanyalah untuk mendekati Jason.


Jason yang merasa kesal dengan ketiga sahabatnya pun berjalan menuju belakang sekolah, tempat paling nyaman menurutnya.


Biasanya, ia dan ketiga sahabatnya juga sering menghabiskan waktu istirahat atau ketika ada jam kosong disini, sebelum ia mengenal Shirleen tentunya, karena setelah kenal Shirleen ia akan membolos jika ada kesempatan di jam kosong.


Bisa-bisanya ngajak orang lain gabung, mau cari mati, heh yang benar saja.


Lisa yang ketinggalan jejak Jason pun mencari Jason dikelas, namun Jason tidak ada.


Padahal mana mungkin Jason percaya, sudah jelas tadi Yudha melarangnya dan Angga menjelaskan kenapa, namun si Afik sialan itu masih saja mencoba bernegosiasi.


Afik kelihatannya memang mau cari mati.


Mama Mila kini sedang menekan bel apartemen Shirleen, ia akan mengunjungi calon mantunya dan cucu angkatnya, ya Misca memang sudah dianggap cucu oleh keluarga Adrian.


Padahal baru tadi pagi Shirleen dan Misca meninggalkan rumahnya untuk kembali tinggal diapartemen, Mama Mila merasa sudah rindu dengan Misca.


Ceklek.


Pintu dibuka oleh Shirleen, Shirleen nampak terkejut ada apa Mamanya Jason datang lagi padahal kan baru tadi pagi salam perpisahan.


"Sayang... Kamu gimana, bosen yaaa ?" Tanya Mama Mila saat mereka sudah duduk di sofa.


"Lumayan Ma, tadi makanannya udah di orderin Jason, jadi Shirleen nggak masak, bersih-bersih rumah juga Jason udah nyuru Bi Niah pagi tadi, jadi Shirleen nggak ngapa-ngpain dirumah" jelas Shirleen.


"Yah itu semua kan untuk kebaikkan kamu sayang, oh iya Misca mana ?"


"Misca lagi tidur siang Ma !" Jawab Shirleen.


Mereka berdua pun berbincang-bincang seputar kehamilan, Mama Mila menceritakan bagaimana dulu waktu ia hamil Jason, mengidam, dan lain sebagainya.


"Sayang, kamu nggak kangen orang tuamu ?" Tiba-tiba Mama Mila menanyakan perihal tentang orang tua Shirleen.


"Rindu Ma, bahkan sangat rindu" Jawab Shirleen dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Pergilah temui orang tuamu, sudah lama sekali kan" Mama Mila tau semua tentang Shirleen, karna jelas saja keluarga Adrian tidak akan diam saja, pasti akan mencari tau segala informasi siapa yang akan menjadi mantunya itu.


"Aku... aku..." Tenggorokan Shirleen terasa tercekat, ia tidak mampu mengatakannya.


"Mama juga seorang ibu, sesalah apapun Jason tetaplah anak kami, begitupun orang tuamu, tidak ada mantan anak ataupun mantan orang tua nak, pergilah, papa mamamu selalu menunggu kepulanganmu, Jason akan mengantarmu, ia juga ingin berkenalan dengan calon mertuanya"


"Percayalah, ini tidak sesulit yang kau bayangkan" lanjut Mama Mila.


"Jangan lagi menambah air mata orang tuamu dengan kerinduan, apa lagi kamu sudah punya Misca dan bayi ini, orang tuamu juga berhak melihat tumbuh kembang Misca yang selama ini mereka lewatkan"


Mama Mila memang orang yang tahu cara menghadapi setiap masalah, ia juga orang tua yang sangat bijak, ia hanya ingin Shirleen tidak larut dalam rasa bersalah atas apa yang telah terjadi dimasa lalu.


Apa lagi ia mengetahui, keluarga Shirleen sangat menunggu kepulangan anak mereka.


Ia sengaja menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan ini, ia jelas mengerti hati orang tua mana yang tak sakit dilanda merindu yang begitu berat. Yah cukup Dilan saja yang kuat.


"Haruskah aku pulang" Batin Shirleen.


Bersambung...


*


*


*


***Hai readers, minta dukungan like, komen dan vote yaahhh... Biar Author makin semangat menulis !


Happy reading*** !!!