Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Pindah Rumah dan Rindu Rumah


Mobil mewah Jason sudah terparkir rapi di halaman butik Weni, Ia berniat masuk juga kedalam butik karena masih ingin berlama-lama dengan pujaan hatinya itu, namun langsung dicegah oleh Shirleen.


"Mau ngapain kamu juga keluar mobil" Shirleen bertanya karena Jason sudah turun dari mobilnya.


"Ya mau ikut masuk lah" Jason dengan santainya.


"Nggak, awas aja kalau kamu berani masuk" Ucap Shirleen.


Namun Jason tidak perduli, ia tidak suka dibantah padahal ia sering sekali membantah.


"Jason tolong, jangan menambah lagi masalahku... Bukannya kau tahu segalanya tentangku tanpa kuberi tahu, aku sudah cukup banyak masalah saat ini, mengertilah !" Shirleen berucap sembari dengan tangan yang memohon.


Jason menghela nafasnya, sungguh ia tidak suka dibantah seperti ini, namun tidak ada yang bisa ia lakukan selain mengalah dengan pujaan hatinya.


"Baiklah, aku tidak akan masuk, aku hanya akan mengeluarkan kopermu, tunggulah sebentar" Jason mulai membuka pintu di kursi belakang, ia lalu mengeluarkan dua koper Shirleen dan memberikannya.


"Jangan marah padaku lagi, aku hanya ingin didekatmu, itu saja" Jason mengacak pucuk kepala Shirleen, lalu ia pun masuk kedalam mobil dan mulai mengemudikan mobilnya.


Shirleen menyeret kopernya masuk kedalam butik Weni, ia menaruh kopernya diruangan Weni. Lalu ia menemui Weni dan Misca di sebuah ruangan tempat bermain anak-anak bila berkunjung di butik Weni.


"Gimana ? sudah lega kah ?" Weni bertanya setelah melihat Shirleen yang kini menemuinya.


"Aku akan kuat kan Wen, aku pasti kuat kan Wen ?" Shirleen memeluk Weni dengan tangis yang terisak.


"Sudah kubilang, bicarakan baik-baik, kalau kau tidak mampu melepaskan, kenapa tidak mencoba mempertahankan ?" Weni mengulangi nasihatnya untuk Shirleen yang pernah disampaikannya pada hari dimana Shirleen meminta solusinya.


"Bagiku, kesalahan apapun aku masih bisa bertahan Wen, bahkan kau tau sendiri kalau keluarga Mas Athar tidak ada yang menyukaiku, bahkan tidak ada yang menyukai Misca. Namun aku masih bisa bertahan Wen, bagiku penghianatan adalah harga mati, walau ku maafkan, namun bagiku tidak ada kesempatan kedua" Shirleen masih tetap pada pendiriannya.


"Iya, memangnya aku mau tinggal dimana lagi" Canda Shirleen.


"Bunda, ayo kita pulang..." Tiba-tiba Misca mengajaknya pulang, dan itu sungguh membuatnya sakit.


Ia pun meraih Misca dan mendekap Misca dalam peluknya, ia pun kembali menangis. Misca nampak kebingungan dengan perlakuan Bundanya.


"Bunda... Bunda kenapa nangis ?" Tanya Misca


"Misca, dengar Bunda ya sayang, kita akan tinggal berdua saja mulai hari ini sayang, kita akan pindah kerumah baru, Misca mau ya ikut Bunda" Shirleen terisak sambil membelai pipi Misca lembut.


"Iya Bunda Misca mau, Ayah ikut kan Bunda ?" Misca mulai menanyakan ayahnya.


"Ayah tidak bisa ikut sayang, Ayah banyak kerjaan, kita sekarang tidak bisa tinggal bersama ayah lagi, Misca tidak mau kan mengganggu pekerjaan ayah, nanti kalau ayah sudah libur, Misca boleh main kerumah ayah" Shirleen merasa bersalah telah membohongi putrinya itu demi keegoisannya.


Namun ia tidak bisa menemukan alasan lain selain itu, ia belum siap Misca mengetahui apa yang terjadi pada orang tuanya sekarang, nanti Misca akan mengerti setelah ia telah cukup mengerti untuk mencerna apa yang telah terjadi.


Ia lalu diantarkan Weni ke apartemennya, ia singgah dulu ke kantor pos untuk mengirimkan surat pada orang tuanya, surat yang telah ia siapkan sebelum ia pergi meninggalkan rumahnya.


Hatinya hancur mengingat kembali nasihat orang tuanya sebelum ia menikah dengan Mas Athar. sungguh apa yang ditakutkan orang tuanya memang telah terjadi.


Ia tak henti-hentinya memohon ampun kepada yang kuasa, apakah ia telah masuk kegolongan anak durhaka yang menentang orang tuanya hanya demi cinta sesama manusia.


"Ayah, Bunda, anakmu rindu..." Shirleen membatin.


Bersambung...